Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Will You Marry Me?


__ADS_3

"Dia hanya takut untuk memulainya, Bang."


Mirza menatap pria yang saat ini mengenakan kemeja hitam lengan panjang dihadapannya. Jas putih yang tersampir juga tas kulit berwarna hitam yang tersimpan di kursi yang kosong di sebelahnya, menandakan pria itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya.


"Percayalah, dia masih dan hanya mencintai Abang," lanjut pria berkemeja hitam itu setelah meminum ice lemon tea yang dipesannya. Entah mengapa, udara mendadak terasa panas hingga pria itu butuh sesuatu yang dingin untuk menyejukkan tubuhnya. Terutama ... hatinya.


"Seberapa keras saya mencoba masuk ke dalam hatinya, semua berakhir dengan penolakan. Ya ... Memang tidak secara langsung, tapi dari sikapnya seolah menunjukkan ketidak tertarikan." Dito, pria berkemeja hitam itu tersenyum miris.


Mirza dan Dito kini tengah berada di dalam sebuah kafe, keduanya tak sengaja bertemu saat Mirza baru saja menyelesaikan sesi meetingnya bersama salah satu rekan bisnisnya di kafe tersebut.


Entah ada angin apa, seorang Mirza bisa duduk dan mengobrol dengan santai bersama seorang pria yang ia tahu tengah dekat dengan perempuan yang dicintainya.


"Saya ragu, apa ucapanmu itu benar? setelah kemarin saya menyaksikan kedekatan kamu dengan Shaki, anak saya. Saya pikir, ada hubungan spesial diantara kalian."


Lagi-lagi Dito tersenyum miris, "Mungkin Shaki sudah menganggapku sebagai sosok seorang Ayah, tapi Alula tidak. Dia memberi batasan yang cukup tinggi, hingga saya sulit untuk menggapainya."


Dito terdiam, sebelum kembali berkata, "Dia pernah terluka, sangat parah. Dan mungkin itulah yang menjadi alasan untuknya menutup diri."


"Dan setelah saya melihat Abang kembali, saya menjadi yakin, jika orang yang bisa menyembuhkan lukanya adalah orang yang membuatnya terluka."


Mirza hanya diam, mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh Dito. Ya ... benar, dialah yang menciptakan luka yang paling parah untuk Alula. Mirza tahu, ada traumatik yang Alula alami dalam hidupnya, mengingat perempuan itu pernah mengalami kekerasan dan percobaan pemerkosaan di masa lalunya. Lalu Mirza datang dan menambah parah rasa trauma itu.


Lalu sekarang, apakah benar Mirza bisa membuat Alula sembuh dari lukanya?


"Kenapa kamu bisa yakin, jika Alula akan lebih baik jika bersamaku?"


"Abang adalah orang yang dicintainya."


"Ck," Mirza berdecak. "Tahu dari mana kamu?" Mirza melirik malas pada Dito.


"Dari cara dia memandang Abang, dari cara dia memperlakukan Abang, dan dari cara dia berbicara tentang Abang. Dia tidak akan begitu saja memaafkan Abang, jika dia tidak mencintai Abang."


Tidak, Alula adalah perempuan yang berhati baik, dan pemaaf. Sekalipun Leon yang dulu pernah melukainya, Alula bisa memaafkan pria itu. Dan tentu saja Alula juga akan memaafkan Mirza, bukan?


Tapi, apakah Mirza boleh senang jika apa yang dikatakan oleh Dito memang benar? jika Alula masih mencintainya, bolehkan dia berjuang untuk mendapatkannya lagi?


"Lalu, bagaimana dengan perasaanmu?" Mirza menatap tajam pria di seberang mejanya, menunggu jawaban Dito. Apakah pria itu akan mempertahankan dan memperjuangkan cintanya pada Alula, atau justru akan mengalah pada Mirza.

__ADS_1


"Aku akan sangat bahagia, jika dia benar-benar bahagia."


"Dia perempuan yang kuat, dia mampu menyembunyikan lukanya sendirian. Dia berjuang sangat keras untuk bangkit, demi Shaki, juga demi merawat Ayah Abhi."


"Sudah saatnya dia bahagia, untuk dirinya sendiri Bang."


...****************...


"Dia benar-benar menyesal dan ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya ke kamu, La. Apa kamu masih meragukan itu?"


"Aku bukannya belain Bang Emir yah, sorry. Mending aku dukung Bang Dito. Tapi, lihat sikap kamu yang biasa-biasa aja ke Bang Dito, kok aku jadi greget yah. Mau kamu sebenarnya apa?" tanya Marsha. Perempuan itu sampai menenggak habis air minum di genggaman tangannya.


"Aku tahu La, kamu itu masih cinta sama Bang Emir," cetusnya.


"Sa—,"


"Kamu lihat Shaki, kamu lihat Shaka! mereka butuh orang tua yang utuh. Kamu gak capek nyari alasan setiap kali Shaka atau Shaki nanya, kenapa mereka gak bisa tinggal serumah sama kedua orang tuanya?"


"Udah deh La, saatnya kamu bahagia."


"Aku udah cukup bahagia saat ini, Sa." Meskipun terkadang Alula merasa lelah sendirian, dan membutuhkan seseorang untuk berbagi keluh kesahnya.


Alula tersentak, ucapan Marsha waktu itu cukup terngiang-ngiang dan menggoyahkan hatinya. Sampai kapan ia akan tetap bertahan hidup sendirian? pura-pura kuat dalam memainkan perannya sebagai Ibu juga Ayah yang baik untuk anak-anaknya. Lalu, bolehkah saat ini Alula merasa capek dan menyerah saja?


Sudah beberapa hari, sejak pertemuan Mirza dan Dito di rumahnya waktu itu, Mirza tak lagi datang untuk menjemput atau mengantarkan Shaka dan Shaki. Kedua anak kembar itu hanya diantar oleh supir, atau bahkan oleh Mama Indri. Ada apa dengan Mirza, apakah pria itu benar-benar marah dan cemburu pada Alula?


Suara dering ponsel membuat Alula tersadar dari lamunannya, ia meraih benda pipih yang tersimpan di atas nakas. Alula segera menggeser layar ketika nama Mama Indri tertera di layar ponsel.


"Hallo, Ma?" sapa Alula ketika panggilan itu terhubung.


"Nanti malam datang ke kafe ya! ada acara makan malam keluarga. Habis ini, Mama kirim alamatnya."


"Oh, iya Ma."


"Shaka dan Shaki berangkat sama Mama. Oh iya, jangan lupa dandan yang cantik!"


Tak lama setelah panggilan itu terputus, Alula menerima pesan berupa alamat sebuah kafe dari Mama Indri. Masih ada waktu untuknya bersiap sebelum pergi ke kafe yang di maksud oleh Mama Indri. Alula menyiapkan sebuah midi dress berwarna peach —salah satu hasil desainnya sendiri, untuk ia pakai nanti malam.

__ADS_1


Tepat pukul 19.00 Alula berangkat dengan mengemudikan mobilnya sendiri. Ayah Abhi juga Ibu Indah tidak ada di rumah, padahal ia ingin sekali mengajak mereka untuk hadir pada acara keluarga ini, meskipun hanya sebuah acara makan malam.


Hampir tiga puluh menit berkendara, Alula sampai di halaman sebuah kafe yang cukup familiar untuknya. Ia melihat suasana kafe cukup sepi, hanya terlihat berapa mobil saja terparkir di sana, dan itupun Alula sangat mengenali siapa pemiliknya.


Dengan langkah cepat, Alula masuk ke dalam kafe. salah seorang pegawai kafe menyambutnya dengan ramah.


"Ini kenapa sepi ya, Mbak?" tanyanya pada pegawai itu.


"Iya, sudah dibooking Bu, makanya kami tidak menerima tamu lain." Pegawai itu mempersilahkan Alula untuk mengikutinya, membawa Alula pergi menuju ke roptoop yang berada di lantai dua.


Langkah Alula terhenti tepat di pintu keluar menuju roptoop, Ia menyapu pandangannya ke seluruh kafe yang dihias begitu cantik dan juga aestetik. Terdapat beberapa hiasan bunga kering, juga lampu-lampu kecil yang berkelap-kelip hingga menambah suasana romantis malam itu.


"Ada apa ini? bukankah ini hanya makan malam biasa?" batinnya bertanya-tanya.


Di sana, Alula juga melihat sebuah meja besar yang dihiasi berbagai macam bunga hidup, lilin-lilin hias dengan berbagai bentuk dan ukuran, juga beberapa jenis makanan yang terhidang di sana.


Alula tersenyum saat ia melihat orang-orang yang dikenalnya sudah duduk dan berkumpul di sana; Pa Sanjaya, Mama Indri, Ayah Abhi dan Ibu Indah yang juga hadir di sana. Kenapa Ayah dan Ibu Indah tidak memberi tahu dirinya kalau akan datang juga?


Saat Alula akan melangkah, ia di kejutkan dengan kedatangan Shaka dan Shaki yang entah datang dari mana, karena tiba-tiba saja kedua anak itu sudah ada di hadapannya. Kedua anak kembar itu datang dengan membawa masing-masing satu buah buket bunga mawar merah.


Alula tersenyum senang, melihat penampilan kedua putranya. Shaka dan Shaki terlihat begitu gagah dengan mengenakan kemeja putih berbalut vest berwarna hitam, dasi kupu-kupu bertengger di bagian leher keduanya.


Alula menerima kedua buket bunga itu, lalu mencium puncak kepala kedua putranya. Tak hanya Itu, Shaka memberikan satu buah kotak kecil pada Alula.


Dengan dahi yang mengernyit, Alula menerima lalu kemudian membuka kotak kecil itu. Terdapat secarik kertas berwarna merah muda di sana, lalu ia membaca tulisan di secarik kertas itu.


"Will you marry me?"


"Will you marry me?" ucapnya bersamaan dengan seseorang yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapannya.


"Abang?"


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading 🙂


__ADS_2