
Semua orang masih berkumpul di ruang tamu, setelah acara tukar cincin selesai. Para tamu silih berganti memberikan ucapan selamat pada Mirza dan juga Gweny.
Namun tidak dengan Alula, ia benar-benar tidak tahan lagi membendung air matanya. diam-diam ia beranjak pergi keluar lewat pintu belakang, tujuannya kini adalah Gazebo di samping kolam renang.
Ia memilih menjauh dari keramaian, sebab ia butuh kesunyian untuk menyembuhkan lukanya.
Alula mendudukkan dirinya di tepian gazebo, ia menatap nanar air kolam yang tenang. udara dingin malam hari tak membuatnya ingin beranjak dari sana. air mata yang sejak tadi ia tahan, terus saja meluruh tanpa ada henti.
Ia menghirup napas dalam-dalam, seakan oksigen telah lama habis didalam paru-parunya, lalu menghembuskan nya dengan perlahan. sesaat, perasaanya mulai membaik.
Namun ia terperanjat saat tiba-tiba seseorang datang, lalu mendudukkan dirinya disamping Alula.
"Bang Martin ?" Alula menoleh pada Martin yang tengah tersenyum getir. ia mengusap pipinya yang masih terasa basah, tak ingin sampai Martin melihatnya menangis.
"Kenapa ? Sakit ya lihat orang yang kita sayang tiba-tiba tunangan." ujar Martin dengan mata menatap nanar kolam dengan air yang tenang.
Dahi Alula mengernyit tak mengerti dengan arti kata 'Kita' yang Martin sebutkan. "Abang?"
"Yah, gue suka sama Gweny." aku Martin membuat Alula terkesiap, sebab ia tidak pernah tahu perihal ini. lagi pula selama ini, Alula mengira Martin hanyalah teman baik Gweny, sama seperti Marko juga Mirza.
Memang benar, pertemanan antara laki-laki dan perempuan tidak ada yang tulus. selalu ada perasaan lain diantara mereka.
Martin menatap Alula yang tengah memandanginya lekat, lalu ia menepuk bahunya sendiri.
"Gue yakin, sekarang lu juga butuh bahu buat bersandar kan?"
Alula sempat tertegun, merasa ragu untuk menyandarkan kepalanya. namun dengan cepat Martin merangkul bahu Alula. saling berbagi rasa, karena sama-sama terluka.
Tentu saja Alula merasa lega, karena nyatanya ia tidak sendirian. ia kembali terisak dalam pelukan Martin. entah mengapa ia merasa Martin lebih mengerti dirinya saat ini.
"Udah jangan cengeng lu!" Martin melepaskan rangkulannya.
"Kalo bang Martin suka sama Kak Gweny, kenapa abang gak berusaha buat dapetin dia?" tanya Alula setelah keheningan beberapa saat lalu menyelimuti mereka berdua.
"Kalo dia gak suka, terus gue bisa apa ? memaksa dia buat nerima gue ?"
"Heuh," Martin tersenyum kecut "cinta gak sebodoh itu La." lanjutnya. dari raut wajahnya terlihat kepedihan yang juga dirasakannya.
"Apa sekarang ... bang Martin benci sama bang Emir ?" Alula menatap lekat wajah Martin yang kini menyandarkan kepalanya pada tiang penyangga Gazebo.
Martin menoleh "Buat apa benci?"
"Kebencian cuma akan merugikan diri sendiri."
__ADS_1
"Denger ya La ! puncak tertinggi dari mencintai adalah merelakannya."
"Dan gue udah merelakan Gweny buat si Semir." ada nada kesal yang Alula dengar saat Martin menyebutkan nama Mirza.
Karena kenyataannya tidak semudah itu merelakan orang yang kita cintai, bahagia bersama orang lain.
"Gue yakin, sekarang dia lagi bahagia bisa tunangan sama si Emir. karena gue tahu, dari dulu dia suka banget sama si Emir." Martin nampak menerawang, mengingat kembali masa-masa saat dirinya berpacaran dengan Gweny.
Sekuat apapun ia berusaha mengambil hati Gweny, tetaplah Mirza yang selalu ada dalam pikiran Gweny. membuatnya menyerah dan memutuskan hubungannya dengan Gweny yang baru berjalan beberapa minggu.
"Dan gue juga yakin, perlahan si Emir bakalan bisa menerima si Gweny. karena setahu gue, sedingin apapun dia, dia gak pernah nyakitin perempuan."
"Tapi kalau sampai itu terjadi, gue gak akan maafin dia."
"Aku gak tahu, ternyata abang punya hati yang besar." Alula tersenyum lembut, wajah sendunya kini berangsur ceria.
"Iya lah, orang dipikiran elu adanya cuman kang semir." sindir Martin.
"Apa sih bang," Alula terkekeh, bersamaan dengan datangnya Marko yang berjalan kearah mereka.
"Woy dicariin malah mojok disini lu berdua." ujar Marko yang langsung mendudukkan diri disamping Alula.
"Bagus yah, lu mau jadi siluman spion juga ? mau nikung gue juga lu ?" tuduhnya pada Martin dengan berapi-api.
"Apaan kang galon, dateng-dateng maen nuduh Lu."
"Ngapain lu kesini, ganggu aja lu," Martin mendengus kesal.
"Males gue didalem, kebanyakan aki-aki. masih untung gak bau balsem." jawab Marko sekenanya, membuat Alula tertawa.
"Eh, neng peri ketawa." goda Marko pada Alula.
"Betewe, lu berdua lagi ngapain gelap-gelapan disini ?"
"Hahaa gue tau, patah hati berjama'ah ni pasti." ledek Marko tepat ditelinga Martin "Mampusss." ia tergelak.
"Kampret sialan," dan sebuah pukulan kini mendarat di kepala Marko. membuat Alula tertawa melihat tingkah kedua pria disampingnya kini. kehadiran Marko selalu saja mengundang gelak tawa.
...****************...
Beda halnya dengan Mirza, setelah ia menerima ucapan selamat -yang bahkan tidak pernah ia inginkan- dari beberapa tamu, ia langsung pergi ke kamarnya tanpa mempedulikan Gweny yang menatapnya dengan keheranan, juga teriakan Mama Indri dan Pa Sanjaya yang memanggil-manggil namanya.
Bukankah sudah jelas, mereka ingin ia bertunangan dengan Gweny, lalu sekarang apalagi ? tugasnya sudah selesai, ia rela mengikuti semua rencana Pa Sanjaya untuk mempertahankan harga diri sang Papa.
__ADS_1
Mirza membaringkan tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidur, ia menatap nyalang langit-langit kamarnya.
"Kenapa La ?" lirihnya.
Suara dentingan piano juga orang-orang yang tengah berbincang masih terdengar dilantai bawah, namun Mirza tak memperdulikannya.
"Kenapa lu lakuin ini ke gue." Mirza merasa kesal, ia menjambak rambutnya sendiri.
"Kalau saja tadi lu bilang 'Iya' , gue akan senang hati membatalkan pertunangan ini."
Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. sebelum Mirza bisa memahami dan mengerti perasaannya sendiri pada Alula, ia harus rela menerima takdir lain yang lebih dulu datang padanya.
Bahkan dalam hitungan jam, statusnya telah berubah menjadi tunangan orang lain. ia tersenyum getir, menertawakan nasib nya sendiri.
Mirza bangkit dari tempat tidur, merasa kesal pada dirinya sendiri. mengapa ia terlalu bodoh untuk hal perasaan. ia terlalu pasrah, menuruti apa saja yang dikatakan orang tua.
Apakah ia salah jika memiliki pilihannya sendiri, meski kenyataannya perempuan yang ia harapkan tidak merasakan apa yang ia rasakan.
"Arghhhh..." Mirza mengusap kasar wajahnya, lagi-lagi ia merasa frustasi.
Mirza membuka pintu balkon, berharap udara malam bisa menenangkan hati dan pikirannya barang sejenak.
Namun, pemandangan dibawah sana justru membuat hatinya semakin berdenyut nyeri.
Dimana ia melihat Alula tengah tertawa-tawa dengan lepasnya, bersama dengan Marko dan juga Martin diatas Gazebo.
Ia sempat berharap Alula akan bersedih melihatnya bertunangan dengan Gweny, namun apa yang dilihatnya saat ini benar-benar membuktikan bahwa Alula tidak pernah memiliki perasaan apapun untuknya.
Mirza semakin tertekan,
"Apakah seperti ini rasanya, perasaan yang tidak terbalaskan." ucap Mirza lirih, lalu ia tersenyum getir.
"Tapi, kenapa saat direstauran tadi lu nangis La."
Bukankah saat ini harusnya ia memikirkan perasaan Gweny sebagai tunangannya, bagaiman bisa Mirza meninggalkannya sendirian disaat acara belum selesai dilaksanakan.
.
.
.
Happy Reading... 😊
__ADS_1
Jangan lupa like and comment nya 👍