Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Bertemu Kembali


__ADS_3

Sejak pertemuannya dengan Gweny di lapangan basket waktu itu, Alula kembali bertemu dengannya beberapa kali. namun hanya sekedar menyapa, karena keduanya memiliki urusan masing-masing.


Namun tidak dengan hari ini, Alula yang tengah mencari buku di perpustakaan umum bersama Marsha dan Mulan, tak sengaja melihat cafe di sebrang jalan. setelah mendapatkan buku yang mereka cari, ia mengajak kedua sahabatnya mampir ke cafe seberang perpustakaan.


Waktu menunjukkan pukul 3 sore saat mereka memasuki cafe tersebut. Marsha mengedarkan pandangannya mencari tempat kosong untuk mereka bertiga. tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak Alula.


"Alula," sapa Gweny dengan ramah, saat baru saja keluar dari pintu toilet.


"Kak Gweny." Alula tak pernah menyangka jika dirinya akan kembali bertemu dengan Gweny disana.


"Udah dapet kursi?" banyaknya pengunjung membuat semua sudut cafe terlihat penuh. Gweny yang datang sendirian mengajak Alula, Marsha dan Mulan untuk duduk bersamanya.


"Barengan aja yuk! aku juga baru dateng tadi, kebetulan kebelet pipis jadi ditinggal dulu." lalu Gweny menggiring semuanya untuk ikut bersamanya, duduk disalah satu meja didekat kaca jendela.


"Kamu apa kabar La?" tanya Gweny basa-basi, setelah mendudukan diri di kursinya.


"Aku baik Kak." sementara Mulan dan Marsha hanya saling memandang merasa asing dengan sosok Gweny yang baru pertama kali mereka temui.


"Oh iya, Lan, Sa ini kak Gweny. temennya bang Emir, bang Marko sama bang Martin." Alula memperkenalkan Gweny pada keduanya.


"Halo kak, aku Mulan."


"Aku Marsha kak." mereka saling menjabat tangan memperkenalkan diri masing-masing.


"Kalian dari mana?"


"Abis nyari buku buat ngerjain tugas diperpustakaan depan sana." tunjuk Alula pada gedung perpustakaan umum diseberang cafe.


"Kakak sendirian aja?" tanya Alula keheranan. karena ia juga tidak pernah melihat Gweny pergi dengan teman-teman perempuannya.


Gweny hanya mengangguk, lalu tersenyum


"Aku gak punya temen deket buat diajak ngafe." ucapnya pelan.


Sejak ditinggal pergi Ibu kandungnya, dan ayahnya menikah lagi, Gweny menjadi anak yang sering murung. saat itu, Gweny masih duduk dibangku kelas 2 SMP. ia menjadi anak yang tertutup dan tidak terlalu peka dengan dunia luar.


Hal itu berlanjut hingga Gweny masuk SMA, ia tidak pernah memiliki teman dekat, baik itu perempuan maupun laki-laki. karena tidak ada satupun orang yang mau berteman dengannya. ia selalu sibuk dengan dunianya sendiri.


Hingga saat Marko juga Martin mengajaknya untuk berteman baik, sebagai perempuan, Gweny merasa dirinya juga butuh perlindungan. dan Gweny menemukan itu pada mereka, Marko dan Martin selalu bersikap baik padanya. sejak itu ia berpikir, jika merekalah teman terbaik untuk Gweny.


Hal itu juga yang membuat Mirza menjadi sedikit berinteraksi dengan Gweny, pasalnya Marko dan Martin sering mengajak Gweny dalam berbagai hal, misalnya tugas kelompok, menemani mereka bermain basket, bahkan sampai nongkrong di cafepun Gweny selalu turut serta.


Namun siapa yang menduga jika hal itu juga yang membuat teman-teman perempuan Gweny semakin menjauhinya. pasalnya mereka selalu menganggap Gweny ancaman bagi mereka yang menyukai Mirza. karena hanya Gweny perempuan satu-satunya yang bisa berdekatan dengan Mirza. padahal Mirza sendiri tidak pernah menaruh hati pada siapapun.


Tak jarang Gweny didatangi beberapa siswa perempuan yang terang-terangan melarangnya mendekati Mirza. bahkan, Gweny saat itu sampai kehilangan kepercayaan dirinya, karena mereka selalu berkata,

__ADS_1


"Seneng banget dikelilingi pria ganteng, ngerasa cantik lu?"


"Dasar cewek gatel, gebetan orang lain Lu embat juga."


"Ngerasa cantik kali ya, dipepetin aja terusss."


Begitulah kata-kata yang selalu Gweny ingat. hingga suatu hari, ia mendengar pembelaan dari Mirza. hal itu juga yang membuat Gweny menaruh hati padanya. ia bilang,


"Jangan pernah dengerin apa kata orang, tetap jadi diri lu sendiri."


"Kalau lu emang benar, gak usah merasa bersalah."


"Mereka cuma iri, karena gak bisa seperti lu."


Gweny yang saat itu merasa berkecil hati langsung menoleh pada Mirza. pasalnya selama berteman, ia tidak pernah mendengar Mirza berbicara padanya sepanjang itu. sikap Mirza yang dingin selalu membuatnya sungkan untuk memulai pembicaraan. dan sialnya, ia malah semakin menyukai Mirza. karena dibalik sikap dinginnya, Mirza adalah orang yang sangat peduli.


"Gak mungkin perempuan sebaik Kakak gak punya teman." sanggah Mulan, membuyarkan lamunan Gweny.


"Hemm" Gweny mengangguk yakin "Temanku ya cuma Marko, Martin juga.. Mirza." lirihnya, merasa tak yakin jika Mirza masih menganggapnya teman.


"Kalau begitu, apa aku boleh menjadi teman kakak?" Alula menawarkan diri, senyum diwajah cantiknya tersirat penuh harap.


Bersamaan dengan datangnya pesanan mereka, "terimakasih" ucap mereka pada pelayan yang mengantarkan pesanan.


"Ya boleh dong." ucap Gweny dengan tulus. ia tersenyum manis pada Alula yang masih menatapnya dengan kagum.


Tak hanya itu, penampilan Gweny yang girly, selalu membuatnya terlihat lebih anggun dan cantik. seperti saat ini, Gweny yang menggunakan mini dress berwarna pastel dengan corak bunga didadanya, rambut panjangnya tergerai sampai ke punggung, serta senyuman yang tak pernah surut diwajahnya, membuatnya semakin terlihat anggun dan lembut.


Alula tersenyum, gadis yang duduk dihadapannya ini memang benar-benar sempurna. semakin kecil saja rasanya dirinya dihadapan Gweny. tapi yang ia heran, mengapa Mirza tidak pernah melihat itu pada Gweny?


"Kamu suka gambar?" tanya Gweny meleburkan lamunan Alula. Gweny menunjuk buku gambar kecil yang Alula simpan diatas meja.


Alula hanya tersenyum "Gak terlalu bagus sih." ucapnya kemudian sambil meminum es teh manis yang sudah berembun.


"Dih, gambarnya dia bagus-bagus loh kak, dari kecil suka dapet nilai gede." ucap Marsha dengan semangat.


"Masa, boleh aku lihat?" Gweny meminta persetujuan pada Alula untuk membuka bukunya. Alula hanya mengangguk patuh.


"Wahh, ini sih bagus banget. rapi banget." Gweny membuka lembar demi lembar gambar design baju yang Alula buat.


"Aku punya kenalan, namanya Tante Nuning. beliau punya butik, langganan Mama. tapi itu dulu."


"Dulu?" dahi Alula mengernyit.


"Mamaku udah gak ada." Gweny tersenyum pahit.

__ADS_1


"Maaf kak." sesalnya, namun ia juga merasakan kehilangan yang Gweny rasakan.


"Gak apa-apa, udah lama juga."


"Berarti kalian sama-sama udah gak punya Ibu yah?" Mulan yang sedari tadi sibuk dengan makanannya kini angkat bicara.


"Oyah?" Gweny terkejut "Kamu juga?" tanyanya tak percaya.


"Iya kak, Ibunya Lala juga udah meninggal setahun lebih." ujar Marsha yang telah menghabiskan satu porsi makanannya.


"Sabar yah, kita pasti bisa hidup tanpa seorang Ibu." Gweny mengusap punggung Alula, mencoba saling memberi kekuatan.


"Iya Kak," Alula tersenyum pahit. "Tadi gimana? soal butik." Alula mengalihkan pembicaraan, tak ingin mengingat kesedihannya lagi.


"Oh iya jadi lupa kan. gimana kalau aku tawarin design kamu sama beliau, kali aja beliau suka sama hasil gambar kamu."


"Memangnya bisa kak?" tanya Alula dengan antusias.


"Selama kita bisa mencoba, kenapa tidak." ucap Gweny yakin.


"Nanti aku tanyain sama beliau, kalau misalkan beliau tertarik sama hasil design kamu, nanti aku hubungin kamu lagi."


"Butiknya gak terlalu besar sih, tapi lumayan banyak pelanggannya."


"Mudah-mudahan suka yah, gambar kamu bagus-bagus gini kok." Gweny membuka lembar demi lembar kertas dari buku gambar Alula sambil sesekali memakan makanannya.


"Kalau gitu aku boleh minta nomor kakak?" Alula mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.


Gweny sempat tertegun menatap handphone ditangan Alula. ia sangat mengenali silikon case yang dipakainya. yah, ia yakin, pernah memberikannya pada Mirza waktu itu.


"Itu handphone kamu?" pertanyaan itu begitu saja terlontar dari mulut Gweny.


Alula menatap Gweny dengan heran sebelum berkata


"Oh ini," Alula mengangkat handphone ditangannya.


"Iya, Abang yang kasih aku handphone ini." ucapnya sambil tersenyum.


Gweny menghela napas, rupanya Mirza memang sudah sangat dekat dengan Alula. Gweny menatap nanar gadis dihadapannya, betapa beruntungnya Alula, dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. teman, keluarga, bahkan Mirza.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading... 😊


__ADS_2