Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Malaikat Penyelamat


__ADS_3

"Ngomong-ngomong nih, yang ngasih cokelat ke kamu itu siapa sih La?" tanya Marsha sebelum memasukan potongan siomay ke mulutnya. mereka kini tengah berada di kantin sekolah usai bel istirahat berbunyi beberapa menit lalu.


Alula mengangkat bahunya "gak tahu" jawabnya tak peduli.


"Gak aneh sih kalo kamu punya penggemar, liat dong ! udah cantik, baik lagi." ujar Mulan begitu mengagumi.


"Apaan sih biasa aja."


"Dari kecil diamah emang udah banyak yang suka. kamu inget gak La ? sama si... " Marsha menghentikan kunyahannya, ia nampak mengingat-ingat nama seseorang.


"Tomi," wajah nya berbinar setelah mengingat nama temannya "iya Tomi.. " Marsha mengangguk-anggukan kepalanya.


"Dia dulu suka banget ngejar-ngejar si Lala di dalem kelas. pas Pak Guru tanya , kenapa dia gangguin Alula terus, dia bilang apa coba?" tanyanya pada Mulan yang sejak tadi fokus menjadi pendengar.


"Apa?" Mulan balik bertanya.


"Alula gemessiiin.. " ucap Marsha dengan tangan mengepal di depan dada, dengan wajah dibuat jenaka. Mulan dan Alula pun tertawa melihat tingkah Marsha.


"Mana bisa aku lupa Sa, hampir tiap hari dia gangguin aku. nyampe aku jatuh kesandung meja karena dia ngejar-ngejar aku. Dwi juga pernah hampir pingsan gara-gara si Tomi ngejar Dwi, nyangka Dwi itu aku," Alula terkekeh. namun seketika berubah sendu mendengar nama Dwi.


Marsha tertawa-tawa "kamu inget nggak? dia pernah nulis ' I Love U Lula' dipapan tulis dengan huruf besar. padahal kita dulu masih kelas 5 SD, mana tau apa artinya Love." Marsha menggelengkan kepalanya.


"Nyampe segitunya?" tanya Mulan tak percaya.


Marsha mengangguk "Bahkan ada yang lebih parah sih. hampir semua murid laki-laki di kelas suka sama dia." Marsha menunjuk Alula dengan garpu.


"Tapi kan dia kembar, pastinya ada dua orang yang sama persis." ujar Mulan.


"Muka doang yang mirip, tapi kelakuan berbanding terbalik."


Mulan mengerutkan dahi "Maksudnya?"


"Dwi itu cuek, pendiem banget orangnya, tertutup. sedangkan Alula," Marsha kini memandangi Alula "Dia mah sama kaya aku, gak bisa diem." ucap Marsha yang kemudian tertawa lebar.


"Enak aja," sanggah Alula "aku gak se absurd kamu yah. mana ada orang yang sengaja nyuri jambu buat liat ekspresi marah yang punya nya. udah gitu nuduh-nuduh aku lagi yang nyuruh. aku kan jadi ikut lari." Alula menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya.


Tawa Marsha menggema ke seluruh isi kantin "Hahaha.. kamu masih inget La?"


"Ssstt.." Mulan menepuk pelan mulut Marsha.


"Kamu kalo ketawa pelanin dikit kek !" seru Mulan yang merasa risih saat menjadi pusat perhatian pengunjung kantin yang lain. sementara di kursi lain yang tak jauh dari mereka, Risma yang duduk seorang diri mendelik kesal kearah mereka.


"Ya mangap,, eh maaf" ucap Marsha sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Dan itu menjadi pertemuan terakhir buat kita kan La?" Wajah Marsha berubah sendu. Alula mengangguk pelan,

__ADS_1


"Sejak saat itu aku gak berani keluar rumah La, aku takut diculik kaya kamu waktu itu. aku berhenti jadi anak bandel, lebih suka diem dirumah nungguin Bunda pulang kerja. juga nungguin kamu kembali, tapi itu gak pernah terjadi." Marsha menghela napas panjang.


Alula tersenyum getir. ia jelas tidak akan pernah bisa melupakan hari itu, hari dimana mereka dibawa pergi secara paksa. hari dimana kehidupannya berubah menjadi seperti hidup didalam sangkar, dengan segala keterbatasan kebebasan.


"Oh iya La, kamu belum cerita kenapa kamu bisa ada disini." Marsha memecah lamunan Alula.


"eh itu aku... " Alula pun menceritakan bagaimana cara ia melarikan diri dari ayah tirinya, bagaimana ia bisa nekat pergi ke kota untuk mencari ayah, bagaimana ia bisa tinggal di rumah singgah, dan bagaimana ia bisa bertemu kembali dengan Ayah, yang ternyata menjadi seorang supir dan asisten pribadi Pa Sanjaya Mahesa. pertemuan yang tidak pernah ia duga. melalui Mirza, orang yang pernah menyelamatkannya.


Yah, Mirza. kedatangannya bagaikan malaikat penyelamat. Alula tersenyum, mengingat hubungannya dengan Mirza tak lagi kaku seperti sebelumnya, sosok yang rendah hati itu kini telah menjadi orang spesial dihatinya.


"Aku jadi pengen liat wajah malaikat penyelamat kamu La." ujar Mulan penasaran.


"Gantengan mana sama si Tomi?"


"Ish, kamu ko' bawa-bawa si Tomi sih, ya jelas jauh lah."


"Emang kamu tau, gimana si Tomi sekarang? kali aja dia berubah jadi keren."


"Gak lah, abangku jelas lebih keren." Alula mengacungkan jempolnya pada Marsha.


Obrolan mereka terpaksa harus terhenti saat terdengar bunyi nyaring bel tanda istirahat berakhir. mereka kini kembali kedalam kelas.


...****************...


Ditempat lain, Mirza yang telah menyelesaikan jam kuliahnya memilih mengajak teman-temannya untuk bermain basket dilapangan belakang kampusnya. sudah lama, sejak kehadiran Alula ia tidak pernah ikut bergabung berlatih bola basket dengan teman-temannya yang lain.


"Gue kesana dulu," ucap Marko dengan menunjuk loker tempat mereka menyimpan tas. yang dibalas anggukan dari teman-temannya yang lain.


Marko membuka tas miliknya, hendak mengambil handuk kecil yang selalu ia bawa.kemudian ia membalikan badannya bertepatan dengan seorang perempuan yang menyodorkan air mineral dingin ke arahnya.


"Wahh, thanks. tau aja lu kalo gue haus." ucapnya dengan mata berbinar dan tangan yang meraih botol air mineral tersebut.


"Enak aja, ini buat Emir tau." elaknya.


sialan lagi-lagi si Emir. gerutunya


"Lah, kan gue juga abis maen basket."


"Tapi yang banyak nge gol-in kan dia."


"Lu kata sepak bola pake nge gol-in segala."


"Yaudah sih, kasihin dia gih !" perempuan itu memaksa Marko berjalan dengan mendorong-dorong badannya. namun bukannya berjalan Marko justru malah membuka segel air mineral dan meminum air meneral itu hingga habis tak tersisa.


"Alhamdulillah.. adem nih tenggorokan." ucapnya dengan santai sambil mengusap tenggorokannya yang kini terasa basah.

__ADS_1


"Ish malah diminum, nyebelin banget sih lo." hardik perempuan tersebut.


"Percuma lo kasihin sendiri ke si Emir juga ujung-ujungnya bakalan dia tolak. yaudah mending gue aja yang minum."


"Thanks ya !" serunya sambil berlalu meninggalkan perempuan yang tadi menyodorkan air mineral kepadanya. Perempuan itu terperangah demi melihat kelakuan pria absurd dihadapannya.


Mirza melirik jam dipergelangan tangannya, waktu menunjukan pukul 13.00 siang, sedangkan ia harus menjemput Alula pukul 14.00 siang.


"Mulai deh lirik-lirik jam." ledek Martin yang duduk disebelah Mirza.


"Mau ke PuBa lagi?" tanyanya kemudian.


Mirza mengangguk sebagai jawaban, "tapi masih satu jam lagi." ucapnya.


"Sebenarnya lu tuh jemput siapa sih?"


"Adek gue." gumamnya hampir tak terdengar.


"Adek?" ia memastikan telinganya tidak salah mendengar


Belum sempat Mirza menjawab, Marko menghampiri mereka dengan bersungut-sungut.


"Mulai sekarang gue gak mau temenan sama lu." ucapnya kesal sambil menunjuk pada Mirza.


"Napa sih lu, kesambet setan lapangan?" tanya Martin.


Marko pun menceritakan pertemuannya dengan perempuan yang seenaknya saja menyuruhnya untuk memberikan air mineral pada Mirza.


Tawa mereka menggelegar setelah Marko mengakhiri ceritanya.


"Kasian banget lo." ucap salah seorang temannya yang duduk tak jauh dari Marko.


"Nasib lo."


"Gue ikut prihatin."


"Gue mau ngakak lagi boleh?"


"Nasib jomblo."


Dan banyak lagi ledekan yang terlontar dari mulut teman-temannya yang lain. membuatnya berdecak kesal.


"SIALAN !" makinya.


.

__ADS_1


.


Happy readding... 🤗


__ADS_2