
Mirza POV
Selama ini, aku selalu menuruti apapun yang Papa dan Mama mau, terutama Mama. karena melihat Mama tersenyum bahagia merupakan kebanggaan tersendiri untukku.
Aku adalah satu-satunya anak mereka, jika bukan aku yang membahagiakan mereka, lalu siapa lagi ? tidak mungkin anak tetangga yang lewat depan rumah kan.
Tapi setelah kehadiaran Alula dirumah ini, Mama semakin banyak tersenyum dan tertawa. bahkan tak jarang aku melihat Mama terbahak-bahak sambil sesekali berlari ke kamar mandi. mungkin saking serunya tertawa, Mama jadi buang air terus.
Anak itu seperti memiliki kelebihan tersendiri bagi Mama, lega rasanya melihat Mama sebahagia itu.
Aku tahu, Mama menyayangi Alula sama seperti Mama menyayangi aku. kupikir, kehadiran Alula disini sudah cukup melengkapi kebahagiaan Mama.
Tapi ternyata aku salah, terlebih saat Mama tiba-tiba masuk kedalam kamar lalu mengusap pelan bahuku. Mama duduk disampingku yang saat itu tengah asik bermain game.
"Mir .. " panggil Mama, aku menoleh pada Mama yang tengah menatap lembut padaku.
Tatapan mata yang selalu membuat aku merasa disayangi dan dicintai. ah Mama, meskipun terkadang bawelnya minta ampun, tapi kasih sayangnya melebihi apapun.
"Kenapa Ma ?" jawabku singkat.
"Kamu sudah memikirkan perkataan Papa ?"
"Eh awas mati lu, mati kan." aku tetap fokus pada game yang ku mainkan didalam handphone.
"Mir," aku menoleh melihat wajah protes Mama dengan mata yang menatap tajam padaku, karena aku masih fokus pada handphoneku.
"Yang mana ?" aku pura-pura lupa, walaupun sebenarnya berputar-putar diotakku. sudah ku pastikan Mama akan membahas masalah perjodohan itu.
Aku tidak mengerti, apa maksud Papa menjodohkan aku dengan Gweny hanya karena Om Handoko teman baik Papa? lalu dengan seenaknya Papa menjodohkan aku dengan Gweny.
Apakah tidak ada cara lain untuk mempererat persahabatan mereka, selain menjodohkan aku dan Gweny.
Aku menghela napas panjang, merasa heran mengapa Papa begitu mudahnya memutuskan sesuatu tanpa sepengetahuanku.
Dimana letak keadilan sosial bagi seluruh anak indonesia.
Mama merebut handphone ditanganku.
"Kamu jangan pura-pula lupa."
"Ma," belum sempat aku bicara, Mama sudah memotong ucapanku.
"Mir, dengarkan Mama !" Aku menurut, diam saja mendengarkan semua yang akan Mama katakan.
"Mama lihat Gweny itu perempuan yang baik, benar apa yang adek kamu bilang."
Memangnya apa saja yang dia katakan ? anak itu, awas saja kalau ngomong macam-macam lagi.
__ADS_1
"Gweny cantik, anggun, dan Mama lihat dia juga perempuan yang pintar dan sopan. apa lagi yang mau kamu cari ?"
Mama jelas memang bukan tipekal ibu-ibu yang mencari pasangan yang sepadan. Mama hanya melihat kepribadiannya, luar dan dalamnya saja. masalah materi, jelas keluarga kami tidak akan mempermasalahkannya.
"Tapi Ma," namun lagi-lagi Mama memotong ucapanku.
"Kamu lihat gak sih Mir, Papa tuh kelihatan punya beban. kelihatan merasa bersalah. tapi Mama gak tahu, Papa punya masalah apa sama Om Handoko."
"Sekali ini saja, Mama minta tolong sama kamu. turutin apa yang Papa kamu minta Mir."
Aku menatap tak percaya pada Mama, yang kini memasang wajah memohon. Mama kalau ada maunya selalu memasang wajah seperti itu, membuatku tidak tega untuk menolak.
"Apa Emir gak bisa menolak ?" Aku terpaksa mengajukan keberatan, karena memang aku tidak mau dijodohkan. lagi pula ini bukan jamannya Siti Nurbaya kan.
"Alasannya ? apa kamu sudah punya perasaan pada perempuan lain ?"
Aku terdiam, 'perasaan lain' seperti apa yang Mama maksud.
selama ini aku hanya dekat dengan Alula, tidak ada perempuan yang lain.
Dan aku merasa nyaman, aku merasa bahagia ketika aku melihat gadis itu tersenyum. bukankah itu hal yang wajar untuk seorang laki-laki?
Tiba-tiba saja sudut bibirku tertarik, entah mengapa bayangan wajah Alula melintas begitu saja.
"Jawab, kamu malah senyam senyum. Mama tuh jadi curiga, apa jangan-jangan kamu udah punya pacar?" Mama malah menuduhku, mana mungkin.
"Kalau gitu , apa kamu pacaran sama adek kamu ?" Mama malah semakin melantur.
"Mama ini apaan sih Ma, Mana ada abang pacaran sama adek sendiri." kilahku, membuat Mama terdiam.
"Iya juga sih," gumamnya "Tapi Mama sih berharapnya kamu jatuh cinta tuh sama adek kamu." Mama malah tertawa, dia pikir lucu apa. aku hanya berdengus kesal.
"Udah ah, Mama tidur aja. indikasi kurang pelukan dari Papa ini." Mama malah semakin tergelak. hmm menyebalkan.
"Tapi Mama serius sekarang." tiba-tiba wajah Mama kembali serius.
"Mir, gak ada salahnya mencoba hubungan dengan seseorang. ini kan baru rencana Papa untuk menjodohkan kamu sama Gweny." Mama mengusap-usap lenganku, terasa menenangkan.
"Kalau kamu gak suka, yah gak apa-apa. kamu bilang baik-baik sama Papa, jangan sampai kamu mengecewakan Papa."
"Tapi .. gak ada salahnya kan mencoba sesuatu yang belum pernah kamu lakukan."
"Pacaran misalnya." Mama menatapku dengan tatapan yang tak terbaca.
"Mama ini lagi nasehatin, apa lagi ngejek Emir sih ? pake bilang belum pernah pacaran lagi." aku menggerutu, merasa tersindir dengan ucapan Mama.
Mama malah terkikik, lalu menoyor kepalaku.
__ADS_1
"Lah emang kapan kamu pernah pacaran, kang semir ?"
Aku hanya melirik sekilas lalu menatap kesembarang arah. yah, Mama memang benar, selama ini ku memang tidak pernah memiliki kekasih. entahlah, rasanya malas untuk berdekatan dengan perempuan lain.
Tapi, bukan hanya itu alasannya. sebenarnya, aku telah berjanji pada seseorang dimasa lalu. aku telah berjanji akan menemuinya lagi, asalkan dia juga menepati janji dengan menjaga sesuatu yang aku berikan kepadanya.
Rain ... entah dimana dia sekarang. apakah gadis kecil itu masih mengingatku, apa dia masih menyimpan pemberian dariku.
Aku menghela napas panjang.
Ingin sekali rasanya mencari keberadaanya, tapi tanpa jejak apapun semuanya akan terasa hampa.
"Apa Mama akan senang kalau Emir setuju ?" tiba-tiba pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulutku.
Mama terdiam, seperti ragu untuk berkata sesuatu. aku meraih tangan Mama yang terasa hangat, lalu menggenggamnya dengan erat.
"Apapun yang membuat Mama senang, Emir akan melakukannya." aku menatap dalam manik mata hitam milik Mama, terasa hangat, karena tiba-tiba saja Mama tersenyum lalu mengusap bahuku dengan lembut.
"Mir," Mama menatapku dengan lekat
"Ma ... Emir akan mencobanya Ma, menjalani sebuah hubungan dengan Gweny. demi Mama, asalkan Mama bahagia."
"Mir," Mata Mama mulai berkaca-kaca, aku terharu melihatnya.
"Emir gak merasa dipaksa ko' Ma, Mama jangan merasa bersalah sama Emir."
"Bukan gitu Mir," Mama terlihat mencoba ingin melepaskan genggaman tanganku.
"Kenapa Ma ?"
"Mama lupa, Mama lagi masak air buat bikinin Papa kopi." Mama meloncat dari tempat tidur, ia terlihat panik.
"Ya ampun Emirrrr .... gara-gara kamu ini mah ya, kalau sampai rumah kebakaran." teriak Mama sambil berlalu pergi leluar dari kamar.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala, Mama tak pernah berubah, selalu saja seperti itu.
Apakah keputusanku untuk menjalani hubungan dengan Gweny adalah keputusan yang tepat ? aku tidak tahu akan seperti apa kedepannya. semoga saja ini adalah keputusan yang terbaik.
.
.
.
Happy Reading.... 😊
Jangan pada julid yah abis ini, relakan saja. 😅
__ADS_1
Jangan lupa like and commentny yah ! 👍