
Bukannya ia tidak tau seseorang sedang memeperhatikannya diatas balkon rumah Mama Indri. tapi ia hanya tidak tau harus berbuat apa ketika mata mereka saling bertemu. setelah rasa sesak didada sedikit mereda, Ayah berpamitan padanya untuk pergi mengantarkan Pa Jaya ke kantor.
Meskipun Pa Jaya sudah memberikan izin kepada Ayah agar tidak bekerja dulu untuk menemani Alula. tapi Alula meyakinkan Ayah bahwa ia baik-baik saja jika ditinggal sendirian. Ia yakin, disini adalah tempat teraman untuknya saat ini.
Setelah kepergian Ayah, Alula kembali kedalam paviliun dengan membawa kantong makanan yang Ayah berikan tadi. ia segera memakan makanan dengan lahap, seolah sudah lama tidak menemukan makanan.
Alula kembali kedalam kamar setelah ia menghabiskan makanannya. ia meraih buku catatan bersampul hitam milik Ibunya yang tersimpan diatas meja. Alula beranjak naik keatas ranjang, lalu menyelonjorkan kakinya disana. perlahan, ia membuka lembar demi lembar kertas didalam buku itu lalu mengambil selembar foto yang terselip didalamnya. foto masa kecilnya bersama Dwi, Ibu dan Ayah. ia menatap nyalang selembar foto tersebut, lalu tersenyum. tiba-tiba saja hatinya menghangat.
"Ibu..Dwi.. Kalian lihat kan? sekarang Lula udah ketemu sama Ayah. Ibu sama Dwi seneng kan ? Lula udah sama Ayah sekarang. Ibu gak usah khawatir lagi, Lula akan baik-baik saja bersama Ayah. Ibu dan Dwi yang tenang disana ya ! semoga suatu saat nanti, kita bisa kembali berkumpul bersama disana." Alula meletakan selembar foto itu di dadanya. ia mendekapnya erat, seolah sedang memeluk Ibu dan Dwi secara langsung.
"Ibu, semua yang dikatakan Ayah itu tidak benar kan Bu? sepertinya Ayah salah paham pada Ibu, Lula akan menceritakan semua yang pernah Ibu katakan pada Lula. boleh kan Bu? Lula tau Ibu sering diam-diam menangis dikamar Lula. Lula juga dengar semua yang dikatakan Ibu. Lula tidak mau Ayah membenci Ibu. Ibu tidak pernah salah. pria itu yang jahat ! Iya.. dia pria paling jahat. Lula benci sekali sama dia."
Kini, tidak ada air mata yang keluar, ia hanya sedang mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dalam kehidupannya. tapi, ia juga tidak akan pernah melupakan pengalaman hidupnya bersama pria yang paling ia benci. sebagai pembelajaran, jika hidup tidak selamanya bahagia.
Alula menyimpan kembali foto tersebut kedalam buku bersampul hitam itu. lalu menaruh buku itu kedalam lemari berukuran kecil yang ada didalam kamarnya. ia merapikan beberapa baju dan surat-surat yang ia bawa didalam ranselnya.
Setelah selesai berkemas, ia keluar dari paviliun. mencoba menikmati suasana pagi menjelang siang halaman belakang rumah keluarga Mahesa. Jika dari depan, rumah ini bergaya modern dengan pilar-pilar besar menjulang begitu mewah, beda lagi dengan halaman belakang rumahnya, yang terkesan menyejukan mata.
Selain Paviliun yang dilengkapi perabotan bergaya etnis , disamping paviliun juga terdapat sebuah kebun yang banyak ditumbuhi berbagai jenis tanaman buah-buahan. seperti pohon mangga, pisang, pepaya bahkan pohon singkong. selain pepohonan, terdapat sebuah Gazebo yang cukup besar yang terbuat dari bambu berkualitas terbaik tentunya. bersebrangan dengan kolam renang dan kolam air mancur yang dihuni berbagai ikan hias. sedangkan disampingnya ada taman kecil yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman hias dan bunga.
Alula berjalan menyusuri jalan setapak yang disamping kiri kanannya terhampar rumput hijau. ia menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan. ia mengedarkan pandangannya melihat-lihat pemandangan apapun yang ditangkap retinanya. hingga tiba-tiba seseorang menyapa nya. ia terlonjak kaget.
"Neng ini teh anaknya Pa Abhi yah?" sapa seseorang disana.
"Ehh, i.. iya Pa." dengan gugup ia menjawab sapaan orang itu.
__ADS_1
"Aduhh.. meni geulis pisan (cantik sekali) neng. Saya tukang kebun disini, Eneng teh boleh manggil saya Mang Ujang." seseorang itu memperkenalkan diri sebagai tukang kebun. namun Alula terlihat tidak nyaman dengan kehadiran Mang Ujang.
"Maaf ya neng, sudah mengganggu. silahkan jalan-jalan lagi." ucapnya sungguh-sungguh.
"Eh eum.. gak apa-apa ko Pak. terima kasih." jawabnya gugup.
"Yang betah tinggal disini ya neng. keluarga ini pada baik-baik orangnya." Mang Ujang kembali melakukan aktivitasnya. Alula hanya tersenyum sebagai balasan.
Bukannya Alula tidak ingin berlama-lama mengobrol dengan Mang Ujang. bagaimanapun, ia juga pasti akan membutuhkan orang lain jika dalam kesulitan. hanya saja saat ini ia merasa belum siap jika berkomunikasi dengan orang lain. terlebih orang yang baru ia kenal.
Alula kembali berjalan melewati pinggiran kolam renang. tanpa terasa kakinya melangkah ke arah Gazebo. ia mendudukan dirinya disana. menyandarkan kepalanya ke bagian samping Gazebo. ia menatap nanar kolam renang yang airnya nampak tenang, karena tidak ada orang yang memakainya. sesekali pandangannya tertuju pada ikan-ikan yang berenang bebas didalam kolam air mancur.
Sesekali ia juga memejamkan mata, mengingat kembali kejadian malam itu. ia menggelengkan kepalanya, mencoba melenyapkan rasa takutnya. hingga pikirannya mendadak lega karena ingatannya mengenai seseorang. dimana ia ditolong oleh seseorang itu. ia mengingat-ngingat wajah itu, wajah yang pernah ia temui beberapa kali. tanpa terasa kedua sudut bibirnya terangkat meninggalkan lengkungan senyum disana.
"Lula.. " lamunannya terhenti karena seseorang kembali menyapanya.
"Ayo duduk diatas." Mama Indri menggamit tangan Alula dan menariknya masuk kedalam Gazebo.
"Bagaimana sekarang? sudah baikan?" tanyanya sambil menatap lekat wajah Alula. namun belum sempat Alula menjawab Mama Indri lebih dulu berteriak.
"Mbaaak Srii... tolong bawakan makanan kesini" teriaknya.
"Sa.. sayaa sudah baikan Bu." jawab Alula dengan gugup.
"Syukurlah.. kamu manggil Mama aja yah ! biar kaya teman-temannya Emir juga." Mama Indri mengusap tangannya dengan lembut. entah mengapa panggilan 'Mama' untuk Alula terasa begitu asing.
__ADS_1
"Sa.. saya ngga berani Bu." jawabnya jujur.
"Ehh kenapa ?"
Alula merasa gugup, karena untuk pertama kalinya ia berbicara dengan Mama Indri yang ia tahu adalah salah seorang dermawan yang sering memberikan bantuan pada rumah singgah Ibu Indah. "Sa.. saya.. " belum sempat Alula menjawab Mama Indri memotong ucapannya.
"Kalo gitu sekalian aja kamu tinggal didalam yah ! biar Mama ada temennya." namun Mama Indri tetap pada pendiriannya dengan menyebut dirinya Mama.
Manggil Mama saja aku tidak berani, apalagi tinggal disana. gumamnya dalam hati.
Alula hanya diam tak menanggapi.
"Nanti Mama kenalin sama anak bujang Mama yang ganteng. biar kamu ada temen ngobrol disini mau yah?"
Makin gugup saja Alula mendengar perkataan Mama Indri. membayangkan ia akan bertemu dengan anaknya ia menelan ludahnya sendiri, lalu menghela napas panjang untuk mengurangi rasa gugupnya.
Hingga tak terasa waktupun berlalu. dengan diselingi makanan ringan dan minuman dingin, obrolan mereka pun mengalir begitu saja dengan Mama Indri yang mendominasi. Beliau yang memang merindukan anak perempuannya merasa senang dengan kehadiran Alula saat ini.
.
.
.
Happy reading.. 😊
__ADS_1
mungkin selanjutnya adalah pertemuan Alula sama kangMas nya... ditunggu yah..
jangan lupa like and comment nya.. 😍