Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Mencari Jejaknya


__ADS_3

Mirza harus kembali mendapatkan kekecewaan saat Teh Yuyun lagi-lagi berkata,


"Mereka belum pernah kesini lagi den," ucap Teh Yuyun saat Mirza berkunjung kembali ke Bandung.


"Teteh juga gak dikasih tahu kalau mereka akan pindah kemana." lanjut Teh Yuyun dengan wajah menyesal karena tak bisa memberikan informasi apapun pada Mirza.


"Kalau mereka pulang, tolong kasih tau saya ya Teh." pintanya dengan penuh harap. Teh Yuyun hanya membalasnya dengan anggukkan.


Teh Yuyun pun tak pernah tahu, Alula dan Pa Abhi pergi kemana. hanya saja mereka berjanji setiap bulan akan mengirimkan sejumlah uang sebagai imbalan atas jasa merawat rumahnya.


Sudah berkali-kali Mirza datang untuk mencari Alula, dan berkali-kali pula ia harus pulang dengan hati yang hampa.


Tak hanya bulak-balik ke Bandung, Mirza juga sudah mencoba mencari nama Alula di setiap kampus yang ada di Bandung. Namun dari sekian banyak kampus, ia tetap tidak menemukan nama Alula terdaftar di manapun.


Tidak ada yang tahu, mereka pergi kemana. bahkan Marsha teman yang paling dekat dengan Alula pun tidak mengetahuinya.


"Aku jujur loh bang." ucap Marsha ketika Mirza lagi-lagi menanyakan keberadaan Alula. Mereka kini tengah berada di dalam sebuah kafe, Marko yang meminta Marsha untuk datang kesana.


"Aku benar-benar gak tahu bang, dia cuma bilang mau pindah ke Bandung. gak bilang mau pergi lagi."


"Nomornya gak bisa dihubungi, nomor ayah Abhi juga sama." lanjutnya dengan dahi yang mengkerut menatap layar handphone yang menampilkan nama kontak Alula disana.


"Abang cari dong kemana si Lala pergi, dia pergi juga karena bang Emir." salak Marsha pada Mirza, dengan hati yang kesal, karena ia tahu Alula pergi karena ingin melupakan perasaannya pada Mirza.


"Heh lu, sopan dikit sama yang tua." protes Marko yang saat itu menemani Mirza mencari jejak Alula.


Marsha hanya mencibir, tak menanggapi celotehan Marko.


"Apa maksud lu, dia pergi karena gue ?" namun Mirza lebih tertarik menanyakan hal yang membuatnya sedikit terusik.


"Abang pikir aja sendiri." ucap Marsha dengan nada kesal. "Gitu aja gak tahu." imbuhnya sambil melirik sinis pada Mirza yang duduk dihadapannya.


"Heh beo, ngomong yang bener!" seru Marko dengan berapi-api.


"Udah ah, aku males ngomong sama kalian. Abang cari Alula sampai ketemu." ucapnya sambil beranjak dari kursi, karena gelas dihadapannya sudah habis tak berisi.


"Woy, minuman elu belum dibayar beo." teriak Marko saat Marsha sudah berada didekat pintu keluar.


Marsha membalikkan badannya,


"Kalian yang ngajakin aku keluar. minuman aku, kalian yang bayar!" ucap Marsha tanpa rasa malu.


"Oya, satu lagi. kalo udah ketemu, jangan lupa kasih tau." Marsha kembali berjalan menuju pintu.


"Dasar cewek gila." umpat Marko setelah Marsha benar-benar menghilang dibalik pintu. sedang Mirza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sepeninggal Marsha, baik Mirza maupun Marko hanya saling diam. tak ada candaan seperti biasanya. Marko tahu, pria yang duduk disampingnya kini tengah merasa bimbang.


"Lu tau gak, kenapa seseorang memutuskan pergi ?" suara Marko membuat Mirza menoleh.


"Ada dua hal, pertama dia benar-benar membenci lu. kedua dia benar-benar mencintai lu."


"Lu tinggal pilih persepsi mana yang menurut lu jadi alasan buat Alula pergi."


Mirza terdiam, ia mengaduk-aduk ice cappucino dihadapannya dengan mata yang nampak menerawang.


"Menurut lu ?" tanya Mirza pada Marko.


"Astaga ..." desah Marko tak percaya, "Lu sadar gak sih, kalo selama ini Alula itu suka sama lu ?"


Mirza kembali terdiam, ingatannya kembali pada malam saat ia mengajak Alula ke restauran usai mereka menghadiri acara wisuda.


Mirza melihat mata Alula yang berkaca saat ia meminta Alula untuk tetap disampingnya, mungkinkah itu tatapan suka?


Atau saat ia memeluk Alula secara tiba-tiba. Alula tak menolak, bahkan terhanyut dalam pelukannya. tapi, mengapa Alula menangis saat itu ? mungkinkah ada sesuatu yang ia coba sembunyikan.


Lalu, kertas-kertas yang Mirza temukan ditempat sampah dipaviliun, mengapa begitu banyak gambar wajahnya disana.


"Apa dia benar-benar suka sama gue ko ?" lirih Mirza, ia menatap nanar gelas berisi ice cappucino yang sudah berembun.


"Nah itu yang Alula rasakan saat ini." lanjutnya.


"Tapi, kenapa di harus pergi ko ?"


"Setiap orang punya cara tersendiri buat menyembuhkan rasa sakitnya. mungkin itu sebabnya si neng peri pergi."


"Tapi ini gak adil buat gue ko. apa dia gak mikirin perasaan gue ?" baru kali ini Marko melihat sisi rapuh pria yang selama ini terlihat dingin dimata orang lain.


Benar, kehilangan bisa membuat seseorang berubah dari kebiasaannya.


"Ada Gweny." Marko mengingatkan. bagaimanapun juga, status Mirza kini adalah bertunangan dengan Gweny.


"Apa lu juga gak mikirin perasaan dia ?"


Mirza menghela napas panjang, ia benar-benar dilema. berada diantara pilihan yang membuatnya berada dalam situasi yang sulit.


"Elu sebenarnya ngedukung gue sama si Alula apa sama si Gweny sih ?" Mirza berdecak kesal. bisa-bisanya Marko membahas Gweny saat pikirannya dipenuhi oleh Alula.


"Sebagai sahabat elu, gue pilih yang terbaik buat elu." ucap Marko tulus. ia tak bisa memaksa Mirza untuk melupakan perasaannya pada Alula, juga tak bisa memaksa Mirza untuk mulai mencintai Gweny.


"Bantu gue cari dia ko. setidaknya gue tahu dia dimana dan dalam keadaan baik-baik saja." lirih Mirza. terdengar nada putus asa yang Marko tangkap dari suaranya.

__ADS_1


Dan Marko benar-benar menemani Mirza kemanapun ia pergi. seperti saat ini, mereka tengah mengunjungi taman pemakaman umum yang dulu pernah mereka kunjungi saat liburan bersama anak-anak yang lain.


Ya, satu-satunya tempat yang mungkin akan didatangi oleh Alula adalah tempat dimana sang Ibu dan adik kembarnya beristirahat dengan tenang.


Mirza dan Marko menapaki jalan setapak dimana kiri dan kanannya terdapat jejeran gundukan tanah berbentuk persegi panjang dengan warna hijau disekelilingnya, juga batu nisan yang berukiran nama-nama pemilik gundukan tanah itu.


Langkahnya terhenti saat ia sampai ditempat tujuannya. ia terkejut saat mendapati tanah yang basah seperti baru saja disirami dengan air, juga bunga segar yang bertebaran diatas pusara yang bertuliskan nama Indira Pratiwi dan Dwi Rania Sofyan itu.


"Ko," Mirza menoleh pada Marko, tatapannya seolah bertanya 'benarkah yang ia lihat'.


"Itu artinya dia disini?" ucap Mirza dengan penuh harap.


Mirza menyapu seluruh area pemakaman, sepi. tidak ada siapapun disana, selain seorang penjaga makam yang tengah mencabuti rumput-rumput liar tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Pak." panggil Marko pada seorang pria berperawakan kurus yang adalah seorang penjaga makam.


"Apa tadi ada orang yang berziarah ke sana?" tunjuknya pada tanah kuburan yang dipenuhi kelopak bunga segar.


Dahi penjaga makam mengernyit, nampak berpikir,


"Oh iya, tadi ada dua orang. anak gadis sama bapaknya kayaknya." terang penjaga makam itu.


"Sekarang mereka kemana ?" desak Mirza, ia yakin jika yang datang itu adalah Alula dan Pa Abhi.


"Sudah pergi dari tadi den, gak lihat juga perginya kearah mana."


Mirza bergegas pergi keluar pemakaman, dari tanah kuburan yang ia lihat masih basah, ia yakin jika Alula belum pergi terlalu jauh. Ia berlari menyusuri jalan yang sekiranya akan dilewati orang-orang yang pulang dari pemakaman. namun tak ia temukan Alula dimanapun.


"Gimana, ketemu ?" tanya Marko dengan napas yang tersengal. sebab ia ikut mencari kemana Alula pergi.


Mirza menggelengkan kepalanya, ia pasrah.


Lagi, Mirza kembali kehilangan sosok yang selama bertahun-tahun ia simpan didalam hatinya. setelah merasakan indahnya rasa suka, kini hatinya kembali terluka.


Mengapa disaat ia mulai menyadari hadirnya cinta, justru ia harus kembali kehilangannya. Mungkin takdir memang tidak mengizinkannya untuk bersatu dan bertemu kembali dengan si anak perempuan bergigi ompong itu.


.


.


.


Happy Reading.. 😊


Jangan lupa like and comment nya... 👍

__ADS_1


__ADS_2