
Setelah beberapa hari tinggal bersama Mama Indri dirumah utama, Alula tak lagi canggung. karena Mama Indri memperlakukan Alula dengan sangat baik, hingga sedikit demi sedikit Alula bisa melupakan rasa takutnya.
Bagaimana tidak, awalnya Alula berpikir jika ia akan bekerja membantu asisten rumah tangga disana. namun, siapa sangka Mama Indri justru memperlakukannya seperti anak perempuannya sendiri. semakin hari keduanya semakin dekat saja. berperan dengan baik layaknya anak dan Ibu.
Seperti hari ini, Alula tengah duduk bersama Mama Indri di meja makan. ia dengan antusias memperhatikan Mama Indri dan Mbak Sri yang memperdebatkan masalah 'gedang'. baik Mama Indri maupun Mbak Sri memiliki arti lain untuk satu kata itu.
"Mbak." panggil Mama pada Mbak Sri.
"Kemaren Mang Ujang bilang udah panen buah-buahan dari belakang ya ?coba kadieu (sini) Mbak, pang nyandakkeun (tolong ambilkan) gedang." yang dimaksud Mama Indri dengan 'gedang' adalah buah pepaya. namun dalam pikiran Mbak Sri 'gedang' adalah buah pisang. Mbak Sri pun memberikan buah pisang pada Mama Indri.
"Eh ari si Mbak, inimah cau (pisang dalam bahasa sunda) ." tunjuknya ke arah buah pisang yang ditaruh Mbak Sri diatas meja makan. bukannya Mama Indri tidak tau perbedaan bahasa Sunda dan bahasa Jawa, Mama Indri hanya sengaja mengajak Mbak Sri bercanda.
Mbak Sri mengernyit, "Lha.. tadi Ibuk minta geddang toh. ya ini geddang Bu." ucap Mbak Sri yang merasa tidak salah memberikan barang.
"Ieumah cau Mbak. saya kan mentana (mintanya) gedang." Mama Indri tetap bersikukuh dengan ucapannya.
"lho ya iki toh, iki gedang Bu."Mbak Sri pun tak mau kalah.
Alula terkikik geli mendengarkan perdebatan keduanya. hingga ia tak menyadari seseorang tengah menatapnya dibalik pilar.
"Ambilin yang bener dong Mbak !"
"Ealahh.. Ibuk ini gimana toh, iki yo wis bener Bu !" Mbak Sri tetap teguh pendirian.
"Mama mau apa ? biar Lula yang ambilin." ucap Alula yang melerai perdebatan keduanya.
"Gak usah deh biar Mama aja. si Mbak, sama Mama ini emang gak pernah nyambung. yang satu Jawa yang satu Sunda."Mama Indri tertawa sebelum kemudian mengatakan,
"Mama heran kenapa Mbak Sri sama Mang ujang bisa sampe nikah, apa anaknya gak pusing tuh milih Sunda apa Jawa." Mama Indri menggeleng-gelengkan kepalanya. kemudian ia beranjak kearah dapur.
Tak lama kemudian Mama Indri kembali dengan membawa buah pepaya ditangannya.
"Ieu Mbak tah, ieu gedang." Mama Indri mengangkat pepaya ditangannya.
Mbak Sri tertawa sebelum kemudian menjawab
"Lha.. iku kates Buk."
__ADS_1
"Tuh kan Mama bilang juga apa, makin lieur (pusing) kan." Mama tergelak.
"Jadi kesimpulannya, ini gedang apa kates?" tanya Alula sambil menatap pada Mama Indri dan Mbak Sri bergantian.
"gedang,"
"Kates. "
Jawab Mama Indri dan Mbak Sri secara bersamaan yang membuat mereka sama-sama menoleh kemudian tertawa.
...****************...
Sore hari Alula keluar dari kamar, ia berniat mengambil air minum didapur. namun urung, ketika mendengar Mama memanggilnya dari ruang televisi.
"Lula sayang, sini !" Mama melambaikan tangannya ke arah Alula "mau kemana?"tanya Mama kemudian.
"Mau ambil minum, haus Ma." jawab Alula dengan tangan memegangi tenggorokannya yang terasa kering.
"Duduk sini" Mama menepuk kursi disampingnya.
Alula duduk disamping Mama, kemudian ia mengambil satu gelas "Ini buat aku?" Mama hanya menganggukan kepalanya. tanpa menunggu lama, Alula meminum jus mangganya hingga tandas tak tersisa. tenggorokan keringnya terasa lebih segar setelah meminum satu gelas jus mangga.
"Haus banget? "tanya Mama setelah Alula menghabiskan minumannya. Alula hanya meringis malu lalu mengangguk. ia menyimpan kembali gelas kosong ditangannya ke atas meja.
"Temenin Mama nonton yah!" serunya.
"Mama nonton apa?" Alula menoleh kearah televisi berlayar datar yang menampakkan film Bollywood. film yang menceritakan konflik satu keluarga, dimana sang Ayah tidak menyetujui pernikahan putranya karena perbedaan status sosial.
"Itu, film pavorit Mama." Mama terkikik, sebelum kemudian berkata "kaya Mama sama Papanya Emir kan?" ucap Mama ketika layar televisi menayangkan adegan suami dan istrinya yang diperankan oleh Amitabh Bachchan dan Jaya Bachchan. dimana istrinya tersebut sedang memakaikan dasi pada suaminya dengan menaiki sebuah kursi kecil.
"Kamu liat aja, Papanya Emir ibarat tiang listrik yang menjulang tinggi, sedangkan Mama ibarat tabung telepon umum dibawahnya. udah pendek, kembung lagi." Mama tergelak dengan apa ucapannya sendiri.
Begitupun dengan Alula, ia tak kuasa menahan tawanya membayangkan tiang listrik yang berdampingan dengan tabung telepon umum.
"Mama ini ada-ada aja sih."gumam Alula.ia mengembungkan pipinya yang terasa sakit akibat tawanya yang meledak bersama Mama.
"Loh ini fakta. Mama sok cangkeul (suka pegel) kalo lagi ngomong sama Papanya Emir, tanggaaah (kepala menghadap ke atas) terus." Mama kembali tergelak.
__ADS_1
"Makanya kadang Mama suka nyuruh Papa buat duduk atau nggak jongkok kalau lagi masangin dasi!" ujarnya yang kembali memancing tawa.
"Suruh siapa punya badan tinggi amat" Mama menjeda ucapannya "atau malah Mama yang kurang pertumbuhan ya?" mereka pun kembali tergelak.
"Udah Ma, perut aku sakit." kini Alula memegangi perutnya . berada dekat dengan Mama membuatnya selalu tertawa.
Mama hanya tersenyum kemudian berkata "Kamu sama Emir gimana? udah gak takut lagi kan sekarang?"tiba-tiba saja Mama mengalihkan pembicaraan.
Alula menggeleng, kemudian tersenyum. entah mengapa berada didekat Mirza membuatnya merasa aman, merasa terlindungi. bukan, bukan karena ia menyukai Mirza, mungkin karena Mirza yang pernah menolongnya beberapa kali?
"Dulu Emir anaknya baik banget. penyayang sama semua orang. ini bukan karena Mama lagi belain si Emir ya." sanggah Mama.
"Semenjak adeknya Inara, meninggal. Emir jadi berubah. dia selalu cuek banget tiap kali ketemu teman perempuan. gak pernah mau ngomong. dan itu berlangsung sampai dia besar seperti sekarang."Mama menjeda ucapannya.
"Sampai sekarang, Mama juga gak pernah liat dia deket sama perempuan. bahkan teman-temannya bilang, Emir suka jutek, dingin banget kalau ada yang deketin. Mama tuh jadi khawatir sama sikapnya. bagaimanapun Emir juga butuh pendamping suatu saat nanti." Alula hanya diam dan mendengarkan. ia membenarkan semua yang dikatakam Mama. Mirza juga tidak pernah berkata dengan lembut padanya.
"Kamu jangan diambil hati yah, kalau Emir ngomongnya sedikit kasar. sebenarnya dia itu peduli sama orang lain. siapapun dia bantu. tapi ya gitu, terkadang dia suka salah dalam mengambil sikap."Mama menepuk pelan punggung tangan Alula.
"Mama yakin, dengan kehadiran kamu sebagai pengganti adiknya, dia bisa merubah sikap dinginnya terhadap orang lain, termasuk perempuan." Mama mengulas senyum yang menambah kecantikan diwajahnya.
Alula mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Mirza beberapa bulan lalu. benar semua yang Mama katakan tentang Mirza, meskipun kata-kata nya terdengar sedikit kasar, namun disisi lain, ia sangat tulus membantu orang lain tanpa melihat siapa yang ia bantu.
Alula pun mengingat pertemuan mereka selanjutnya. dimana Mirza pula yang menyelamatkannya dari Paman Leon. jika ia orang yang tidak peduli, tentu saja ia tidak akan berhenti dan turun dari mobilnya untuk menolong Alula bukan? tapi Mirza tetap turun dari mobilnya dan menyelamatkan Alula meskipun ia tahu,ia sedang membahayakan dirinya sendiri.
.
.
.
Happy readding.. 😊
FYI :
Dalam Bahasa Sunda, gedang artinya Pepaya, sedangkan dalam Bahasa Jawa gedang artinya pisang.
Indonesia kaya akan bahasa bukan? satu kata tapi berbeda arti. tetapi bahasa pemersatu tetaplah Bahasa Indonesia.
__ADS_1