
Pagi ini Mirza turun dari kamarnya dan mendapati rumah sunyi, sepi tak berpenghuni. ah ya, hanya ada dirinya dan Alula dirumah. Mama, Papa juga Pak Abhi baru akan kembali sore nanti bersamaaan dengan Mbak Sri yang kembali dari kampung bersama Mang Ujang.
Mirza mengedarkan pandangannya mencari sosok gadis mungil yang tadi malam membuat tidurnya merasa tak nyenyak. Ia pergi keruang televisi, namun televisi dalam keadaan mati dan tak mendapati Alula disana.
Lalu, ia mencari ke ruang tamu, teras depan, dan terakhir ke dapur. namun sosok gadis yang ia panggil sebagai adek tidak ia temukan juga. ia pergi kehalaman belakang, pun sama, tidak ada siapa-siapa. kemana dia? apa dia masih tidur?
Mirza pun berjalan menuju kamar Alula yang berada tak jauh dari ruang tamu, tempatnya pertama kali datang kerumah itu.
Tok..
Tok..
Tok..
"Dek, lu masih tidur?" tidak ada jawaban dari dalam. membuat Mirza keheranan, karena tidak biasanya ia tidur sampai sesiang ini.
Dahi Mirza mengernyit "Apa dia benar-benar masih tidur?" gumamnya.
"Dek, bangun! ayo sarapan dulu." Mirza kembali mengetuk pintu kamar Alula. namun tetap tak ada jawaban dari dalam.
Dengan terpaksa, Mirza membuka pintu kamar Alula yang ternyata tak terkunci. dan benar saja, Alula masih bergulung dengan selimutnya.
"Dek, bangun, ayo sarap.. an.. " ucapan Mirza terhenti saat ia melihat wajah cantik gadis yang ia panggil adek itu nampak pucat pasi. bibir merah jambunya kini mengering, tubuh mungilnya menggigil, dengan keringat dingin sebesar biji jagung didahinya.
"Bang.. " lirihnya.
Sejak semalam, ia memang sudah merasa tidak enak badan karena hujan-hujannan. ditambah mimpi buruk yang dialaminya, membuat Alula kembali teringat pada ayah tirinya dan membuatnya tidak bisa memejamkan mata dengan lelap.
Dengan lemas Alula meraih tangan Mirza "Aku takut." ucapnya dengan suara pelan bahkan hampir tak terdengar.
"Dek, lu kenapa dek?" dengan panik dan tanpa risih ia mengelap keringat didahi Alula. dan ia pun terkejut mendapati subuh tubuh Alula yang terasa panas.
"Muka lu pucet baget." Mirza mencoba mendudukan Alula, lalu ia meraih gelas berisi air minum diatas nakas.
"Minum dulu! " serunya.
Dengan tangan sedikit gemetar Alula meraih gelas dari tangan Mirza. "Biar gue bantu." ucap Mirza ketika melihat Alula yang kesusahan memegang gelasnya.
"Duh, lu kenapa bisa sakit sih dek, pasti gara-gara hujan-hujannan nih semalam. gue telpon Mama dulu yah."
Namun Alula mencegahnya "Jangan bang ! aku gak mau bikin mereka khawatir. aku.. aku gak apa-apa ko." ucapnya lemah, sambil mencoba tersenyum.
"Tapi lu juga bikin gue khawatir dek!"
Entahlah, Mirza benar-benar bingung harus berbuat apa. pasalnya, ini adalah pertama kalinya ia menghadapi orang yang sedang sakit sendirian. tanpa ada bantuan.
"Aku gak apa-apa bang." Alula kembali meyakinkan.
Sejenak Mirza nampak memikirkan sesuatu,
"Kalo gitu, tunggu disini!" serunya, lalu berjalan keluar dari kamar.
__ADS_1
Tak membutuhkan waktu lama ia kembali dengan dua buah roti sanwich yang disimpan diatas piring dan kotak besar bertuliskan P3K.
"Makan dulu, abis itu makan obat." ucap Mirza sambil menyodorkan piring berisi roti kemudian tangannya beralih pada kotak P3K untuk mencari obat pereda panas.
"Udah, tidur lagi!" seru Mirza setelah melihat Alula telah memakan roti sanwich dan meminum obatnya.
Mirza hendak keluar dari kamar, namun sebuah suara lemas membuatnya menghentikan langkah.
"Bang.. " Mirza menoleh,
"Terima kasih." dengan senyum lemah tersungging di wajah pucatnya. Mirza hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
Sepeninggal Mirza, Alula kembali merebahkan dirinya. matanya nyalang menatap langit-langit kamarnya.
"Perempuan mana coba yang gak baper, mendapatkan perhatian seperti itu." Alula berbicara pada dirinya sendiri.
"Ah, mungkin abang cuma kasihan. karena aku sakit." lanjutnya.
Sikap Mirza yang selalu manis padanya, nyatanya memberikan efek luar biasa. karena dengan sekejap mampu memulihkan tubuhnya yang lemah.
Sementara itu, Mirza kembali ke meja makan, dan memakan sarapannya. baru saja ia selesai menyantap suapan terakhirnya, suara bel rumah yang berbunyi nyaring membuat dahinya mengernyit.
"Siapa?" gumamnya, ia merasa tidak memiliki janji dengan siapapun hari ini. ia melirik jam yang tergantung di dinding dapur, yang menunjukan pukul 9 pagi.
"Siapa yang bertemu pagi-pagi begini." ucapnya sambil melangkah menuju pintu.
Namun, alih-alih menyambut dengan hangat, ia malah mengusir tamu tersebut sebelum sempat masuk kedalam rumah.
"Galak amat sih lu, sarapan mercon yah barusan." Marko yang datang bersama Martin tak mempedulikan ocehan sang empunya rumah.
"Mau ngapain sih lu pagi-pagi udah bertamu kerumah orang. mana gak bawa apa-apa lagi." ujar Mirza sambil mendudukan dirinya disofa.
"Gue bawa do'a." Marko menyelonong masuk kedalam rumah. kedekatan mereka dengan keluarga Mahesa membuat mereka merasa tak sungkan lagi.
"Tahu, masih pagi juga. lagi enak-enak rebahan, gue dibangunin." gerutu Martin yang kini duduk disebelah sofa yang diduduki oleh Mirza.
"Pagi dari mana, ini udah hampir siang." sergah Marko.
"Lu berdua kapan mau majunya kalo jam segini masih rebahan." lanjutnya sambil menunjuk kedua sahabatnya bergantian.
"Sultan mah bebas." sahut Martin yang kini merebahkan dirinya disofa.
"Sombong lu, gue aja yang hartanya gak akan habis tujuh turunan tujuh tanjakan gak sombong." dengan bangga Marko menepuk dadanya, padahal ia juga tengah menyombongkan dirinya.
Mirza mencibir "Gaya lu, mana ada orang kaya numpang makan diacara hajatan orang."
"Jangan salah , gue kan turunan kedelapan jadi gak kebagian."
"Kamvrettt..."
"Sialan.. "
__ADS_1
Mereka pun tergelak bersama. kedatangan Marko dan Martin setidaknya membuat suasana rumah tak lagi sepi.
"Gue jadi lupa tujuan gue kesini kan."
Dahi Martin mengernyit "Emang lu mau ngapain?"
"Nengokin neng peri." jawabnya dengan yakin.
"Tahu dari mana lu, adek gue sakit?"
Marko meletakkan kedua tangannya didada, sebelum berkata "Perasaan gue yang mengatakan." ucapnya lembut.
Membuat Mirza menggelengkan kepalanya "Jangan-jangan lu yang nyumpahin adek gue sakit. jujur lu." tuduhnya.
"Astagfirullah.. dosa lu fitnah anak polos macam gue."
"Polos aja udah kaya gini, sengkleknya kaya gimana coba?" Mereka pun kembali tergelak.
"Rumah sepi amat, pada kemana?" tanya Martin ketika tawa mereka reda.
"Semua pada keluar kota, Mbak Sri juga pulang kampung."
Mata Marko membulat, "Jadi, lu cuma berduaan sama neng peri?" tanyanya tak percaya.
"Kenapa emang?" Dahi Mirza lagi-lagi mengernyit.
"Astaga... " Marko menggelengkan kepalanya,
"Enak banget." ucapnya kemudian dengan mata berbinar.
Untung saja diatas meja hanya ada tempat tisue, jika saja ada vas bunga, mungkin sudah mendarat didahi Marko saat itu juga.
"Lu mikir apaan sih ?" sembur Mirza.
Namun belum sempat Marko menjawab, suara salam dari luar rumah mengalihkan perhatian ketiga pria tersebut.
"Assalamualaikum,"
"Permisi, Alula nya ada ?" ucap seorang gadis berambut panjang yang berdiri diambang pintu.
"Elu? lu bukannya.. ngapain lu kesini?" bukan Mirza, melainkan Marko yang menyambut tak hangat kedatangan gadis berambut panjang tersebut.
.
.
. Happy readding.. 😊
Nah, siapakah gadis berambut panjang yang datang ?
Jangan lupa like and comment nya yah!
__ADS_1