Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Adek Tersayang


__ADS_3

Sejak teman-teman sekelasnya tahu bahwa Alula hanyalah seorang anak supir, tak jarang beberapa dari mereka saling berbisik, bahkan terang-terangan membicarakan apapun yang menjadi bahan gosip mereka didalam kelas. seperti,


"Lihat deh, si anak supir baru dateng." ketus salah seorang siswi yang duduk dikursi paling depan, ketika melihat Alula dan Marsha baru saja masuk kedalam kelas. belakangan diketahui bahwa siswi yang bernama Rossi ini ternyata menyukai Yanuar sejak lama. namun Yanuar malah menyukai Alula.


"Aku tiap hari liat dia dianter-jemput cowok loh, kayaknya sih orang tajir. motornya aja berduit." timpal temannya yang lain.


"Ko' bisa yah tu cowok tajir suka sama anak supir."Rossi mendelikan matanya ketika Alula berjalan melewatinya.


"Karena si anak supir ini lebih kaya hati. dari pada kalian yang kaya harta tapi miskin hati. pria manapun pasti lebih suka sama anak supir ini." geram Marsha yang mulai jengah mendengar omongan teman-teman sekelasnya tentang Alula.


"Buktinya tuh si Yanu, anak wakepsek aja suka sama si Lala." lanjutnya.


"Karena ditolak, dia jadi jelek-jelekin si Lala." Marsha tak henti memberikan pembelaannya pada Alula.


Alula hanya menghembuskan napas kesal melihat perdebatan Marsha dan teman-temannya yang lain, lalu mendudukan dirinya dikursi. awalnya ia mengira teman-temannya ini adalah orang-orang baik yang tidak membedakan orang berdasarkan tahta. tapi setelah tahu kenyataannya, justru malah sebaliknya.


Ia teringat kembali perkataan Marsha beberapa hari yang lalu ketika mereka tengah berada dikantin sekolah, menikmati semangkuk bakso ceker buatan Mang Kadir yang terkenal paling enak dikantin.


"La, kamu liat itu!" tunjuk Marsha pada tiang listrik yang berdiri kokoh di dekat gerbang sekolah.


Dahi Alula mengernyit "Tiang listrik?" tanyanya tak mengerti.


"Hem" Marsha mengangguk mantap.


"Hidup itu harus kaya tiang listrik." ucapnya yakin, dengan mata yang menerawang.


"Hahh? cita-cita kamu jadi tiang listrik Sa?" pertanyaan polos itu keluar dari mulut Mulan yang dipenuhi bakso berukuran besar yang baru saja ia lahap.


"Kamu sekolah tinggi-tinggi cuma mau jadi tiang listrik?" lanjutnya sambil berusaha mengunyah dan menelan bakso yang masih panas itu.


"Bukan gitu oneng !" sergah Marsha.


"Nih ya, liat!" Seru Marsha.


"Hidup mah kaya tiang listrik. lempeeeng aja, tahu-tahu nyetrum." lanjutnya sambil menggerakkan telunjuk dari bawah ke atas.


Dahi Mulan mengernyit "Maksudnya apa sih Sa, kamu pernah kesetrum?" Lagi-lagi Mulan bertanya dengan polosnya, membuat sebuah sedotan meluncur ke hadapannya.


"Diem deh !" seru Marsha dengan kesal.


"Hidup mah santai aja La. Orang mau ngomong apa juga biarin aja." lanjut Marsha dengan tangan meraih sedotan yang baru, mengganti sedotan yang baru saja ia lempar.


"Jangan dengerin omongan jelek orang tentang kita, justru itu akan membuat kita semakin down!" Marsha mengaduk jus jeruk yang ia pesan.


"Suatu saat, kita buat mereka bungkam dengan kelebihan yang kita punya." Senyum Marsha mengembang.


"So' lempeeeng aja kaya tiang listrik, tahu-tahu kita nyetrum mereka yang banyak bicara."


Alula terperangah mendengar ucapan Marsha. ia menggelengkan kepalanya. Sasa, sahabat kecilnya yang satu ini benar-benar berubah.

__ADS_1


"Kamu makin kesini makin pinter ngomong ya Sa?" ucapnya kagum.


Namun Marsha hanya tertawa "Mungkin karena keseringan deketan sama Bang Dito, otak pinternya Bang Dito nular ke aku."


"Halah, palingan itu kata-kata kamu copy paste dari Bang Dito." terka Mulan tepat sasaran.


"Haha.. ko' kamu tahu sih Lan ? itu emang kata-kata dari Bang Dito."


"Nah kaan benar tebakan aku." Mulan mencibir.


"Yah, gak jadi mujinya deh kalo gitu."


Merekapun tertawa karena pengakuan Marsha.


Tapi, ada benarnya juga. jika hidup hanya mendengarkan apa kata orang, bagaimna kita akan bangkit? kita akan terus tenggelam dalam rasa tidak percaya diri.


Jadi, hari demi hari Alula lewati dengan bersikap masa bodoh. yah, masa bodoh dengan teman-teman sekelasnya mau membicarakan apa tentangnya. ia sudah tidak ambil pusing.


Selalu bersikap normal dan biasa saja , seperti tidak pernah terjadi apa-apa. karena nyatanya apa yang mereka tuduhkan padanya tidak pernah terjadi. ia yakin jika suatu saat, mereka akan diam dengan sendirinya.


Alula tidak membutuhkan orang-orang yang tidak menyukainya. baginya, kehadiran Marsha dan Mulan sudah cukup untuk menemani hari-harinya ketika di sekolah.


...****************...


"Abang.. "girang Alula saat melihat abangnya, Mirza. telah datang menjemputnya. ia melambai-lambaikan tangannya kearah Mirza yang tengah berusaha mencari lahan untuk memarkirkan motornya.


"Napa sih lu dek?" tanya Mirza yang masih belum terbiasa ber-aku kamu.


"Gak apa-apa." jawabnya masih dengan senyum mengembang. namun Mirza hanya menggelengkan kepalanya.


"Dapet cowok baru?" goda Mirza yang melihat Alula sedikit berbeda hari ini.


"Ih abang, apaan sih ya engga lah." sergah Alula.


"Terus kenapa lu senyam-senyum gitu, salah jajan ya lu? "


"Enggak lah bang, aku lagi seneng aja. soalnya aku dapet nilai ulangan Matematika paling gede dikelas dong." ucapnya bangga.


Salah satu cara membungkam mulut teman-temannya yang tak berakhlak itu adalah dengan meraih nilai terbesar dikelasnya. dan dengan ini Alula membuktikan bahwa ia memang pantas berada disana.


"Hebat kan aku?" Alula menepuk dadanya dengan bangga.


Mirza tersenyum, menunjukkan lesung pipitnya yang selalu terlihat manis dimata Alula,


"Didikan gue!" serunya sambil mengacak rambut Alula.


"Apaan sih, enak aja."elak Alula.


"Bang, jangan dulu pulang yah. jalan-jalan dulu, dirumah juga gak ada siapa-siapa kan?" karena sebelum berangkat sekolah tadi, Mama Indri memberitahunya bahwa beliau akan ikut keluar kota bersama Ayah dan Pa Sanjaya.

__ADS_1


"Mau kemana emang?"


"Kemana aja, yang penting jalan-jalan."


"Yaudah ayo! "seru Mirza yang berjalan meninggalkan Alula dan sepeda motornya.


"Abang." teriak Alula yang keheranan melihat Mirza meninggalkan motor kesayangannya.


"Kenapa motornya ditinggal?" tanyanya kemudian.


"Kan lu mau jalan-jalan, ya udah ayo jalan."Mirza membalikan badannya.


"Abang... tapi gak jalan kaki juga kali." rengek Alula.


"Ya lu bilangnya mau jalan-jalan, coba kalo lu bilangnya mau motor-motoran."


Alula menepuk dahinya pelan "Ya ampun... " gumamnya.


membuat mereka tertawa karena kekonyolan Mirza.


"Bang, Abang ini kan ganteng yah, apa abang_"ucapan Alula terhenti karena Mirza menyelanya.


"Lu baru nyadar kalo gue ini ganteng? abang lu ini adalah maha karya terbaik yang tuhan kirimkan." ucap Mirza dengan bangga. membuat Alula ingin sekali memuntahkan isi perutnya karena ternyata Mirza senarsis itu. tapi tak bisa dipungkiri wajah Mirza memang terbaik diantara teman-temannya. hmmm


"Percuma ganteng tapi jomblo." Alula mencibir


"Abang gak punya cewek kan?" ledeknya.


"Ya punya lah" sergah Mirza, namun Alula sedikit terkesiap dengan jawabannya.


"Cewek tersayang gue ya Ibunda ratu sejagat rumah, Mama Indri Sabrina."


"Dan yang kedua lu, adek tersayang yang sekarang bikin hari-hari gue jadi kerepotan."


Alula tersenyum senang, entah mengapa mendengar Mirza menyebutnya sebagai 'adek tersayang' membuat hatinya mendadak ditumbuhi bunga-bunga.


.


.


Happy readding... 😊


Mohon dimaafkan untuk keterlambatan up nya yah..


Selamat menjalankan Ibadah Puasa, bagi yang menjalankannya.. 🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak !


*salam halu dari otor... 😁

__ADS_1


__ADS_2