
Benar apa yang dikatakan pepatah bahwa, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. begitu juga dengan Alula, sepandai-pandainya ia menghindari Yanuar, pada akhirnya akan bertemu juga.
Seperti halnya hari ini, Alula baru saja turun dari motor yang dikendarai abangnya, Mirza. akhir-akhir ini ia sengaja selalu datang lebih siang. tujuannya hanya untuk menghindar dari Yanuar yang selalu menuntut jawaban. jadi, saat ia masuk kedalam kelas, tak lama guru mata pelajaranpun masuk. dan tidak ada kesempatan untuk Yanuar berbicara dengannya.
Bahkan Mirza sering kali bertanya "lu gak pernah telat masuk kelas, berangkat jam segini?"
Namun Alula hanya menggelengkan kepalanya, tidak menjawab sepatah katapun.
"Aneh lu." begitu kata Mirza yang lagi-lagi tak mendapat jawaban dari Alula.
"Masuk dulu bang." pamit Alula pada Mirza.
Alula sedikit menunduk dengan tangan sibuk merapikan rok yang sedikit tersingkap.
Mirza tak menjawab, karena matanya kini justru fokus pada seseorang.
"Jadi, sekarang udah resmi nih." Mirza menyunggingkan senyum seperti tengah meledeknya.
Alula mendongakkan kepala, ia mengernyit "Maksud abang?" tanyanya tak mengerti.
Mirza menunjuk seseorang yang tengah berdiri di pintu gerbang dengan dagunya.
"Noh, udah ada yang senyum-senyum nungguin lu." ucap Mirza. namun entah mengapa terdengar nada kesal ditelinga Alula.
"Geli gue liatnya." lanjutnya.
Alula menoleh kearah yang Mirza tuju, dahinya kembali mengernyit demi mendapati "Yanuar? " tengah berdiri dengan senyum mengembang kearahnya.
"Dia orang yang waktu itu nembak lu kan?" tanya Mirza.
"Jadi, sejak kapan?" lanjutnya.
Dahi Alula lagi-lagi mengernyit tak mengerti.
"Sejak kapan lu gak takut lagi sama cowok ? dan sejak kapan lu berani pacaran." desaknya menuntut jawaban. entah mengapa ia merasa kesal dengan Alula saat ini.
"Aku gak ngerti maksud abang, dia.. dia bukan pacar aku." sanggah Alula dengan kepala tertunduk. ia merasa gugup, padahal ia tidak melakukan hal yang dituduhkan oleh Mirza.
Dan lagi, mengapa hatinya begitu sakit kali ini mendengar Mirza memanggilnya dengan kata 'Lu'. padahal Mirza sering memanggilnya dengan kata itu.
"Yaudah gih, cepet masuk, belajar yang bener ! jangan mojok deket tembok. entar kena tabok." Mirza memutar kunci dan menghidupkan kembali sepeda motornya.
"Abang, itu gak benar."Alula mencoba menjelaskan, namun Mirza telah jauh meninggalkannya.
Alula menghela napas panjang. sungguh, ia merasa kesal. tapi apakah hal yang membuatnya kesal? apakah pada tuduhan Mirza padanya, ataukah pada Yanuar yang sejak tadi menunggunya dipintu gerbang dengan senyuman merekah. karena kehadiran Yanuar disana jelas membuat Mirza menjadi salah paham padanya.
__ADS_1
Hey, tapi apa masalahnya ? Mirza bahkan hanya seorang abang untuknya.
Dengan berat Alula melangkahkan kaki kearah pintu gerbang, dengan Yanuar yang pastinya masih berada disana.
"Pagi La." sapa Yanuar ketika Alula telah sampai dihadapannya.
Alula menoleh sekilas "Pagi Yan."
Setelah balik menyapa, Alula berlalu dari hadapan Yanuar.
"Kenapa kamu menghindar terus?" tanya Yanuar terus terang "Aku masih nunggu jawaban kamu." lanjutnya sambil mengikuti langkah Alula.
Ya, sejak Yanuar menyatakan perasaanya, Alula selalu menghindari Yanuar, baik itu didalam kelas, maupun saat diluar kelas. seolah tidak pernah memberi kesempatan walau hanya sekedar menyapa. entahlah, ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. lebih tepatnya, ia tidak tahu bagaimana cara menolaknya.
"Aku gak bisa." jawab Alula pelan. ia memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.
"Kenapa ? kenapa gak bisa ?"
"Hey Lula. aku udah lama nungguin jawaban kamu. dan sekarang, kamu jawab gak bisa ?" ucap Yanuar dengan rahang yang mengeras.
Alula hanya diam, ia mengedarkan pandangannya. semua siswa yang berada didekatnya nampak mencuri dengar apa yang dikatakan Yanuar. membuatnya merasa malu karena menjadi perhatian.
"Maaf Yanu, aku gak bisa. aku cuma pengen fokus belajar."
"Halahh, alesan aja."
"Lulaa, gue gak terima yah lu giniin." ucap Yanuar setengah teriak.
"Hehh, lihat aja nanti." gumam Yanuar dengan menyunggingkan senyum.
...****************...
Sejak Alula menolak perasaan Yanuar untuknya, ia tidak pernah lagi menghidar ataupun sembunyi. sedikitnya ia merasa lega karena akhirnya Yanuar bisa mengerti dan berhenti mengejar-ngejarnya hanya untuk sebuah jawaban.
Namun kelegaannya tidak berlangsung lama. karena pagi ini, saat Alula masuk kedalam kelas semua mata memperhatikan kedatangannya. mereka memandang Alula dengan pandangan yang nampak meremehkan.
Semula Alula tidak peduli, ia tetap berjalan masuk dan mendudukan diri dikursinya, Mulan sudah ada disana, sedangkan Marsha baru saja masuk tak lama setelah Alula duduk.
"Gak nyangka aja sih, anak supir bisa sekolah disini." celetuk salah seorang siswa yang duduk tak jauh dari mereka.
Telinga Alula menangkap kata-kata itu, 'anak supir' apakah yang dimaksud adalah dirinya? ah mungkin saja orang lain. Alula mencoba menepis perasaannya.
"Bisa aja sih, kalo yang bayarinnya orang lain." timpal yang lainnya.
"Gak heran lah, cuma modal tampang aja. dia kan cantik, soal duit sih gampang."
__ADS_1
"Yahh, sekelas Yanuar aja dia tolak. nyari apa coba?"
"Ya pastinya nyari Om-om yang bisa nambah biaya sekolah."
Alula tersadar, sekarang ia yakin jika yang sedang mereka bicarakan adalah dirinya. tapi, siapa yang menyebar rumor seperti itu? seingatnya tidak ada yang mengetahui jika dirinya adalah anak seorang supir, Marsha dan Mulan jelas tidak mungkin menyebarkannya. Risma? apakah Risma yang melakukannya? tapi untuk apa.
Bukan perihal pekerjaan Ayah yang membuat hatinya sakit, tetapi tuduhan-tuduhan yang mereka katakan sungguh mengusik perasaannya. tidak pantaskah seorang anak sepertinya sekolah disini.
Bahkan tentang penolakannya terhadap Yanuar, ia tidak pernah menceritakannya pada siapapun. kecuali...
Alula melirik pada Yanuar yang duduk berdekatan dengan Risma. senyum Yanuar terlihat sinis, jelas ia sangat senang melihat raut wajah mendung Alula. lalu tatapannya kini beralih pada Risma yang memasang senyum tak jauh berbeda dengan Yanuar. ia kini yakin, jika yang melakukan semuanya adalah mereka berdua. apa yang sebenarnya mereka mau ? mengapa mereka melakukan hal itu.
Alula tidak pernah menyangka jika penolakkannya pada Yanuar akan berakhir seperti ini. Kini Alula tertunduk, matanya mulai memanas. cairan bening mulai terkumpul dipelupuk mata. namun sebuah tangan berhasil menenangkannya.
"Jangan nangis La !" Seru Marsha.
Alula mendongakkan kepalanya, menatap lekat mata Marsha.
"Kamu wanita kuat, dari dulu kamu gak pernah nangis sekalipun kamu merasa tersisihkan." Ucapnya lagi.
"Sekarang kenapa kamu mau nangis untuk orang-orang yang tidak suka denganmu?"
"Mereka cuma iri, karena mereka tidak bisa seperti kamu." entah kesambet setan mana, hingga Marsha bisa berbicara bijak seperti itu.
Mulan yang sedari tadi hanya mendengarkan, kini matanya basah karena ternyata dialah yang menangis.
Dahi Marsha mengernyit melihat Mulan "Ko' malah kamu yang nangis Lan?" tanya Marsha
Mata Mulan mengerjap "Aku sedih, kenapa kamu bisa ngomong kaya gitu." ucapnya dengan polos.Mulan mengusap ujung matanya yang kini berair.
Membuat Marsha berdecak kesal. bisa-bisanya Mulan berkata seperti itu.tapi, ia sendiri juga merasa bingung, mengapa ia mendadak bijak.
"Kamu diem aja, gak usah ngomong! "seru Marsha.
"Kan kamu yang nanya duluan, makanya aku jawab."
Wajah Alula yang awalnya mendung menjadi cerah ketika melihat kedua sahabatnya yang kini saling melempar canda.
Memang benar apa yang dikatakan Marsha, kita tidak perlu bersedih untuk orang yang tidak menyukai kita.
Sekalipun kita bersikap baik, tetap akan terlihat buruk dimata orang yang tidak menyukai kita.
.
.
__ADS_1
Happy readding.. 😊