
Perempuan mana yang tidak berbunga-bunga hatinya jika diperlakukan manis oleh pria yang ia sayangi.
Sepotong cokelat yang disuapi Mirza padanya waktu itu, nyatanya membuat mood Alula benar-benar semakin membaik.
Alula tak pernah lagi terlihat murung, ia kembali menjadi gadis yang periang dan menyenangkan.
Mirza pun selalu meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang harus dikhawatirkan lagi.
Saat ini, Leon sudah dipastikan mendekam didalam penjara. tidak akan bisa melakukan apapun lagi padanya.
Ayah Abhi, yang waktu itu melihatnya sendiri. bagaimana sosok pria bertubuh tinggi tegap namun sedikit kurus itu berada dibalik jeruji besi.
"Apa kamu puas, sudah merusak kehidupanku LEON?" geram Ayah Abhi saat melihat seringai diwajah Leon.
Satu hari setelah Alula pulang ke rumah, Ayah Abhi langsung mendatangi Leon di kantor pilisi. ia tak pernah bisa lega membiarkan Leon begitu saja.
BRAKK
"Kau yang sudah membuatku seperti ini ABHI." teriak Leon, dengan tangan menggebrak meja dihadapannya. saat itu mereka tengah berada diruang kunjungan.
"JANGAN RIBUT!" polisi yang berjaga sampai harus memperingatkan keduanya.
Mereka hanya saling pandang, menghunuskan tatapan tajam dengan rahang yang mengeras. karena amarah yang telah lama tersimpan dalam didada masing-masing.
"Kau ..." Leon menunjuk Ayah Abhi duduk dihadapannya.
"Kau yang telah merebut Indira dariku." ucap Leon dengan nada kebencian yang belum pernah Ayah Abhi dengar sebelumnya.
"Tapi tidak seharusnya kau melibatkan anak-anakku."
Jika tidak ingat mereka tengah berada di kantor polisi, ingin sekali rasanya Ayah Abhi mendaratkan beberapa tinju diwajah Leon.
"Karena mereka darah dagingmu !" geram Leon.
"Aku mau, siapapun yang ada hubungan darah denganmu itu menderita." lanjutnya tetap dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh.
Tidak ada yang tahu, jika sebenarnya Leon memiliki perasaan pada Indira sejak lama. begitupun dengan Abhi. yang mereka tahu, Leon tengah dekat dengan Laras. dan Laraspun menaruh hati terhadap pria yang saat itu bersikap lembut padanya, Leon.
Saat itu, Laras mencoba mengutarakan perasaannya pada Leon. namun Leon menolak mentah-mentah cinta yang di suguhkan oleh Laras.
Sakit sekali rasanya mendapat penolakkan setelah sekian lama menghabiskan waktu bersama. Laras frustasi, ia mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.
Leon dengan terpaksa menikahi Laras demi menyelamatkn nyawanya. walaupun sebenarnya, wanita yang ia cintai adalah Indira, satu-satunya keluarga yang Laras punya.
Namun kesialannya tidak sampai disitu, Abhi, sahabat terdekat yang ia percayai ternyata menusuknya dari belakang. diam-diam Abhi memiliki hubungan dengan Indira.
"Kamu kejam Leon."
"Penghianat seperti kamu, memang pantas diperlakukan seperti itu." lirih Leon dengan menyunggingkan senyum kecut.
"Kamu lupa ? waktu itu kamu sudah menikah dengan Laras," sanggah Ayah Abhi.
"Persetan !" potong Leon dengan cepat.
"Aku terpaksa menikahinya. jika saja dia tidak mencoba bunuh diri. aku tidak akan pernah menikahi perempuan mandul itu."
__ADS_1
"LEON !" sentak Ayah Abhi memperingatkan. bagaimanapun juga, tidak pantas menjelek-jelekkan seorang perempuan.
"Hahaha kenapa ? itu memang benar kan."
"Aku mencoba bertahan dalam hubungan itu, berharap memiliki anak perempuan. tapi nyatanya, bertahun-tahun tidak ada tanda-tanda kehamilan." lagi-lagi Leon tersenyum kecut.
"Bagaimana dia sekarang ?"
Ayah Abhi memang merasa kesal terhadap Laras, karena Laras telah membuat Indira terpukul, lalu mengajaknya untuk pergi. tapi, Alula berhak tahu bahwa ia masih memiliki saudara dari Ibunya, sedangkan Ayah Abhi adalah seorang yatim piatu yang tidak memiliki saudara.
"Peduli apa aku sama dia ? wanita tidak berguna !"
"Tutup mulutmu Leon!" tak tahan rasanya Ayah Abhi ingin mendaratkan pukulan diwajah Leon.
"Heuh, aku lebih tertarik pada gadis kecilku." Leon tertawa sumbang, tiba-tiba saja wajah cantik Alula melintas dipikirannya.
"Dia cantik, persis seperti Indira." rahang Ayah Abhi nampak mengeras.
"Ah andai saja polisi tidak datang, ah ... aku pasti sudah .... "
"Berengs*k."
BUGG
Satu pukulan mendarat di pipi Leon. amarah yang sejak tadi terpendam, akhirnya terluapkan sudah.
...****************...
Suara ketukan dipintu membuat Mirza yang saat itu tengah fokus didepan layar laptop menoleh.
"Masuk!" seru Mirza, lalu kembali fokus pada layar laptop. ia kini tengah merevisi hasil skripsinya.
Alula duduk dengan tangan memangku sebuah buku ditepian ranjang. ia diam memperhatikan Mirza, tak berani mengganggu konsentrasinya.
"Kenapa ?" Mirza menoleh dengan dahi yang mengernyit karena Alula tak kunjung bicara.
"Lagi sibuk yah ?" tanya Alula. ia meringis, merasa sungkan karena takut mengganggu aktifitas Mirza.
"Enggak, kenapa ?" Mirza menyimpan laptopnya, lalu beralih membalikkan badan berhadapan dengan Alula.
"Mau minta ajarin aku soal Matematika yang ini." Alula menyodorkan sebuah buku latihan soal pada Mirza. terlihat beberapa soal yang diberi tanda bulatan.
"Lah, salah orang Lu minta diajarin ke gue." Mirza terkekeh.
"Dih abang, ayolah aku gak ngerti."
"Gak bisa gue, elaah."
"Terus itu apa." Alula menunjuk lemari yang terbuat dari kaca dimana didalamnya terpajang beberapa buah piala dan piagam bertuliskan 'Piagam Penghargaan Juara Olimpiade Matematika tahun 20xx'
"Masa juara olimpiade matematika gak bisa ngerjain soal anak SMA, ayolah ... " lanjutnya dengan tatapan memohon, membuat Mirza tak tahan untuk tidak membantunya.
"Bisa aja lu ah." ucap Mirza seraya mengambil buku dari tangan Alula.
Alula tertawa puas karena telah berhasil membujuk Abangnya.
__ADS_1
"Punya ilmu itu harus bagi-bagi sama orang Bang, jangan pinter sendirian. Percuma abang sekolah tinggi-tinggi tapi pelit sama orang lain, gak akan berguna ilmu abang."
"Berisik, udah cepet ah. belajar yang bener ! jadi lulusan terbaik tahun ini."
Alula menoleh pada Mirza yang mulai menjelaskan soal matematikanya, namun sudut matanya tak sengaja melihat satu benda yang masih tersimpan rapi didalam lemari kaca itu.
Alula menatap nanar benda itu, kemudian beralih pada Mirza yang masih menjelaskan soal,
"Ini kalo dibagi dua bakalan ketemu jawabannya." Alula tidak bisa menangkap penjelasan dari Mirza, ia justru lebih fokus pada degup jantungnya yang berdegup semakin kencang.
Alula kembali menatap boneka barbie yang berada didalam lemari, lalu menghela napas panjang. kenyataan bahwa ia tidak akan pernah bisa bersama-sama dengan sipemilik boneka membuat hatinya tiba-tiba terasa perih.
"Dek," ia bergeming ketika Mirza memanggilnya.
"Dengerin gak sih," lanjut Mirza, membuatnya terlonjak kaget.
"Liatin apaan emang." Mirza mengikuti tatapan mata Alula .
"Oh, boneka itu ? Itu tadinya buat Nara, tapi gak sempet dikasihin." ucap Mirza yang kini tengah melipat kembali laptop yang sempat ia matikan tadi.
"Kenapa masih disimpen?"
"Karena ... seseorang pasti masih menyimpan yang satunya lagi."
Alula menoleh, dahinya nampak mengernyit "maksudnya ?"
"Dulu ... Abang beli dua boneka macam itu. karena udah janji mau beliin boneka kembar buat Nara kalau dia berhenti nangis."
"Tapi pas udah beli dua boneka, gue gak gak sengaja liat anak perempuan menangis ditengah hujan."
"Gue gak tega, inget Nara yang sebelum ditinggal pergi juga nangis minta ikut."
"Gue kasih ke anak itu satu bonekanya. anak itu langsung tersenyum, kayaknya seneng banget." tiba-tiba saja senyum Mirza mengembang, membayangkan wajah cantik anak perempuan bergigi ompong itu selalu saja membuat hatinya terasa hangat.
Alula menghela napas panjang, ia terharu. tak menyangka jika Mirza masih mengingat kejadian yang sudah hampir tiga belas tahun berlalu itu.
"Abang ... suka sama anak perempuan itu ?" Mirza hanya menoleh, ia hanya tersenyum samar tak mengatakan apapun.
"Apa abang tahu anak perempuan itu siapa ?"
Mirza kembali menoleh, menatap lekat gadis dengan mata bulat disampingnya. "enggak." jawabnya dengan nada sesal, sebab tidak pernah tahu lagi kabar anak perempuan itu.
"Kalau saja abang bertemu lagi dengan anak itu, apa yang akan abang lakukan?" tanya Alula dengan hati yang berdebar.
Mirza menatap nanar boneka barbie didalam lemari, sebelum akhirnya tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
.
.
.
Happy reading.. 😊
Stay safe and healty...🤗
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like and commentnya yah... 🙄