
Suara riuh gelak tawa menggema di ruang tamu kediaman Sanjaya Mahesa. Marko dan Marsha yang sejak tadi pagi bertamu tak henti-hentinya mengganggu seluruh tuan rumah.
Mama Indri sampai pusing sendiri memperhatikan tingkah kedua cucu kembar, anak menantu juga sahabatnya itu. Pa Sanjaya pun sampai memisahkan diri, masuk ke dalam ruangan pribadinya.
"Jadi, konsepnya seperti apa?" tanya Alula saat Marsha memintanya untuk membuatkan satu gaun untuk acara resepsi pernikahannya nanti.
"Aku pengen kayak princess, ih," jawab Marsha untuk kesekian kalinya. Entah mengapa Alula saat ini terasa mengesalkan sekali. Sejak tadi omongan Marsha bahkan tidak di degarkannya.
Alula mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah mengerti. Namun tak lama, perempuan itu kembali mengulang pertanyaan yang sama.
"Kamu ada ide kan buat bikinin aku gaun seperti apa? kamu tahu akulah, tahu tipeku seperti apa." Lagi-lagi Alula menganggukkan kepalanya tanpa melepas pensil dan buku sketsa ditangannya.
"Kalau aunty nikah, nanti Kiki main sama siapa?" tiba-tiba Shaki mendekat dan duduk dipangkuan Marsha. Anak itu memang sangat dekat dengan Marsha, meski sering kali Marsha berpura-pura cuek dan galak, tapi Shaki tetap menyayanginya.
"Kiki 'kan udah ada Bang Shaka. Main sama dia aja." Shaki masih memasang wajah cemberut. Hingga Marsha mencubit pipinya karena merasa gemas.
"Kalau aunty gak nikah-nikah, nanti Kiki gak punya ponakan. Gimana dong?" goda Marsha.
"Bang Shaka kadang nyebelin, Kiki suka berantem, rebutan Mama." Alula yang mendengar percakapan keduanya hanya bisa geleng-geleng.
"Kalau aunty nikah, Kiki punya ponakan?" terlihat raut wajah penasaran dari anak umur lima tahun itu.
"Iya dong, nanti aunty bikinin ponakan banyak buat Kiki." Marsha tersenyum menampilkan deretan gigi putihnya.
"Wah ... Kiki mau, Kiki mau. Kiki boleh ikut bikin juga?" tanya Shaki dengan wajah polosnya.
Alula yang mendengarnya hanya bisa tertawa, sementara Marsha meringis, tak tahu harus menjawab apa.
"Gak bisa, bikin ponakannya sama Om Marko." Tiba-tiba Marko dan Mirza datang setelah keduanya menghabiskan masing-masing segelas kopi di teras belakang.
"Gak mau, maunya sama Kiki."
"Punya Kiki masih kecil, gak bisa–"
"Udah deh, jangan bikin otak anak gue jadi kotor." Mirza mendudukkan dirinya di samping Alula, lalu sekilas mencium puncak kepalanya.
"Sana ih, jauhan!" Alula malah mengusir Mirza agar duduk menjauh darinya. "Awas, jangan didudukin! ini hadian dari Mulan tahu!" sarkas Alula saat Mirza tak sengaja menduduki dress cantik yang dipakainya.
"Kenapa sih?"
"Jauhan ah."
"Astaga ... kenapa sih?" Mirza kesal, karena Alula terus mendorongnya menjauh.
"Kamu bau."
Dahi Mirza mengernyit, kenapa Alula bilang dirinya bau? padahal dirinya baru saja mandi dua jam yang lalu.
"Aku udah mandi loh, sayang. Kamu tahu itu."
__ADS_1
"Yaudah sih, jauhan." Alula mendelik tak suka, ketika Mirza lagi-lagi mendekatinya.
Mau tak mau Mirza menggeser posisi duduknya, wajahnya terlihat kesal, ingin sekali mengumpat. tetapi tidak berdaya ketika sang istri yang menyuruhnya. Sebucin itu ia sekarang.
"Selamat pagi," sapaan itu datang dari dua orang tamu tak diundang.
"Pagi mata lu, udah hampir magrib ini." Marko menimpali sapaan Martin. Pria itu datang bersama Risma yang sejak pernikahan Mirza mulai dekat dengan dirinya.
"Dih, baru jam sebelas. Mata lu tuh yang picek." Tanpa di suruh, Martin dan Risma duduk di salah satu sofa yang ada di sana.
"Berisik lu pada, anak gue masih kecil tuh." Mirza menunjuk Shaki yang masih duduk dipangkuan Marsha.
"Kamu sama aja, Bang," sentak Alula.
"Hehe ... maaf ayang." Mirza meringis.
"Gini bukan?" Alula memperlihatkan hasil gambarnya pada Marsha. "Ini gaun ala-ala Cinderella," ucapnya lagi.
"Bagus sih, tapi kok kayaknya kurang cetar gitu. aku pengennya kayak princess."
"Sama aja, Cinderella juga princess 'kan?" Alula merasa tidak suka.
"Ya tapi, kan–."
"Kamu gimana sih, katanya pengen kayak princess. Cinderella juga princess kan? Kamu mau bilang gambar aku jelek? iya, aku emang bukan designer yang hebat." Alula mendengus kesal. Kemudian ia pergi ke dapur di mana Mama Indri dan Mbak Sri tengah memasak. Shaka yang tengah menyantap satu piring buah anggur di meja makan, juga Pa Sanjaya yang baru saja duduk santai menikmati kopi dengan koran di tangan.
Baik Marsha, Marko, Mirza dan semua yang ada di ruang tamu saling bersitatap. Seolah bertanya, kenapa dengan Alula hari ini?
"Hayoloh, Sa. Kenapa tuh," gumam Risma yang duduk tak jauh darinya.
Marko memandang kepergian Alula, lalu bertanya pada Mirza. "Bini lu kenapa?"
Mirza hanya mengangkat bahu, "Gue juga gak tahu, gampang banget ngambek akhir-akhir ini. Lu liat kan, di deketin aja gak mau dia."
"Lagi datang bulan kali," cetus Marsha, membuat Mirza memikirkan sesuatu.
Sementara di dapur, Alula langsung mengambil satu botol air dingin di dalam kulkas. Entah kenapa, dadanya terasa panas dan ingin sekali memukul seseorang hingga amarahnya mereda.
Alula duduk di salah satu kursi yang ada dimeja makan. ia menenggak air dingin itu hingga habis. napasnya terengah, berusaha mengendalikan emosi dirinya.
"Kenapa, sayang?" Usapan di bahu membuat Alula menoleh.
Mama Indri sudah berdiri di sampingnya. Namun bukannya menjawab, Alula malah termenung, lalu terisak.
"Eh, kamu kenapa?"
"Huhuhuu...." Alula semakin terisak.
"MIR! EMIR." Mama Indri berteriak memanggil Mirza.
__ADS_1
Shaka yang melihat sang Mama menangis ikut mendekat. "Mama kenapa?" Wajah anak itu terlihat khawatir.
"Ada apa, Ma?" tanya Mirza saat ia sampai di dapur. dilihatnya Alula yang tengah menangis sesenggukan sambil melingkarkan tangan di pinggang Mama Indri.
"A-aku gak tahu, aku gak tahuuuu." Alula menangis tersedu. Ia lepaskan tangannya dari pinggang Mama Indri, beralih pada leher Mirza yang sekarang berjongkok, membuat dirinya sejajar dengan posisi Alula yang duduk di kursi.
Mirza merasa ada yang aneh dengan sikap Alula. Tidak biasanya istrinya itu terlihat rapuh.
"Ma?" Mirza menoleh pada Mama Indri dengan dahi yang mengernyit.
"Kamu apain dia?" tuduh Mama Indri, membuat Mirza gelagapan.
"Emir gak ngapa-ngapain Ma, supah. Akhir-akhir ini dia memang aneh. Suka marah-marah. Tadi aja gak mau deket-deket, sekarang meluk gini sampe mau nyekik." Wajah Mirza sudah berubah merah karena lengan Alula yang melingkar kuat di lehernya.
"Sayang, sayang, udah dong nangisnya! lepasin dulu! Kamu mau bunuh suamimu?" Ucapan Mama Indri membuat Alula melonggarkan lengannya.
Semua orang yang menyaksikan itu hanya saling menatap, merasa aneh dengan tingkah Alula.
"Sayang, kamu kapan terakhir datang bulan?"
Alula yang semula menunduk, kini mendongak. Menatap Mama Indri dengan dahi yang mengernyit.
"Mm ... aku lupa, Ma." Jawaban itu membuat binar mata Mama Indri berubah. Wanita itu berjalan ke salah satu meja yang dekat dengan kamar mandi. Setelah mengambil sesuatu dari dalam laci meja itu, Mama Indri kembali dengan sedikit mengulas senyum.
"Nikah udah mau empat bulan, tapi lupa kapan datang bulan. Kalian ini gimana sih, sukanya cuma bikin doang. Tapi gak pernah diperhatiin jadi apa enggaknya," omel Mama Indri setelah sampai di hadapan Alula.
"Ini." Mama Indri menyodorkan sebuah benda. Alula tahu benda itu, dan ia pernah memakainya. "Coba dulu!" Alula segera mengambil benda di tangan Mama Indri, kemudian ia pergi ke kamar mandi.
Mirza sendiri masih terlihat kebingungan, ia benar-benar tidak tahu benda apa yang Mamanya berikan untuk Alula.
Setelah menunggu hampir lima menit, Alula keluar dengan air mata yang berderai.
"Kamu kenapa lagi, sayang? Mama ngasih apa ke istriku, Ma?"
Bukannya menjawab pertanyaan Mirza, Mama Indri malah mendekat ke Alula. "Gimana?"
"Aku hamil." Tangis Alula pecah saat ia menyodorkan benda kecil, yang merupakan testpack dengan dua garis merah itu pada Mama Indri.
"Hah?"
"Apa?"
"Woah."
Semua orang bersorak, seolah telah mendapatkan kabar paling membahagiakan.
"Gue masih gak nyangka, ternyata ucapan lu jadi kenyataan." Marko tertawa melihat wajah terkejut Mirza. Laki-laki itu teringat kembali obrolannya bersama Mirza dan Martin bertahun-tahun yang lalu di cafe favorit mereka. Marko ingat, jika Mirza pernah berkata jika adik kecilnya sudah bertindak, maka tak lama lagi ia akan beranak. Pria itu bergidik ngeri.
"Sayang, kalian mau punya adek," bisik Marsha pada Shaka dan Shaki yang berdiri tak jauh darinya.
__ADS_1
"Apa?"
"Ye, ye punya adek, yeee..."