
Udara pagi hari terasa begitu menyegarkan untuk Alula yang saat itu tengah menyiram tanaman bunga mawar di halaman rumahnya. Suara teriakan anak-anak panti yang tengah main di lapangan, terdengar begitu riang. Alula menarik napas dalam, lalu mengulas senyum, merasa bersyukur dan bahagia atas apa yang baru saja ia dapatkan. Ya, setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya ia bisa tidur dengan nyaman bersama kedua putranya.
Dulu, ia pernah tak sengaja melihat Shaka bersama Mama Indri di sebuah Mall, ia mencoba menahan kuat-kuat keinginannya untuk bertemu dan memeluk Shaka. Entah mengapa, rasanya masih belum sanggup bertemu dengan keluarga Sanjaya meski sebenarnya ia sangat merindukan Mama Indri. Ia tidak marah, ia hanya kecewa dengan keadaan yang memaksanya harus pergi menjauh.
Alula masih berdiri sambil menyiram bunga-bunganya, dengan pikiran yang masih melanglang buana pada kejadian beberapa tahun lalu. Hingga ia tak menyadari kedatangan sebuah mobil yang masuk ke dalam lahan parkir yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Alula?" suara seorang wanita itu membuat Alula mendongak, ia segera mengarahkan pandangan pada orang yang memanggilnya.
"Ma–Mama," lirih Alula. Ia terpaku, menatap dua orang yang saat ini berdiri tak jauh darinya. Juga Mirza, yang baru saja turun dari mobilnya.
Mama Indri berjalan mendekati Alula, sorot matanya tak berubah, tetap lembut. Pandangan matanya memancarkan kerinduan yang mendalam. Nampak cairan bening mulai memupuk di pelupuk matanya, lalu ia memeluk Alula dengan begitu erat.
"Kamu kemana aja sayang? kemana kamu pergi? kenapa kamu pergi?" Mama Indri memberondong Alula dengan banyak pertanyaan. "Kamu baik-baik aja kan?" sambungnya.
Alula mengangguk, "Lula baik, Ma–maafin Lula Ma," ucap Alula membalas pelukan Mama Indri.
"Mama kangen sekali sama kamu Nak," ucap Mama Indri dengan air mata yang keluar semakin deras. Begitupun dengan Alula, ia menangis tersedu dalam pelukan Mama Indri. Rasanya, seperti menemukan kembali pelukan seorang Ibu.
"Lula juga kangen sama Mama."
Mama Indri melepaskan pelukannya, lalu merangkum wajah Alula "Gimana kabarmu?"
"Baik, Lula baik Ma. Mama baik juga kan?"
Mama Indri kembali memeluk Alula. "Mama baik."
Setelah tangisan keduanya sedikit mereda, Alulapun mendekati Pa Sanjaya, bermaksud untuk meraih tangannya. Namun tanpa diduga, Pa Sanjaya justru membawa Alula ke dalam pelukan.
"Gimana kabarmu Nak?" tanyanya dengan suara yang lembut namun terdengar tegas.
"Baik, aku baik Pa." jawab Alula yang begitu gugup, ia merasa senang Mama Indri dan Pa Sanjaya masih begitu baik padanya. Tapi, ia ragu apakah mereka akan tetap bersikap seperti ini jika mereka tahu keadaan yang sebenarnya.
Suasana haru itu teralihkan ketika terdengar suara teriakan seorang anak kecil di ambang pintu rumah.
"Omaaa," teriak Shaka sambil melambai-lambaikan tangannya. Di sampingnya berdiri Shaki dengan wajah penasaran, karena ingin melihat sosok Oma dan Opa yang selalu Shaka ceritakan.
"Sha–ka," Mama Indri terheran-heran melihat dua anak kecil dengan wajah yang sama di sana.
"Loh, kok ada dua? Pa, Mama gak mabok kendaraan kok, tapi kenapa penglihatan Mama rasanya kabur gini ya? Shaka jadi ada dua."
"Mama gak salah lihat," jawab Pa Sanjaya.
"Mirza, apa maksudnya ini?" tanya Pa Sanjaya dengan suara yang tegas pada Mirza yang sejak tadi hanya diam, memperhatikan pertemuan antara kedua orang tuanya dengan perempuan yang dicintainya.
"Lu–Lula bisa jelasin semuanya Ma, kita masuk dulu!" ajak Alula. Lalu ia menggandeng Mama Indri untuk masuk ke dalam rumah dengan wajah yang masih bertanya-tanya, diikuti oleh Pa Sanjaya juga Mirza.
"Oma, Opa Shaka kangen deh, lihat Shaka punya kembaran, dia sama kan kayak Shaka." celoteh Shaka ketika Oma dan Opanya sampai di depan pintu.
"I–iya sama, sama sekali," jawab Mama Indri dengan terbata.
"Shaka, Opa punya oleh-oleh buat Shaka diambil yah."
__ADS_1
"Yeay, buat Shaki juga kan Opa?" Pa Sanjaya membalasnya dengan anggukkan.
"Yeay, ayo Shaki, kita lihat oleh-oleh dari Opa," ajak Shaka pada saudara kembarnya. Shaki masih terdiam, ia bingung harus melakukan apa.
"Ayo Nak, ikut Shaka yah!" seru Pa Sanjaya, lalu kemudian mengusap kepala Shaki. Anak itupun menurut, lalu mengikuti Shaka pergi ke kamar dengan membawa beberapa kantong pollybag.
"Katakan, ada apa ini? kenapa Shaka punya saudara kembar?" tanya Mama Indri saat semuanya sudah duduk di kursi yang berada di ruang tamu.
Kemarin, Mirza hanya memberi tahu bahwa ia sudah menemukan Alula, sehingga Mama Indri dan Pa Sanjaya mempercepat kepulangan mereka. Mirza juga bilang, bahwa Shaka menginap bersama Alula, tapi ia tidak mengatakan apapun tentang kembarannya.
"Itu–," jawab Alula dengan gugup.
"Biar aku yang menjelaskan tentang Shaka dan Shaki," potong Mirza.
"Ma, Pa, Shaka dan Shaki adalah saudara kembar," ucap Mirza, ia menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Dulu, Gweny mengadopsi anak kandung Mirza sendiri," sambungnya.
"Apa?" suara Mama Indri sedikit meninggi.
"Apa maksudnya Mirza?" tanya Pa Sanjaya, dengan nada yang cukup tegas.
"Shaka dan Shaki adalah anak kandung Emir dan Alula." Setetes air mata mulai membasahi pipi putih itu. Mirza menatap Alula yang duduk di samping Mama Indri dengan penuh penyesalan.
"Sebelum menikah dengan Gweny, Emir gak sengaja liat Alula sama cowok lain. Saat itu Emir marah, Emir cemburu sama cowok itu, dan Emir melakukan hal yang gak sepantasnya Emir lakukan."
"Astaghfirullahaladzim," pekik Mama Indri.
"Jadi kamu menghamili Alula?"
"Sudah tahu kamu salah, lalu kenapa kamu malah menikahi Gweny?"
"Emir bingung Pa, Emir gak bisa berpikir panjang. Emir juga gak tahu tempat tinggal Alula saat itu. Dan Emir juga gak bisa mengingkari janji Emir sama Om Handoko. Terlebih, Emir gak mau bikin Papa kecewa."
"Ya Tuhan...."
"Maafkan anak Mama yang bodoh itu ya." Mama Indri memeluk Alula.
"Semuanya sudah terjadi Ma, Lula sudah memaafkan Abang," ucap Alula sambil mengusap pipinya yang basah. "Maaf, untuk keputusan Lula yang memilih pergi dan menghilang dari kalian."
"Pasti berat yah, menghadapi semuanya sendirian?"
"Berat, tapi Mama lihat kan? Lula bisa menjalani semuanya."
"Mama percaya, kamu perempuan yang kuat. Tapi, tetep aja si bodoh itu salah." Mama Indri mendelik kesal pada Mirza.
"Dimana Abhi?"
"Ayah sedang pergi terapi, sebentar lagi juga pulang."
"Terapi?" tanya Pa Sanjaya dengan dari yang mengerut.
"Sejak Ayah tahu keadaan Lula saat itu, Ayah shock. Ayah tidak bisa bicara karena penyakit stroke, sebelah kakinya juga tidak bisa di gerakkan."
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim."
"Tapi sekarang, Ayah sudah bisa bicara dengan normal, hanya saja Ayah belum bisa berjalan dengan baik."
"Aku harus meminta maaf padanya, terlalu besar kesalahan yang dilakukan oleh anak bodoh ini." Mirza hanya diam, ia tahu dirinya terlalu banyak melakukan kesalahan.
Tak lama Ayah Abhi kembali dari rumah sakit bersama satu orang pengurus panti yang mengantarnya dan Ibu Indah yang selalu ikut ke rumah sakit ketika proses terapi dilakukan.
"Abhi."
"Abhi," ucap Mama Indri dan Pa Sanjaya secara bersamaan.
"Pa Sanjaya, Ibu Indri? sejak kapan disini?"
"Belum lama," jawab Pa Sanjaya. Tiba-tiba ia berlutut mensejajarkan dirinya dengan Ayah Abhi yang tengah duduk di kursi roda. "Abhi, saya sudah mendengar semuanya. Kenyataan tentang Shaka dan Shaki, juga tentang kamu. Saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana meminta maaf padamu."
"Sudah, semuanya sudah berlalu. Tidak perlu melakukan ini." Ayah Abhi memegang kedua bahu Pa Sanjaya, bermaksud untuk menyuruhnya berdiri.
"Jika saja–"
"Sudah, tidak perlu membahas masa lalu. Aku sudah melupakan semuanya."
"Kenapa hatimu baik sekali Abhi," ucap Mama Indri.
Hari itu, semuanya berkumpul di ruang tamu, termasuk Shaka dan Shaki yang sejak tadi sibuk dengan mainan baru, oleh-oleh dari sang Opa.
Pa Sanjaya, Mama Indri, Ayah Abhi juga Ibu Indah tengah asik mengobrol sambil bercanda dengan Shaka dan Shaki. Sedangkan Alula berdiri tak jauh dari mereka.
"Kenapa?" tanya Mirza saat melihat tatapan Alula tertuju pada kedua anaknya.
"Aku terharu, gak nyangka semuanya bisa berkumpul seperti ini."
"Apa kamu juga mau, kita berkumpul di satu rumah lagi?"
"Maksud Abang?" Alula menoleh, kedua mata itu saling bertatapan.
"Apa kamu mau, hidup denganku? agar kita bisa sama-sama membesarkan anak kita," ucap Mirza, ia menatap dalam kedua manik mata indah milik Alula.
"Aku– aku gak tahu," ucap Alula, ia mengalihkan pandangannya pada semua orang yang tengah tertawa di ruang tamu.
.
.
.
*Happy Reading 🙂
Apakah Alula dan Mirza akan bersatu?
Penisirin ya? 😅
__ADS_1
Tunggu Chapter selanjutnya ya! 🙈