
Sepeninggal Alula, malam hari terasa berbeda untuk Jeni dan Tata. mereka yang biasanya sehabis makan malam menyempatkan berkumpul untuk sekedar bermain atau menonton televisi bersama anak-anak yang lain. namun berbeda dengan malam ini, sehabis makan malam Jeni dan Tata memilih masuk kedalam kamar,
Saat Jeni membuka pintu kamar, ia tertegun sepersekian detik menatap ranjang Alula yang sekarang kosong tak berpenghuni. Jeni yang melangkah lebih dulu memasuki kamar langsung merebahkan tubuhnya tepat ditengah ranjang.
"Aku kangen kak Lula deh." ucapnya sambil memejamkan mata, mengingat kembali kebersamaannya bersama Alula setiap malam.
Sekelebat bayangan muncul ketika mereka bertiga asik bermain tebak-tebakkan. atau ketika ia dan Tata meminta Alula mengajarkn mereka menggambar. bahkan ketika ia melihat Alula termenung sendirian diatas ranjang yang entah memikirkan apa.
Tata yang menyusul dari belakang ikut duduk ditepian ranjang kosong itu. "Aku juga" dengan suara sendunya sambil mengusap bantal didepannya.
Memori kebersamaan mereka berputar-putar dalam pikiran masing-masing. Meskipun tidak terlalu lama mereka tinggal dalam satu kamar, entah mengapa kedekatan mereka seakan sudah terjalin begitu lama.
Jeni yang sedari tadi merebahkan diri diatas ranjang, kini beranjak mendekat pada meja disampingnya. ia membuka kembali lipatan surat yang ditulis oleh Alula.
*Jenitaku..
Jeni.. Tata..
Maafkan Kakak karena pergi tanpa pamit.
Karena Kakak tau kalian pasti gak mau kalau Kakak pergi. ya kan? Hehee
Jeni dan Tata janji ya ! harus tetep akur, tetep saling menyayangi, saling berbagi.
Kakak sayang banget sama kalian, pasti bakalan kangen banget deh. Tetep belajar yang rajin ya ! biar bisa mencapai cita-cita kalian.
Jangan ngebantah apa kata Ibu ya ! nurut sama Ibu, bantu Ibu jagain adik-adik yang lain.
Maafin Kakak gak bisa ngajarin kalian menggambar lagi, kalian belajar sendiri yah!
Do'ain Kakak juga, biar cepet ketemu ayah Kakak.
Kakak janji nanti bakalan nengokin kalian disana.
Jaga diri kalian baik-baik yah! Kakak sayang kalian..
Jeni hendak melipat kembali surat yang ditulis oleh Alula, namun sudut matanya menangkap kertas lain di dekat tempat ia menyimpan alat tulisnya.
Seketika pikirannya kembali menerawang saat mereka belajar menggambar bersama.
"Gambar apa kak?" Tata menarik selembar kertas dari tangan Alula.
"Woaaahhh, kereeen! gambarnya bagus banget." matanya membulat penuh melihat gambar sketsa wajah dirinya dan juga Jeni yang terukir begitu rapi.
"Bagus banget Ka. Kakak pinter gambar?" komentar Jeni sambil meneliti hasil gambar Alula.
__ADS_1
Sedangkan Alula hanya diam dan tersenyum.
"Sini deh." ia menepuk ranjang nya mengajak Jeni dan Tata duduk disana.
"Lihat ini." ucapnya dengan membuka lebar demi lembar kertas dalam buku catatan berwarna hitamnya milik Ibunya.
Jeni dan Tata hanya melongo demi mendapati gambar-gambar design baju dan pola-pola potongan baju yang tergambar dalam buku itu. meskipun mereka tidak mengerti dengan gambar-gambar tersebut, tapi mereka tetap merasa takjub dengan hasil gambar itu.
"Ini punya Ibu Kakak, dulu beliau suka sekali menjahit baju. kalian liat baju kaka! ini Ibu yang jahitin."
Yah, bakat menggambar yang Alula miliki memang ia dapat dari Ibunya. dulu Ibu sering membuat sketsa-sketsa wajah seseorang, atau membuat gambar design baju yang akan dijahitnya. tak heran jika Jeni dan Tata kini selalu ingin ia mengajari mereka menggambar.
Sketsa wajahnya dan juga Tata yang dulu pernah Alula gambar, kini telah bertambah dengan sketsa wajah Alula yang sedang tersenyum manis. diujung kertas itu ia tulis "Jeni, Tata dan Lula. disimpan ya! sebagai kenang-kenangan juga sebagai bukti bahwa kita pernah bertemu."
Air mata Jeni seketika jatuh bersamaan dengan Tata yang memeluknya dari samping. entah mengapa ia yang biasanya tak pernah bisa diam dan selalu cerewet kini tak bisa berkata-kata. ia sendiri merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang sudah dianggapnya sebagai Kakak.
"Jen" setelah melepaskan pelukannya, Tata kini berhadapan dengan Jeni.
"Hmmmm?" Jeni mendongkangkan kepalanya menatap mata Tata.
Kini Tata menggenggam erat tangan Jeni yang masih memegang surat. "Kamu janji yah sama aku, kamu gak akan ninggalin aku." ucapnya penuh harap. matanya mulai berair kembali setelah sempat surut.
Jeni kembali memeluk Tata "Iya Ta, kita harus sama-sama terus. meskipun suatu saat nanti kita ditakdirkan untuk berpisah, janji yah bakalan selalu ngasih kabar."
...****************...
Ternyata tak hanya Jeni dan Tata, kepergian Alula pun cukup berpengaruh untuk Ibu Indah. padahal ia sering sekali melepas anak asuhnya pergi, ketika mereka bertemu dengan keluarga yang bersedia mengadopsi mereka.
Tapi, entah mengapa kepergian Alula terasa berbeda, rasanya begitu berat melepaskan kepergiannya. terlebih kepribadian Alula mengingatkannya pada seseorang yang selalu ia rindukan.
"Bu, biar Lula saja ya."
atau
"Bu, lula yang ngerjain yah! "
Dan
"Lula bantuin Ibu yah."
Begitulah. kata-kata biasa, namun entah mengapa ketika Alula yang mengucapkannya, hatinya merasa terenyuh. terlebih nada suaranya yang memang mirip dengan seseorang.
"Ka, biar aku aja ya!"
"Ka, sini biar aku yang ngerjain ya."
__ADS_1
"Aku bantu ya ka"
Kalimat-kalimat itu terus terngiang dalam ingatan Ibu Indah.
"Kamu dimana sih Ra ?" gumam Ibu Indah sambil memandang nyalang surat ditangannya.
"Ibu lagi apa sih? "lamunannya terhenti saat Risma tiba-tiba berdiri disampingnya.
"Kamu ngagetin Ibu saja Risma. ada apa kemari?" Ibu Indah berdiri dari tempat duduknya. ia meletakkan kembali surat itu kedalam kotak penyimpanannya.
"Ibu kenapa?" namun Risma mengacuhkan pertanyaan Ibu Indah. "sedih juga ditinggal Alula? "tanyanya kemudian.
"Kamu ini kenapa sih? gak suka sama dia?" Bu indah kembali bertanya tanpa menjawab pertanyaan Risma.
"Dia udah pergi bu, buat apa Ibu masih sedih. gak tau terima kasih banget pergi gitu aja."gerutunya.
"Risma . kamu kenapa jadi seperti ini nak?"
Risma hanya diam tidak menjawab.
"Risma.. " Bu Indah kembali memanggil namanya ketika Risma tak lagi bersuara.
"Aku kesel Bu, udah berapa kali aku bilang. berhenti ngurusin orang lain! Ibu punya aku, anak kandung Ibu. mereka bukan siapa-siapa." Risma menunduk tak berani memandang Ibu Indah.
"Ya ampun Risma ! kenapa kamu bicara seperti itu? apa Ibu pernah mengajarkanmu?" Bu Indah menarik Risma agar duduk ditepian ranjang bersamanya.
"Ibu punya Risma Bu, kenapa Ibu masih ngurusin orang lain sedangkan Ibu sendiri juga punya anak kandung." kini Risma mulai terisak.
"Risma.. "Bu Indah membelai rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Ibu sayang sama Risma, Ibu cuma punya kamu, satu-satunya anak Ibu, keluarga Ibu. tapi bisakah kamu menganggap mereka juga saudaramu? mereka sama sepertimu Nak ! sama-sama butuh kasih sayang orang tua. kamu masih beruntung dan harusnya bersyukur masih memiliki Ibu. kamu lihat mereka ! bahkan tidak sedikit dari mereka yang lahir tanpa tau orang tua kandungnya seperti apa."
Risma memeluk Ibu Indah "Risma tau bu. Risma cuma takut kasih sayang Ibu terbagi. "
Ibu Indah mengeratkan pelukannya, mencoba menenangkan Risma yang kini sedang dilanda cemburu.
.
.
.
Happy readding.. ☺
monmaap updatenya telat.. 😁
__ADS_1