Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Cewek Aneh


__ADS_3

Setelan berbincang-bincang dengan Mama Indri, Alula kembali ke paviliun. Ia membuka sedikit jendela kamarnya kemudian merebahkan dirinya diatas ranjang.


ia menatap nyalang langit-langit kamarnya, berusaha memikirkan kembali tawaran Mama Indri untuk tinggal bersamanya didalam rumah utama.


"Apa sebaiknya aku terima saja tawaran Mama Indri untuk tinggal disana ya. Mama? Hmmm terdengar aneh gak sih." ia terkekeh merasa geli dengan panggilan Mama.


"aku bisa mengerjakan sesuatu disana, membantu asisten rumah tangga atau apapun. dari pada cuma diam saja disini, sungguh membosankan." gerutunya.


Pikirannya masih dipenuhi kegiatan apa yang bisa membuatnya sibuk hingga bisa melupakan kejadian-kejadian mengerikan yang terjadi padanya akhir-akhir ini. hingga matanya merasa berat karena terhembus angin sejuk dari taman belakang. dan ia mulai terlelap.


Entah berapa lama matanya terpejam, ia terbangun ketika merasakan perutnya perih menahan lapar. diliriknya jam yang menggantung di dinding kamar, sudah menjelang sore? tapi Ayah belum juga pulang. kemana ia harus mencari makanan , sedangkan ia sendiri tidak punya uang untuk membeli makan. dan lagi, dimana juga ia bisa membeli makanan.


Alula keluar dari paviliun,ia mengedarkan pandangannya melihat keadaan sekitar, tidak ada siapapun. ia berjalan kearah kebun, berharap menemukan seseorang disana. dan benar saja, Mang Ujang masih berada disana, dibawah pohon mangga yang sedikit rimbun. Alula berjalan mendekati Mang Ujang yang tengah duduk bersandar pada pohon mangga.


"Mm.. mang.. "dengan ragu-ragu Alula memanggil mang Ujang.


"Mang.. " panggilnya sekali lagi. namun Mang Ujang tetap tak bergeming. Alula sedikit menundukan kepalanya demi melihat Mang Ujang yang sedang tertunduk.


"Yahh.. tidur." gumamnya. Alula hendak membalikan badan , namun tiba-tiba


Plukk...


Suara benda keras terjatuh menimpa kepala Mang Ujang.


"Bangsat.. Bangsat.. "tubuh Mang Ujang terperanjat. dengan setengah sadar Mang Ujang mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih terasa perih.


Tidak hanya Mang Ujang, Alula pun ikut terperanjat setelah mendengar teriakan Mang Ujang.


"Ehhhh Eneng.. " Mang Ujang yang sudah sepenuhnya sadar meringis malu dengan kehadiran Alula disana.


"Itu mang" Alula menunjuk mangga muda yang jatuh menimpa kepala Mang Ujang tadi.


"Maaf ya neng, kaget yah?" tanya Mang Ujang dengan sebelah tangannya mengusap kepala yang masih terasa sakit.


"Gak apa-apa mang." Jawab Alula sambil menahan tawa.


"Mang Ujang lagi mimpi ngajar maling neng, jadi reuwas (kaget). kirain malingnya nimpuk Mamang." Alula hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Eh iya ada apa neng kesini? ada yang bisa Mamang bantu?" tanya Mang Ujang sungguh-sungguh.


"Ehh, iya. itu.. " Alula sedikit gugup. entah mengapa ia masih belum berani berkomunikasi dengan seorang laki-laki.


"Kenapa neng?" Mang Ujang terdengar mendesak jawaban.


"Ayah..." pertanyaan Alula terpotong karena Mang Ujang menyela ucapannya.


"Ohh Pa Abhi? belum pulang ya neng?"tanyanya. Alula hanya mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Mang Ujang seperti mengerti dengan apa yang ingin Alula tanyakan"Biasanya sebentar lagi pulang." Mang Ujang merapikan alat-alat berkebunnya.


"Neng tunggu saja, diGazebo sana neng," Mang Ujang menunjuk ke arah Gazebo "sambil ngadem." lanjutnya.


Alula mengangguk lalu pergi ke arah Gazebo.


Belum lama ia mendudukan dirinya diatas Gazebo, tiba-tiba sebuah ide muncul dalam pikirannya. "Bikin gambar disini kayaknya enak" gumamnya "Sambil ngadem.. " ucapnya pada diri sendiri.


Alula beranjak pergi ke paviliun untuk mengambil alat tulisnya. tak lama ia kembali dengan buku bersampul hitam milik sang Ibu.


"Masih tebel." ucapnya sambil mengamati buku bersampul hitam itu.


Alula mengeluarkan sebuah foto dimana tercetak gambar wajahnya, Dwi, Ibu dan Ayah. ia mulai menggoreskan pensil miliknya dengan lihai. mencoba membuat sketsa wajahnya bersama keluarganya yang sekarang sudah tak lagi utuh.


...****************...


"Mir... Emir.. " Panggil Mama Indri pada Mirza yang sedang asyik menonton siaran televisi. namun Mirza tak bergeming, tetap fokus pada layar televisi.


"Mirzaaa.. "teriak Mama Indri dan berhasil membuat Mirza beranjak.


"Apa yang bisa hamba bantu Ibunda Ratu?" Ucap Mirza setelah berdiri dihadapan Mama Indri yang sedang merapikan meja makan.


Mama Indri terkekeh kemudian menjawab. "Kamu panggilin Alula kesini gih! kasian kayaknya belum makan."


"Ko' Emir?" tanya Mirza setengah menyentak.


"Eh, bu.. bukan Ma. kenapa harus Emir maksudnya?" suara Mirza melembut.


"Terus siapa lagi? Mbak Sri lagi sibuk beresin bekas masak." Mama Indri menunjuk Mbak Sri dengan dagunya.


"Tapi Ma... "ucapan Mirza melayang di udara karena Mama Indri memotongnya.


"Gak ada tapi-tapian. cepet pergi ! lewat belakang sana."


Mirza menghembuskan napas dengan kasar, tidak bisa membantah lagi "Baik Ibunda ratu tersayangku.. " ia berjalan dengan gontai kearah belakang.


Setelah membuka pintu belakang, Mirza berjalan menuju Paviliun. namun langkahnya terhenti ketika sudut matanya menangkap seseorang yang tengah duduk diatas Gazebo.


"Nah.. itu anaknya" ucapnya pada diri sendiri. tanpa ragu ia melangkahkan kaki mendekati Alula yang tengah fokus pada gambarnya. Setelah hampir sampai, tiba-tiba Mirza menghentikan langkahnya.


"wait! , Gimana ngomongnya yah? " Mirza nampak berpikir sejenak. bukan tanpa sebab, selama ini ia tidak pernah dekat dengan perempuan, apalagi mengajaknya makan? Oh No! apa yang harus ia katakan.


"Heh! makan dulu lo" gila! kasar banget.


"Lo udah makan belom?" Dih, perhatian banget.


"Makan dulu sono! " Paan sih, engga banget.

__ADS_1


"Elahhh ribet banget deh gue ngajak makan orang doang." ucapnya pada diri sendiri.


Mirza menggelengkan kepalanya, merasa konyol dengan tingkahnya sendiri. ia melanjutkan langkahnya kembali mendekati Alula.


"Ehm.. "Ia berdehem menghilangkan rasa gugupnya. namun Alula yang mendengarnya merasa kaget karena ia tidak menyadari kehadiran seseorang disana.


Alula terperanjat dari duduknya, ia segera merapikan alat tulisnya kembali. dan bersiap untuk pergi.


"Eh, Sorry. lo disuruh nyokap kedalem." Alula tidak menanggapi. ia hanya tertunduk, lalu buru-buru pergi meninggalkan Mirza yang sudah membuka mulut hendak mengatakan sesuatu.


"Dasar cewek aneh." Mirza mengangkat bahunya. namun pandangannya tak lepas menatapi kepergian Alula.


Mirza membalikan badannya, namun ia terkejut mendapati Pa Abhi sudah berada dihadapannya.


"Udah pulang pa? " tanya Mirza basa-basi.


"Maafkan anak saya ya." Pa Abhi mengabaikan pertanyaan Mirza. ia merasa tidak enak pada Mirza dengan sikap Alula padanya.


"Ehh, gak apa-apa Pa. tadi Mama nyuruh Emir ngajak anaknya Pa Abhi makan didalam." Mirza menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Oh begitu. Oh iya, Bapak kemarin belum ngucapin terima kasih sama kamu. karena kamu sudah menolong anak Bapak. terima kasih banyak ya. kalau kamu engga nolongin anak Bapak, mungkin sekarang kami masih belum bertemu." Pa Abhi menepuk bahu Mirza dengan pelan. bertahun-tahun bekerja dengan keluarga Mahesa, membuat Pa Abhi dekat dengan Mirza. tanpa canggung dan sering kali bercanda. mereka juga tidak nampak seperti pekerja dan tuannya.


"Sama-sama Pa. Emir seneng ko' bisa bantu Bapak."


Pa Abhi nampak berpikir sebelum berkata "Lula itu sebenarnya anak yang baik dan sopan. mungkin Lula masih merasa takut dengan kejadian kemarin, makanya sikapnya seperti itu tadi. sekali lagi maafkan anak Bapak ya."


"Tidak masalah ko' Pa, Emir ngerti."


"Maaf ya kalau nanti Lula banyak merepotkan."


"Apaan sih Pa, kaya sama siapa saja. lagian Emir juga gak ada temen kan. nanti kapan-kapan Emir ajakin anak Bapak jalan-jalan deh biar gak sumpek." meskipun Mirza tidak yakin dengan ucapannya sendiri.


Pa Abhi terkekeh "Ya sudah Bapak tinggal dulu. kasian dia belum makan."


"Oke, Emir juga kedalem dulu Pa."


Happy reading ☺


*Yahh pertemuannya ko' gitu sih gak asik..


#syabarrr dulu yah! kan ini ceritanya Alula masih takut ketemu sama manusia berjenis laki-laki 😁


*kurang Gereget..


#Liatin muka aku aja biar Gereget.. 😀


jangan lupa tinggalkan jejak!

__ADS_1


__ADS_2