
"Kenapa lu menyetujui perjodohan ini Gwen ?" tanya Mirza yang saat ini duduk berhadapan dengan Gweny. satu jam yang lalu, ia meminta Gweny untuk datang ke restauran yang ada didekat kantornya.
"Kamu masih bertanya?" ucap Gweny dengan dahi yang mengkerut.
"Katakan saja apa alasannya." desak Mirza dengan wajah dinginnya. tak peduli jika saat ini status mereka adalah bertunangan.
"Tentu saja karena aku menyukaimu Mir." aku Gweny terus terang "Kamu lupa itu?"
"Oh, jadi lu minta Om Handoko dan Papa menjodohkan kita?" tuduh Mirza yang kali ini menatap tajam wanita dengan rambut panjang tergerai dihadapannya.
"Hey, kamu menuduh aku meminta Papaku untuk menjodohkan kita?" Gweny mendesah tak percaya, bisa-bisanya Mirza menuduhnya seperti itu. Ia memang menyukai Mirza, tapi ia tentu tidak berani mengambil langkah seperti itu.
"Lalu siapa lagi?" Mirza tersenyum sinis.
"Aku juga gak tahu Mir. Aku juga terkejut saat Papa membicarakan tentang perjodohan ini."
"Tapi lu bisa menolak kan ?"
"Aku justru senang Mir." senyuman kini mengembang di wajah Gweny.
Bagaimana ia tak bahagia, jika ia bisa bersama dengan orang yang ia cinta. Meskipun sikap Mirza masih sama, bahkan lebih dingin, dan acuh dari sebelumnya.
"Itu artinya lu memanfaatkan situasi." Mirza berdecak kesal.
"Kenapa gak kamu saja yang menolak?" kali ini Mirza tak menjawab.
"Apa aku salah memimpikan kamu untuk jadi masa depan aku Mir?" wajah Gweny berubah sendu.
"Aku mencintaimu jauh sebelum perjodohan ini direncanakan." ujar Gweny dengan mata yang berkaca. untuk pertama kalinya ia mengungkapkan semua rasa yang mengganjal dihatinya.
"Tapi gue mencintai dia, jauh sebelum kita saling mengenal Gwen. Tiga belas tahun, bukanlah waktu yang sebentar." namun itu hanya Mirza ucapkan dalam hati.
Hening..
Hanya suara musik yang dimainkan diatas panggung kecil, mengiringi keheningan diantara mereka.
Baik Mirza maupun Gweny, keduanya nampak tak saling bicara. sibuk dengan pikiran dan perasaan masing-masing.
"Gue mau pergi." lirih Mirza setelah beberapa saat membisu.
Gweny menoleh dengan dahi yang mengkerut "Kemana?"
"Lanjutin studi diluar." jawab Mirza tanpa melirik pada Gweny, tangannya sibuk mengaduk-aduk ice lemon tea yang baru saja diantar oleh pelayan.
"Kenapa mendadak ?" dahi Gweny semakin mengkerut.
"Ya gue maunya sekarang." seperti biasa, suara Mirza terdengar dingin ditelinga Gweny.
"Kamu ... gak lagi menghindar dari aku kan Mir ?" terka Gweny tepat pada sasaran.
"Gue cuma mau studi Gwen." kilah Mirza, tak ingin membuat Gweny kecewa.
__ADS_1
"Lalu hubungan kita?"
Mirza menghela napas panjang, entah mengapa sulit sekali rasanya mengambil suatu keputusan.
"Gue cuma pergi sementara Gwen. terserah lu mau melakukan apa selama gue pergi." ujar Mirza tak peduli, namun ia justru terhenyak saat Gweny berkata,
"Aku akan tetap nunggu kamu Mir."
...****************...
"Serius lu mau pergi ?" menjadi kalimat pertama yang keluar dari mulut Marko saat Mirza membicarakan tentang rencana studinya keluar negri.
Mirza hanya mengangguk, lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur milik Marko. tubuhnya terasa lelah, setelah bekerja seharian. apalagi hati dan pikirannya yang tak henti memikirkan seseorang, yang sampai saat ini tidak diketahui keberadaannya.
"Breng sek emang kalian." gerutu Marko, ia melompat ke atas tempat tidur dimana Mirza tengah merebahkan dirinya disana.
"Habis si Martin, sekarang elu mau pergi juga ? teman macam apa lu pada." kesal Marko, lalu menimpuk wajah Mirza dengan bantal ditangannya. namun Mirza berhasil menghindar.
Diketahui Martin kini tengah melanjutkan S2 nya di negeri Jiran, Malaysia. Selain Alula, rupanya Martin juga memilih pergi. Melihat perempuan yang dicintainya bertunangan dengan sahabatnya sendiri membuatnya sulit mengendalikan diri.
"Gue titip Gweny." satu kalimat yang membuat Marko menoleh kemudian menatap Mirza yang kini kembali merebahkan tubuhnya dengan mata terpejam.
"Emang si Gweny barang apa maen titip-titipan." Marko mencibir, namun sejurus kemudian ia memandang Mirza dengan prihatin.
"Jagain dia juga ! cuma elu yang gue percaya." Mirza tak menanggapi cibiran Marko.
Sedingin apapun sikap Mirza pada Gweny, ia tetap berusaha bersikap baik. menghormati Om Handoko sebagai sahabat dekat sang Papa.
"Udah dapet izin belum dari emak lu." lanjutnya dengan wajah kesal karena Mirza terus saja bicara tanpa membuka mata.
"Nyokap pasti ngasih izin."
Menjadi anak satu-satunya membuat Mirza sering merasa ragu untuk melangkah. Mama Indri yang tidak pernah mau ditinggal sendirian, Juga Pa Sanjaya yang kini mulai mengandalkan Mirza dalam setiap pekerjaan menjadi pertimbangan lain untuk Mirza.
"Satu lagi," Mirza menjeda ucapannya.
"Kalau lu dapet kabar dari Alula, kasih tahu gue." Mirza menatap lekat Marko yang kini duduk disampingnya.
Baru kali ini Marko melihat sisi rapuh seorang Mirza. Selama berteman dengan Mirza, ia tidak pernah melihat sahabatnya berada dalam situasi yang rumit seperti ini. Ia mengerti, tidak mudah melepaskan seseorang yang dicintai dengan begitu saja, apalagi Alula adalah cinta pertamanya. Namun sekarang, Mirza dipaksa menerima kenyataan bahwa kini statusnya telah berubah.
...****************...
"Ma, Pa." sapa Mirza pada kedua orang tuanya yang berada diruang televisi. Ia yang baru saja membersihkan diri usai pulang dari rumah Marko ikut bergabung bersama orang tuanya.
"Eh Mir, sini duduk !" Mama Indri menarik tangan Mirza untuk duduk disampingnya.
"Nonton apa ?" tanya Mirza setelah mendudukkan diri disamping Mama Indri.
"Tahu nih, Mama kamu masih suka aja nonton drama kayak gini, padahal Papa ngantuk banget ini." Pa Sanjaya menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa sambil menggerutu. Kesibukan membuat tubuhnya terasa lelah, namun ia masih tetap setia menemani sang istri menonton drama kesukaannya.
"Mama kesepian tahu, biasanya ada Alula yang nemenin Mama." Mama Indri menghela napas panjang, ia jelas merasa kehilangan Alula. si gadis ceria yang selalu membuatnya tertawa.
__ADS_1
"Pa, apa belum ada kabar dari mereka ?" Mama Indri menggoyangkan bahu Pa Sanjaya yang hampir saja terlelap.
Pa Sanjaya hanya menggelengkan kepalanya.
"Anak buah Papa belum ada yang berhasil menemukan mereka."
Rupanya Alula maupun Pa Abhi benar-benar memutuskan kontak dengan semua orang. bahkan Pa Sanjaya sampai heran, mengapa mantan supir sekaligus mantan asisten pribadinya melakukan hal itu.
Membahas masalah Alula, tiba-tiba saja wajah Mirza terlihat muram.
"Ma, Pa .. Emir mau ambil studi di Oxford." kalimat Mirza membuat Pa Sanjaya dan Mama Indri saling melempar pandang.
"Ko mendadak ?" tanya Pa Sanjaya dengan dahi yang mengkerut.
"Terus Mama sama siapa?" mata Mama Indri mulai berkaca, entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa gampang sekali mengeluarkan air mata. pasalnya, baru saja ia kehilangan seseorang yang dianggapnya sebagai anak, lalu sekarang anak kandungnya sendiri akan meninggalkannya.
"Emir janji gak akan lama," Mirza menatap kedua orang tuanya dengan tatapan mohon.
"Emir akan menyelesaikan pendidikan Emir dengan cepat." lanjut Mirza. ia menggenggam erat tangan Mama Indri, meyakinkan wanita yang masih terlihat cantik diusianya itu bahwa ia akan menyelesaikan kuliahnya dengan cepat.
"Gweny tahu?" Pa Sanjaya justru mengkhawatirkan Gweny. Bukan tanpa sebab, selama ini Ia menilai Mirza dan Gweny, keduanya masih sama-sama kaku. seperti dua orang yang tidak saling mengenal, padahal keduanya adalah pasangan yang sudah bertunangan.
"Gweny tahu." ulang Mirza "Dia setuju." ia menatap kesembarang arah.
"Mir, Mama gak mau kamu pergi." mata sendu Mama Indri membuat Mirza tak enak hati.
"Ma, sekali saja Emir mohon. Biarkan Emir memilih jalan hidup Emir." ada rasa perih yang Mirza rasakan saat mengatakan hal itu.
Selama ini, ia selalu menjadi anak yang penurut. apapun akan ia lakukan demi membahagiakan kedua orang tuanya. termasuk bersedia bertunangan dengan Gweny, wanita yang bahkan tidak ia sukai. Namun kali ini, ia ingin bersikap egois.
"Ya sudah lah Ma, toh si Emir juga sudah dewasa." Pa Sanjaya merengkuh bahu Mama Indri dan mengusapnya dengan penuh kelembutan.
Mirza merebahkan dirinya diatas sofa yang berada diluar balkon kamarnya. ia lega, akhirnya Mama Indri mengizinkannya untuk melanjutkan studi diluar negri.
Sebenarnya bukan hanya itu alasannya pergi, Mirza hanya ingin menenangkan diri. memberikan ruang pada hatinya yang kini sudah telanjur nyeri.
Ia tidak marah, ia hanya kecewa pada keadaan. pada waktu yang tak membiarkannya mengetahui kenyataan lebih awal.
Keberadaan Alula kini bagaikan titik terang yang perlahan mulai memudar, bahkan berubah menjadi cahaya yang semakin gelap tak terlihat.
Jika Gweny adalah akhir dari perjalanan cintanya, maka ia harus mulai menerima. namun tidak semudah itu, ia perlu waktu untuk menata ulang hatinya. membiarkan bayangan Alula pergi dengan sedirinya, meski ia tak yakin akan mampu melakukannya.
.
.
.
Happy Reading 😊
Mohon maaf otor semakin lama Up nya. semoga readers tetap setia menunggu kabar Dedek Lula.
__ADS_1
Jangan lupa like, comment and votenya ... 🤭👍