
Dulu, hampir setiap pagi Gweny mengirimkan pesan singkat pada Mirza. entah itu ucapan selamat pagi, ataupun sekedar memberikan semangat untuk memulai aktivitas.
Gweny, yang meski sering diacuhkan, tetapi tetap berusaha menjadi tunangan yang baik untuk Mirza. Memberikan perhatian lebih agar ia bisa meraih hati Mirza.
Namun, sejak percakapannya dengan Mirza malam itu, tak ada pesan seperti yang biasanya ia kirimkan pada Mirza. Ia seolah menghindar, memberikan jarak untuk sedikit lebih jauh dari Mirza. Hatinya terlalu shock, mendengar pengakuan dari Mirza.
Hal itu membuat Mirza sedikit merasa bersalah, karena tak seharusnya ia berkata seperti itu pada Gweny. Dan untuk pertama kalinya ia menghubungi Gweny lebih dulu.
"Ha, hallo .. Mir ?" sapa Gweny dengan gugup, setelah ia menggeser tombol berwarna hijau dilayar handphone.
"Ya hallo, nanti siang aku pergi ke Bogor." ujar Mirza tanpa basa-basi, saat ia mendengar suara Gweny.
Gweny terdiam, dahinya mengernyit mencerna kalimat yang Mirza ucapkan. Apakah Mirza tengah berpamitan padanya ? Ia masih tidak menyangka, jika Mirza akan menghubunginya untuk memberi kabar.
"Gwen ?" panggil Mirza, karena Gweny hanya diam saja.
"Ah, i .. iya hati-hati. Semoga lancar semua urusannya." terasa aneh baginya. Karena selama dua tahun bertunangan, Mirza bahkan tidak pernah meneleponnya lebih dulu.
"Hmm, ya." jawab Mirza dengan suara yang meski dingin namun terdengar menyenangkan bagi Gweny.
Gweny menghela napas panjang, mengapa disaat ia mulai putus asa menghadapi sikap dingin Mirza, tiba-tiba saja Mirza berubah menjadi lebih hangat. Apakah ia harus berjuang sekali lagi untuk mendapatkan hati Mirza.
...****************...
Siang ini, Mirza tengah dalam perjalanan menuju kota Bogor, setelah kemarin Pa Sanjaya memintanya untuk menggantikan dirinya menemui rekan bisnis disana. Meski sempat menolak, namun akhirnya Mirza menyetujuinya.
Cuaca yang sedikit terik membuat Mirza mematikan AC dan membuka kaca jendela mobilnya, mengganti udara dingin AC dengan udara sejuk khas pegunungan kota Bogor.
Mirza menghentikan mobilnya tepat saat rambu-rambu lalu lintas menunjukkan lampu berwarna merah. Ditengah padatnya kendaraan, sudut matanya tak sengaja menangkap sosok yang tak asing tengah duduk diatas motor matic, dengan memakai helm Bogo berwarna hitam tak jauh dari mobilnya.
Ia terpana, saat melihat sosok perempuan cantik dengan rambut panjang tergerai itu tersenyum dibalik kaca spion sepeda motornya. Mirza ingin keluar dari mobil dan menghampiri perempuan itu, namun suara klakson yang memburu dibelakang mobilnya membuat ia mengurungkan niatnya.
Mirza kembali menghidupkan mesin mobilnya yang sempat ia matikan, berniat untuk mengejar motor matic yang sedari tadi mengusik pandangannya. Namun, belum sempat ia melaju, motor matic itu sudah hilang dari pandangannya.
"****, bisa-bisanya gue menghayal Alula ada disini." rutuk Mirza saat menyadari kekeliruannya. Ia memukul setir mobil didepannya, merasa bodoh dengan hayalannya sendiri.
"Lu kesini buat kerjaan. Come on, fokus Mirza." ia menghembuskan napas berat, menyemangati diri sendiri yang entah mengapa akhir-akhir ini sering berhalusinasi tentang Alula.
Dering telepon mengalihkan perhatiannya, saat ia telah memarkirkan mobilnya dihalaman Villa. Villa yang pernah beberapa kali ia datangi bersama Alula dan teman-temannya diwaktu libur itu terlihat lengang, tidak ada orang. Hanya Kang Agus selaku penjaga Villa seorang diri disana.
"Ya Pa," sapa Mirza setelah panggilan tersambung.
__ADS_1
"Sudah sampai kamu?" tanya Pa Sanjaya diseberang telepon.
"Ini baru aja nyampe, nanti Papa share aja lokasinya dimana." Mirza memberikan kunci mobilnya pada Kang Agus, satpam sekaligus penjaga Villa.
"Jangan sampai datang terlambat, ini proyek besar buat Papa." ujar Pa Sanjaya mewanti-wanti.
"Oh ya, jangan lupa kamu kasih kabar ke Gweny juga !"
"Ya Pa, Emir mau istirahat dulu." Mirza mematikan kembali handphone nya.
Mirza berjalan menuju Villa ditemani oleh Kang Agus. Ada rasa rindu saat ia memasuki bangunan mewah itu. Ingatannya ketika menghabiskan liburan bersama Alula tiba-tiba saja melintas dipikiran nya. Mirza menghela napas berat, lagi-lagi ia tak bisa menghalau perasaannya sendiri.
"Kamarnya sudah saya siapkan Den," ujar Kang Agus dengan logat Sunda nya, setelah ia memasukkan koper Mirza kedalam kamar.
"Tapi maaf, cuma ada saya disini. si Bibi anaknya lagi sakit, jadi gak bisa kesini." lanjutnya.
"Gak apa-apa ko' Kang."
"Nanti kalau butuh apa-apa, aden panggil Akang saja ya." Mirza hanya membalasnya dengan anggukkan, ia masuk kedalam kamar untuk melepas penat usai perjalanan Jakarta - Bogor yang cukup melelahkan.
Mirza masih duduk termenung didalam sebuah Cafe bergaya modern yang penuh dengan pengunjung malam itu. Beberapa saat yang lalu, ia membahas kerjasama dengan rekan bisnis sang Papa di salah satu ruangan VIP di Cafe itu.
Setelah sang klien berpamitan, ia berpindah tempat. mencari tempat duduk baru yang lebih menyenangkan. Kerjasama dengan pihak klien menunjukkan hasil yang memuaskan, Mirza akhirnya bisa bernapas lega usai pertemuan yang menegangkan beberapa saat yang lalu.
Pengiring musik mulai membuka suaranya, menyapa para pengunjung yang datang malam itu. Mirza tak acuh, ia lebih memilih mengeluarkan handphone dan membuka galery, dimana puluhan foto dirinya bersama Alula masih tersimpan dengan baik.
Musik mulai mengalun, bersamaan dengan datangnya secangkir cappucino yang sempat ia pesan sebelum duduk disana.
"Terima kasih," ucapnya pada pelayan yang baru saja mengantarkan minumannya.
"Selamat menikmati." balas pelayan itu seraya tersenyum pada Mirza, yang dibalasnya dengan anggukan.
Hidupku tanpa cintamu
Bagai malam tanpa bintang
Mirza sempat terpana mendengar suara merdu seorang penyanyi diatas panggung, merasa tak asing dengan suara itu.
Posisi duduknya yang membelakangi panggung, membuatnya harus menoleh kearah suara.
Cintaku tanpa sambutmu
__ADS_1
Bagai panas tanpa hujan ...
Mirza terpaku menatap seseorang disana, perempuan cantik dengan rambut panjang yang tergerai tengah bernyanyi sambil memejamkan matanya. Dress off shoulder dengan motif bunga berwarna merah muda membungkus tubuhnya dengan anggun. Bibir mungil perempuan itu menyunggingkan senyum, menambah cantik penampilannya malam itu
Mirza memastikan kembali penglihatannya tidak salah, beberapa kali ia mencocokkan wajah penyanyi itu dengan foto didalam handphonenya. Ia tidak berhalusinasi.
Jiwaku berbisik lirih
Kuharus memilikimu
Sesaat, mata perempuan itu terbuka, tatapannya tertuju pada seorang laki-laki yang duduk tak jauh dari tempat duduk Mirza. Laki-laki yang tak asing bagi Mirza.
Perempuan cantik dengan rambut panjang tergerai itu kini kembali menutup matanya, merasakan lembutnya alunan musik yang mengiringi lagu yang dibawakannya.
Aku bisa membuatmu
Jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta kepadaku
Suaranya terdengar lembut dan mendayu-dayu, membuat perhatian semua pengunjung teralihkan padanya.
Beri sedikit waktu
Biar cinta datang karena telah terbiasa
Perempuan itu kembali membuka matanya, ia menyapu pandangannya pada semua pengunjung yang menikmati lagu yang dibawakannya. Namun, ia tak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya saat menyadari kehadiran Mirza diantara ramainya pengunjung disana.
Perempuan itu tak mampu lagi meneruskan lagunya, ia terlihat berbisik pada seseorang yang memainkan gitar akustik disampingnya.Tak lama, perempuan itu turun dari atas panggung, berjalan melewati beberapa meja pengunjung, hingga akhirnya sampai dimeja laki-laki yang tadi ia tatap saat bernyanyi, untuk mengajaknya pergi dari cafe itu.
Mirza tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya, ia buru-buru berlari mengejar dua orang laki-laki dan perempuan yang sudah keluar dari pintu cafe.
"Dek, tunggu." ucap Mirza seraya menarik tangan perempuan itu.
.
.
.
Happy Reading... 😊
__ADS_1
Siapa ya kira-kira perempuan itu 🤭
yuk, jangan lupa like, comment and votenya 👍