
Alula POV
Entah sudah berapa lama mataku terpejam, namun aku bisa mendengarkan semua yang orang-orang katakan. aku ingin terbangun, tapi entah mengapa sulit sekali rasanya untuk membuka mata.
Aku hanya diam, rasa takut membuatku tak berani membuka mata. aku takut jika semuanya adalah mimpi. aku takut jika aku membuka mata, bukan Ayah, Mama atau Abang yang ku lihat, melainkan si pria brengs*k itu.
Aku masih sangat mengingatnya, tepat pada saat dia membawaku ke sebuah rumah tua. saat itu, aku masih dalam kondisi setengah sadar.
Dengan kepala yang terasa pening, samar-samar kulihat ada dua orang berbadan tinggi tegap yang berjaga didepan pintu.
Paman Leon lalu memboyongku masuk kedalam rumah, dan merebahkan tubuhku diatas tempat tidur dalam sebuah kamar.
Saat aku benar-benar bisa membuka mata, tiba-tiba Paman Leon mencengkram leherku. mengancamku untuk tidak berteriak.
Aku benar-benar lemah, bahkan untuk bergerakpun rasanya tidak ada tenaga. aku pasrah, berteriakpun rasanya percuma saja.
Aku hanya bisa memandang pria yang tengah menyeringai itu dengan jengah. entah apa sebenarnya yang dia mau dariku ? mengapa dia tidak pernah membiarkan aku untuk hidup dengan tenang. Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu, mengapa pria ini sangat membenci Ayah.
Tiba-tiba saja sebuah keberanian muncul, aku mencoba berteriak sekuat mungkin, memanggil nama Ayah. namun tanpa disangka, saat itu pula tubuhku kembali melemas. bahkan kesadaranku pun mulai melemah, hingga akhirnya semua terasa gelap.
Aku kembali terbangun, namun kali ini didalam ruangan bernuansa serba putih, ruangan yang juga tidak ku kenali. entah bagaimana caranya aku bisa berpindah tempat, aku tidak mengingatnya sama sekali.
Kulirik tangan sebelah kiri, ada sebuah selang yang tersambung pada tanganku. aku takut, tubuhku gemetar hebat dan aku kembali berteriak memanggil-manggil nama Ayah.
Namun satu orang berseragam serba putih datang dan mendekat. entah apa yang dilakukannya padaku, hingga akhirnya aku kembali tak sadarkan diri.
...****************...
Sebenarnya kesadaranku sudah benar-benar pulih, saat ku rasa tangan seseorang menggenggam tanganku dengan erat. terasa begitu hangat, juga menenangkan.
Aku mendengar suara dalam pria yang begitu familiar ditelingaku, itu suara Abang. orang yang belakangan ini aku hindari, tidak ingin ku temui.
Tapi mengapa sekarang rasanya begitu merindukannya. ingin sekali aku mendekap tubuhnya dengan erat, meluapkan perasaan rindu yang selama ini aku pendam.
Bersamanya ... entah mengapa ada perasaan nyaman yang tidak pernah ku rasakan bersama orang lain. aku merasa terlindungi oleh sosok baik hati ini.
"Gue gak suka." ucap abang lirih, kepalanya bersandar disamping lengan kananku. sepertinya Abang tidak tahu aku sudah terjaga. ingin sekali aku mengusap kepalanya. memberikan rasa nyaman pada pria yang telah mencuri hatiku.
"Gue ... gue cemburu." aku terhenyak mendengarnya. apa maksudnya dengan cemburu ?
Ah aku tahu, abang berbicara seperti itu karena abang merasa bersalah padaku. aku tidak boleh banyak berharap, siapa aku sampai abang merasa cemburu padaku.
Ku dengar pintu terbuka, disusul dengan suara langkah seseorang yang mendekat.
"Ibu kemana ?" itu suara Ayah, bang Emir menoleh pada Ayah, kurasakan genggaman tangan abang mengendur.
"Kerumah dulu Pa, katanya mau ngambil baju buat Lula." jawab bang Emir sambil beranjak berdiri.
__ADS_1
"Nak, sayang .. " Ayah mendekat padaku, lalu mengusap puncak kepalaku. wajah Ayah terlihat lega, sepertinya begitu senang ketika melihatku baik-baik saja.
"Sudah bangun ?" kudengar Ayah menghela napas panjang.
Abang menoleh padaku dengan cepat, aku hanya mengangguk lalu tersenyum meski samar. tidak ingin membuat mereka merasa khawatir.
...****************...
Terhitung sudah lima hari aku keluar dari rumah sakit, aku kembali menempati paviliun bersama ayah. rasanya seperti dulu, saat awal datang kedalam rumah ini. aku lebih banyak diam dan menghabiskan waktu untuk menyendiri.
Meski aku mendengar bahwa Paman Leon telah berada dibalik penjara, namun entah mengapa perasaan takut itu belum juga pergi.
Tak jarang, Abang menemuiku disela-sela kesibukkannya di kampus. Yah, sebentar lagi abang lulus kuliah. lebih cepat dibanding bang Marko juga bang Martin. dan ku dengar, ia akan mulai menetap bekerja dikantor bersama Pa Sanjaya.
Pernah juga Mulan dan Sasa menjengukku kemari. aku senang, setidaknya kehadiran mereka membuatku sedikit melupakan rasa takutku.
Mereka bilang,
"Cepet masuk sekolah dong La, sepi tahu gak ada kamu dikelas." Sasa merajuk, dengan bibir yang cemberut.
"Iya La, senin depan kita udah UN loh La. kamu gak mau gitu belajar bareng kita." Mulanpun tak kalah merajuk.
Mereka berdua selalu menyemangatiku dan memberikan suport yang luar biasa. mereka juga sering mengirimkan materi pelajaran yang terlewat selama aku tidak masuk sekolah. kedua sahabatku ini memang yang terbaik.
Abang juga tidak pernah lelah menghiburku, mengajakku bicara. meski terkadang aku hanya membalasnya dengan senyum samar. bahkan dia yang dulu terkenal dingin, kini begitu hangat ketika menghiburku.
"Jangan bilang Mama."
"Ini abang petik tadi pagi. pas Mama lagi masak di dapur sama Mbak Sri." ucap Abang setengah berbisik seraya menggaruk tengkuknya.
Aku hanya mencibir. mana ada hasil metik dibungkus plastik. jelas-jelas bunga itu hasil beli. namun aku tetap menerima dengan senang hati bunga pemberiannya.
"Hehe.. gak percaya yah ? iya sih emang beli tadi pas mau kesini." cengirnya.
"Khusus buat adek yang belakangan ini banyak diem." ucap abang sambil mendudukkan diri di sampingku. dia mengacak rambut kepalaku dengan pelan, kebiasaan yang selalu aku rindukan.
"Dek, udahlah jangan diem-dieman terus. gue kangen adek gue yang bawel."
Abang meraih tanganku lalu menggenggamnya dengan erat. dadaku tiba-tiba saja terasa bergemuruh. degup jantungku serasa tak terkendalikan, ada perasaan aneh yang begitu meluap-luap.
"Adek yang selalu teriak Abang, buruan udah telat." ucap abang dengan suara dimirip-miripkan denganku. ish.
"Gue juga kangen capitan tangan lu diperut, kalo gue ngebut pas bawa motor. atau ngerem mendadak, terus lu mukul helm gue." entah mengapa tidak tahan rasanya untuk tidak tertawa.
Hal sederhana, namun jika dilewati dengan orang yang tersayang, terasa begitu bermakna.
Hari ini, aku kembali duduk didepan teras, memandangi puluhan ikan koi berwarna-warni didalam kolam. aku menggambar puluhan ikan itu didalam kertas, saat rasa bosan tiba-tiba saja datang.
__ADS_1
"Lu tuh kalo udah gambar, suka gak nyadar sama sekitar." tiba-tiba suara abang membuatku terperanjat. sejak kapan dia berdiri disampingku. aku mendengus sebal, mengagetkan saja.
"Dih, cuma noleh lagi." ucap abang saat aku menoleh sekilas, lalu kembali fokus pada gambarku.
"Tanya kek, kapan dateng." gerutu abang sambil mendudukkan diri disampingku.
"Nih .." abang menyodorkan sesuatu, membuatku kembali menoleh.
"Cokelat?" tanyaku dengan dahi yang mengkerut. seingatku, aku sedang tidak berulang tahun. dalam rangka apa abang memberiku cokelat. tumben.
Abang mengangguk pelan "Makan cokelat bisa meningkatkan mood."
"Tahu nggak, sebuah penelitian mengatakan bahwa, mengkonsumsi cokelat dapat menurunkan hormon kortisol yang dihasilkan tubuh saat kita merasa stres."
"Dan merangsang otak untuk melepaskan lebih banyak hormon endorfin dan serotonin, yang dapat membuat kita merasa bahagia."
"Gue gak mau lihat lu murung terus, gue mau lihat lu bahagia." abang terlihat berusaha membuka kemasan cokelat itu.
"Gak usah mikirin yang udah gak ada."
"Ada gue yang akan selalu ada disamping lu dek." lalu abang menyuapkan satu potong cokelat itu padaku.
Aku terpaku, sesaat pandangan kita saling bertemu. ah lagi-lagi, hal sederhana yang membuatku semakin tergila-gila.
.
.
.
Happy reading... 😊
Sebagai permintaan maaf atas Up yang semakin tidak menentu, juga ucapan terima kasih karena sudah setia menunggu dedek Lula sama bang Emir.
Otor kasih bonus foto bang Emir yang lagi bawa setangkai bunga mawar meski gak merah, buat readers semua. eh buat dedek Lula.
Plus, foto dedek Lula yang lagi dirumah aja, sama kaya otor
😅
Gimana miripkan sama otor... 😂
*Salam halu dari otor.. 😅
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like and comment nya yah.. 🙏