
"Hey, kenapa kamu sama denganku?" Shaka berlari menghampiri anak kecil yang tengah bercanda dengan seorang perempuan dan seorang pria. Sedangkan satu perempuan lainnya tengah memesan makanan.
"Shaka!" teriak Mirza, lalu mengejar Shaka.
"Hey, kamu siapa?" Shaka menarik tangan anak kecil itu. Mereka saling berhadapan, namun sama-sama saling diam. Saling meneliti satu sama lain, mengapa wajah mereka begitu sama?
"Maaf Dekβ." Perempuan yang tengah bercanda dengan anak kecil itu cukup terkejut dengan kedatangan Shaka, lebih terkejut lagi ketika ia melihat Mirza ada di sana. "A-Abang," ucapnya dengan terbata. Mirza hanya diam, tatapan matanya begitu tajam namun terpancar kerinduan pada perempuan itu.
"Gue gak ikutan, Mir," ucap Marko, pria itu hanya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
Perhatian Mirza teralihkan pada Shaka yang terus menarik bajunya sambil berkata, "Papa, kenapa dia sama denganku?"
Dan anak kecil itu juga terlihat menarik-narik tangan perempuan dihadapan Mirza, "Siapa dia Ma?" tanyanya pada perempuan itu.
Lagi-lagi Mirza hanya diam, ia kembali menatap perempuan itu. Seolah meminta jawaban atas apa yang anak-anak itu tanyakan.
"Kiki sayang ... ice creamnya dataang." Suara cempreng perempuan yang tengah membawa dua corn ice cream itu mengalihkan perhatian mereka.
"Bang Emir?" pekik Marsha. Ia buru-buru berjalan mendekati Alula dan berdiri dibelakang punggungnya.
"Sa, Bang Marko, bisa bawa anak-anak pergi dulu?" pinta Alula.
Dengan gugup Marsha menurut, ia mengajak Shaki untuk ikut dengannya. Sementara Marko, menggendong Shaka ketika anak itu lengah, "Shaka, ikut Om!" seru Marko sambil berjalan menuju meja yang kosong.
"Om, dia siapa Om? kenapa Om jalan-jalan sama dia, kenapa gak sama Shaka!" sepanjang jalan Shaka terus saja berceloteh, dan Marko mencoba menenangkannya.
Setelah kepergian Marsha, Marko, Shaka dan Shaki. Alula menyuruh Mirza untuk duduk bersamanya.
"A-Abang, duduk dulu!" seru Alula dengan gugup Mirza menurut, raut wajahnya sulit untuk dimengerti.
"Bisa jelaskan semuanya?" suara dingin itu terdengar mengerikan di telinga Alula.
"Abang?" Mirza mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Perasaannya sedang tidak baik-baik saja saat ini, banyak pertanyaan yang bermunculan dipikirannya.
Kemana saja perempuan yang dicintainya itu pergi selama ini? Apa saja yang dilaluinya selama empat tahun terakhir? Dan yang paling penting adalah siapa anak kecil itu, mengapa wajahnya mirip sekali dengan Shaka?
...****************...
__ADS_1
Empat tahun berlalu begitu sulit untuk Alula. Sejak malam itu, ia berusaha berdamai dengan dirinya sendiri, meski tak bisa dipungkiri ia begitu takut jika sesuatu akan terjadi di masa depan. Tetapi, ia juga tidak bisa kembali untuk mencari Mirza, mengingat pria itu sudah bertunangan dengan perempuan lain.
Dua bulan berlalu, Alula merasa ada yang berbeda dengan dirinya. Ia merasa napsu makannya meningkatkan berkali lipat. Padahal, ia sangat menjaga pola makannya agar bentuk tubuhnya juga selalu terjaga.
Tak hanya itu, Alula merasa ia sering sekali merindukan Mirza. Rasanya, ingin selalu berada di dekat pria itu. Padahal, ia hampir saja melupakan pria itu. Dan yang paling membuatnya merasa tidak nyaman adalah, siklus haidnya yang tidak teratur. Padahal, sebelumnya selalu tepat waktu.
Sebenarnya, Alula takut untuk memeriksakan keadaannya. Namun, rasa penasaran yang memenuhi pikiran mengalahkan rasa takutnya. Akhirnya ia membeli tiga buah alat test kehamilan di apotek, dengan takut ia gunakan alat itu di pagi hari.
Alula merasa seluruh tubuhnya melemas. Bahkan, rasanya tak ada tulang yang menopang tubuhnya, saat ia melihat ketiga alat test kehamilan itu menunjukkan tanda merah garis dua.
"Apa yang harus kulakukan?" ucapnya lirih, tubuhnya seketika ambruk, terduduk di dalam kamar mandi.
Perasaan takut, menyesal, juga bingung ia rasakan saat itu juga.
Tanpa pikir panjang, siang itu Alula pergi ke rumah sakit untuk memastikan sekali lagi bahwa apa yang ia lihat itu adalah salah. Namun, ia benar-benar sadar saat dokter kandungan melakukan USG pada dirinya.
Keesokan harinya Alula pergi ke Jakarta dengan alasan bertemu dengan Marsha. Ayah yang saat itu tengah sibuk dengan pekerjaannya tidak menaruh curiga sedikitpun. Karena Alula memang sering menemui Marsha meski kini tempat tinggal mereka berjauhan.
Hampir dua jam perjalanan Alula lalui untuk sampai di rumah besar milik Keluarga Sanjaya itu. Namun, tiba-tiba tubuh Alula mematung saat melihat deretan rangkaian bunga terpajang di sepanjang jalan menuju rumah itu. 'Happy Wedding Gweny dan Mirza' , begitu tulisan yang Alula baca dari deretan rangkaian bunga tersebut.
Alula semakin kalut, bahkan kali ini dunianya terasa semakin berkabut. Apa yang harus ia lakukan? sedangkan pria yang harusnya bertanggung jawab sudah menikahi wanita lain.
Di tengah kekalutan, takdir membuat Alula bertemu dengan Marsha juga Dito. Dokter muda yang gagah dan tampan itu akhirnya mengetahui jika Alula kini tengah berbadan dua. Marsha cukup terkejut mendengarnya, pasalnya ia tahu jika Alula tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun.
Kabar duka yang Alula dapat dari Tata juga Jeni semakin membuatnya terpuruk. Mereka mengatakan bahwa Ayah Abhi jatuh pingsan setelah tak sengaja menemukan satu alat test kehamilan yang tertinggal di kamar mandi putri semata wayangnya.
Tata dan Jeni yang tinggal bersama Alula, langsung membawa Ayah Abhi ke rumah sakit. Akibat dari keterkejutan juga sebuah benturan yang cukup keras, akhirnya Ayah Abhi menderita stroke.
Alula merasa bersalah pada Ayah, ia merasa telah menjadi anak yang tidak berguna. Alula dan Ayah kembali pindah ke Jakarta untuk melakukan pengobatan, mereka tinggal bersama Ibu Indah di rumah singgah. Sedangkan Jeni dan Tata tetap di sana, mengurus butik milik Alula.
Empat bulan berlalu, Alula tak sengaja kembali bertemu dengan Gweny. Perempuan itu menangis dalam pelukan Alula.
"Aku sakit," lirih Gweny. "Aku gak akan pernah bisa ngasih Mirza keturunan." Alula begitu terkesiap mendengar perkataan Gweny. Ia mengusap perutnya yang sudah terlihat membuncit.
"Mungkin, ini adalah sebuah balasan untuk kesalahanku padamu La."
"Maksud Kak Gweny apa?"
__ADS_1
"Aku terlalu egois karena sudah memisahkan kalian. Aku jahat La, seharusnya aku mengalah. Tapi apa? dengan jahatnya aku malah menyuruhmu untuk menghilangkan dia." Gweny menatap perut Alula.
"K-kak?"
"Ku mohon, biarkan aku membesarkan dia, La. setidaknya aku bisa mati dengan tenang."
"Jangan bicara begitu Kak! Kak Gweny pasti sembuh."
"heh, sudah terlambat La," ujar Gweny tersenyum masam.
Sejak hari itu, Gweny sering menemui Alula di rumah singgah, sesekali ia juga ikut menemani Alula pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya. Berkali-kali Gweny ingin memberi tahu Mirza, namun Alula tetap bersikukuh untuk menyembunyikannya.
Tak hanya memeriksa kandungannya, Gweny bahkan ikut menemani Alula dalam persalinannya. Dua bayi tampan dan rupawan telah lahir dengan selisih waktu lima menit. semua orang menyambutnya dengan penuh haru. Apalagi untuk Alula, sungguh berat perjuangannya untuk melahirkan dua bayi kembar tanpa ada sosok seorang laki-laki disampingnya. Akan tetapi, ia tetap bersyukur, setidaknya ia masih dikelilingi oleh orang-orang baik yang merangkul dan mendukungnya meski ia telah melakukan kesalahan yang sangat besar.
"Kak Gweny, aku titipkan Shaka. Tolong, sayangi dia dan jaga dia dengan baik." Begitu yang Alula ucapkan saat Gweny akan membawa bayi laki-laki pertamanya pergi.
"Kamu jangan khawatir, aku akan mendidik dan menyayangi Shaka dengan baik. Mirza pasti juga akan menyayanginya. Aku akan menjamin, Shaka tidak akan pernah kehilangan perhatian Papanya. Dan, jika nanti sudah waktunya aku pergi, aku akan mengenalkan kamu pada Shaka."
Bulir air mata memupuk di pelupuk mata Alula. Ia benar-benar harus mengikhlaskan bayi yang baru satu hari ia lahirkan pergi untuk tinggal bersama Gweny juga Mirza.
"Lalu Shaki?" tanya Gweny kemudian.
"Aku akan menjadi Ibu juga Ayah untuk Shaki." Alula tersenyum, ia mencium puncak kepala Shaki dengan lembut.
"Kami semua akan merawat Shaki dengan baik," ujar Ibu Indah. Risma, Marsha dan Dito yang juga hadir ikut terharu menyaksikan perpisahan antara Ibu dan bayinya itu.
.
.
.
Happy reading π
semoga tetap setia menunggu otor yang males Up π€§
Bukan males sih, lebih ke -mengutamakan yang utama- π
__ADS_1
jangan bosen nunggu up dari otor ya π€