Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Ketahuan Mencuri


__ADS_3

Mirza POV


Pagi-pagi sekali aku turun kedapur untuk mencari sesuatu yang bisa ku makan, entah kenapa cacing-cacing diperut meminta jatah sepagi ini. bahkan meminum banyak airpun rasanya masih kurang.


"Lah, den Emir sudah bangun? mau sarapan sekarang? Mbak belum selesai masak Den, masih ngiris-ngiris ini." Ucap Mbak Sri sambil mengangkat pisau ditangan kanannya ke arah ku.


"Ampuun mbak, jangan bunuh aku." selorohku pada Mbak Sri, yang berhasil membuat Mbak Sri tergelak.


"Duhh engga Den. Maaf ya Den, maaf." Mbak Sri segera menurunkan tangannya dan mengangguk-anggukan kepalanya setengah menunduk.


Aku tertawa melihat wajah Mbak Sri yang mendadak cemas. "Gak apa-apa mbak,cuma becanda." jawabku sambil mengambil roti tawar yang berada diatas meja, lalu mengolesnya dengan slai cokelat.


"Mau dibuatin sesuatu dulu mungkin Den?" tawar Mbak Sri ketika melihatku hanya memakan roti.


"Gak usah Mbak, ini aja cukup buat ganjal perut." ucapku dengan mulut yang tak berhenti mengunyah.


"Eh susu boleh deh mbak." Mbak Sri mengangguk-anggukan kepalanya.


Mungkin efek obat penambah nafsu makan yang kemarin Dokter Iwan kasih, hingga pagi-pagi sekali perutku terasa perih.


Ketika tengah asik menikmati roti selai cokelat buatan sendiri, tiba-tiba ponselku bergetar.


Drrttt Drrttt Drttt


Tertanda pesan masuk dari grup chat berisikan aku, Marko dan Martin. yahh, jika sudah begini pasti ada suatu hal yang terjadi. karena setahuku Martin kini sedang menginap dirumah Marko.


Martin : Ini anak sultan satu, kemaren kenapa gak masuk kelas woyyy..


Marko : Tau ! nyampe gebetan gue juga nanyain dia. sialan emang!


Aku terkekeh membaca chat mereka, sebelum kemudian mengetik..


Mirza : bisa-bisanya chatingan, padahal lagi barengan.


Marko : lagi di toilet, si ntin lagi di dapur.


Martin : Bisa ngga sih lo gak ngomongin toilet, gue lagi makan Pe a !


Mirza : tau ! gue juga lagi sarapan.


Marko : bagus dong, biar makin sadaaap... hahaha


Martin : Lo balik gue jitak ya! sialan.

__ADS_1


Aku tertawa-tawa melihat obrolan mereka. sungguh teman yang.. sengklek. dan aku sampai tak sadar ketika Mama datang dan duduk dihadapanku.


"Efek obat dari Dokter Iwan bikin otak kamu eror Mir?" Mama memandangku penuh selidik.


"Sepagi ini udah didapur, mana seuseurian sorangan ( ketawa-tawa sendirian) .ih jadi sieun (takut) Mama da."lanjutnya.


"Enak aja, engga lah Ma. ini Emir lagi baca chatingan anak-anak" ucapku dengan mengangkat handphone ke arah Mama. enak saja dia bilang eror.


"Ya lagian kamu, pagi-pagi begini tumbenan udah bangun. biasanya belum bangun kalo belum denger teriakan Mama." gerutunya, sambil meraih selembar roti tawar. dan yahh.. memang, suara Mamaku ini sangat merdu jika sedang membangunkanku, saking merdunya kaca jendela sampai bergetar.


"Laper Ma." jawabku santai. Mama hanya diam lalu mengangkat bahunya.


Tiba-tiba saja aku teringat pada gadis yang kemarin ku bawa kerumah. siapa namanya? ah iya, Alula.


"Ma.. " panggil ku pada Mama dan seketika Mama langsung menoleh.


"Ya?" jawabnya.


"Cewek yang kemaren"


"Cewek? yang mana? " dahi Mama mengernyit.


Nih emak-emak lupa, apa pura-pura lupa sih.


"Yang mana? anak tetangga sebelah?" sementara tangannya dengan lihai mengoles roti dengan selai kacang.


Ya elahhh sengaja banget ini mah.


"Mama ih, Emir seriusan. yang kemaren Emir bawa kesini ituloh. "


"Ya, kenapa dia?" Kini Mama sedang menumpuk roti satu dengan yang roti yang lain.


Sumpah deh ni emak-emak ngeselin.


"Bilang aja, 'Mah cewek cantik yang kemaren Emir bawa kerumah sekarang dimana?' gitu langsung, kalo penasaran tuh langsung tanyain."


"Mama ni apaan sih." sergahku.


"Dia dibawa sama Pa Abhi, tinggal di paviliun belakang." jawab Mama santai sambil memakan roti isi selai kacang yang baru dibuatnya.


"Oh.. " aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku. entah kenapa lega rasanya. ternyata keputusanku membawanya kerumah adalah keputusan yang benar. benar-benar yang sebenar-benarnya. apaan sih...


"Udah gitu aja?" dahi Mama mengernyit demi mendengar jawabanku.

__ADS_1


Aku menggeleng "Emir gak nyangka dia anaknya Pa Abhi, Ma."


"Baik-baik sama dia yah ! kalo bisa bujukin biar Lula tinggal disini."


"Ko' Emir?" tanyaku, benar-benar tak mengerti.


"Ya kamulah. deketin Lula ! yah minimal kamu bisa jadi teman yang baik buat Lula. atau Kakak? yah Kakak. bilang kalo kamu pengen punya Adek baru." Mata Mama berbinar seakan menemukan ide yang briliant. hmmm..


"Mama kangen Inara?" tiba-tiba saja pertanyaan itu terlantar dari mulutku yang tak bergembok ini. demi melihat ekspresi Mama yang antusias mengajak gadis itu tinggal disini. padahal dia tinggal di belakang rumah, apa bedanya.


"Emm.. Dari pertama Mama liat dia, Mama langsung inget sama Inara. dia seumuran sama Adekmu." air wajah Mama kini berubah sendu. Aku jadi menyesal sudah bertanya seperti itu.


"Maaf Ma, gak seharusnya Emir bahas Inara. Mama jadi sedih lagi kan. " dan aku sungguh-sungguh menyesal.


"Gak apa-apa, kan udah ada Alula sekarang." aku senang melihat wajah sendu Mama berganti dengan senyuman Mama yang semakin mengembang.


Perempuan seperti apa sebenarnya Alula ini. kenapa Mama langsung suka aja sama dia.


"Papa mana Ma?" tanyaku pada Mama karena tak menemukan Papa dari tadi.


"Masih mandi dikamar, lagian Papamu suka lamaaa kalo dandan. udah kayak perawan." Mama menggerutu. Aku hanya terkekeh mendengarnya.


Aku meninggalkan Mama yang masih duduk dimeja makan. setelah roti dan susuku habis, Aku memilih pergi ke kamar. untuk apa? Yaa rebahan time. kepalaku masih terasa pusing akibat demam kemarin. dan hari ini aku memilih bolos kuliah lagi. namun sebelum menuju benda yang menurutku memiliki gaya tarik gravitasi yang kuat, apalagi kalo bukan kasur? hehee.


Aku menyibakkan kain gorden yang menutupi kaca jendela, agar cahaya matahari masuk menghangatkan tubuhku diatas benda yang memiliki gaya gravitasi kuat itu. dan Aku membuka pintu balkon agar oksigen pagi ini masuk menggantikan karbondioksida didalam kamarku.


Balkon dikamarku memang terletak dibagian belakang rumah. dari atas sini, Aku bisa melihat secara jelas halaman belakang rumah yang dominan bernuansa asri. dimana tanaman bunga milik Mama yang berjejer disana. termasuk dua Paviliun bergaya etnik, kolam ikan, kolam renang dan sebuah Gazebo.


Namun setelah berhasil membuka pintu balkon, ada sesuatu yang lebih menarik perhatianku dari pada benda bergaya gravitasi kuat itu. seketika aku tertegun melihat pemandangan didepanku.


Seorang gadis sedang menangis tersedu-sedu dalam pelukan seorang pria paruh baya. siapa lagi? Yah gadis itu, Alula.


Entah kehidupan macam apa yang dijalaninya tanpa seorang Ayah, Ibu, bahkan Saudara. Aku sampai tak kuasa melihat dia menangis histeris kemarin. Aku benar-benar tidak pernah tega melihat seorang perempuan menangis.


Aku terus menatap aktivitas mereka, ketika gadis itu menggenggam tangan Pa Abhi, ketika mereka saling berpelukan, ketika Pa Abhi meraup wajah gadis itu, bahkan ketika gadis itu menoleh ke arahku. wait! dia sedang menatapku. gadis itu langsung memalingkan wajah ketika tatapan kami saling bertemu. seketika wajahku memerah menahan malu. sungguh, Aku merasa sedang ditelan jangi, seperti ketahuan sedang mencuri.


.


.


.


Happy readdinggg.. 😊

__ADS_1


__ADS_2