
"Lama banget sih dek, jam segini baru keluar!" gerutu Mirza ketika melihat Alula keluar dari pintu gerbang sekolah dengan wajah lelah.
Sudah hampir satu jam ia menunggu Alula di samping gerbang sekolah, rambutnya yang sempat basah usai membersihkan diri tadi, kini sudah kering kembali.
Alula terdiam, entah mengapa hatinya selalu menghangat setiap kali Mirza memanggilnya 'adek'.
Dahi Alula mengernyit tak percaya "Abang?"
"Iyaa gue, ehm.. aku udah nungguin dari tadi, dari satu jam yang lalu."ucapnya.
Alula terperangah, lalu ia melirik jam dipergelangan tangannya. bukankah biasanya ia keluar dari gerbang dijam segini? lalu kenapa Mirza sampai menunggunya hampir satu jam?
"Maaf," namun Alula tertunduk tak berani berkata apapun.
"Ya udah, yuk naik !" seru Mirza sambil menyodorkan helm yang biasa Alula pakai. lalu ia naik keatas motornya.
Seperti biasa, Alula harus meraih bahu Mirza ketika hendak naik keatas motor. tubuh mungilnya selalu kesusahan ketika menaiki motor Mirza yang cukup tinggi.
Namun seseorang yang memanggilnya membuat ia menoleh.
"Lalaa," teriak Marsha dengan riang. tadi Mereka sempat berpisah diparkiran, karena hari ini Marsha pulang bersama Dito.
"Aku duluan yah." Marsha melambaikan tangannya diatas motor yang dikendarai Dito. Alula membalas lambaian tangan Marsha. namun ia segera menundukkan kepalanya ketika Dito tersenyum kearahnya. entah mengapa ia masih belum terbiasa berinteraksi dengan pria lain. selain Mirza tentunya.
"Mau langsung pulang?" Suara berat Mirza membuat Alula terperanjat dan buru-buru menaiki motornya.
Ia kini telah duduk sempurna di bangku belakang, ketika Mirza menghidupkan mesin motor.
"Terserah abang." jawabnya sebelum Mirza melajukan sepeda motornya. ia tidak punya pilihan lain, selain ikut saja kemana Mirza membawanya pergi.
"Gue.. eh, aku laper." entah mengapa sulit sekali rasanya untuk Mirza menyebut kata 'aku'.
"Makan dulu yah !" ajaknya.
Meskipun tidak terlihat secara langsung oleh Mirza, namun Alula tetap menganggukan kepalanya.
Sepeda motor yang dikendarai Mirza melaju membelah padatnya jalanan Ibu kota. suara bising klakson saling bersahutan seakan berebut ingin lebih dulu sampai ditempat tujuan.
Alih-alih pergi ke restaurant atau cafe, Mirza justru membelokkan motornya ke kedai bakso, tempat pavoritnya bersama Martin dan Marko.
"Lu, ehm kamu suka bakso kan?" tanya Mirza ketika ia telah memarkirkan motornya dengan sempurna dihalaman kedai.
__ADS_1
Alula mengangguk, tanpa berkata apapun. tangannya kini tengah sibuk membuka pengait helm, yang entah mengapa tiba-tiba saja terasa sulit terlepas.
"Kenapa?" dahi Mirza mengernyit, namun sedetik kemudian ia mendekatkan wajahnya tepat disamping Alula. tangannya sibuk membantu Alula membuka pengaitnya.
Sedangkan Alula harus memalingkan wajahnya ke arah lain ketika wajahnya dan wajah Mirza hanya berjarak beberapa senti. iapun berusaha mengontrol degup jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak tak beraturan. Hmmm menyebalkan.
"Nah udah, yuk! " ajaknya, setelah pengait helm berhasil terlepas. Alula mengangguk sambil mengekori Mirza yang kini berjalan masuk kedalam kedai bakso.
Namun sebelum benar-benar masuk, sudut matanya sempat menangkap seorang perempuan yang berpakaian seragam sama seperti dirinya, tengah bergelayut manja pada lengan seorang pria yang berumur jauh diatasnya, perempun itu masuk kedalam cafe yang berada tak jauh dari kedai.
Dahi Alula mengernyit demi mendapati seseorang yang ia kenal disana "Risma?" gumamnya pelan, namun masih terdengar oleh Mirza.
"Siapa?" tanyanya.
Alula menoleh "Eh, enggak. itu ada temen aku." ujarnya.
"Oh," Mirza hanya mengangguk lalu kembali berjalan masuk.
Kini mereka tengah duduk berseberangan menunggu pesanan mereka datang. banyaknya pengunjung yang datang membuat mereka harus menunggu cukup lama.
Alula mengedarkan pandangannya, meneliti setiap sudut kedai tersebut. mulai dari tempat duduk, peralatan makan, purniture bahkan dapur tempat penjual menyiapkan bakso nya. tidak ada yang mewah, semua nampak sederhana.
Kini, Alula menatap Mirza dengan rasa kagum, karena selera Mirza ternyata tidak seperti yang ia pikirkan. dengan kekayaan yang melimpah, Mirza selalu tampil dengan sederhana. bahkan, selama beberapa hari tinggal bersama dirumahnya pun ia sama sekali tidak pernah mendengar Mirza banyak permintaan. ia selalu memakan apapun yang Mbak Sri ataupun Mama Indri siapkan.
Hey.. tapi, apa tadi dia bilang, keren? Hmmm percaya diri sekali. batinnya dengan tetap menunduk.
Kedua sudut bibir Mirza tertarik keatas membentuk sebuah senyuman, demi mendapati ekspresi Alula yang tiba-tiba gugup. nah kan 1:1 .
"Gue, ehm duhh, susah banget sih bilang aku." ucap Mirza yang merasa kesal dengan dirinya sendiri.
"Aku sih gak masalah makan dimana pun, yang penting bersih, sehat dan yang pasti enak. kamu harus nyobain bakso disini ! ini tempat pavoritku sama temen-temen kalo lagi pengen makan bakso." ujarnya.
Mirza merasa aneh pada dirinya sendiri, entah mengapa ia bisa segamblang itu berbicara panjang lebar pada Alula. padahal sebelumnya, ia tidak pernah seperti itu.
Alula tersenyum mendengar perkataan Mirza, ia semakin kagum dengan kesederhanaan Mirza.
Ternyata mereka memiliki kesukaan yang sama, yakni bakso dengan kuah bening. tanpa saus dan tanpa kecap. hanya menambahkan sambal diatasnya.
"Biar makin pedas, kayak mulut tetangga." begitu kata Mirza ketika ia menambahkan satu sendok sambal untuk kedua kalinya.
"Emang mulut tetangga ulekan, dipakein cabe." ucap Alula dengan polosnya. membuat Mirza tertawa dan menampakan lesung pipit dipipinya yang entah mengapa terlihat begitu manis untuknya. hemmm..
__ADS_1
Setelah menghabiskan satu mangkuk penuh bakso, dan segelas jus jeruk mereka kembali membelah jalanan hendak pulang kerumah.
Mereka sampai dihalaman rumah dan mendapati sebuah mobil yang familiar telah terparkir dengan rapi disana. Alula turun dari motor, dan melihat Ayah tengah berdiri di depan pintu menyambutnya pulang.
"Ayaahhh.. " teriaknya begitu riang, setelah beberapa hari ia tidak bertemu dengan Ayah.
"Ayah kenapa lama sekali." ucapnya sambil memeluk tubuh Ayah.
Ayah hanya terkekeh kemudian berkata "gimana sekolahnya?"
"eum, apa Ayah tau, Sasa juga sekolah disana Yah."
Dahi Ayah mengernyit mencoba mengingat satu nama "Sasa?"
"Iya Ayah, Marsha anaknya Bunda Iren."
Namun belum sempat Ayah mengingatnya, suara Mama Indri dibalik pintu mengalihkan perhatian keduanya.
"Udah kangen-kangenannya?" Tanya nya pada Alula.
"Kamu harus mulai terbiasa ditinggal-tinggal sama Ayahmu." ucapnya kemudian.
Lalu Mama Indri berbisik ditelinganya "Dia istri kedua Papanya si Emir." bisiknya, namun masih terdengar dengan jelas ditelinga yang lain. membuat semuanya tergelak, tak terkecuali Mirza dan Pa Sanjaya yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Sehat La?" tanya Pa Sanjaya setelah tawanya reda. ia menepuk bahu Alula pelan. Alula hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Alula aja yang ditanya, anaknya sendiri enggak!" ucap Mirza yang kini berdiri disamping Mama.
Mama berbisik ditelinga Mirza "Anak Papamu nambah lagi, jadi kamu siap-siap dinomor duakan." Membuat mereka kembali tergelak.
.
.
.
Happy readding.. 😊
Terima kasih sebanyak-banyaknya atas dukungan dan apresiasi nya.
aku Terhuraaa 😢
__ADS_1
ternyata kehaluanku banyak yang suka...
*Salam halu..