Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Dimana Rain ?


__ADS_3

Hari berlalu, Mirza kembali berkutat dengan pekerjaan barunya. kondisi Pa Sanjaya yang tiba-tiba menjadi drop membuatnya mau tak mau harus mengambil alih pekerjaan sang Papa, dengan dibantu oleh orang kepercayaannya tentunya. Niatnya untuk menyusul Alula ke Bandung harus ia tunda dulu untuk alasan itu.


Sampai detik ini ia tidak tahu bagaimana keadaan Alula dan dimana tempat tinggalnya. Kabar terakhir yang ia dapat dari Mama Indri adalah, Alula yang sudah sampai dirumah mereka yang dulu. namun setelah itu, baik Alula maupun Pa Abhi keduanya tidak bisa dihubungi.


Alula seperti menutup diri dari siapapun. bahkan saat Mirza bertanya pada Marsha pun, jawabannya tetap sama, Alula tidak bisa dihubungi.


Mirza merasa gusar, dirinya merasa tak tenang. Mengapa Alula sampai melakukan itu. ingin sekali ia segera menyusulnya ke Bandung, namun lagi-lagi Pa Sanjaya memintanya untuk menggantikan dirinya dalam rapat penting.


Komunikasinya dengan Gweny pun sampai saat ini tidak terjadi kemajuan. Mirza kembali bersikap acuh, dingin, bahkan tidak peduli saat Gweny terang-terangan memperlihatkan perhatiannya pada Mirza.


Pernah suatu hari, Gweny datang mengunjunginya ke kantor. namun Mirza sama sekali tidak mempedulikan kehadirannya, lebih memilih menghindar dengan alasan banyak pekerjaan yang harus ia pelajari.


Mirza benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, sebab memutuskan pertunangannya dengan Gweny, sama saja akan membuat Papa kecewa padanya. sedangkan untuk memulai hubungan dengan Gweny, ia jelas tidak mampu menghilangkan bayangan Alula dari hatinya.


Apalagi, sejak ia tahu bahwa Alula adalah si anak perempuan bergigi ompong yang selama bertahun-tahun tersimpan dihatinya.


Yah, di malam setelah Alula pergi, Mirza kembali ke paviliun. ia benar-benar merindukan Alula. saat ia masuk kedalam paviliun, ingatan ketika ia menemani Alula yang tengah menggambar diruang tengah sambil memetik gitar tiba-tiba melintas dalam pikirannya. sudut hatinya terasa perih, mengingat saat ini Alula tak lagi disampingnya.


Juga, kecupan singkat yang tak sengaja mendarat di pipi Alula saat ia tengah fokus pada mesin jahit baru -hadiah dari ayah- membuat debaran jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Mirza menghela napas panjang, sulit rasanya bila hidup berjauhan dengan gadis itu.


Mirza membuka pintu kamar berukuran 3x4 meter dimana Alula sering menghabiskan malam disana. Ia meneliti setiap sudut ruangan itu. lagi, bayangan ketika Alula tertidur dengan pulas dan ia mengganggu tidurnya, hanya karena ingin ditemani berenang kembali teringat dengan jelas.


Mirza tersenyum getir


"Kenapa kamu pergi La." lirih Mirza, menatap nanar tempat tidur dihadapannya.


Ia berjalan menuju meja belajar yang berada disamping tempat tidur berukuran single bad didekat jendela kaca. dahinya mengkerut saat mendapati sebuah kotak berwarna hitam, berbentuk persegi panjang, dengan pita biru tersimpan diatas meja belajar.


Mirza mengambil secarik kertas yang terselip diantara pita biru itu. ia membaca tulisan yang ada disana.


For you : Abang Emir


From : Alula


Dengan hati berdebar, perlahan-lahan Mirza membuka pita biru pada kotak itu. lalu membuka penutup kotak setelah pita biru itu terlepas dari sana.


Mirza mendapati sebuah kemeja lengan panjang, berwarna navy blue -warna kesukaannya- dengan wangi yang khas, tersimpan rapi didalam kotak.


Ia menyimpan kembali kemeja itu kedalam kotak, karena lebih tertarik pada sebuah amplop putih yang juga tersimpan didalam kotak.


Abang...


Kemeja ini hasil jahitan aku sendiri loh.


Akhirnya aku bisa juga membuat satu baju buat Abang. jangan lupa dipakai ya ! ini perintah.

__ADS_1


Terimakasih, karena selama ini Abang udah nemenin aku, kalau aku lagi belajar. selalu kasih semangat buat aku, kalau aku bisa melakukan apa yang aku mau.


Benar apa yang dikatakan abang, bahwa setiap orang pasti memiliki keahliannya masing-masing. kita hanya tinggal mengasah sejauh mana kemampuan yang kita miliki. dan akhirnya aku tahu, kemampuanku sendiri seperti apa.


Aku pergi, karena aku ingin hidup mandiri. membangun mimpiku sendiri. bukankah Abang sangat mendukung keinginanku ?


Abang..


Aku minta maaf karena tidak memberi tahu tentang kepindahan ku, aku takut Abang nangis kalau aku tinggal. hehee


Mirza melipat kembali sepucuk surat dari Alula dan menyimpannya kembali kedalam kotak hitam. lagi, ia menghela napas panjang, merasa sangat kehilangan.


Saat ia hendak beranjak, sudut matanya tak sengaja menangkap secarik kertas dibawah meja. Mirza berjongkok untuk mengambilnya, disudut kertas itu tertulis,


Ayah & Rain


"Rain," dahi Mirza mengernyit saat membaca nama itu.


Ia membalik kertas yang ternyata adalah sebuah foto sepasang ayah dan anak perempuan yang memeluk sebuah boneka barbie, tengah berdiri didepan toko boneka.


Mirza terhenyak, wajah anak perempuan itu sangat dikenalinya. namun tiba-tiba ia teringat, jika Alula pernah berkata bahwa ia lebih suka dipanggil 'Rain' dari pada Alula.


"Jadi ... Alula itu ..."


Tak hanya itu, ia juga melihat gundukan kertas yang sudah diremas memenuhi tempat sampah dibawah meja. Mirza membuka satu persatu kertas itu, ia terkejut mendapati banyak gambar wajahnya disetiap lembaran kertas. apa Alula diam-diam selalu menggambar wajahnya.


Mirza menggeleng tak percaya, jika Alula adalah anak perempuan yang selama ini ia harapkan kehadirannya. mengapa Alula tidak pernah mengatakan apapun, bukankah ia tahu, jika Mirza masih mengingat anak perempuan itu.


Mirza mengingat mata itu, mata sendu yang selalu membuat hatinya terasa hangat. mengapa setiap ia menatap mata Alula, ia seperti melihat mata sendu anak perempuan itu.


Bodohnya, mengapa Mirza tidak pernah menyadarinya. dan lebih bodoh lagi, mengapa ia baru tahu sekarang, saat Alula sudah pergi meninggalkan dirinya.


Mirza meremas rambut di kepalanya. ia merasa kesal, dan kecewa pada Alula yang memilih pergi tanpa menjelaskan semuanya.


Dan hari ini, berbekal alamat yang Pa Sanjaya berikan padanya, Mirza pergi ke Bandung untuk mencari keberadaan Alula. Sepanjang perjalanan, ia merasa tak tenang. entah mengapa, ia merasa jika Alula tengah menghindari dirinya.


Matahari mulai menampakkan warna jingga saat Mirza tiba di halaman rumah sederhana bernuansa putih itu. Mirza memeriksa kembali alamat rumah ditangannya, saat seseorang tiba-tiba datang dari belakang tubuhnya.


"Punten, cari siapa ya?" sapa seorang wanita dengan daster lusuh dibalik punggungnya.


Mirza menoleh kearah suara "Maaf Bu, apa benar ini rumahnya Pa Abhi Sofyan?" tanyanya pada wanita itu.


Wanita itu mengerjapkan matanya sebelum berkata, "Iya benar, aden ini siapa ya ?"


Mirza menghela napas panjang, lega rasanya mengetahui jika ia tak salah alamat.

__ADS_1


"Saya Mirza, Pa Abhi dulu bekerja dengan orang tua saya." wanita itu nampak terkejut, "Apa Pa Abhi dan Alula ada didalam ?"


Namun kelegaannya tak berlangsung lama, karena lagi-lagi Mirza harus mendapatkan kekecewaan,


"Pa Abhi sama neng Lula sudah pergi tadi." ucap wanita berdaster itu.


Dahi Mirza nampak mengernyit, "Pergi ?" entah mengapa Mirza merasa tak suka dengan kata itu. "Pergi kemana?" desak Mirza.


Namun wanita berdaster itu menggeleng, "Teteh juga gak tahu mereka mau kemana. Mereka cuman nitipin rumah ini saja sama Teteh." ujar wanita yang baru ia ketahui bernama Yuyun itu.


"Kalau mau, aden malam ini tidur disini saja." tawar Teh Yuyun


"Teteh kesini cuma mau mengambil beberapa barang." lanjutnya sambil membuka pintu rumah.


Rasa penat setelah seharian bekerja membuatnya mau tak mau ikut masuk kedalam rumah. ia merasa lelah jika harus kembali ke Jakarta malam ini. sedangkan hotel atau penginapan pun sepertinya cukup jauh dari sana.


"Ini kamar neng Lula. kalau mau, aden bisa tidur disini." ucap Teh Yuyun setelah membuka salah satu pintu dalam rumah itu.


"Nanti Teteh bawa makanan kesini yah, pasti aden lapar."


"Gak usah repot-repot Teh." ujar Mirza yang hanya dibalas senyum oleh Teh Yuyun.


"Rumah teteh disana," Teh Yuyun menunjuk satu arah.


"Gak jauh, cuma terhalang empat rumah. kalau perlu apa-apa nanti panggil kesana saja." ujar Teh Yuyun.


"Terimakasih Teh, sudah cukup. malah jadi merepotkan." jawab Mirza seraya tersenyum. merasa tak enak hati, karena telah menyusahkan orang lain.


Setelah Teh Yuyun pergi, Mirza masuk kedalam kamar. ia merebahkan tubuhnya yang lelah diatas tempat tidur. suasana kamar terasa cukup nyaman, meski tak sebesar kamarnya di Jakarta.


Mirza meneliti setiap sudut kamar itu, ia tersenyum saat melihat beberapa foto masa kecil Alula bersama Dwi, adik kembarnya yang menggantung didinding kamar.


Namun ada satu foto yang membuat hatinya mencelos. foto Alula dengan rambut panjang berponi, tangannya memeluk erat boneka barbie yang sama dengan miliknya. difoto itu Alula tersenyum dengan menampilkan gigi ompong nya.


Mirza menyamakan foto yang menggantung didinding dengan foto yang ia temukan dipaviliun. baju yang sama dan tempat yang sama. benar, bahwa Alula adalah perempuan yang selama ini ia simpan dalam hati.


"Rain ... dimana kamu." lirih Mirza.


.


.


.


Happy Reading.. 😊

__ADS_1


Dimana.. dimana .. atuh dimana 😅 kira-kira Alula pergi kemana yah...


Jangan lupa like and comment nya... 👍


__ADS_2