
Selepas sholat isya berjama'ah dan dilanjutkan dengan makan malam, anak-anak mulai masuk kedalam kamar masing-masing. diluar hujan sangat deras, Ibu Indah menyuruh anak-anak agar segera belajar kemudian cepat tidur agar besok pagi bangun lebih segar katanya.
Sama seperti anak-anak yang lain, Alula, Jeni dan Tata pun masuk kedalam kamar mereka. mereka ditempatkan pada satu kamar yang sama.
Jeni mengambil buku pelajaran matematikanya ,lalu beranjak menaiki tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disana.
ranjang dua tingkat berukuran single bad. Jeni memilih kasur bagian bawah dan Tata memilih kasur dibagian atasnya. sementara Alula menempati ranjang kecil disebelahnya.
Berbeda dengan Jeni, Tata malah memilih buku komik untuk dia baca. yah, anak itu memang malas untuk belajar. sementara Alula membuka buku catatan berwarna hitamnya, membuka lembar demi lembar kertas hasil karyanya disana. ia rindu kebiasaan lamanya,berdiam dikamar sambil memainkan pensil dan membuat sebuah gambar.
Lama mereka disibukan dengan kegiatan masing-masing, tiba-tiba Tata memecah keheningan.
"Bosen ah." ucapnya sambil membantingkan buku komik yang ia pegang, lalu memikirkan sesuatu.
"Main tebak-tebakan yuk !" ajaknya kemudian.
Jeni dan Alula saling berpandangan, kemudian "boleh." jawabnya bersamaan. mereka bertiga turun dari ranjang masing-masing, kemudian duduk dilantai dan membuat sebuah lingkaran kecil.
"Siapa dulu nih ?" tanya Jeni
"Aku." Tata yang memulai tebakannya.
"Uang nih ya kalo dilempar jadi apaan?" Jeni dan Alula tampak berpikir.
"Jadi banyak."
Tata menggeleng "salah."
"Jatoh, sobek? "
Tata menggeleng lagi "bukan"
"Terus, jadi apaan?" tanya Jeni kemudian
"Ya.. jadi rebutan lah."
"Yhaa.. iya juga yah, kalo ada yang nyawer tuh, mereka juga pada rebutan. " Alula dan Jeni terkikik
"oke, sekarang giliran aku." kini Jeni yang bertanya
"Orang meninggal kalo dikubur kenapa merem ?"
"Orang meninggal kan emang suka merem." jawaban Tata.
"Ih ga gitu juga jawabannya Tata." Jeni menyangkal.
"Apaan dong? "
"Orang meninggal kalo dikubur kenapa merem,ya karena kalo melotot nanti kelilipan." Jawab Jeni dengan santai. Tata dan Alula tertawa.
"Serem juga ya kalo orang meninggal masih melotot." Tata bergidik memikirkannya.
"Sekarang aku yang nanya, Alat musik apa yang suka ditiup?" Alula memberikan pertanyaan.
"Suling." Alula menggeleng.
"Salah. "
"Terompet." Alula menggeleng lagi.
__ADS_1
"eum... apa dong ?"Jeni dan Tata nampak menyerah.
"Alat musik yang ditiup adalah...."Alula memberikan jeda sebelum menjawab "alat musik yang kotor dan berdebu."
"Yhaaa.. hahaa" Jeni dan Tata tertawa dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nih ya, hewan,hewan apa yang ngeselin ?" tanya Tata
"Kucing ?"
"Mana ada, kucing kan lucu."
"Buaya?"
Tata menggeleng "Bukan! "
"Terus apa? "
"A yam" jawab Tata
"ko ayam?"
"Ayam_at palsu. Yhaaa..."
"Dah muter-muter ga ketemu-ketemu."
"Nyasar-nyasar dah tuh, ngeselin." mereka semakin terbahak-bahak.
Jeni memegang perutnya yang sakit, sedangkan Alula memegang kedua pipinya yang memerah dan Tata sudah berguling dilantai. tanpa mereka sadari seseorang dibalik pintu yang terbuka sedikit memperhatikan ketiganya dengan penuh kekesalan.
...****************...
"Ta, kamu bawa gitar kan?" tanya Alula pada Tata yang sedang selonjoran dibawah pohon pinang.
"Selalu" Jawabnya sambil mengeluarkan gitar di dalam tas nya. "Tapi buat apa? Kakak mau ngamen? bukannya ga boleh yah! " tanyanya beruntun.
"Enggalah, cuman pengen nyanyi aja. udah lama ga main gitar."Alula mengambil gitarnya dari pangkuan Tata.
Tata mengerutkan dahinya "Emang Kakak bisa?" tanyanya kemudian.
Alula tersenyum "Dengerin yah"
Jreng..
Dipetiknya gitar tersebut, Alula mulai menunjukan keahliannya pada Jeni dan Tata.
"Kaka mau nyanyi lagu Syerina Munaf_ Ku Bahagia. "
Perlahan Alula memejamkan matanya, meresapi setiap nada yang dipetiknya.
Kita bermain-main
siang-siang hari senin (walaupun kenyataannya ini hari minggu)
Tertawa satu sama lain
Semua bahagia, semua bahagia.
Kita berangan-angan
__ADS_1
Merangkai masa depan
Dibawah kerindangan dahan
Semua bahagia, semua bahagia.
Tanpa membuka matanya Alula tetap bernyanyi. bahkan ia tak menyadari perlahan orang-orang mulai berkerumun penuh rasa penasaran mendengarkan lagu yang ia nyanyikan.
Matahari seakan tersenyum
Walau makan susah walau hidup susah
Walau tuk senyumpun susah
Rasa syukur ini karena
Bersamamu juga susah dilupakan
Oh kubahagia.
Perlahan Alula membuka matanya, ia terkejut melihat orang-orang disekelilingnya. Jeni dan Tata tersenyum dan mengangguk, menandakan semuanya baik-baik saja. tanpa menghentikan petikan gitarnya, Alula tersenyum dan meneruskan bait lagunya sampai akhir.
Kita berlari-lari
Bersama mengejar mimpi
Tak ada kata tuk berhenti
Semua bahagia, semua bahagia.
Suara tepuk tangan dari sebagian pengunjung taman yang membuat lingkaran untuk melihat Alula bernyanyi membuatnya merasa gugup. ia tak menyangka akan menjadi tontonan seperti ini, padahal awalnya hanya ingin bernyanyi saja melepaskan kerinduannya pada petikan gitar. Tak sedikit dari mereka juga memberikan tips uang karena merasa telah terhibur.
Tanpa mereka sadari dua orang disana memandang dengan perasaan yang berbeda. seorang pemuda yang menatapnya penuh haru setelah mendengar suara merdu Alula. disisi lain seorang gadis yang memandangnya dengan tatapan tak suka.
Setelah mengucapkan terimakasih, orang-orang itu pun perlahan meninggalkan mereka.
"Kakaa.. " Jeni dan Tata memeluk Alula. tak lama lalu melepaskannya kembali.
"Kenapa suara Kakak bagus sekali." Jeni melipat tangannya didada "Kakak ga pernah cerita kalo Kakak bisa nyanyi." tuturnya.
"Emang kalian pernah nanya?"
"Yaa engga juga sih." Jawab Jeni dan Tata kompak.
"Tau gitu Kakak dulu ikut kita ngamen aja, biar dapet duit banyak." Ucap Tata dengan mata berbinar mengucapkan kata duit.
"Enak aja, udah tau ibu ga suka kalo kalian ngamen."
"Eh tapi bener deh suara kaka bagus banget, kaya suaranya Maudy Ayunan." tutur Tata sambil merapikan uang pemberian penonton dadakan tadi.
"Bisa aja kamu."
"Terus ini uangnya gimana Kak, kalo dikasih ke Ibu nanti kita disangka ngamen lagi."
"Yasudah kalian simpen aja, siapa tau nanti butuh."
"Dengan senang hati." Tata melipat uang yang sudah dirapihkan lalu memasukannya ke dalam kantong saku celananya.
"Bagi-bagi napa." Jeni langsung merebut uangnya. Alula hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah keduanya.
__ADS_1
Definisi bahagia untuk Alula saat ini adalah berada diantara orang-orang yang menyayanginya. ia belajar ikhlas dari anak-anak dirumah singgah, ketiadaan orang tua dan saudara nyatanya tak menghalangi mereka untuk selalu ceria dan bahagia.