
Setelah hari dimana Gweny menerima kotak kecil itu, Gweny berubah sedikit posesif. Kemanapun Mirza pergi, ia selalu bertanya akan pergi kemana, dengan siapa, berapa lama, apapun itu ia tanyakan. Padahal sebelumnya ia tidak pernah bersikap seperti itu.
"Kenapa kamu selalu nanya aku pergi ke mana? aku cuma ke kantor Gwen, sama seperti biasanya," ucap Mirza ketika lagi-lagi Gweny menanyakan hal yang sama setiap hari. Mirza sampai kesal dengan sikap Gweny.
"Aku cuma takut kamu pergi." Gweny menunduk, tak berani menatap wajah Mirza.
"Jangan seperti ini Gwen, kamu berlebihan." Mirza berdiri, ia meraih handphone yang tergeletak diatas nakas.
"Aku pergi." Pamitnya pada Gweny yang menatap kepergiannya dengan hati yang gelisah.
"Bagaimana bisa aku bersikap biasa saja, sedangkan jika kamu tahu kenyataanya, kamu pasti akan pergi meninggalkan aku Mir." Batin Gweny.
Minggu berikutnya, Gweny meminta izin pada Mirza untuk pergi ke suatu tempat. Ia tidak menyebutkan kemana ia akan pergi, Gweny hanya bilang, akan menemui seorang teman lamanya.
Gweny pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri, kurang lebih satu jam ia sudah berada ditempat tujuan. Bangunan putih telah tampak menjulang di pandangan mata, Gweny turun dari mobil yang dikendarainya.
Sebuah rumah sakit swasta menjadi tujuan Gweny, ia ingin memastikan sesuatu. Agar ia yakin, dugaannya tidaklah benar.
Suara ketukan flatshoes terdengar begitu nyaring, pengunjung rumah sakit yang berlalu lalang tak ia hiraukan, ia sudah terlambat untuk menemui temannya disana. Karena terburu-buru, Gweny hampir saja menabrak seseorang yang berdiri dihadapannya.
"Akh," pekik seorang perempuan yang baru saja tak sengaja Gweny tabrak.
"Ma-af," Gweny terdiam, matanya membulat sempurna menatap seseorang disana. Ia bahkan hampir kehilangan kata-kata hanya untuk sekedar menyapa.
"K-kak Gweny." Alula, perempuan itu terlihat pucat, saat melihat Gweny dihadapannya.
"Apa kabar?" ucap Gweny berbasa-basi, ia tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.
"A.. aku baik Kak, bagaimana keadaan Kakak?" tanyanya canggung, tak bisa menutupi rasa gugupnya.
"Aku baik," jawab Gweny singkat, "ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Apa kita bisa bicara sebentar?" Alula mengangguk sebagai jawaban.
Gweny membawa Alula ke food court rumah sakit, tak jauh dari tempat mereka bertemu. Ia melupakan janji temu dengan temannya, karena ini adalah kesempatannya untuk bicara empat mata dengan Alula.
Suasana food court terlihat ramai, karena telah memasuki waktu makan siang. Gweny memilih tempat paling ujung, agar ia bisa lebih leluasa berbicara dengan Alula.
Dua gelas ice lemon tea telah tersaji di meja mereka. Gweny masih terdiam, mencoba menyusun kalimat apa yang pantas ia ucapakan. Sedangkan Alula, perempuan itu terlihat semakin sah tingkah, karena Gweny hanya menatapnya tanpa bicara.
Tiba-tiba saja Gweny merogoh tas selempang yang ia pakai, ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
"Apa ini punya kamu?" Gweny menyodorkan kotak hitam kecil dengan pita biru yang ia dapatkan dari Mbak Sri.
"Kak, itu...," Suara Alula tercekat di kerongkongan.
"Apa dia milik Mirza?" Gweny menunjuk perut Alula yang masih datar dengan lirikan matanya yang tajam. Alula tertunduk, ia mencoba menghalangi perutnya dengan tas kecil yang ia pakai.
__ADS_1
"Sudah berapa bulan?" Pertanyaan Gweny semakin membuat Alula tertunduk. Ia merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi.
Alula hanya diam, ia tak menjawab pertanyaan Gweny.
"Sudah berapa bulan?" tanya Gweny sekali lagi. Alula semakin tertunduk, ia mengerjapkan matanya berkali-kali agar cairan bening tak meluruh dari pelupuknya.
"Maafkan aku," ucap Alula lirih.
"Mirza sudah menjadi milikku sekarang, dan aku adalah istri sahnya. Aku tidak akan membiarkan dia tahu, tentang semua ini."
"Kak?" Alula mendongak, ia menatap tak percaya perempuan dihadapannya.
"Bisakah kamu pergi dari hidupnya, bisakah kamu menghilang saja? kenapa harus kembali dengan membawa nyawa baru untuk merebutnya?"
"Kak—," buliran bening meluruh begitu saja, seiring dengan rasa sakit yang ia rasakan ketika mendengar perkataan Gweny.
"Aku istrinya Lula, aku gak mau dia membagi perhatiannya dengan orang lain." Gweny menatap tajam kearah Alula.
"Aku mengerti Kak, maafkan aku sudah membuat kekacauan diantara kalian."
Gweny tersenyum sinis, "Aku kira kamu perempuan baik-baik La."
"Cukup Ka! Aku tidak mau mendengar Kak Gweny berkata buruk. Kak Gweny bukan orang yang seperti itu. Jangan sampai karena cinta, Kak Gweny menjadi orang lain," Alula menatap perempuan dihadapannya. perempuan yang selalu dianggap baik olehnya, kini sudah berubah.
"Aku akan pergi, dan aku akan pastikan kalian tidak bisa menemukanku lagi." Alula menyeka pipinya yang basah,ia berdiri untuk pergi dari hadapan Gweny.
"Apa kamu bisa membuatnya pergi?" Gweny menatap perut Alula. Lagi, sudut hati Alula terasa nyeri.
"Ini kesalahanku dan Abang, kenapa harus menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah dia lakukan." Alula memegangi perutnya, seakan tak mau kehilangan makhluk yang kini tumbuh dalam rahimnya.
...****************...
Sepeninggalnya Alula, Gweny tak melanjutkan niat awalnya untuk menemui dokter spesialis kandungan.
ia bergegas pulang ke rumah, dengan hati yang gelisah. Kenapa ia bisa bicara sekeji itu, kenapa ia tega meminta Alula untuk membunuh makhluk tak berdosa?
Satu bulan berlalu, Gweny kembali ke rumah sakit itu untuk memeriksakan dirinya. Karena selama ini, ia merasa ada sesuatu yang janggal pada dirinya.
"Maaf aku harus memundurkan jadwal, tiba-tiba ada keperluan mendadak." ucap Gweny pada Dokter muda yang tengah duduk dibalik meja kerjanya.
Dokter muda itu tersenyum menyambut kedatangan Gweny. Dokter Priska, adalah salah satu teman Gweny saat sekolah dulu, beliau adalah Dokter spesialis kandungan di rumah sakit tersebut.
"Gak apa-apa, kebetulan juga waktu itu, aku sedang padat pasien. Buy the way, aku belum ngucapin selamat nih buat pernikahannya." Goda Dokter Priska.
"Ah ya, terima kasih." Gweny balas tersenyum.
__ADS_1
"Jadi, ada masalah apa?" tanya Dokter Priska kembali ke tujuan awalnya.
"Aku hanya ingin berkonsultasi tentang ...,"
Gweny menceritakan permasalahannya selama ini pada Dokter Priska. Kondisinya setelah menikah, dan Mirza mengambil haknya sebagai seorang suami. Gweny mengeluhkan sering merasa sakit diarea pinggang, ia gampang lelah. Bahkan, setelah selesai melakukan kewajibannya dengan Mirza, beberapa kali ia melihat adanya bercak darah.
"Apa sebelum menikah, siklus menstruasimu lancar Gwen?"
"Seingatku, enggak. Aku pernah mengalami pendarahan berhari-hari, padahal biasanya siklus menstruasiku hanya 5 hari," tutur Gweny.
Dokter Priska terdiam, dari keluhan Gweny ia bisa memperkirakan sesuatu "Gini aja, aku menyarankan kamu buat tes pap smear, agar kita mengetahui dengan jelas permasalahannya apa."
"Apa itu artinya ada sesuatu yang terjadi?" Gweny menatap Dokter Priska dengan tatapan ingin tahu.
"Kita berdo'a saja, mudah-mudahan dugaanku salah."
Sesuai saran dari Dokter Priska, hari itu juga Gweny menjalankan tes pap smear. Sepanjang dilakukannya tes,Gweny tak berhenti berdo'a agar semuanya baik-baik saja.
Keesokan harinya Gweny kembali ke rumah sakit untuk mengetahui hasil tesnya. Ia menemui Dokter Priska diruangannya..
"Ini hasilnya," ucap Gweny sambil menyodorkan sebuah amplop coklat yang baru saja ia ambil dari laboratorium.
Dokter Priska membuka amplop coklat itu, ia mempelajari hasil tes pap smear yang sudah Gweny jalani kemarin.
"Dari hasil pemeriksaan, ditemukan adanya sel abnormal Gwen ...," ucap Dokter Priska.
Sebenarnya Dokter Priska tidak tega membacakan hasil tesnya, tapi ia mencoba bersikap profesional, meskipun pasiennya kali ini adalah teman baik ya semasa sekolah.
"Apa sudah separah itu?"
Dokter Priska mengangguk dengan wajah menyesalnya.
Gweny pulang ke rumah dengan hati yang hancur, mendapati kenyataan bahwa ia tidak akan pernah memiliki anak dari Mirza. Ia bukan lagi wanita sempurna untuk Mirza.
Gweny terduduk lemas disamping tempat tidur, ingatannya kembali pada hari dimana ia bertemu dengan Alula. Wajah sedih bercampur putus asa Alula tiba-tiba melintas dipikirannya.
"Apa ini balasan untuk ucapanku padamu waktu itu, La?" ucap Gweny lirih, bertepatan dengan meluruhnya air mata yang sedang sejak tadi ia tahan.
.
.
.
Happy Reading 😊
__ADS_1
Menjelang tamat, otor minta like, comment and votenya boleh ?😅👍