Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Balas Dendam


__ADS_3

Sejak Alula jatuh sakit malam itu, Mirza tak lagi membawa motor kesayangannya. melainkan membawa mobil yang memang telah dihadiahkan untuknya dari sejak lama. hanya saja, Mirza lebih menyukai berkendara dengan sepeda motornya dibanding mobil pemberian sang Papa.


Baik pulang maupun pergi ke sekolah ataupun kekampus ia selalu memakai mobilnya.


"Biar lu gak kehujanan lagi," begitu kata Mirza, ketika Alula menanyakan mengapa ia lebih sering memakai mobil dari pada motor akhir-akhir ini.


Sedikit berlebihan memang, namun tidak untuk Mirza. kenyamanan dan keselamatan Alula kini menjadi prioritasnya. entahlah, ia yang pernah mengalami pedihnya ditinggalkan adik tersayangnya mulai memberi perhatian lebih pada Alula, yang kini menggantikan Inara sebagai adik untuknya.


Mirza memarkirkan mobil berwarna hitam yang masih mengkilap miliknya dibahu jalan. kini ia tengah menunggu Alula keluar dari pintu gerbang.


Matanya fokus menatap pintu gerbang, dimana para siswa-siswi berhamburan keluar dari sana. namun tiba-tiba dahinya mengernyit mendapati Alula keluar dari pintu gerbang dengan kaki yang berjalan dengan sedikit pincang. why else she is? batinnya.


Ia sengaja tak keluar dari mobil, lebih memilih diam memperhatikannya dari dalam.


"Jadi, sekarang punya gebetan baru." Mirza menangkap ucapan tidak menyenangkan dari seorang gadis yang memakai seragam sama seperti Alula. gadis itu bersama dua orang temannya berdiri tepat dibelakang Alula, yang kini berada tak jauh dari mobilnya.


"Si motor item dikemanain? sekarang ganti ke si mobil item." ucap yang lainnya dengan nada angkuh sambil meletakkan tangan didepan dada.


Alula membalikan badan, ia diam tak sedikitpun melawan. lebih sering menarik napas lalu menghembuskannya dengan perlahan. mungkin ia sudah malas meladeni teman-temannya yang sedikit dengki. hey, lawan dong !


"Ya jelas milih yang lebih beduid lah." timpal satu orang yang lainnya.


"Biar bisa nambah-nambah buat biaya sekolah." sungguh kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulut seorang siswi.


Alula hendak membuka mulut, namun urung ketika tiba-tiba saja ia mengedar suara berat namun menenangkan dari belakang punggungnya.


"Udah ngobrolnya?" tanya Mirza dengan memasang wajah dingin, dan tatapan menusuk hingga hampir membekukan ketiga gadis didepannya.


Alula menoleh, lalu mengangguk sebagai jawaban.


"Yuk balik!" serunya sambil menggandeng tangan Alula dan mengajaknya masuk kedalam mobil.


Mirza hendak menyusul masuk kedalam mobil, namun ia kembali menemui ketiga gadis tersebut.


"Lain kali kalo ngomong tuh pake otak jangan cuma pake mulut." ia berlalu meninggalkan ketiga gadis yang masih terbengong-bengong ditempatnya. namun sejurus kemudian telinganya menangkap obrolan ketiga gadis itu.


"Cakep banget."


"Itusih bukan Om-om, tapi Oppa."


"Saranghae Oppa."


"Tapi mulutnya pedes."

__ADS_1


"Pedesan mulut kamu barusan."


Membuatnya menggelengkan kepala tak percaya. lalu melajukan mobilnya membelah jalanan Ibu kota.


"Kenapa kaki lu dek?"


Alula hanya mengernyit tak mengerti.


"Gue liat jalan Lu pincang tadi." ucap Mirza kemudian.


"Oh itu, tadi... " Alula membetulkan posisi duduknya lalu menurunkan sedikit roknya kebawah lutut agar luka memarnya tak terlihat oleh Mirza.


"Aku kesemutan." jawab Alula sekena nya. tidak mungkin ia memberi tahu Mirza, jika tadi ia jatuh karena tersandung kaki temannya yang sengaja menghalangi jalannya ketika akan keluar kelas.


"Lu pikir gue bocah?" namun Mirza tak percaya,


"Mereka tadi yang lakuin?" tanyanya kemudian.


"Kita.. langsung pulang kan Bang?" tanya Alula mengalihkan pembicaraannya.


"Udah deh, jangan mengalihkan pembicaraan." kilah Mirza.


"Mereka tuh keterlaluan, itu namanya pembullyan dek."


"Mereka sering kaya gitu?" rupanya Mirza masih tak mau kalah.


"Udah Bang, gak usah dibahas."


"Lu tuh jangan terlalu baik jadi orang. lawan dikit, biar mereka gak semena-mena sama Lu dek." Alula hanya diam mendengarkan.


Ia memang akan membalas perbuatan mereka, tapi membalasnya dengan cara yang sama jelas tidak mungkin. ia punya cara sendiri bagaimana membuat orang-orang yang tidak menyukainya berubah menjadi terkagum-kagum. let's see leter.


...****************...


Dan ucapannya terbukti hari ini, dimana acara kenaikan kelas tengah berlangsung. dengan dihadiri oleh ratusan orang siswa juga orang tua wali murid yang sengaja datang memenuhi undangan. tak terkecuali Ayah yang datang sebagai orang tua walinya.


Membuatnya menghela napas lega, dan tersenyum penuh kemenangan ke arah teman-temannya. karena saat pembawa acara menyebutkan nilai terbesar dari keseluruhan siswa kelas X, Alula lah yang maju sebagai siswa dengan nilai paling tinggi diantara puluhan siswa kelas X dari kelas XA-XF .


"Dan hari ini, akan kami umumkan peraih nilai tertinggi masing-masing dari kelas X, XI dan XII." semua mata kini tertuju pada pembawa acara, tak terkecuali Alula dan teman-temannya yang memasang telinganya dengan tajam.


"Dari kelas X diraih oleh Ananda Alula Raina Sofyan, dari kelas XI diraih oleh Ananda Silvia Namira, serta lulusan terbaik dengan peraih nilai paling tinggi diraih oleh Ananda Dito Alamsyah." begitu suara pembawa acara saat menyebutkan nama siswa-siswi yang mendapat nilai terbaik di sekolah Putra Bangsa tahun ajaran 20**.


Alula sempat tertegun tak percaya ketika namanya disebutkan oleh pembawa acara. namun sebuah tepukan dibahu menyadarkannya jika apa yang didengarnya benar-benar tidak salah. "ayo naik La !" seru Marsha dengan senyum semringah.

__ADS_1


"Untuk Ananda Alula Raina Sofyan dari kelas XA, Ananda Silvia Namira dari kelas XI C, juga Ananda Dito Alamsyah dari kelas XII B yang telah berhasil meraih nilai paling tinggi untuk lulusan tahun ini. dipersilahkan naik keatas panggung untuk menerima penghargaan khusus dari kepala sekolah."


Kini Alula tengah berdiri diatas panggung dengan sebuah piala bertuliskan 'Peraih Nilai Tertinggi Kelas X Tahun 20**'. disamping kirinya berdiri siswa kelas XI yang diketahui bernama Silvia Namira serta Dito sebagai lulusan terbaik tahun 20**. ia tersenyum saat matanya bertemu dengan mata Dito.


Dan Alula telah membuktikan bahwa persepsi mereka tentang 'anak seorang supir tidak pantas bersekolah disana' adalah salah. karena setiap orang memiliki hak atas masa depannya masing-masing. baik itu anak supir, pengamen, bahkan pemulung sekalipun. jika ia mampu kenapa tidak ?


dan Alulapun telah membuktikan bahwa balas dendam tidak harus membalas sama atas perlakuan mereka. karena balas dendam terbaik adalah dengan menjadikan dirimu lebih baik.


Alula turun dari atas panggung dengan membawa piala ditangannya. tatapannya tertuju pada Ayah yang juga menatap dengan bangga putri sulungnya.


Alula tersenyum lembut sebelum kemudian berkata,


"Ini untuk ayah." ucapnya pelan dengan mata yang memanas.


Ayah meraih piala dari tangan Alula, kemudian memeluk dan mengelus lembut puncak kepala putri tersayangnya.


"Ayah selalu bangga padamu Nak." ucap ayah dengan suara gemetar penuh haru, sedetik kemudian cairan bening menetes dari mata tua nya.


"Aku sih udah tahu dari dulu, kalo kamu itu sebenarnya pinter La. cuman kamu selalu ngalah sama Dwi." ujar Marsha yang kini berdiri disampingnya.


Alula melirik Marsha dengan mata memperingatkan, ia merasa tak enak hati pada ayah.


"Maaf Yah." sesal Marsha pada Ayah yang telah melepaskan pelukannya.


"Gak apa-apa, ayah mengerti." Ayah menyeka sudut matanya yang masih berair.


Ya, ayah tahu. bahkan sangat tahu jika Alula sering mengalah untuk Dwi tentang apapun itu.


"Tapi ayah bangga, sekarang Lula bisa jadi diri Lula sendiri." Ayah tersenyum seraya mengusap kepala putri tersayangnya.


"Selamat ya sayang. pertahankan apa yang telah kamu capai."


"Selamat ya Lala."


"Selamat ya Lula."


Marsha dan Mulan bergantian memeluk dan mengucapkan selamat pada Alula.


.


.


.

__ADS_1


Happy readding... 😊


__ADS_2