
Semua orang nampak khawatir, melihat Alula masih terbaring diatas tempat tidur. harusnya sudah sejak pagi tadi Alula membuka matanya, namun menjelang siang hari, ia belum juga tersadar.
Ayah Abhi, masih setia mendudukkan dirinya disamping ranjang sang putri dengan tetap menggenggam erat tangan putri tersayangnya.
Sedangkan Pa Sanjaya pagi-pagi sekali pulang ke rumah, setelah Pa Abhi mengingatkan bahwa ada meeting penting pagi ini.
Mama Indri dengan wajah khawatirnya duduk diatas sofa, yang berada tak jauh dari ranjang pasien, setelah sempat pulang menemani Pa Sanjaya tadi pagi.
Begitu pula dengan Mirza. ia begitu gusar, terus saja mondar-mandir dihadapan Mama indri. membuatnya sedikit kesal karena pusing melihat anaknya hilir mudik kesana-kemari.
"Kamu tuh duduk kenapa sih!" seru Mama Indri dengan nada jengkelnya.
Bagaimana tidak, putra semata wayangnya itu seperti tidak ada lelahnya. bahkan dari semalam ia tidak mau disuruh pulang. tetap setia menunggu Adek tersayangnya sadar.
"Khawatir sih khawatir, tapi jangan mondar-mandir gitu. pusing tau gak sih Mama lihat kamu." cerca Mama Indri saat Mirza mendekat untuk duduk disampingnya.
Ia menghela napas sebelum berkata,
"Si adek ko' belum bangun-bangun sih Ma." entah sadar atau tidak, Mirza duduk sambil merengek pada Mama Indri. seperti anak kecil yang belum mendapatkan mainan yang ia mau.
"Bikin panik Ma." lanjutnya lagi dengan wajah cemberut. Ayah Abhi hanya memandang Mirza sekilas, lalu tersenyum dengan samar. tak bisa dipungkiri, ia pun sama khawatirnya.
Perhatian mereka teralihkan saat suara pintu terbuka. Dokter Pram, beserta perawat datang untuk memeriksa kondisi Alula.
Ayah Abhi bangkit dari duduknya, lalu mempersilahkan Dokter Pram untuk memeriksa Alula. ia sedikit menjauh saat Dokter memeriksa tekanan darah Alula.
"Kenapa putri saya belum juga sadar Dok?" tanya Ayah dengan nada khawatir, sebab ia takut terjadi sesuatu pada puterinya. iapun tak pernah melihat Alula seperti ini sebelumnya.
Dokter Pram mengambil dokumen rekam medis yang dibawa oleh suster, nampak memeriksa apakah ada yang salah dengan diagnosanya.
"Semua normal." gumam Dokter Pram sambil membaca beberapa lembar kertas ditangannya dengan dahi yang mengkerut.
"Tekanan darah, dan denyut jantungnya juga lebih stabil dibandingkan saat awal masuk." ujar Dokter Pram, ia beralih memperhatikan raut wajah Alula yang nampak tenang dengan mata terpejam.
Saat timnya melakukan visum tadi malam, ditemukan beberapa memar ditubuh Alula. nampak juga luka bekas kuku dileher, seperti bekas cekikkan. tidak keras namun sedikit membekas. sepertinya, penculik itu mencoba mengancam Alula dengan mencekik lehernya.
"Mohon maaf sebelumnya, apakah pasien sering mengalami hal yang buruk?" tanya Dokter dengan hati-hati. takut menyinggung perasaan Ayah Abhi yang saat ini tengah kalut.
Bukan tanpa alasan, sebab semalam saat Dokter Pram memeriksa kondisi Alula, tubuh gadis itu gemetar. namun matanya masih tertutup rapat, setelah sempat sadar dan berteriak memanggil sang ayah.
__ADS_1
Ayah Abhi menunduk untuk kemudian ia mengangguk lemah. entah sesering apa Alula merasa ketakutan seperti ini, namun ia yakin, Leon pasti tidak pernah memperlakukan Alula dengan baik.
"Saya rasa, pasien mengalami trauma psikis. sehingga pasien merasa lebih aman berada dialam bawah sadarnya." terang Dokter, sambil lekat menatap wajah Alula.
Semua nampak terkejut, bahkan Ayah Abhi sampai terhuyung mendengar penuturan Dokter Pram. ia berpegangan erat pada besi ranjang pasien yang dekat dengan jangkauannya.
Separah itukah ketakutan yang Alula alami, hingga ia menolak untuk bangun dari tidurnya.
"Teruslah ajak putri anda bicara, dia bisa mendengar apapun yang anda katakan Pa." Dokter Pram tersenyum, menenangkan Ayah Abhi yang kini masih terpaku menatap putrinya.
"Beri dia semangat. terutama ... berilah dia perhatian, juga rasa nyaman agar dia tidak merasa sendirian."
Setelah memeriksa keseluruhan, Dokter Pram pamit keluar dari ruangan. Ayah Abhi duduk terkulai dengan lemas disamping ranjang pasien.
"Makanlah dulu Pa Abhi, jangan biarkan perutmu kosong!" seru Mama saat melihat wajah murung Ayah Abhi tengah memandangi putrinya.
"Bagaimana aku bisa makan Bu, sedangkan putriku saja masih belum sadar." ucap Ayah Abhi dengan lirih hampir tak terdengar.
"Kamu tidak ingat apa yang Dokter Pram katakan tadi ? Alula bisa mendengar apa yang kita katakan." Mama Indri berjalan mendekati ranjang pasien.
"Jangan biarkan dia sedih mendengarmu tidak mau makan Pa Abhi." tunjuk Mama pada Alula yang masih tertidur dengan nyaman.
"Ayo Pa, Emir anterin. kita ke bawah cari makan dulu." ajak Mirza, namun dengan cepat Ayah Abhi menggeleng.
"Biar saya sendiri saja. tolong temani Alula disini." ucap Ayah lalu beranjak pergi dari tempat duduknya.
"Mama mau kerumah sebentar ya. mau ngambil baju ganti buat Alula. kamu disini, jagain adek kamu sendiri gak apa-apa kan ?" tanya Mama Indri, sesaat setelah Pa Abhi menghilang dibalik pintu.
"Oke," ucap Mirza dengan mengacungkan jempolnya ke arah Mama Indri.
Kini hanya tinggal mereka berdua didalam ruangan, Mirza meraih tangan Alula lalu menggenggamnya dengan erat.
ia menghela napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Dek, bangun dong ! lu bisa denger kan dek?"
Hening..
Namun Mirza tetap berharap Alula akan menjawabnya.
__ADS_1
"Dek, lu gak kangen gitu sama gue dek?" Mirza mengusap lembut punggung tangan kanan Alula.
"Gue kangen sama elu dek, cepet bangun." ucapnya lagi, masih berharap Alula akan terbangun dari tidur.
"Dek, lu tahu gak sih dek. kalo yang berat itu bukan cuma rindu ?" tanya Mirza, ia tak peduli jika Alula hanya diam saja. ia tetap yakin bahwa Alula mendengarnya bicara.
"Tapi ... bertemu, tapi kamu diam membisu." Mirza menghela napas panjang.
"Dihhh ampuun bahasa gue." cibirnya pada diri sendiri.
Rasanya ia hampir putus asa. entah, ia harus bicara apa lagi untuk membuat Alula tersadar dari tidur.
"Dek, Maafin abang ... " tiba-tiba saja suara Mirza terdengar sendu. sorot matanya memancarkan penyesalan.
"Akhir-akhir ini gue sok sibuk banget ya, nyampe lupa gak jemput lu dek." kini Mirza merebahkan kepalanya disamping lengan Alula, merasa bersalah karena telah mengabaikannya.
"Sebenarnya gue juga sering antar Gweny pulang." ia tak sadar jika sudut mata Alula kini telah basah.
"Itu gue lakukan cuma buat nyari alesan. biar semua tau, gue bisa deket juga sama cewek lain. bukan lu aja dek."
"Lagian, bukannya lu juga udah ada yang anter jemput. siapa sih namanya, si Dito itu." Mirza menggerutu dengan posisi kepala tetap disamping lengan Alula.
"Kesel gue, sok kecakepan amat tiap hari anter jemput lu dek."
Ingin sekali Mirza meluapkan kekesalannya pada Alula, karena ia tak suka jika Alula pulang pergi dengan laki-laki lain. entahlah, apa yang ia rasakan saat ini benar-benar tidak ia kenali.
"Lu gak tahu kan kalo gue kesel?" Mirza tak henti mengusap punggung tangan Alula.
"Gue tuh gak suka," ucapnya lagi.
"Gue ... gue cemburu." lirihnya. tanpa ia sadari, seseorang tengah mendengarkan semua yang ia katakan.
.
.
.
Happy reading... 😊
__ADS_1