
Sepanjang perjalanan pulang, Alula lebih banyak diam. sama halnya dengan Mirza. mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. hingga yang terdengar hanyalah suara deru mesin kendaraan serta bunyi nyaring klakson yang saling bersahutan.
Perjalanan yang biasanya diselingi dengan canda dan gelak tawa, kini terasa hening. bahkan sampai dihalaman rumah, keduanya tak ada yang bersuara. Alula turun dari motor dan berjalan dengan cepat kedalam rumah tanpa menunggu Mirza yang tengah memarkirkan motornya di garasi.
"Lu kenapa sih dek, dari tadi diem mulu." Mirza mengikuti Alula sampai kekamarnya. ia merasa heran, mengapa sejak tadi Alula hanya diam. sedangkan biasanya selalu ada saja hal yang perempuan ini ucapkan.
"Aku cape bang. ngantuk, mau tidur." ucapnya sambil menyimpan ransel diatas tempat tidur, tanpa menoleh pada Mirza. entah mengapa setelah melihat pemandangan -yang menyakitkan- tadi, dirinya merasa malas berbicara.
"Lu marah sama gue?" tanya Mirza sambil menarik tangan Alula yang baru saja menyimpan tas ranselnya diatas tempat tidur.
Alula menoleh, dahinya nampak mengernyit.
"Bukannya abang yang marah sama aku?"
"Dari kemarin abang diemin aku, kenapa sekarang malah abang bilang aku yang marah?" Alula menatap Mirza yang kini berdiri disampingnya.
"Siapa yang marah?" sanggah Mirza tak terima, padahal dirinya hanya kesal saja.
Alula menghela napas dengan kasar. abangnya memang tidak pernah mau mengalah.
"Yaudah kalo gak marah." tukasnya,
"Aku cape bang, mau rebahan." ulangnya mencoba memberi pengertian.
"Yaudah gue temenin."
"Abang ih." protes Alula, ia menatap tajam pria disampingnya.
"Canda elaah." Mirza berlalu meninggalkan Alula yang kini telah mendudukan dirinya ditepian tempat tidur. ia menatap punggung pria yang dicintainya -entah sejak kapan- hingga menghilang dibalik pintu.
Dering telpon membuat Alula menoleh pada asal suara, diraihnya sebuah handphone dari dalam tas. dahinya mengernyit saat melihat nama seseorang disana.
Sasa calling..
"Hallo sa," sapa Alula setelah panggilan terhubung. ia merebahkan dirinya diatas tempat tidur.
"La, kamu udah pulang?" tanya Marsha dengan nada khawatir.
"Baru nyampe, kenapa?"
"Gak sih, eum..." Marsha terdiam merasa ragu untuk mengungkapkan.
"Kenapa Sa?" desak Alula karena Marsha mendadak diam.
"Tadi... aku.. "
"Kenapa?"
"Aku lihat Bang Emir boncengan sama Kak Gweny."
"Oh.. " jawab Alula singkat, namun malah membuat Marsha kesal.
Sejak pulang sekolah, Alula tidak keluar dari kamarnya. ia sibuk didalam kamar, tengah berkutat di dengan pensil dan kertas nya. belakangan ini ia lebih fokus pada tugas-tugasnya disekolah, sehingga pesanan desain dari Bu Nuning terbengkalai. dan mau tak mau ia mengerjakannya setelah pulang sekolah.
"Sayang.. " panggil Mama Indri ketika membuka pintu kamar.
Alula mendongak, ia tersenyum menatap hangat wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tengah berjalan kearahnya. Alula tersenyum, merasa beruntung menerima kasih sayang dari wanita itu.
"Lagi apa sih?" Mama Indri mendudukan dirinya disamping Alula.
"Buat desain Ma, aku udah beberapa hari gak setor sama yang punya Butik." ucapnya sambil tersenyum, lalu kembali tenggelam dalam gambarnya.
__ADS_1
Mama Indri balas tersenyum,
"Anak Mama ini memang mandiri. gak mau nyusahin orang lain."
Sudah terhitung beberapa kali Mama Indri mengusulkan agar Alula mulai belajar membuka butiknya sendiri. Mama Indri yang akan menjamin semuanya sampai benar-benar beres. namun Alula selalu menolak. ia tidak mau menambah hutang budi pada keluarga ini.
"Mama do'akan, suatu saat nanti kamu akan menjadi designer yang hebat." Mama Indri menaik turunkan alisnya, seperti tengah menggoda Alula.
"Terima kasih Ma." ucap Alula dengan tulus.
"Tapi, jadi orang hebat itu perlu makan yang banyak. biar makin kuat, otak juga makin encer. nah kamu dari tadi belum makan, gimana mau jadi orang hebat."
Belum sempat Alula menjawab, terdengar bunyi "Kriukkk" yang berasal dari perutnya.
"Nah kan, Mama yakin cacing-cacing diperut kamu tuh sekarang pasti lagi pada goyang dugong."
Alula tertawa mendengar celotehan Mama Indri, ia menyimpan kertas-kertasnya diatas tempat tidur. lalu beranjak kedapur untuk ikut menyantap makan malam.
"Ayah belum pulang Ma?" tanya Alula saat mendudukkan diri dikursi meja makan. ia menghirup napas dalam-dalam, merasakan wangi aroma makanan yang masih mengepulkan asap diatas meja makan.
"Bentar lagi palingan, tadi Papa bilang ada pertemuan mendadak." jawab Mama Indri dengan tangan mengambil piring, lalu memasukkan nasi dan lauk kedalamnya.
"Abang kemana?" sejak dari tadi ia tidak mendengar suara orang yang selalu berisik saat dirumah itu.
"Biasalah, lagi keluar. mungkin sama duo baragajul." Mama mulai melahap makanan yang telah tersaji.
Alula hanya mengangguk-anggukan kepalanya, mungkin sang abang saat ini tengah nongkrong bersama kedua sahabatnya.
"Dia gak mungkin jalan sama cewek kan." ucapan Mama Indri membuat Alula mendongak.
"Memangnya ada, cewek yang suka sama dia dan berhasil deketin dia. mukanya aja udah kaya es batu. dingin, keras, dan da.... "
"Hah, Siapa?" Mama indri nampak pensaran.
Seandainya saja Alula bisa berkata,
"Itu aku Ma, itu aku yang jatuh cinta sama anak Mama. Aku yang sudah menyukainya bertahun-tahun yang lalu. dan sekarang aku sudah berhasil mendekatinya. apakah Mama akan menyetujui aku? aku yang menjadi pendamping buat Abang. apa Mama akan menerima aku yang hanya seorang anak supir ini ? ah, sekalipun mereka menerima, aku tetaplah orang kecil. orang yang menumpang hidup dalam keluarga yang berhati besar. cukup bagiku hanya mencintainya dalam diam. melihatnya tertawa, sudah membuatku bahagia."
"Sayang, malah bengong." tepukan tangan Mama Indri dibahu Alula membuatnya terperanjat, hingga meleburkan lamunannya.
"Eh, i.. iya Ma." Alula tergagap.
"Siapa?" desak Mama Indri.
"Beneran ada cewek yang lagi deket sama abang kamu?" Mata Mama Indri berbinar, seolah kabar itu adalah kabar yang membahagiakan.
Dengan ragu Alula menganggukan kepalanya.
"Siapa namanya?" Mama Indri kembali mendesaknya.
"Namanya.. " entah mengapa lidahnya mendadak kelu, rasanya berat sekali mengucapkan satu nama itu. Mama Indri menatapnya dengan tatapan ingin tahu. ia tak tahan, ingin sekali berkata "Aku, aku Alula Ma." namun yang keluar dari mulutnya adalah..
"Gweny.. namanya Gweny." Alula menghela napas panjang. teringat kembali ucapan Marsha ketika menelponnya tadi.
"Aku kayak kebakaran jenggot liat abang kamu boncengan sama cewek lain. dan kamu cuma bilang, Oh? ya ampuuuun... sia-sia kepanikanku tadi dong Lalaaa..."
Marsha tidak tahu saja, bahwa dirinyapun hampir saja menangis menahan perih. jika saja ia tidak ingat, ia masih berada didepan gerbang sekolah.
Hening..
tak ada yang bersuara, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang mendominasi keduanya.
__ADS_1
"Gweny?" tanya Mama Indri tak percaya, merasa tidak asing ditelinganya.
"Kak Gweny teman Abang saat masih sekolah." terang Alula.
"Kamu pernah ketemu?" dahi Mama Indri nampak mengernyit.
Alula mengangguk "Beberapa kali."
"Dia cantik, baik. kelihatannya suka sama Abang." ia tersenyum. namun dari senyumannya tersirat luka.
Obrolan mereka terhenti saat suara pintu terbuka disertai ucapan salam terdengar begitu menggema diruang tamu.
"Kamu ngucapin salam kayak orang yang ngajakin berantem." ujar Mama setelah menjawab salam anak bujang satu-satunya itu.
"Mama juga kalo bangunin orang tidur kayak yang ngajak tawuran." Mirza mendudukan dirinya dihadapan sang Mama.
"Heh, dibilangin malah ngeyel."
"Itu cuci tangan dulu atuh, kamu gimana sih." ucap Mama Indri yang melihat Mirza dengan cepat menggigit buah apel yang ia ambil dari atas meja. Mirza hanya cengengesan.
"Jadi, kapan mau dikenalin sama Mama?" tanya Mama Indri yang saat ini sudah selesai dengan makan malamnya.
Mirza mendongak, senyumnya tiba-tiba saja menghilang. ia menatap Mama Indri dengan dahi yang mengkerut.
"Maksudnya?" tanyanya.
"Gweny, kapan mau dikenalin."
Uhuk... uhuk...
Alula tersedak makanannya sendiri. ia tidak menyangka Mama Indri akan langsung menanyakannya pada Mirza.
Mama Indri meraih gelas dari hadapannya "Minum sayang!" serunya pada Alula smbil menyodorkan satu gelas air putih.
Alula menunduk, tak berani menatap wajah Mirza yang ia yakin pasti sekarang Mirza tengah menatapnya dengan tajam, seakan ingin menelannya hidup-hidup.
.
.
.
Happy reading... 😊
bonus otor kasih foto dedek Lula sama Gweny..
Gweny, selalu tampil cantik dan anggun dengan senyum yang tak pernah pudar dari wajahnya.
Alula, dedek gemesnya Abang Mirza. gadis cantik, pintar dan pemberani. namun sisi lain dari seorang Alula adalah sifatnya yang selalu rendah diri. merasa dirinya tak layak untuk bersanding bersama pria yang ia cinta..
Jangan lupa like and comment nya !
semoga semakin kuat halunya, sama kayak otor. 😅
*salam halu.. 😂
__ADS_1