
Hari ini Alula akan menyelesaikan semua urusannya, semakin lama ditunda akan semakin memberatkannya untuk meninggalkan rumah yang belakangan ini memiliki kenangan indah untuknya.
Pagi ini matahari begitu baik, cahaya nya menghangatkan hati yang mulai terasa beku.
Alula berjalan keluar gerbang, tujuannya kini adalah butik milik Bu Nuning. ia akan memberikan hasil desain terakhirnya.
"Sayang sekali, padahal setelah kamu bergabung dengan tim Ibu, pesanan butik mengalami perkembangan." Bu Nuning menyayangkan keputusan Alula untuk berhenti bekerja di sana.
"Iya Bu, mau bagaimana lagi." sesal Alula.
"Mohon maaf kalau selama aku bekerja disini, pernah atau bahkan sering membuat kesalahan."
"Salah satunya karena keterlambatanku mengirimkan desain." Alula meringis. malu rasanya pada Bu Nuning, karena ia belum bisa menjadi rekan kerja yang baik untuk karyawan yang lain. kesibukannya disekolah akhir-akhir ini membuatnya lalai dalam bekerja.
"Gak apa-apa, Ibu maklumi. kamu kan juga harus belajar."
"Jadi, ini uang terakhir yang Ibu kasih ke kamu ?" Bu Nuning menyodorkan amplop putih pada Alula.
Alula mengangguk patuh "Sekali lagi mohon maaf Bu." ucapnya tulus.
"Tidak apa, berarti sekarang Ibu kehilangan designer andalan dong." seloroh Bu Nuning dengan wajah menyesalnya. membuat Alula tertawa.
"Aku masih belajar Bu, belum terlalu pandai. masih main kasar." ucap Alula disela tawanya.
Alula merasa lega, karena ia bisa menyelesaikan urusannya dengan Bu Nuning dan berpamitan secara baik-baik dengan si pemilik butik.
Tanpa diduga, di sana ia bertemu dengan Gweny yang baru saja datang. suasana mendadak canggung, entah mengapa ia merasa tidak nyaman saat ini. Gweny seperti bukan yang ia kenal dulu.
Alula kembali ke rumah saat matahari mulai beranjak naik. dapur adalah tujuannya, kerongkongannya terasa kering setelah berjalan dibawah teriknya matahari. diambilnya gelas dari dalam lemari penyimpanan, ia langsung menuangkan segelas air putih lalu meminumnya, hingga air putih didalamnya tandas tak bersisa.
"Mbak, Mama dimana ?" tanyanya pada Mbak Sri yang baru saja datang membawa satu wadah penuh mangga yang terlihat baru saja dipetik.
"Di belakang neng, sama mang Ujang."
Mbak Sri nampak berpikir sebelum kembali berkata "Lagi niis (ngadem) katanya." ucapnya ragu, sebab yang ia sebutkan merupakan bahasa Sunda yang tidak dimengerti olehnya.
"Ya udah, aku kesana dulu ya Mbak."
Alula meninggalkan Mbak Sri yang kini tengah memindahkan beberapa mangga kedalam wadah yang lain.
Ia terpaku di ambang pintu, menatap Mama Indri yang tengah bersantai di atas Gazebo sambil menikmati buah segar hasil panen Mang Ujang. Alula merasa ragu, apakah ia bisa menyampaikan niatnya kepada Mama Indri.
"Ma," panggil Alula saat ia sampai di depan gazebo.
"Eh sayang, sini duduk." Mama Indri menepuk tepat kosong disampingnya.
"Cobain deh, mangga hasil panen Mang Ujang barusan. rasanya manis, ada asem-asemnya. seger deh. cocok tengah hari gini makan yang seger-seger." Mama Indri mengedikan bahunya saat ia merasa buah yang dimakannya terasa asam.
"Iya Ma, makasih." ucap Alula tulus, ia mengambil satu potong buah didalam piring.
"Suatu hari nanti, aku pasti kangen sama Mama."
Ucapan Alula membuat Mama Indri menghentikan kunyahannya, lalu menoleh kearahnya.
"Kamu .. ?" dahi Mama Indri nampak mengernyit.
__ADS_1
Alula mengangguk patuh "Iyaa Ma, mungkin besok atau lusa." jawabnya dengan nada lirih, tak ingin membuat Mama Indri merasa sedih.
"Kamu serius ?" tanya Mama Indri kembali meyakinkan.
Alula memang pernah menyinggung soal kepindahannya ke Bandung. namun saat itu, Mama Indri tidak menanggapinya dengan serius.
"Maafin aku ya Ma, belum bisa jadi anak yang baik buat Mama." Alula menatap sendu wanita paruh baya yang selama tiga tahun ini menjadi orang tua angkatnya.
Mama Indri menggelengkan kepalanya.
"Kamu yang terbaik, kamu adalah anak yang paling baik." Mama Indri memeluk tubuh Alula, didekapnya erat seolah tidak ingin kehilangan kembali sosok anak perempuannya.
"Kenapa harus pergi, kenapa gak disini aja sama Mama." terdengar Mama Indri terisak dibalik punggungnya.
"Andai aku bisa Ma, aku akan tetap disini bersama Mama. tapi, jika aku tetap disini. akan sangat menyakitkan saat aku melihat orang yang ku cintai bersama orang lain." ucap Alula dalam hati.
"Aku kangen rumah Ibu, pengen tinggal disana lagi. menghabiskan waktu dengan mengurus ayah." Alula tersenyum.
Dan lagi, ia mempunyai mimpi untuk mewujudkan keinginan Ibu yang belum sempat terealisasi. ia ingin berjuang sendiri, dan membuktikan pada orang lain bahwa ia mampu berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Kamu gak sayang sama Mama ? kamu gak menganggap Mama Ibu kamu ?" Mama Indri menyusut sudut matanya yang berair.
"Mama yang terbaik, Mama adalah Ibu yang paling baik." ucap Alula menirukan gaya bicara Mama Indri beberapa saat yang lalu.
"Aku sayang banget sama Mama." Alula kembali memeluk tubuh Mama Indri dengan erat.
"Abangmu sudah tahu ?" tanya Mama Indri sesaat setelah ia melepaskan pelukannya.
Alula menggeleng, sejak acara pertunangan Mirza hari itu, ia tidak pernah bertemu lagi dengan sang Abang. kesibukan Mirza di kantor sebagai pengurus baru membuat dirinya harus terbiasa berangkat ke kantor lebih pagi dan pulang kembali ketika hari sudah malam.
Malam hari ketika Alula tengah memasukkan beberapa barang nya kedalam koper, ia tak sengaja menemukan selembar foto berukuran kecil terjatuh diantara sela-sela buku.
Ia mengambil selembar foto itu, dan terkesiap saat melihatnya. foto yang telah usang dimakan usia. didalam foto tercetak jelas seorang anak perempuan berpose didepan toko boneka sambil memeluk erat sebuah boneka Barbie. anak perempuan itu tersenyum menampilkan gigi ompong nya. disampingnya berdiri satu pria dewasa yang juga tengah tersenyum. senyum yang masih sama meski usianya tak lagi muda.
Itu adalah foto dirinya bersama Ayah Abhi saat akan menghadiri pertemuan dengan rekan kerjanya. atau lebih tepatnya foto saat Alula dan Mirza pertama kali bertemu.
Alula menatap nanar selembar foto itu, mengenang kembali pertemuan nya dengan Mirza. ia terperanjat saat tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya.
"Lula.."
"Ayah ?" Alula buru-buru menyelipkan foto itu kedalam tumpukkan buku.
"Sudah selesai ?" tanya Ayah Abhi yang masih berdiri diambang pintu.
"Sedikit lagi Ayah, kenapa?" dahi Alula mengernyit saat Ayah Abhi masuk kedalam kamar. Ayah mengajaknya duduk ditepian ranjang.
"Apa alasan kamu ingin pindah ke Bandung adalah ini ?" Ayah Abhi menyodorkan satu buah buku.
Alula terhenyak, ia mengambil buku itu dari Ayah. itu adalah buku miliknya, sudah pasti ia tahu apa saja yang ada didalam buku itu.
"Ini ... tidak seperti yang ayah pikirkan." ucap Alula mencoba memberi penjelasan.
"Apa Lula suka sama Emir?" tebak ayah Abhi tepat pada sasaran. pasalnya didalam buku itu, terdapat banyak sekali gambar sketsa wajah Mirza, juga beberapa gambar hati yang ia lukis disampingnya.
"Ayah .." Alula menatap wajah Ayah.
__ADS_1
"Jawab saja." tegas ayah membuat Alula kembali terhenyak.
"Ya Ayah." Alula tertunduk.
"Tapi, Lula tidak berani Ayah. Lula sadar, Lula bukanlah siapa-siapa. Kak Gweny adalah perempuan yang sempurna buat Abang."
"Itu sebabnya kamu menangis malam itu ?"
Alula merasa tersudutkan, bagaimana bisa Ayah Abhi tahu jika ia menangis. padahal ia sudah sekuat mungkin menahan air matanya agar tidak meluruh waktu itu.
"Ayah lihat semuanya nak." Ayah Abhi merengkuh Alula kedalam pelukan.
Rupanya malam itu Ayah Abhi sudah kembali ke paviliun, ia melihat semuanya. meskipun tidak bisa mendengar apa yang Alula ucapkan saat ia menangis dan terisak di pelukan Martin.
Sakit sekali rasanya melihat putri satu-satunya itu menangis. bagaiman bisa ia membiarkan itu semua. Ayah Abhi menghela napas dalam.
"Maafkan ayah .." ucap Ayah lirih.
"Karena Ayah tidak bisa memberikanmu kehidupan yang layak." lanjutnya tanpa melepaskan rengkuhannya.
Alula menggelengkan kepalanya,
"Bukan salah Ayah. takdir yang membuat kita seperti ini."
Ayah melepaskan rengkuhannya.
"Lagi pula, Lula masih belum cukup usia untuk memahami ini semua Ayah." Alula tersenyum pahit. usianya bahkan belum genap 19 tahun, tapi sudah berani memikirkan cinta.
Alula menggenggam tangan kurus Ayah, ia menatap lekat wajah yang kini mulai menua dimakan usia.
"Kita mulai hidup baru disana Ayah. bantu Lula untuk mewujudkan impian Ibu."
Ayah tersenyum penuh haru, anak perempuannya yang satu ini memang tidak pernah putus asa. selalu ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang disayanginya.
Ayah mengusap puncak kepala Alula, merasa lega karena pada akhirnya ia bisa melihat anaknya tumbuh semakin dewasa.
"Tetaplah menjadi anak ayah yang tidak pernah putus asa."
"Selalu bisa membahagiakan orang lain."
"Ayah do'akan, semoga semua keinginan Lula bisa tercapai."
"Terima kasih Ayah." Alula tersenyum.
Kini ia harus membiasakan diri hidup hanya berdua bersama ayah.
.
.
.
Happy Reading.. 😊
Jangan lupa like and comment nya yess ... 👍
__ADS_1