Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Pertemuan tak disangka


__ADS_3

Sejak hari pertamanya masuk sekolah, Alula pulang kerumah utama, rumah kediaman Mahesa. bukan lagi ke paviliun belakang. karena ternyata Pa Sanjaya memiliki kepentingan diluar kota selama beberapa hari dan mengharuskan Ayah mendampinginya kemana pun. karena khawatir jika Alula sendirian di paviliun, Mama Indri memintanya untuk tinggal sementara waktu dirumah utama. ia pun tak bisa menolak, dari pada harus sendirian dipaviliun, lebih baik menerima tawaran Mama Indri.


Dan hari ini adalah hari ketiganya berangkat ke sekolah, Alula tengah duduk diruang makan, menunggu Mirza yang sedari tadi belum menampakan batang hidungnya.


"Belum turun juga?" tanya Mama Indri yang melihat Alula telah menghabiskan nasi goreng buatannya. 'spesial untuk anak gadis Mama' katanya, sambil menyodorkan sepiring nasi goreng yang masih mengepulkan asap dengan bau yang sedap.


Alula hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu kemudian menjawab "Belum.. Ma," dengan suara kaku nya, karena belum terbiasa memanggil nya Mama.


"Apa belum bangun jam segini?"Mama Indri bertanya pada diri sendiri, ia melirik jam yang menggantung didinding dapur."Sebentar mama liat dia dulu." ucapnya pada Alula.


Alula tersenyum canggung lalu mengangguk. Mama Indri bergegas menaiki anak tangga menuju kamar anak bujangnya dilantai dua. ia melewati dua pintu sebelum kemudian mengetuk pintu paling ujung dimana kamar sang anak berada.


Tok..


Tok..


Tok..


"Miiiir... "panggilnya dengan suara lengkingannya yang khas. namun tidak ada sahutan dari dalam kamar dan pintu kayu berwarna coklat itu tetap tertutup rapat.


"Emiiiiir... "panggilan kedua, dan tetap tidak ada sahutan dari dalam. Mama Indri akhirnya membuka paksa pintu kamar anaknya.


"Iyaa Ibunda ratuku tersayang,"Mirza muncul dibalik pintu kamar mandi didalam kamar nya. "Emir denger, gak usah teriak-teriak." gerutunya.


"Lagian kamu ini dipanggil-panggil gak ngejawab." Mama Indri ngomel-ngomel pada anaknya.


"Emir lagi tanggung Ma, lagi dikamar mandi"jawabnya dengan menunjuk kearah pintu kamar mandi yang masih terbuka.


"Ayo cepetan, Lula udah nungguin kamu dari tadi, udah beres sarapan malah."Mama Indri berjalan kearah pintu.


"Jadi, sekarang Mama lebih mentingin Lula dari pada Emir?" sindirnya.


"Lahh, udah gak usah cemburu gitu deh." Emir hanya terkekeh, lalu merangkul bahu Mama tercintanya. mereka menghampiri Alula yang masih duduk dimeja makan.


"Sarapan dulu bentaran."ucapnya pada Alula.


Alula tak menjawab, hanya tersenyum canggung.


"Nanti, bisa pulang sendirian kan?"tanya Mirza tanpa mengalihkan perhatiannya dari piring dihadapannya. Alula hanya diam, jujur saja ia tidak berani jika harus pulang sendirian. selama beberapa hari ini ia pulang dan pergi ke sekolah selalu bersama Mirza. dan pulang sendirian dari sekolah? sungguh ia masih belum sepenuhnya berani.


"Emang kamu mau kemana ?"bukan Alula, melainkan Mama Indri yang bertanya.


"Anak-anak ngajakin maen basket Ma."jawab Mirza, ia meraih gelas berisi air putih disamping piring lalu meneguknya. "Udah lama juga Emir gak ikutan maen kan ?" lanjutnya sambil menyimpan kembali gelas yang sudah kosong ditempat semula.

__ADS_1


"Kenapa gak diajak aja?"usul Mama Indri dengan mata berbinar.


"Maksud Mama, ngajakin dia?"Mirza menunjuk Alula menggunakan sendok ditangannya.


"Yaiyalah... " ucap Mama yakin.


"Eumm.. gak usah Ma, aku... pulang sendiri aja Ma." Meskipun ia sendiri ragu bisa pulang sendirian atau tidak.


"Ya udah, liat nanti aja deh." Mirza kembali meneruskan suapan terakhirnya.


Setelah menghabiskan sarapannya dengan super kilat, Mirza dan Alula berpamitan pada Mama Indri.


"Ini.. "Mama Indri menyodorkan sejumlah lembaran uang pada Alula.


"Ini Apa lagi? "dahi Alula mengernyit, ia tak mengerti maksud dari Mama Indri. bukankah kemarin ia juga memberikannya uang.


"Ya buat bekal lah, uang jajan. setiap hari Mama kasih." jawab Mama dengan tangan masih menggantung, menyodorkan sejumlah uang.


"Eh, ga usah Ma, yang kemarin masih ada." tolaknya.


"Mama gak suka ditolak nya !"tegas Mama, tangannya sma sekali belum berpindah.


"Yaudah kalo gak mau, buat Emir aja." Mirza menyela.


Mirza hanya berdecak kemudian "Yaudah Emir berangkat dulu."kini Mirza mulai menaiki sepeda motor berwarna hitam kesayangannya, dan disusul alula. dan seperti biasa, ia selalu saja kesusahan untuk turun ataupun naik keatas motor itu. Yah, repot memang untuk orang bertubuh mungil seperti dirinya. ia harus meminta izin kepada Mirza, lalu kemudian tangannya bertumpu pada bahu Mirza.


"Maaf.."ucapnya setelah berhasil duduk diatas motor.


Mama Indri yang melihat Alula kerepotan menaiki Motor Mirza, menyarankannya untuk membawa mobil saja. namun Emir menolak dengan alasan yang sama.


"Males ah, nanti Emir nongkrong di bengkel lagi, gak mau ah!" jawabnya ketika Mama menyuruhnya untuk membawa mobil.


"Lagian mobil udah tua gitu masih aja disimpen."lanjutnya sambil menunjuk sebuah mobil putih berbentuk kotak, dengan merk Toyota keluaran tahun 90an itu.


"Itu tuh kado dari Papa pas kamu brojol tau, kamu mah gak akan tau gimana spesialnya mobil itu buat mama." terang Mama.


Mirza hanya mencibir "Emir lebih suka pake motor Ma, ribet kalo pake mobil." ucapnya sambil menyalakan mesin motor.


"Waktu itu kamu minta mobil."


"Becanda doank elahh,."elaknya.


"Yaudah cepetan berangkat,nanti kesiangan loh."

__ADS_1


Setelah berpamitan, Mirza akhirnya mengendarai sepeda motornya, ia membelah jalanan Ibu kota yang sedikit padat pagi ini.


"Eumm.. Kak?" dengan ragu Alula memanggil Mirza.


Kali ini mereka tengah menunggu lampu merah berubah hijau dipersimpangan jalan. Mirza menoleh kearah belakang.


"Ya?"


"Maaf yah, gara-gara antar jemput aku, Kak Emir jadi gak bebas kemana-mana." ucapnya tulus. ia sadar telah menjadi beban untuk mirza.


"Gak apa." jawabnya singkat. namun belum sempat Alula membuka mulut, lampu yang ditunggu akhirnya muncul, membuat Mirza kembali melajukan sepeda motornya.


Hening, tidak ada yang berbicara apapun. hanya suara deru mesin dan hembusan angin yang terdengar oleh keduanya.


Tidak sampai setengah jam akhirnya Mirza menghentikan motornya tepat didepan gerbang SMA PuBa. dan seperti biasa, Alula melihat banyak siswa-siswi lain yang datang dengan diantar dengan mobil-mobil keluaran perusahaan ternama. Ia pun tak lupa melirik kearah Mirza. dan yah, sepeda motor yang dibawanya pun sudah dipastikan bukan barang murahan. inilah yang membuatnya selalu merasa rendah diri berada disini.


"Gue pergi dulu."ucapnya, menyadarkan Alula dalam lamunannya. kali ini Alula mengulurkan tangannya kearah mirza.


"Minta uang jajan? kan tadi udah." Mirza mengernyitkan dahinya.


"Mau salim sama yang lebih tua." ucap Alula dengan kepala yang tertunduk.


"Gak usah, kaya bapak-bapak aja ! masuk sono, ntar telat." Mirza pun berlalu dari hadapan Alula.


Alula kini berjalan memasuki gerbang depan SMA PuBa, kelasnya berada diujung koridor. namun sebelum ia sampai ke ruang kelas, Alula menyempatkan diri untuk sekedar berkeliling untuk lebih mengenal suasana sekolah tempatnya menimba ilmu kini. ia berjalan melewati beberapa koridor, matanya menangkap papan-papan bertuliskan perpustakaan, ruang lab, ruang komputer ditiap-tiap ruangan. dan terakhir ia berjalan melewati lapangan olah raga.


Tiba-tiba saja langkahnya terhenti, tepat saat ia mendengar suara yang tidak asing dipendengarannya, dengan jelas memanggil namanya.


"Lala... "teriaknya.


Tunggu, siapa orang yang akan memanggilnya dengan sebutan 'Lala' disini. karena satu-satunya orang yang sering memanggilnya Lala adalah..


"Sasa.. "ucapnya lirih.setelah ia membalikan tubuhnya. kini mata mereka saling bertemu, binar kebahagiaan tergambar dengan jelas dimata keduanya. sungguh pertemuan yang tidak disangka.


.


.


.


Akhirnyaa bisa Up juga 😀


Happy readding ☺

__ADS_1


Jangan lupa like and commentnya ya gaes...


__ADS_2