Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Hadiah dari Ayah


__ADS_3

Acara kenaikan kelas telah usai, Alula kini pulang bersama ayah dengan memasang senyum yang merekah. karena untuk pertama kalinya ia bisa mempersembahkan sesuatu yang ingin sekali ia berikan sejak lama kepada Ayah. sebuah keberhasilan.


Karena selama ini Alula yang selalu mengalah, harus puas hanya dengan membawa peringkat kedua, setelah Dwi tentunya. tapi kali ini, ia telah bertekad akan memperjuangkan apapun yang membuat Ayah bangga padanya tanpa harus mengalah pada siapapun.


Alula turun dari mobil dan langsung disambut dengan rentangan tangan Mama Indri didepan pintu. untuk sesaat ia tertegun, tak pernah menyangka jika Mama Indri akan menyambut kedatangannya seperti itu. Alula melirik sekilas pada Ayah, Ayah hanya mengangguk lalu tersenyum. Alula memeluk tubuh Mama Indri, rasa haru kini menyelimutinya.


Andai Ibu masih ada, tentu saja Ibu yang akan memelukku seperti ini. seperti kemarin, saat aku mampu menyelesaikan SMPku dan berhasil keluar dengan menyandang gelar sebagai lulusan terbaik.


Ibu menyambut kedatanganku dengan tangis haru, karena ibu tahu, selama tiga tahun itu aku belajar dengan penuh tekanan. juga menghadapi pahitnya ditinggalkan . aku tidak punya teman ataupun seseorang yang bisa membuatku semangat, terkecuali Ibu tentunya. satu-satunya orang yang kumiliki. karena Dwi telah mendahuluiku, serta Ayah yang tidak ku ketahui keberadaannya.


"Selamat sayang, selamat. kamu hebat." Ujar Mama Indri ketika melepaskan pelukannya.


Alula tersenyum sebelum berkata "Terima kasih Ma." ujarnya dengan mata yang mulai memanas.


"Berkat do'a Ayah dan juga Mama, Lula bisa seperti ini." ia menyeka air matanya yang entah mengapa tiba-tiba saja mengalir begitu deras.


Ia teringat kembali, ketika sebelum ujian dimulai, Ibu selalu mengantarnya sampai didepan pintu, mengusap puncak kepalanya lalu mencium keningnya seraya memberi do'a untuk dimudahkan dalam menghadapi ujiannya. dan hari ini bukan ibu, melainkan orang lain yang menyambut keberhasilannya.


"Lula ko' nangis?" Mama Indri mengusap pipi Alula yang basah dengan ibu jarinya.


Alula hanya menggelengkan kepala lalu kembali memeluk Mama Indri.


Biarkan.. biarkan aku seperti ini dulu. karena aku sangat merindukan pelukan Ibu.


"Udah ya, gak boleh nangis-nagis!" seru Mama Indri, dengan tangannya mengusap lembut kepala Alula.


"Weyy.... Sang juara datang nih." seloroh Mirza yang tiba-tiba datang dari balik pintu. "Selamat ya." lanjutnya sambil mengacak rambut Alula.


Alula hanya meringis malu "apa sih abang.."


"Hebat nih, bisa ngalahin puluhan siswa yang lain." godanya, hingga menampakkan rona diwajah Alula.


"Lebay deh bang." Alula terkekeh.


"Nah gitu dong, senyum. jangan nangis mulu, jelek Lu." membuat Alula mencibir, karena Mirza terus saja menggodanya.


Malam ini Alula tengah berkutat dengan alat tulisnya, ia mendudukan diri didekat jendela yang terbuka. sejak kehadiran Alula disana, Mama Indri membuat beberapa perubahan pada paviliunnya agar lebih nyaman untuk ditempati oleh Alula.

__ADS_1


Hembusan angin malam meniup-niup rambut Alula yang tergerai, sungguh menenangkan. sesaat matanya terpejam, ia menarik napas lalu menghembuskannya dengan pelan. mendalami ketenangan yang saat ini ia rasakan dalam kehidupannya, setelah melewati tiga tahun hidup dalam tekanan.


Ia masih menyandarkan diri pada sandaran kursi dengan mata terpejam dan tangan mendekap erat buku peninggalan almarhumah Ibunya ketika tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan panggilan ayah.


"Lula sayang, sedang apa nak ?" suara Ayah datang dari arah pintu. Alula mengerjapkan matanya yang mulai terasa panas.


"Sini sebentar!" seru Ayah.


Alula beranjak dari kursi rotan yang ia duduki, ia menyimpan buku yang sedari tadi ia dekap diatas meja, lalu menghampiri ayah diruang tengah.


"Ada apa yah?" tanya Alula saat keluar dari pintu kamarnya. lalu ia mendudukan diri berhadapan dengan ayah.


Ayah tersenyum sebelum berkata, "Hadiah untuk putri ayah." Ayah mengangsurkan kotak besar dihadapannya.


"Wah.. apa ini yah?" Alula meneliti kotak besar yang diberikan Ayah.


"Buka saja!"


Dengan hati riang, Alula berlari menuju kamar. ia mengambil gunting kecil untuk membuka bungkusan hadiahnya. matanya membelalak ketika menyadari hadiah apa yang diberikan oleh ayah untuknya.


"Ayah.. " lirihnya dengan mata berkaca-kaca, tak menyangka jika ayah mengetahui apa yang ia inginkan.


Alula memeluk ayah dengan erat "Terima kasih ayah, terima kasih banyak." ucapnya.


Ayah mengangguk seraya mengusap puncak kepalanya,


"Belajar dengan sungguh-sungguh ya, ayah yakin Lula bisa!"


"Ibu akan bangga jika suatu hari nanti Lula berhasil mewujudkan impian Ibu."


"Lula hanya tinggal belajar, bagaimana caranya mengasah kemampuan Lula. atau bila perlu, ayah carikan tempat buat kursus?"


Namun Alula hanya menggeleng "Tidak perlu ayah, Lula akan belajar sendiri."


Dari kecil, Alula memang sering memperhatikan Ibu. ketika Ibu tengah menggambar design baju, mengukur serta membuat pola baju untuk dijahit. bahkan sampai proses menjahitpun tak pernah ia lewati.


Alula mempelajari apapun yang ia lihat, dan beruntungnya ia miliki daya ingat yang kuat, serta mudah memahami sesuatu. hingga dengan mudah ia bisa menguasai teknik mendesign baju hanya dengan menggunakan pensil dan kertas, seperti yang sering ia lihat dulu.

__ADS_1


Sekarang, ia hanya tinggal mengasah kemampuannya yang lain. mengukur serta membuat sebuah pola. dan terakhir adalah menguasai mesin jahit yang dihadiahkan ayah untuknya serta teknik menjahit yang benar agar menghasilkan baju yang bagus. dan bagian yang paling sulit adalah mempraktekannya langsung. karena teori tanpa praktek tentu saja tidak akan ada hasil.


"Tapi, dari mana Ayah tahu?" Alula menatap ayah dengan rasa ingin tahu.


"Lula lupa? dulu Lula yang bilang sama Ayah." Alula mengernyitkan dahinya, mencoba mengingat perkataannya.


"Lula bilang," mata ayah nampak menerawang "Lula ingin menjadi seperti Ibu yang memberikan keindahan pada orang lain lewat karyanya."


Ah ya, sekarang ia ingat. saat itu ia tengah melihat salah seorang dari pelanggan Ibu yang merasa puas dengan jahitannya. tanpa tanggung-tanggung beliau memberikan bayaran yang lebih besar dibanding harga yang telah disepakati. 'sebagai hadiah karena telah memberikan yang saya mau. saya puas sekali'. ucapnya waktu itu.


"Ayah ingat itu?"


"Apapun yang menyangkut Lula, ayah pasti ingat. termasuk saat Lula nangis sampe lari-larian karena boneka kembar yang Lula mau sudah dibeli orang." Ayah terkekeh geli mengingat kejadian yang sudah hampir sebelas tahun berlalu.


Ingatannya kembali pada saat lalu, saat Ayah mengajaknya keluar kota untuk menemui rekan kerjanya. saat ia berjalan melewati toko boneka yang cukup besar, matanya menangkap dua buah boneka barbie yang dipajang di etalase. ia menarik celana ayah agar ayah menghentikan langkahnya.


"Ada apa nak?" tanya Ayah waktu itu.


"Lula mau itu yah," tunjuknya pada boneka yang berjejer dietalase. "bonekanya sama, kaya kembarl. nanti kasih Dwi satu yah."


"Nanti yah sayang, ayah telat. kita ketemu temen ayah dulu nanti kesini lagi yah." dengan hati dongkol Alula mengikuti langkah ayah.


Namun saat tiba ditempat pertemuan, tiba-tiba saja ayah menerima telepon yang mengabarkan bahwa rekan kerja ayah membatalkan pertemuannya dikarenakan sesuatu yang mendesak.


Ayah mengajaknya kembali ketoko boneka untuk membeli boneka yang ia mau. namun sayangnya, boneka kembar yang Alula inginkan telah dibeli oleh orang lain beberapa saat yang lalu.


Alula yang masih berusia 5 tahun saat itu menangis, bersamaan dengan hujan yang mulai turun. ia berlari menjauh dari ayah, merasa kecewa karena ayah lebih memilih menemui rekan kerjanya dulu dibanding membelikan boneka untuknya.


"Maafkan Lula ya Ayah." sesalnya "Lula egois sekali."


"Hey nak, itu sudah lama. Lula juga masih kecil." sanggah ayah "masih ompong." kemudian mereka tertawa.


Entahlah, rasanya seperti mimpi bisa kembali tertawa bahagia seperti ini bersama ayah. walaupun tanpa Ibu dan Dwi, setidaknya ia tidak sendirian. karena ayah akan selalu ada bersamanya.


.


.

__ADS_1


.


Happy readding... 😊


__ADS_2