
Mirza menatap nanar boneka barbie yang ia simpan didalam lemari kaca. boneka yang tersenyum dengan poni yang menutupi dahi itu tersimpan dengan begitu rapi, bahkan masih terlihat seperti baru. meskipun ia membelinya tiga belas tahun yang lalu.
Iapun tak sadar ikut tersenyum melihatnya, namun tiba-tiba wajahnya berubah sendu.
"Apa akhirnya aku harus melupakanmu ?" gumamnya pelan dengan mata yang masih menatap boneka barbie itu.
"Apakah takdir memang tidak mengizinkan aku untuk menemukanmu lagi ?" Mirza menghela napas panjang, merasa putus asa dalam penantian.
"Rain ... aku tetap berharap kita bisa bertemu lagi, agar aku bisa menepati janjiku."
"Janji untuk menemukanmu." lirihnya.
Seberapa keras ia mencoba membuka hati untuk perempuan lain, bayangan anak perempuan itu selalu saja hadir dalam ingatannya.
Yah, memang terdengar lucu. ia jatuh cinta saat ia masih anak-anak. bahkan ia sendiri belum mengerti apa itu cinta. tapi masa bodoh, orang-orang tidak akan mengerti apa yang ia rasakan.
Namun entah mengapa tiba-tiba saja wajah cantik Alula yang tengah tersenyum, usai ia memakaikan kalung perak padanya malam itu melintas begitu saja.
Dadanya terasa sesak, dengan debaran jangtung yang semakin berpacu kencang. perasaan apa sebenarnya yang tengah ia rasakan ini.
Mengapa setiap kali melihat Alula tersenyum, jantungnya mendadak berdebar begitu hebat. seperti saat dipasar malam, saat ia menemani Alula yang tengah antre membeli arum manis dengan berbagai bentuk.
"Abang ?" Alula menoleh dengan dahi yang mengernyit pada Mirza yang tengah berdiri dibelakang punggungnya.
Mirza memakaikan kalung cantik berbahan dasar perak dengan liontin kecil berbentuk hati, dengan permata yang mengkilau ditengahnya.
"Suka gak ?" tanya Mirza saat ia telah selesai memakaikan kalungnya.
"Kapan belinya ?" Alula merasa heran, sebab dari tadi Mirza selalu bersama dirinya. namun senyumnya tiba-tiba merekah, saat mengamati liontin kalung itu.
Namun sebelum Mirza menjawab, penjual arum manis terlebih dulu memberikan pesanannya. arumanis berbentuk hati dengan warna merah muda kini telah berpindah tangan.
"Terima kasih Pa." ucap Alula pada penjual arum manis. penjual arum manis itu hanya mengangguk lalu tersenyum.
"Baru aja, disana." Mirza menunjuk gerai penjual perhiasan perak yang tak jauh dari penjual arum manis itu.
Saat berjalan tadi, matanya tak sengaja menangkap sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk hati dipajang di etalase. bentuknya sederhana, tapi entah mengapa terlihat sangat cantik. sama seperti Alula yang selalu tampil sederhana, tak banyak yang dipakai, namun begitu cantik dimatanya.
Wait ! cantik ?
Yes, she is beautiful. dan ia baru menyadarinya.
"Manis banget. Makasih ya bang, aku suka." Alula tak henti mengembangkan senyum, entah mengapa malam itu perlakuan Mirza sangat berbeda terhadapnya. lebih dari sekedar abang yang memperlakukan adeknya dengan baik.
...****************...
Sudah beberapa hari ini Mirza merasa Alula menjaga jarak dengannya. dan ketika ia bertanya, alasannya tetap sama.
"Aku lagi sibuk ujian bang,"
__ADS_1
"Aku lagi belajar, gak mau diganggu dulu."
"Abang mau aku gak lulus cuma gara-gara nemenin abang main basket ?"
Begitulah alasan yang selalu Alula ucapkan. Mirza merasa heran dengan sikap Alula akhir-akhir ini.
Alula yang setiap pagi menyambutnya dengan senyum gembira, Alula yang setiap pagi berteriak "abaaang, cepet !" , dan Alula yang setiap pulang sekolah selalu ingin diajak jalan-jalan dulu, kini menjadi Alula yang lebih pendiam.
Yah, ada apa dengan perempuan itu, mengapa sikapnya berubah. padahal Mirza merasa tidak terjadi sesuatu diantara mereka. mengapa Alula seolah tengah menjauhinya.
Setelah pulang dari pasar malampun, mereka masih bisa tertawa, bahkan pagi-pagi saat mereka berolah ragapun sikapnya masih sama.
Apa Alula tahu, jika Mirza akan dijodohkan? tapi, memangnya kenapa jika mereka dijodohkan. bukankah seharusnya ia merasa senang.
"What ?" mata Marko hampir saja keluar saat Mirza menceritakan perihal perjodohannya dengan Gweny.
Mereka berdua kini tengah berada di kamar Mirza, karena pagi tadi Mirza menelponnya untuk datang kerumahnya. sedangkan Martin tidak bisa datang, karena saat ini ia tengah menemani sang Ibu ke luar kota.
"Biasa aja kali tuh mata, gue colok juga lu." ucap Mirza dengan kesal.
"Ya tuhaaan , ko' bisa elu yang dijodohin gitu. kenapa gak gue aja ?"
Plakkk..
Sebuah gulungan koran mendarat di kepala Marko.
"Tapi lu setuju buat dijodohin ?"
Mirza hanya mengangkat bahunya seakan tidak peduli.
"Kalo itu bikin nyokap seneng, gak ada salahnya buat nyoba."
Membuat Marko mencibirnya "Gak suka tapi tetep nyoba."
Mirza tak menjawab, lebih memilih mengambil gitar lalu memainkannya.
"Apa adek lu, si neng peri tahu kalo lu mau dijodohin ?" bukan tanpa sebab Marko bertanya seperti ini, ia sangat yakin jika sebenarnya Alula memiliki perasaan pada laki-laki yang ia panggil abang ini.
"Mir, menurut gue sebaiknya lu pikir-pikir dulu soal ini. jangan sampai elu menyesal dikemudian hari."
"Lu bilang, sikap adek lu berubah akhir-akhir ini. apa lu yakin kalo adek lu gak punya perasaan sama lu, secara dia bukan adek kandung lu."
"Gue juga yakin, kalo elu sebenarnya juga suka sama adek lu."
"Apaan sih lu," kilah Mirza. jelas-jelas ia hanya menganggap Alula sebagai adik, tidak lebih.
Mirza terdiam, entah mengapa tiba-tiba ia merasa ragu. apakah ini adalah pilihan yang tepat, sedangkan hatinya jelas menolak. entahlah, memikirkan Alula membuat hatinya dilanda gelisah.
Hari sudah semakin terik ketika mereka keluar dari kamar, Marko berpamitan pulang pada Mama Indri yang tengah membuat kue didapur bersama Mba Sri.
__ADS_1
"Bungkus boleh gak sih Ma, lumayan buat cemilan." begitu kata Marko saat Mama indri menawarkan kuenya yang baru saja diangkat dari oven.
"Kalo dibungkus mah namanya bukan nyobain, tapi malakin." Mama Indri mengomel, namun tangannya tetap memasukkan beberapa potong kue kedalam toples.
"Nih bawa ! buat Mami kamu. awas aja kalo nyampe sana tinggal toples nya aja." dengan senang hati Marko meraih toples dari tangan Mama Indri.
Marko hanya cengengesan, sudah menjadi hal yang biasa baginya jika berkunjung kerumah Mirza selalu pulang dengan buah tangan.
"Lain kali, kalo mau namu tuh yah bawa oleh-oleh. martabak kek, atau roti bakar gitu."
"Lah, mana ada yang jualan martabak pagi-pagi Ma." Marko tertawa namun disusul dengan capitan diperutnya.
"Jangan lupa itu emperware nya Mama balikin lagi, awas kalau tutupnya ilang." teriak Mama Indri saat Marko telag sampai di depan pintu.
"Dih emak lu, itungan banget." gerutu Marko.
Baru saja Marko membuka pintu, ia melihat Alula yang berjalan dari halaman belakang.
"Mau kemana neng peri ?" Mirza yang saat itu hendak masuk kembali kedalam kamar, tiba-tiba menyusul Marko keluar rumah.
"Mau ke butik bang." jawab Alula dengan senyum yang dipaksakan.
"Abang anterin mau ?" Marko dengan tulus menawarkan diri.
"Gak usah bang, aku naik gojek aja."
"Gue anterin." Mirza menawarkan diri, namun lagi-lagi Alula menolak.
"Gak usah bang, aku bisa pergi sendiri." ucap Alula tanpa menoleh pada Mirza.
Terlihat raut wajah Mirza yang kecewa, mengapa rasanya sakit sekali mendapat penolakan seperti itu.
"Mumpung abang mau pulang, barengan aja yuk. kan searah."
Melihat ekspersi Mirza, Marko tak henti menawarkan diri. ia merasa diantara adik dan abang ini telah terjadi sesuatu.
Dengan pasrah, walaupun sebanarnya Alula tidak mau. namun demi menghormati sahabat abangnya, akhirnya ia menerima ajakan Marko.
"Tenang, gue jagain dia." Marko menepuk bahu Mirza sebelum ia pergi.
.
.
.
Happy Reading... 😊
Jangan lupa like and commentnya yaa... 👍
__ADS_1