Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Kalian cocok


__ADS_3

Sepertinya, Mirza memang benar-benar serius dengan ucapannya kemarin. karena hari ini, saat ia berpapasan dengan Gweny, ia tak lagi memasang wajah tanpa ekspresinya. meski terlihat samar, ia tersenyum pada Gweny yang saat itu baru keluar dari kelasnya.


Gweny sesaat tertegun, merasa tak percaya. benarkah yang dilihatnya tadi? Mirza yang biasanya selalu membuang muka, bahkan meliriknya dengan hanya sekilas, tadi nampak tersenyum kearahnya.


Apakah Mirza sudah menganggapnya teman kembali? atau apakah kehadiran Alula membuatnya menjadi pria yang hangat? tapi ia tidak peduli, baginya perubahan raut wajah Mirza tadi adalah suatu hal yang baik. artinya, masih ada harapan untuknya kembali dekat dengan Mirza. pria yang selama ini ia cinta.


"Kenapa?" suara berat dan dalam membuat Gweny terperanjat. ia mengenali suara itu. suara yang ia rindukan, suara yang telah lama tidak pernah menyapanya.


Gweny menoleh, Mirza telah berdiri tepat dibelakangnya.


"Kurang angin." tunjuk Gweny pada ban mobil miliknya.


Mirza berpikir sejenak, tidak ada bengkel didekat kampus. membuatnya memiliki ide yang cukup menggelikan. bukan Mirza sama sekali.


"Mau bareng?" tawar Mirza. seketika membuat Gweny mendongak. ia menatap Mirza dengan tatapan tak percaya. pria ini, pria dingin ini mengajaknya pulang? sungguh tak masuk akal.


"Kamu kan harus jemput adek kamu." Gweny tak begitu saja menerima tawaran Mirza. karena ia tahu, setiap hari Mirza akan menjemput Alula disekolah.


"Masih ada waktu," ucap Mirza sambil melirik jam dipergelangan tangannya.


"Gue anter lu dulu kalo mau. gak jauh kan?" untuk pertama kalinya, ia mendengar Mirza berbicara sepanjang itu padanya, dengan raut wajah yang tidak terlalu kaku. selama ini, Mirza hanya berkata seperlunya, dan menjawab seadanya. tanpa dilebih-lebihkan.


"Gak ngerepotin?" tanya Gweny merasa ragu.


"Gak lah." Mirza berlalu menuju sepeda motornya, di ikuti Gweny yang mengekor dibelakangnya.


Sepanjang jalan menuju pintu gerbang, banyak pasang mata yang memandang. pasalnya, ini adalah suatu hal yang baru untuk Mirza. berboncengan dengan perempuan diarea kampus, bukanlah hal yang sering ia lakukan. bahkan terbilang tidak pernah sama sekali.


Semua orang tahu, bahwa Mirza dicap sebagai anti perempuan. padahal banyak mahasiswi yang terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada Mirza.


entah apa yang membuat orang-orang berasumsi seperti itu. bahkan ia sampai berkata,


"Kalian nganggep gue ma ho? asal kalian tau, ular gue bisa bikin orang kembung 9 bulan kalo udah bereaksi." ucap Mirza ketika mereka menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. saat melihat Mirza yang tengah bercanda dan tertawa-tawa dengan kedua sahabatnya. padahal menurutnya itu adalah hal yang wajar.


"Kamu gak apa-apa boncengin aku?" tanya Gweny yang merasa tak enak hati saat mereka telah keluar dari pintu gerbang.


Dahi Mirza mengernyit "maksudnya?"


"Aku takut nanti ada gosip beredar, kalau... "


"Udah gue bilang berkali-kali, jangan denger apa kata orang!" seru Mirza dengan mata tetap fokus pada jalanan. Gweny tersenyum dibalik punggung Mirza. ia senang, Mirza telah kembali menjadi temannya yang dulu.

__ADS_1


Motor yang dikendarai oleh Mirza kini melewati SMA PuBa. tadi, Alula mengirimkan pesan akan pulang sedikit terlambat. namun nyatanya, Mirza melihat gadis mungil itu tengah berdiri tepat disamping pintu gerbang dengan kedua tangan memeluk helm bogo berwarna pink miliknya.


"Katanya pulang telat Lu dek?" tanya Mirza sesaat setelah menghentikan sepeda motornya.


Alula tak langsung menjawab, lebih tertarik melihat pemandangan -yang terasa menyakitkan- di depan matanya. sejak kapan Mirza kembali akrab dengan Gweny?


"La, baru pulang?" sapa Gweny dengan wajah berseri, meleburkan lamunannya.


"eh.. i.. iya." jawab Alula dengan tergagap.


"Tadi, gurunya gak jadi masuk. izin pulang cepat." ucap Alula dengan lirih, entah mengapa hatinya terasa perih.


"Lu tunggu disini dulu gak apa-apa? Gue anterin dia dulu bentar." ucap Mirza tanpa turun dari motornya.


Alula terhenyak, sekarang Mirza bahkan lebih memprioritaskan Gweny dibanding dirinya.


"Aku.. pulang sendiri aja bang." sungguh, ia merasa kecewa. tapi bukankah ini yang ia mau, bukankah ia ingin Mirza kembali dekat dengan Gweny.


"Aku turun disini aja," Gweny hendak turun dari motor, namun Mirza melarangnya.


"Gue anter sampe depan perum, gak jauh dari sini kan."


"Lu tunggu bentar disini dek!" seru Mirza yang kemudian berlalu meninggalkan Alula yang masih mematung ditempatnya.


"Kalau kamu cinta, kenapa kamu gak cerita?" begitu kata Marsha saat dirinya mengakui memiliki perasaan lain pada Mirza.


"Aku bisa apa Sa? perbedaan diantara kita itu ibaratkan langit dan bumi. jauh sekali." Alula menerawang, menatap nanar langit cerah dipagi hari.


"Tapi kalau ternyata bang Emir juga suka sama kamu, gimana?"


Alula menatap lekat mata Marsha.


"Aku mundur Sa. aku cukup tau diri, siapa aku didalam keluarganya. aku hanya orang kecil yang berada ditengah-tengah orang berhati besar."


"Tapi cinta gak memandang itu La. nih yah, kalau keluarga bang Emir memandang seseorang berdasarkan harta, mungkin kamu gak akan ada disekolah ini."


"Aku hanya dianggap anak Sa, bukan sebagai masa depan anaknya. kamu ngerti gak sih." kukuh Alula.


"Mereka jelas akan mencari perempuan yang jelas bibit, bebet, bobotnya. abang anak mereka satu-satunya. mereka pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya." lanjutnya.


"Tapi, aku gak yakin mereka orang seperti itu." sanggah Marsha. meskipun ia tidak cukup kenal dengan keluarga Mirza, namun Marsha bisa melihat ketulusan dari mereka.

__ADS_1


Meski Alula membenarkan apa yang dikatakan Marsha, bahwa Mama Indri dan Pa Sanjaya jelas bukan orang yang memandang seseorang berdasarkan harta. namun tetap saja ia merasa tidak pantas jika bersanding dengan Mirza.


Entah sudah berapa lama ia teerdiam, duduk termenung diatas bangku. hingga ia dikejutkan dengan bunyi klakson yang begitu nyaring ditelinganya.


"Dipanggil dari tadi, mikirin apaan sih lu dek." tanya Mirza ketika ia turun dari sepeda motornya.


"Mikirin abang... eh.. " tanpa sadar ia mengucapkan apa yang ada dipikirannya.


"Maksudnya.." lirih Alula.


"Udah, ayo pulang." Mirza menarik tangan Alula, mengajak nya berdiri dan mengikutinya.


Alula menatap genggaman tangan Mirza sebelum berkata,


"Sejak kapan?" tanyanya yang nampak penasaran.


"Apa?" Mirza menoleh saat akan memasangkan helm fullface nya.


"Abang... sama... kak Gweny." ucap Alula dengan lirih. mungkinkah mulai saat ini, ia harus membiasakan diri melihat kedekatan Mirza dengan Gweny.


"Tadi ban mobil dia kempes. karena gue lagi berbaik hati, jadi gue ajak dia nebeng." Mirza masih berusaha memasangkan pengait helmnya.


Alula mengangguk pelan, meski berat namun Alula tetap mengucapkannya.


"Kalian cocok," lirih Alula hampir tak terdengar.


Mirza menoleh, ia menatap tajam wajah Alula dibalik helm fullfacenya.


"Abang ganteng, kak Gweny cantik. kalau... "


"Cepet naek!" seru Mirza kesal. tak ingin mendengarkan hal-hal yang tidak penting untuknya. entah mengapa, bukan kata-kata itu yang ia harapkan keluar dari mulut Alula.


.


.


.


Happy reading.. 😊


ingin sekali ngebut up nya, namun apa daya otak otor hanya berputar-putar disitu saja.. 😀

__ADS_1


Jangan lupa like and comment nya yah... 🤗


__ADS_2