Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Bangku Untuk Bersender


__ADS_3

Alula benar-benar terkejut dengan kehadiran Risma disana, kenapa bisa Risma sekolah disini ? padahal jarak dari rumah singgah ke sekolah ini lumayan jauh. pantas saja selama ini Risma selalu berangkat lebih pagi dan pulang lebih petang dari anak-anak yang lain.


"Ka.. kamu disini?" tanyanya dengan gugup. ia menatap Risma dengan wajah kagetnya.


Risma memandang tak suka pada Alula.


"Harusnya aku yang nanya, kenapa kamu bisa sekolah disini?dari sekian banyak sekolah, kenapa harus disini?" Risma balik bertanya tak menghiraukan pertanyaan dari Alula.


"Bagaimana kabar bu Indah Ris?" pertanyaan lain justru keluar dari mulut Alula.


"Gak penting buat kamu."jawab Risma dengan nada ketusnya "keluarga mana lagi yang kamu tumpangi?"Risma melipat tangannya didepan dada.


"A.. aku.. " Belum sempat Alula meneruskan ucapannya, terdengar suara bel berbunyi. siswa-siswi yang masih berada diluar gerbang segera berlari sebelum satpam penjaga pintu gerbang menutupnya.


Risma berdecak sebal "Sudahlah, aku berharap semoga kita engga satu kelas." ucapnya lalu meninggalkan Alula yang masih mematung ditempatnya.


Lama Alula berdiri dipintu gerbang hingga seseorang menepuk bahunya "Neng, mau masuk apa engga?" Suara satpam penjaga pintu gerbang menyadarkan Alula dari lamunannya.


"Ehh, i.. iya Pa" jawabnya sambil berlari meninggalkan pintu gerbang.


Alula berjalan dengan tergesa, ia mengedarkan pandangannya mencari ruang guru BP. tidak ada satupun orang disana, karena seluruh siswa sudah masuk kedalam kelas masing-masing. Alula berjalan dengan cepat melewati koridor kelas, hingga ia tak menyadari kehadiran seseorang dihadapannya.


Bugg...


"Aduhh... "pekiknya.


Alula menabrak tubuh seorang siswa laki-laki yang membawa setumpukan buku yang lumayan tebal. sepertinya siswa tersebut baru saja keluar dari ruang guru membawa buku tugas. beberapa buku berjatuhan, dengan sigap Alula memunguti buku-buku itu, lalu menyimpannya kembali diatas tumpukan buku yang masih siswa laki-laki itu bawa.


"Ma.. maaf" ucap Alula sambil menundukan kepalanya. sungguh sial, di hari pertamanya masuk sekolah justru ia membuat masalah dengan orang lain.


Siswa laki-laki itu nampak diam memperhatikan Alula yang terus tertunduk.


"Oke, gak apa " jawabnya.


"Kamu murid baru? " tanyanya kemudian.


Alula mengangguk kemudian mendongkangkan kepalanya sebelum bertanya "Eumm.. boleh tanya ga? " Siswa laki-laki itu sesaat terdiam, ia nampak terkejut melihat wajah yang tak asing untuknya.


"Kamuu ...?"Siswa laki-laki itu nampak berpikir.


"Lupakan ! mau tanya apa?" tanyanya kemudian.


"Ruang guru BP Dimana yah? aku disuruh kesana dulu sebelum masuk kelas."

__ADS_1


"Oh.. kamu lurus aja, nanti belok kiri. ruangan paling ujung. "jawabnya sambil menggerakan tangannya, mengarahkan Alula pada tempat yang dituju.


"Terima kasih," Alula menundukan kepalanya "Sekali lagi maaf ya, aku buru-buru tadi." ucapnya tulus. siswa laki-laki itu hanya mengangguk lalu tersenyum menatapi kepergian Alula.


...****************...


Sementara ditempat lain, Marko dan Martin yang juga ditemani oleh Gweny tengah asik mengobrol dikantin kampus. tempat yang masih terlihat sepi, karena sebagian Mahasiswa belum datang di jam seperti ini.


"Emir kemana? belum dateng?" pertanyaan Gweny memecah kesunyian diantara ketiganya.


"Tahu, palingan bangun kesiangan lagi dia mah. " jawab Marko sekenanya.


"Lu masih setia nungguin perasaan Emir?" tanyanya pada Gweny, Martin hanya diam mendengarkan.


"Sebelum dia ada yang punya, aku masih punya kesempatan kan buat dapetin dia?" Gweny balik bertanya.


"Gue kasian aja sih sama lu. Lu gak cape ngejar-ngejar satu orang ? sementara ditempat lain ada yang mengharapkan elu." Marko melirik pada Martin yang sedang menyantap roti sanwich nya.


"Ngapain lu lirik-lirik gue?" tanya Martin tak terima.


Sejak dulu Marko tahu jika temannya ini menyukai Gweny, sialnya yang disukai Gweny adalah Mirza, yang juga sahabatnya sendiri. sialan memang..


"Udah deh, gue tau lu ngarepin Gweny dari dulu kan?" mulut tak berfilter itu terus saja bersuara. Martin hanya diam. untuk masalah ini ia malas untuk ikut bicara


Gweny hanya melirik sekilas pada Martin sebelum akhirnya berkata "Kita temenan aja, ya kan?" namun itu bukan sebuah pertanyaan, lebih pada sebuah pernyataan untuk memperjelas status diantara mereka.


"Sialan lu entin." gerutunya pada Martin. yang berakhir mendaratnya sebuah gulungan tisu dikening Martin.


"Berhenti manggil gue entin, Markonah." kesalnya.


"Lu tuh gak tau terima kasih banget udah di belain juga." percekcokan antara laki-laki itu pun tak bisa dihindari.


"Gue gak pernah minta pembelaan dari lu yah." sebuah gulungan tisu kini mendarat dikening Marko.


"Sialan emang.. "


"Udah-udah." Gweny melerai perdebatan kedua nya.


"Hati itu gak bisa dipaksain ko." ucap Gweny Lirih, meskipun masih terdengar .


Sekalipun Gweny sudah mencoba membuka hati untuk Martin, tetap saja tidak bisa menghilangkan perasaannya pada Mirza. yah, tidak ada yang tahu Martin dan Gweny pernah menjalin asmara termasuk Mirza dan Marko. hubungan mereka pun tak berlangsung lama, hanya satu bulan. itupun Gweny lakukan hanya untuk mencoba melupakan perasaannya pada Mirza yang terang-terangan selalu menolaknya.


Sakit, hancur rasanya hati Martin mendengarkan alasan yang terucap dari mulut wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu. dia bilang 'cinta gak bisa dipaksakan, aku juga gak mau menjadikanmu pelarian.' ucapnya waktu itu.

__ADS_1


"Jadi, lu milih bertahan dalam ketidak pastian dari pada menjalani sebuah kenyataan?" ucap Martin dengan santai setelah menyandarkan punggungnya.


Gweny hanya mengangkat bahunya "Hidup itu gak bisa ditebak , begitu juga perasaan." ucapnya.


Pembicaraan mereka terhenti saat Mirza sang Maha karya terbaik itu datang dengan senyum mengembang. namun seketika berubah datar setelah menyadari kehadiran Gweny disana.


"Dari mana aja lu anak sultan?" tanya Marko.


"Tau ! tumbenan ni anak baru dateng." timpal Martin


"Abis dari PuBa (Putra Bangsa)." nama sekolah yang cukup terkenal tempat Alula sekolah saat ini.


"Ngapain lu dari PuBa ? gebetan lu anak SMA sekarang?" pertanyaan Marko membuat Gweny reflek menoleh, ia memasang telinganya dengan tajam demi mendengar jawaban dari Mirza.


"Bukan urusan lu." jawab Mirza, yang membuat Gweny merasa kecewa dengan jawaban Mirza.


"Kemaren-kemaren aja lu ledekin gue, Lahhh sekarang dia sendiri nyari gebetan anak SMA." Marko mencebikan bibirnya mengejek Mirza.


"Bisa diem gak lu." cerca nya pada Marko. Mirza melirik pada Gweny sekilas sebelum akhirnya berkata. "Kalian masih mau pada disini ? gue duluan kalo gitu. " ucapnya. jelas ia ingin menghindari Gweny.


"Tunggu, elahhh.. kita nungguin lu dari tadi, seenaknya aja main tinggal."


"Dia mah gak pernah tau, gimana rasanya ditinggal pas lagi nunggu kepastian." celetuk Martin, yang lebih tertuju pada Gweny yang duduk disebrang nya.


"Apaan sih lu gak jelas." ucap Mirza yang memang tidak mengerti dengan maksud Marko. ia berlalu pergi.


"Woyy, tungguin elahhh.. " teriak Marko lalu berdiri duduknya sebelum kemudian menepuk bahu Gweny yang duduk disebelahnya.


"Jika tak punya bahu untuk bersandar, setidaknya masih ada bangku untuk bersender." ucapnya pada Gweny. sambil menunjuk sandaran bangku yang ada dibelakang tempat duduknya. ia tau perasaan perempuan itu sedang tidak baik-baik saja.


"Apaan sih, gak jelas deh." ucap Gweny dengan nada kesal, namun tetap diakhiri senyuman.


"Gue masih disini, menunggu seseorang yang juga menunggu orang lain." ucap Martin yang kemudian berlalu meninggalkan Gweny yang masih duduk ditempatnya.


"Apaan sih kalian Geje banget deh." terlihat raut wajah Gweny yang ditekuk setelah pertemuannya dengan Mirza pagi ini. tidak ada kemajuan, itu yang dipikirkannya.


.


.


.


Happy readding gaes 😊

__ADS_1


Yang sabar ya bang Entin, semoga Neng Gwen segera berpaling lagi dari Mirza.


jangan Lupa like and comment nya ya gaes.. 🤗


__ADS_2