Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Panik


__ADS_3

Niat hati ingin segera menyusul Alula ke sekolah, namun kenyataan membuatnya harus menelan ludah. karena saat Mirza tiba di SMA PuBa, pintu gerbang sekolah sudah tertutup rapat. hanya terlihat satpam penjaga yang tengah mondar mandir di depan gerbang.


"Sial" umpatnya kesal, sambil melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Kenapa dek?" rupanya satpam penjaga mendengar umpatannya.


"Gak apa-apa Pak." sanggah Mirza.


"Diputusin pacar yah? atau ditikung pas lagi sayang-sayangnya." ledek penjaga gerbang demi melihat wajah kesal Mirza.


"Apaan sih Pak, sok tahu." Mirza melengos.


Ia kembali melajukan sepeda motornya menuju kampus. sebelum berangkat tadi ia sempat membaca pesan yang dikirim Martin yang mengatakan bahwa mereka akan berkumpul di Kantin kampus sebelum jam kuliah dimulai.


Tak butuh waktu lama, setelah memarkirkan sepeda motornya, Mirza bergegas menuju kantin dimana Marko dan Martin tengah menunggunya.


Langkahnya sempat terhenti, ketika tersadar bahwa tidak hanya ada kedua sahabatnya disana. melainkan Gweny juga tengah duduk diantara mereka. semula ia ragu untuk ikut bergabung. namun rasa kesalnya pada Alula yang belum mereda membuatnya merasa harus ikut duduk bersama mereka. untuk mencairkan pikirannya.


"Eh, kang semir datang." sambutan Marko membuatnya berdecak kesal.


"Masih pagi, muka jangan kebanyakan ditekuk. tua sebelum waktunya entar Lu." sambung Marko setelah Mirza mendudukkan diri disampingnya.


"Berisikkk." ucap Mirza dengan kesal.


"Disini juga?" tanya Mirza pada Gweny.


"Iya, aku kira hari ini masuk pagi, gak tahunya besok." ucap Gweny, meski sedikit aneh berkomunikasi seperti ini dengan Mirza. sebab dari dulu, mana pernah Mirza mengajaknya bicara.


"Kenapa sih?" tanya Gweny yang juga ikut penasaran.


Mirza melirik Gweny sekilas lalu berkata "gak apa-apa." tidak mungkin kan, ia bilang bahwa ia tengah merasa kesal karena Alula dijemput laki-laki lain didepan Gweny.


"Kayak cewek lu. ditanya kenapa, jawabnya gak apa-apa." cibir Marko.


"Lah emang gak apa-apa." kilah Mirza. sedangkan Gweny hanya diam mendengarkan.


"Gue rasa si Emir tadi cuci muka pake aer cuka. asem bener."


seloroh Marko yang berakhir dengan sebuah jitakkan dikepala. siapa lagi, Mirza pelakunya.


"Lu kira muka gue kuah bakso." sungut Mirza kesal.

__ADS_1


"Hati-hati Woy, kepala gue tiap tahun gue fitrahin. seenaknya aja main jitak kepala orang. mau lu, gue geger otak?" cerca Marko dengan mata melotot.


Belum sempat Mirza menjawab, getaran handphone dari dalam saku celana mengalihkan perhatiannya. rupanya pesan dari sang Papa, yang menyuruhnya untuk datang ke kantor siang ini. itu artinya, ia tidak bisa menjemput Alula pulang sekolah nanti.


Mirza mendengus sebal. entah mengapa hari ini semua orang begitu menyebalkan. Alula yang diam-diam berangkat dengan pria lain, yang pasti ia tahu siapa laki-laki itu.


Lalu Mama yang memuji-muji laki-laki itu dihadapannya. apa Mama tidak tahu jika ia begitu tidak menyukainya. sekarang Papa, tidak bisakah permintaan Papa ia tolak. agar nanti ia bisa menjemput Alula disekolah. ah sialnya, perintah Papa tidak bisa terbantahkan.


Duduk bergabung bersama duo sengklek inipun bukannya membuat perasaanya sedikit lega. ia malah merasa tekanan darahnya semakin tinggi.


Ia ingin marah, tapi pada siapa ? dengan alasan apa? dan apa penyebabnya, ia sendiripun tak tahu.


Tidak adakah yang mengerti perasaannya saat ini ? ini mungkin hukuman, karena ia tidak pernah mau mengerti perasaan orang lain.


...****************...


Seperti yang sudah ia bayangkan sebelumnya, siang ini selepas jam mata kuliah berakhir, Mirza bergegas menuju kantor sang Papa. suara dering telepon mengurungkan niatnya menghidupkan mesin motor.


"Ya Pah?" sahut Mirza ketika telepon telah tersambung.


Lalu telinganya fokus pada apa yang sang Papa ucapkan.


"Iya Emir gak lupa, Ini juga baru mau jalan." jawabnya cepat.


"Cepet yah, Papa butuh bantuan kamu."


"Iya ampun, Emir ngerti." Mirza mengangguk-anggukan kepalanya tertanda mengerti dengan apa yang Pa Sanjaya ucapkan.


Pagi tadi, Pa Sanjaya menyuruhnya ke Kantor karena Pa Abhi tiba-tiba tidak enak badan. hingga Pa Sanjaya menyuruhnya untuk beristirahat dirumah. tugas Pa Abhi akhirnya harus dihandle oleh Mirza.


"Kemana Lu?" Martin menepuk bahu Mirza setelah ia menutup panggilan.


"Ngantor" jawabnya pendek.


"Iyee dah, yang bentar lagi nyusun skripsi." ledek Marko.


"Paan sih Lu." jawab Mirza sambil menghidupkan sepeda motornya.


"Duluan.. " pamitnya pada Marko dan Martin.


"Yo.. " Marko dan Martin hanya melambaikan tangan.

__ADS_1


Rupanya hari itu Mirza dan Pa Sanjaya harus pulang hampir larut malam. pekerjaan yang menumpuk membuatnya mau tak mau ikut membantu sang Papa yang tengah kerepotan.


Hingga pagi hari, ia terbangun hampir kesiangan. dan seperti kemarin, ia mendapati Alula tengah berangkat ke sekolah tanpa menunggunya.


Selain ia yang terlalu sibuk, Alula pun seperti menghindar darinya. Alula tidak pernah lagi pulang ke rumah utama, lebih memilih tinggal dipaviliun untuk menemani Ayah.


Dan hal itupun terjadi hingga beberapa hari. Mirza yang kini tengah fokus pada tugas yang diembankan sang Papa padanya, juga skripsi yang sudah mulai ia kerjakan.


Alula pun tengah fokus menghadapi ujian akhir sekolah. hingga kesempatan mereka untuk bertemu pun akhirnya terasa sangat sulit. Mirza menghela napas, entah mengapa ia seperti merasa kehilangan.


Hingga akhirnya hari ini, ia yang tengah berjalan menuju tempat parkir dikejutkan dengan suara nyaring dering telepon dari dalam rasnya. ia nampak acuh, sudah dipastikan itu adalah panggilan dari sang Papa.


Dering telepon kembali menyala, membuat Marko yang berjalan disampingnya menepuk bahunya.


"Lu kagak denger tu Hape Lu bunyi." ujar Marko yang merasa kesal karena Mirza tak kunjung mengangkat teleponnya.


"Palingan juga bokap." ucapnya sambil berjalan dengan santai.


Dua panggilan tidak terjawab, hingga panggilan terakhir membuat Mirza meraih handphone dari dalam rasnya. dahinya mengernyit mendapati nomor baru yang tidak ia kenal.


Mirza buru-buru menggeser tombol hijau, lalu meletakkam di telinga. ia hampir saja melemparkan handphone ditangannya ketika mendengar suara lengkingan perempuan diseberang telepon.


"BANG EMIR KEMANA AJA.." teriak perempuan itu, ia seperti mengenal suara perempuan cempreng itu. namun ia juga menangkap suara isakan ditelinganya.


"TOLONG ... LALA DICULIK." ucapan yang terakhir membuat Mirza tersentak. bayangan wajah ketakutan Alula berputar dipikirannya.


Mirza masih terpaku ditempatnya, ketika telinganya kembali menangkap teriakan perempuan itu. Marsha.


"CEPETAN TOLONG LALA!" Mirza buru-buru menutup teleponnya, lalu dengan cepat ia berlari menuju parkiran.


Beberapa kali ia mengumpat kesal saat tak sengaja menabrak orang-orang yang berlalu lalang menghalangi langkahnya untuk sampai dengan cepat di parkiran. bahkan, suara teriakan kedua sahabatnya pun tak ia hiraukan.


.


.


Happy Reading.. 😊


Mirza... panik gak, panik gak? panik lah masa engga.. 😅


Jangan lupa tinggalkan like and comment nya, biar otor semangat nulisnya. 🤗

__ADS_1


__ADS_2