
Mama Indri memperhatikan Pa Abhi yang masih termenung ditempat duduknya. setelah Dokter Iwan berpamitan, keluarga Sanjaya masih berkumpul diruang tamu. Pa Sanjaya yang baru pulang dari luar kota pun ikut menemani Pa Abhi yang sudah dianggap keluarganya sendiri.
"Pa Abhi." Mama Indri memecah lamunan Pa Abhi.
Pa Abhi mendongkangkan kepalanya "Ya bu." jawabnya. wajahnya masih terlihat sedih. Mama Indri tau, Pa Abhi pasti sangat terpukul.
"Saya turut berduka cita atas meninggalnya istri dan anakmu." Pa Abhi mencoba terlihat tabah, dengan berat hati ia tersenyum dan mengangguk.
"Sudah berapa tahun saya tidak bertemu dengan mereka. tiba-tiba saja saya mendengar kabar seperti ini." Pa Abhi menghela nafas panjang. takdir sedang menguji kesabarannya.
"Sabar ya Bhi. mudah-mudahan anak dan istrimu tenang disana. karena sekarang Alula sudah menemukan ayahnya." Pa Sanjaya menepuk pelan punggung Pa Abhi.
"Pa Abhi, sebelumnya saya pernah bertemu dengan Alula." ucap Mama Indri
"Oyah ? Dimana?" Pa Abhi nampak penasaran.
"Belum lama ini, di salah satu rumah singgah yang dulu sering saya kunjungi dengan Inara. dan waktu pengajian kemarin, Alula juga datang ke sini." tuturnya. Pa Abhi hanya diam mendengarkan. saat pengajian di kediaman Sanjaya kemarin ia memang sedang tidak dirumah karena mengantar Pa Sanjaya ke luar kota.
"Dia sempat tinggal dirumah singgah?" tanya Pa Abhi antusias.
"Iya, dulu saat saya kesana, Alula baru tinggal beberapa hari disana. kata Bu Indah, dia ikut bersama dua anak panti yang sudah lama tinggal disana. dan dia datang dalam keadaan yang_" Mama Indri ragu untuk melanjutkan ceritanya.
"Maaf, saya sedikit mendengar cerita bahwa Alula sering diperlakukan tidak baik oleh ayah tirinya dan_ "
"Ayah tiri?" Pa Abhi menyela pembicaraan Mama Indri. ia sedikit terkesiap mendengar kabar itu.
__ADS_1
"Iya. Bu Indah bilang, dulu saat Alula datang, ada beberapa luka memar diwajahnya. dan beliau juga bilang kalau Alula sedang mencari Ayah kandungnya. saya tidak tau kalau Pa Abhi adalah ayah Alula."
"Ini semua salah saya. kalau saja dulu saya tidak egois dan meninggalkan rumah, semua tidak akan seperti ini. saya tidak tau kehidupan macam apa yang mereka jalani setelah saya pergi. "Suara Pa Abhi terdengar lemah. ia tertunduk, tangannya memijat dahinya yang terasa pening.ia terlalu banyak menerima kabar buruk hari ini.
"Jangan menyalahkan diri sendiri Abhi, semua sudah takdirNya. sekarang, anak kamu disini. kamu harus menjaga dia !" Pa Sanjaya mencoba menghibur dan memberikan dukungannya.sedangkan Mirza hanya diam mendengarkan.
"Waktu pertama kali ketemu, Alula ceria sekali. Dia bernyanyi dan ketawa-tawa sama anak-anak panti yang lain. " Mama Indri tersenyum, ia menceritakan pertemuannya dengan Alula di rumah singgah.
"Tapi saya gak nyangka, dia bisa sehisteris tadi." lanjutnya, raut wajahnya berubah sendu.
"Dari dulu Alula memang selalu terlihat ceria, dia tidak pernah memperlihatkan kesedihannya didepan orang lain." Pa Abhi tersenyum, matanya nampak berkaca-kaca. ia mengingat kembali kehangatan keluarganya.
"Dibanding Ibunya, saya lah yang paling dekat dengannya. Alula dan Dwi adalah saudara kembar. namun dari balita, Dwi sudah mengidap kelainan diparu-paru nya."
" Anakku Dwi.. dia berbeda dengan Alula. dia lebih cenderung pendiam tak banyak bicara. jika pulang sekolah, dia lebih suka membaca buku atau komik didalam rumah. diusia yang seharusnya dia habiskan bersama teman-temannya, dia harus rela berdiam dirumah. karena jika dia lelah sedikit saja, nafasnya bisa tiba-tiba sesak. dan kami selalu memberikan perhatian lebih pada Dwi. tanpa kami sadari Alula sering merasa iri dengan perhatian kami. "
"Kami selalu bilang kalau 'Alula anak yang kuat. Lula bisa melakukan apa saja yang Lula mau. Ibu dan Ayah juga sayang lula. tapi Dwi lebih butuhin ibu. Lula bisa kan jaga diri lula sendiri?' Dia hanya mengangguk lalu tersenyum. Alula selalu ingin terlihat bahagia. padahal saya tau dia sedang tidak baik-baik saja." Pa Abhi mengulas senyum, ia selalu bangga pada Alula.
Meskipun begitu, Alula tetap menyayangi adik kembarnya dengan begitu tulus. Dua anak kembar dengan berbeda karakter. tak jarang mereka berselisih, beradu mulut bahkan sampai bertengkar saling berebut. tapi mereka juga saling menyayangi satu sama lain. terbukti jika salah satu diantara mereka sakit, maka yang lainnya pun akan ikut merasakannya. begitulah anak kembar, ikatan mereka cukup kuat.
Alula berperan sebagai kakak yang baik, dia selalu berusaha melindungi Dwi. Pernah suatu hari, Alula pulang sekolah dalam keadaan terluka. ia bilang habis jatuh karena bermain kejar-kejaran dengan temannya.
ia hanya meringis ketika sang Ayah mengobati lukanya.
sambil tersenyum dia bilang
__ADS_1
"Lula ga apa-apa ko Ayah, kata Ibu, Lula kan kuat. Lula gak nangis loh yah pas jatoh tadi. lula hebatkan yah?" Alula tersenyum lebar. Ayah hanya mengangguk lalu membalas senyumnya. padahal Ayah tau kalau Alula membela Dwi yang diganggu oleh temannya ketika disekolah. Dwi yang menceritakannya. pulang sekolah Dwi selalu dijemput Ayah dengan menggunakan sepeda motor. Alula selalu menolak untuk ikut dengan alasan lebih suka jalan kaki.
Atau saat Dwi sakit, Alula sebagai saudara kembar juga ikut khawatir. ia selalu memberikan perhatiannya sebagai seorang kakak.
"Ayah, Dwi sakit ya yah? kasian ya. nanti Lula beliin roti isi keju kesukaan Dwi diwarung Bu Eti deh .tapi uangnya minta ya Yah, Hehee. soalnya uang Lula abis tadi buat beliin Ibu kue. tapi ayah jangan bilang Ibu yah kalo Lula minta uang sama ayah." Ayah mengangguk lalu tersenyum. ia mengusap lembut kepala Alula.
Tak hanya itu, Alula juga sering mengalah pada Dwi untuk memberikan nilai terbaiknya disekolahnya. Padahal, dibanding Dwi. Alula lebih memiliki kecerdasan dan kekreatifan yang luar biasa.
"Ayah, tadi disekolah Dwi dapet nilai 98 loh pas ngumpulin tugas seni , Lula dapet 90. Lula yang gambar dua-duanya sih semalem. Dwi bilang ga boleh bantuin ! tapi Lula maksa. Dwi kan ga bisa gambar Yah, kasian kan kalo Dwi dapet nilai kecil. yaudah Lula bantuin dia aja." Ayah hanya tersenyum. meskipun Ayah selalu melarang Alula untuk tidak melakukan hal itu, tapi tetap saja Alula selalu melakukannya. bukan hanya sekali, tapi sering sekali.
Jika kenaikan kelas tiba, Dwi selalu pulang dengan gelar peraih juara kelas, dan Alula harus puas dengan juara 2. meski begitu Ayah selalu bangga pada kedua anaknya.
Ayah mengulas senyum, anak perempuannya sekarang tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik.
.
.
.
Segitu dulu ya riderssss..
Happy readding ☺
Jangan lupa tinggalkan jejak!
__ADS_1
like and comment nya Jan lupa! 🤗