
Waktu menunjukan pukul 12 malam ketika Mama Indri melihat keluar jendela kamarnya. hujan sudah mulai reda, hanya menyisakan bulir-bulir air diatas dedaunan. namun udara terasa semakin menusuk tubuhnya. Wanita paruh baya yang mengenakan baju tidur berbahan sutra dengan jaket tebal yang menutupi tubuhnya itu terlihat sangat gelisah dan khawatir menunggu sang anak yang sejak tadi tak kunjung datang.
Tidak ada siapapun yang menemaninya disana. Pa Sanjaya masih berada diluar kota, sedangkan asisten rumah tangga pun sepertinya sudah terlelap. sebelumnya ia memutuskan untuk tidur, tapi entah mengapa ia tak bisa memejamkan matanya mengingat anak satu-satunya belum pulang. ia kembali pergi ke ruang tamu, menunggu kedatangan sang anak yang tadi sudah mengabari kepulangannya.
Namun sudah hampir 2 jam anak kesayangannya belum juga menampakkan diri. Jarak dari kedai martabak kerumahnya tidak terlalu jauh, seharusnya Mirza sudah kembali sejak tadi. Mama Indri mondar-mandir dari ruang tamu ke ruang keluarga. tak lama terdengar pintu gerbang terbuka, dan suara deru mesin memasuki halaman rumahnya. Mama Indri berlari kecil menuju pintu utama.
"Astaghfirulloh... GUSTIIII.... Emiiiir." Matanya terbelalak ketika pintu terbuka. seingatnya ia hanya memesan satu porsi martabak manis tadi, seharusnya yang Mirza bawa hanyalah kantong keresek berisi martabak bukan segendongan. ehh bukan, ini bukan martabak tapi..
"Mama kan cuma pesen martabak manis, kenapa kamu datang bawa gadis manis?" cerca nya pada sang anak dengan nada setengah menyentak. ia menjewer telinga Mirza, tak peduli dengan penampilan anaknya yang lusuh basah kuyup. rambut yang semula dipoles sedemikian rapi kini nampak semerawut.
"Ampuuun Ma, jangan marah dulu ! dengerin Emir." pinta Mirza dengan meringis mendapati jeweran ditelinganya.
"Apa yang udah kamu lakuin Emiiirr? kenapa gadis ini? kamu apain dia? ketemu dimana kamu sama dia? cepat jawab Emir!" Mama Indri memberondong pertanyaan pada Mirza, ia tak henti menjewer bahkan mencubiti perut Mirza.
"Sakit Ma.. Mama diem dulu ma ! satu-satu kalo nanya ! kasian dia pingsan." nafas Mirza tersengal. dari wajahnya ia nampak sudah tidak sanggup menahan beban ditangannya. Yah, meskipun kecil, tubuh gadis itu cukup berat. ditambah tubuh Mirza yang sudah mulai menggigil kedinginan.
Mama indri mulai sedikit menenangkan diri. ia memperhatikan gadis itu, seperti tak asing untuknya. wajahnya sedikit tertutupi oleh rambut basah yang tergerai kedepan. Mama Indri menyibakkan rambut yang menutupi wajah gadis itu, matanya kembali terbelalak. ia ingat, sangat ingat. gadis yang beberapa minggu yang lalu pernah ia temui, bahkan ia sempat mengagumi ketegaran gadis itu.
"Alula?" ucapnya lirih. ia meyakinkan diri jika benar gadis itu adalah gadis yang ia maksud "Benar, ini Alula."
"Mama kenal dia?" Mirza sedikit terkejut dengan kebetulannya ini, namun ia juga sedikit lega ternyata sang Mama mengenali gadis ini.
"Cepet bawa dia masuk!" Mama indri tak mengindahkan pertanyaan sang anak.
"Dari tadi ke' !" gerutunya.
"Jangan banyak ngomong kamu, cepet bawa dia ke kamar tamu!" Mama Indri mendorong-dorong tubuh Mirza masuk kedalam rumah.
"Siapa tadi yang nahan-nahan, udah tau berat! mana dingin lagi nih, kuyup gini." dengan langkah cepat Mirza membawa Alula pergi ke kamar tamu dengan mulut yang tak berhenti menggerutu pada sang Ibu.
Setelah sampai dikamar tamu, Mirza merebahkan tubuh Alula diatas tempat tidur. ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang kedinginan.
__ADS_1
"Tunggu ! biar mama gantiin baju dia dulu ! kasian nanti dia demam." Mama indri mencegah Mirza yang hendak menyelimuti tubuh Alula.
"Emang ada baju gantinya?" tanya Mirza sambil memperhatikan tubuh yang terkulai lemas diatas tempat tidur itu lalu bergantian menatap Sang Mama.
"Kenapa? kamu pikir baju mama gak ada yang muat dipake Alula? kamu mau bilang mama gendut? " ucap Mama Indri yang terlihat tak suka dipandang anaknya seperti itu.
"Mama ini kemasukan apa sih, sensian gitu?" ia tak sadar jika dirinya sendiri juga lebih sensitif akhir-akhir ini.
Mama Indri hanya mendengus sebal
"Tunggu apa lagi cepet keluar ! ganti juga baju kamu ! basah kuyup gitu udah kaya ucing kabulusan." ucap Mama Indri
"Bahasa planet mana tuh ucing kabulusan?" gerutunya sambil melangkah keluar kamar.
Setelah selesai mengganti baju Alula, Mama Indri keluar kamar berpapasan dengan Mirza yang juga baru selesai mengganti bajunya. ia berjalan menuju dapur hendak mengambil air minum.
"Martabak nya ketinggalan dimobil ma, Emir ambil dulu." ia bergegas keluar rumah menuju mobil yang masih basah dengan sisa-sisa hujan diatas kap nya. diambil nya kantong keresek dengan satu kemasan dus martabak didalamnya, lalu ia kembali menuju dapur.Mama Indri sendiri nampak duduk di kursi samping meja makan.
"maaf yah Emir kelamaan pulangnya." Ucap Mirza dengan nada menyesalnya. ia membuka bungkusan martabaknya lalu menyodorkan nya pada sang Mama. Mama Indri tersenyum hangat menatap wajah anak kesayangannya itu.
"Gimana dia ma? masih pingsan ?" tanyanya dengan nada khawatir. meskipun Mirza terkenal cuek pada wanita, ia tak pernah tega melihat wanita teraniaya.
"Kayaknya dia kecapean Mir, badannya lemes juga kaya ga punya tenaga. nyampe ga bangun pas mama ganti baju dia." Mama Indri melahap martabak dingin yang dibawakan Mirza. meskipun jam sudah menunjukan lewat tengah malam, wanita itu tidak berhenti mengunyah. walaupun martabaknya dingin, masih tetap ia makan dengan lahap, entah lapar atau emang doyan.
"Syukurlah dia ga apa-apa . mama kenal sama anak itu?" Mirza menunjuk pintu kamar tamu dengan dagunya.
"Mama pernah ketemu sekali sama Alula waktu itu di rumah singgah Bu Indah, Mama kasian sama dia. katanya dia lagi nyari ayah kandungnya Mir." wajah Mama Indri berubah sendu, ia mengingat kembali cerita Ibu Indah tentang Alula. entah kenapa melihat Alula, hatinya tiba-tiba merasa melankolis. padahal ia hanya sekali bertemu dengannya. apa karena ia pernah kehilangan anak perempuannya, atau memang Mama Indri mempunyai hati yang tulus.
"Kamu ketemu dia dimana sih Mir?" tanyanya kemudian tanpa menghentikan aktifitas makannya.
Mirza pun menceritakan awal mula ia terjebak kemacetan akibat laka lantas yang menyebabkan kendaraan menumpuk, ditambah jalanan yang tergenangi air hujan sehingga memaksa Mirza untuk mencari jalan pintas.
__ADS_1
namun sialnya Mirza memilih jalanan yang sepi tidak ada kendaraan satupun yang melintas hingga matanya tertuju pada sebuah mobil yang terparkir dibahu jalan.
Mirza menajamkan penglihatannya ketika ia melihat seorang gadis yang memakai hodie hingga menutupi kepalanya. gadis itu sedang diseret-seret oleh seorang pria untuk dimasukkan kedalam mobil yang terparkir itu. gadis itu tak henti berteriak meminta tolong dengan suara yang terdengar lemah.
Mirza tak henti membunyikan klakson, namun pria itu sama sekali tak mengindahkannya. Mirza yang menyadari ada ketidak beresan langsung keluar dari mobil dan memukul pria itu dengan sedikit jurus yang dipelajarinya. Ya, Mirza ahli dalam bela diri.
"Lalu pria itu gimana sekarang?" Mama Indri sedikit khawatir mendengar cerita anaknya. bagaimana tidak, beberapa waktu lalu anaknya juga berada dalam bahaya.
"Sepertinya sudah diamankan polisi Ma. tadi mobil Emir berpapasan dengan mobil polisi, lalu Emir menceritakan semuanya pada polisi."
"Mudah-mudahan sudah aman ya!" setelah cukup lama berbincang, akhirnya mereka memutuskan untuk beristirahat mengingat waktu sudah lewat dari tengah malam.
.
.
.
Happy Readding ..
jangan lupa tinggalkan jejak! ☺
.
.
Monmaaf akutu cuman minta like sama komenan aja loh, biar aku semangat nulisnya.
gratis ko'! tinggal klik jempol aja udah..
minimal aku tau kalo ada yang suka sama tulisan aku yang amburadul ini.... 🙄
__ADS_1