Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Adek Kakak Zone


__ADS_3

"Lo ngerasa gak sih, kalo makin kesini perlakuan si Emir sama Alula itu makin beda?" tanya Martin yang kini duduk dibalik kemudi.


"Kayak bukan Abang ke adek tau gak." imbuhnya.


"Dari awal gue yakin, sebenarnya mereka itu saling suka." lanjutnya lagi tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. sebab mereka kini tengah berada dalam perjalanan pulang, setelah dari kedai bakso.


Marko hanya diam, mencerna setiap kata yang diucapkan Martin. Yah, memang benar. sudah hampir 8 tahun mereka berteman baik, tak pernah sekalipun ia melihat Mirza seperhatian itu pada perempuan. apa lagi ketika ia melihat wajah Mirza yang khawatir saat Alula sakit waktu itu.


"Lu liat gak sih, mukanya dia asem banget, pas liat cowok yang dateng sama temennya si Lula waktu itu. abang nya.. siapa?" Martin menoleh pada Marko yang sedari tadi nampak berpikir.


"Si beo." ucap Marko singkat, sambil memutar bola matanya. seolah malas membahas Marsha.


"Sasa," ralat Martin.


"Nah iya itu si micin."


"Ah elu, kayaknya sebel banget sama tu anak."


"Lah Sasa kan emang merk micin," elaknya.


"Terus gimana gak sebel coba, dia udah ngabisin duit gue." ujar Marko yang masih kesal dengan kejadian di swalayan waktu itu.


"Iya, iya tau."


"Balik lagi ke topik, menurut Lu gimana?" tanya Martin.


Marko nampak berpikir sebelum berkata,


"Gue juga ngerasanya gitu, semenjak si neng peri hadir dikehidupan si Emir."


"Bahasa Lu, lebay... " potong Martin.


"Dengerin!" sembur Marko, ia merubah posisi duduknya menghadap pada Martin, dengan memasang wajah serius.


"Sejak ada si Alula, si Emir jadi sering ketawa, seneng banget bawaannya gitu. walaupun kita bertiga dari dulu berteman baik dengan si Gweny, tapi gue gak pernah liat dia ketawa bareng si Gweny."


"Dan Lu inget gak, waktu dia bilang si Alula ada yang nembak, temen sekelasnya. hari itu dia uring-uringan gak jelas. dih, pengen gue jitak aja kepalanya."


"Tapi, kenapa dia gak mau terus terang sama perasaannya sendiri?" tanya Martin sambil sesekali melirik kearah spion.


"Mana gue tau," Marko menaikkan bahunya.


"Lagian, manusia kulkas macam dia mana pernah peka sih."


Ya, orang seperti Mirza mana pernah peka terhadap perasaan lawan jenisnya. pernah suatu ketika tiba-tiba saja ada seorang perempuan menghampirinya, tanpa diduga perempuan langsung menyatakan cintanya pada Mirza. Mirza yang saat itu tengah duduk dikursi kantin hanya melirik, lalu memandang tanpa ekspresi, dan berkata


"Lu lagi nembak gue?"


Tak ada kata penolakkan atau pun permintaan maaf, karena Mirza langsung saja pergi tanpa menjawab ungkapan cinta si perempuan. membuat Marko dan Martin yang saat itu duduk bersamanya menggeleng-gelengkan kepala.

__ADS_1


"Tapi menurut gue, si Emir kayaknya gak mau mengakui perasaannya sendiri. karena dalam pikiran dia, mengungkapkan rasa sayang, berarti harus rela kehilangan juga."


"Dia sangat menyayangi adiknya, Inara. sebab itu dia sangat terpukul saat kehilangan Inara. dan dia gak mau hal itu terulang kembali pada perempuan manapun." begitu yang Martin ketahui dari Mirza.


"Dan sekarang, gue rasa dia gak sadar kalo sayangnya dia ke si Lula itu sebenarnya bukan perasaan Abang ke Adek."


"Dia selalu menganggap bahwa si Lula adalah adik pengganti Inara. tapi yang kita tangkap, justru malah kayak pasangan gak sih?"


Marko mengangguk setuju,


"Gue kira, itu semacam Adek-Kakak zone. tetap menganggap dia adik, padahal perasaan sebenarnya lebih dari pada itu."


"Cih, bahasa mana pula itu Adek-Kakak Zone." cibir Martin.


"Yah, itu... semacam Friendzone, macam elu sama si Gweny." Marko tertawa puas, merasa menang atas Martin. Martin hanya mendelik kesal kearahnya.


...****************...


Haripun berlalu, tanpa terasa Alula kini duduk dibangku kelas XII. dan sama seperti tahun sebelumnya , ia menyandang predikat sebagai peraih nilai tertinggi siswa kelas XI. ia kini semakin disibukkan dengan tugas-tugas disekolah.


Begitupun dengan Mirza, saat ini, iapun tengah disibukkan dengan aktivitas barunya. belajar berbisnis dengan sang Papa. sebenarnya ia merasa belum siap, karena kesibukannya di kampus, juga jadwal kuliahnya yang tidak tentu menjadi bahan pertimbangan.


Namun seperti biasa, ia tak pernah bisa menolak. ia yang adalah pewaris utama Mahesa Group, tentu saja mau tak mau harus menerima tanggung jawab sepenuhnya dari Pa Sanjaya. sesekali, iapun ikut serta jika ada jadwal kunjungan ke beberapa cabang. ditemani Ayah Abhi tentunya, yang kini menjadi orang kepercayaan Pa Sanjaya.


"Kamu kan sudah dewasa, sudah waktunya ikut Papa ke kantor. belajar menganalisa perkembangan kantor."


"Kamu ini anak Papa satu-satunya. kalau bukan kamu, lalu siapa yang akan melanjutkan bisnis Papa." begitu kata Pa Sanjaya ketika ia mengajak putra semata wayangnya ikut terjun ke dalam dunia bisnis.


"Dek, anterin gue belanja!" seru Mirza yang kini berdiri dibelakang Alula.


Dengan wajah terkejut Alula menoleh. "Abang, ngagetin."


"Mau beli apa?" tanyanya kemudian.


"Kemeja sama celana,"


"Stok kemeja abang cuma beberapa potong doang, kebanyakan kaos oblong. ya masa, gue ke kantor pake kaos."


Alula mengangguk mengerti "sekarang?" tanyanya.


"Gak, tahun depan nunggu gue lulus."


"Yaiyalah sekarang, gimana sih."


Alula hanya tertawa, mendengar celotehan abangnya.


"Bentar, aku ganti baju dulu." ucapnya sebelum beranjak pergi.


"Udah gak usah, tinggal gini doang." Mirza merapikan rambut Alula yang sedikit berantakan. lalu menyelipkan anak rambutnya ketelinga. membuat Alula tersipu malu, karena hal sederhana yang dilakukan Mirza.

__ADS_1


"Gak usah dandan, lu udah cantik." Mirza tersenyum lembut, lalu menarik tangan Alula. tanpa melepaskannya hingga sampai ke halaman depan. hal sederhana, namun entah mengapa, lagi-lagi membuat Alula merona. Mirza -si pria dingin- memperlakukannya dengan sehangat itu.


Dan kini, mereka tengah berkeliling area Mall untuk membeli beberapa kemeja untuk Mirza.


"Pilihin bajunya! apapun yang lu pilih, pasti gue suka." begitu kata Mirza, ketika mereka memasuki toko khusus kemeja pria.


Dan apa yang diucapkannya ternyata benar, setiap Alula memilihkan baju untuknya, ia langsung mengacungkan dua jempol untuk pilihannya. merasa suka dengan pilihan Alula.


"Emang yang terbaik lu dek." ucap Mirza sambil mengacak rambut Alula.


"Sebagai tanda terima kasih karena udah bantuin abang, hari ini abang traktir makan sepuasnya."


Mereka tengah berjalan menuju restaurant dilantai atas, ketika tiba-tiba Alula melihat sekelebatan orang yang sangat dikenalnya. ia berdiri, menatap tak percaya orang yang berjalan didekatnya.


Itu Risma, ia berjalan bergandengan tangan dengan pria yang umurnya jauh diatasnya. sudah beberapa kali Alula melihatnya pergi bersama pria tua. namun kali ini, Alula tak ingin tinggal diam.


"Mau kemana?" Mirza menarik tangan Alula saat ia berjalan kearah yang salah.


"Itu.. aku liat temanku." tunjuknya pada Risma yang tengah asik menggelayutkan tanggannya pada lengan si pria tua. ia tertawa dengan riangnya, tanpa mempedulikan tatapan keheranan pengunjung yang lain.


"Gak usah ngurusin orang lain deh, cari masalah aja." ucap Mirza mengingatkan. bagaimanapun itu bukan urusan mereka.


"Tapi bang, aku tuh sering liat dia kayak gitu."


"Yaudah sih, biarin aja. kamu jangan cari masalah dengan mencampuri urusan orang lain." namun Alula tak mendengarkan, ia tetap pergi menemui Risma.


"Ris, aku mau bicara." Alula menarik tangan Risma, membawanya sedikit menjauh dari si pria tua.


"Apaan sih, lepasin ah." Risma menepis tangan Alula.


"Aku sering liat kamu jalan sama Om-om." ucap Alula tanpa basa basi.


"Terus apa masalahnya sama kamu?" Risma memutar bola matanya, lalu melipat tangannya didepan dada.


"Ris, kalau sampai Ibu Indah tahu, kalau... "


"Udah deh, gak usah ngurusin orang lain." potong Risma.


"Dan lagi, kalau sampai Ibu tahu, pasti itu dari kamu." tunjuknya tepat didahi Alula.


"Sampai disini, gak usah ngurusin hidup orang lain!" seru Risma lalu beranjak pergi meninggalkan Alula yang masih mematung ditempatnya.


Bagaimana mungkin Risma melakukan hal itu, padahal Ibu Indah sangat baik. tentu beliau akan sangat kecewa karena apa yang dilakukan Risma adalah sebuah kesalahan.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading... 😊


__ADS_2