
Dan, di sinilah Mirza sekarang, berdiri di salah satu ruangan yang telah di siapkan oleh tim WO. Ruangan khusus untuk merias pengantin laki-laki. Pria itu berdiri dengan tegak, memandangi pantulan dirinya di dalam cermin. Tak terhitung berapa kali pria itu menyunggingkan tersenyum.
Benarkah hari ini ia akan menikah? lagi?
Ya, menikahi wanita yang pernah membuatnya hampir menjadi gila, karena tiba-tiba menghilang tanpa meninggalkan jejak hingga membuatnya begitu hampa.
Benarkah mimpinya untuk hidup bahagia bersama orang yang di cinta akan menjadi nyata?
"Terima kasih," ucapanya pada salah satu tim penata busana yang baru saja membetulkan letak rantai yang menjuntai di saku kiri dadanya.
"Pak, maaf. Boleh saya benerin juga kain jariknya? biar gak melorot nanti pas acara sungkeman."
Mirza mengangguk, dan sedetik kemudian salah satu tim WO itu kembali membetulkan apa saja yang menurutnya harus di rapikan.
"Nah, sudah."
Beberapa menit kemudian, ia dipanggil keluar ruangan karena seluruh rangkaian prosesi pernikahan akan segera di laksanakan. Pa Sanjaya, Mama Indri dan sanak saudara yang lainnya sudah terlebih dahulu pergi ke tempat dilaksanakannya akad.
Dengan balutan beskap berwarna putih, yang dipadukan dengan celana putih. Dan kain jarik yang dililitkan di pinggang sampai ke atas lutut, serta bendo dengan warna serupa dengan kain jarik telah terpasang sempurna dikepalanya.
Mirza berjalan dengan gagah menuju tempat dilaksanakannya akad, rasa percaya dirinya bertambah berkali lipat. Senyumnya mengembang, dadanya sedikit membusung, bangga karena hari ini akhirnya ia akan menikah dengan wanita pujaannya.
"Brengsek, jelek bener lu," desis Marko saat ia berpapasan dengan sang calon pengantin.
Itu bukan sebuah hinaan, melainkan sebuah pujian dari seorang sahabat yang tidak mau mengakui dengan jujur apa yang dilihatnya.
"Sialan." Namun ucapan itu tak berpengaruh apapun untuk sang salon pengantin pria. Mirza memilih kembali duduk di salah satu kursi yang berada tak jauh dari pelaminan.
"Si Martin masih di jalan, bentar lagi sampe." Marko ikut duduk di sebelah Mirza, yang saat itu tengah menunggu untuk memulai acara.
"Bodo amat, gue gak mengharapkan dia buat dateng." Itu adalah sebuah kebohongan, faktanya pertemanan laki-laki memang seperti itu. Lain di mulut, lain pula di hati.
Jelas Mirza sangat mengharapkan orang-orang terdekatnya untuk hadir, menyaksikan secara langsung hari kebahagiaannya. Ia ingin, kebahagiaan yang ia rasakan saat ini dapat dirasakan pula oleh semua orang.
Begitupun dengan Martin, sahabatnya sejak mereka duduk di bangku SMA. Sejak meneruskan studi di negri Jiran, sahabatnya ini sudah jarang sekali pulang ke Indonesia. Bahkan, saat Mirza menikah dengan Gweny pun, Martin tidak datang. Hanya mengirimkan rangkaian bunga, juga beberapa bingkisan sebagai hadiah pernikahan.
Sungguh, teman macam apa dia? begitu pikirnya.
Siapa pula yang kuat melihat orang yang dicintainya menikah dengan orang lain? Jelas Martin lebih memilih pergi sejauh mungkin, karena tidak ingin hatinya terluka. Ia hanya datang, saat berita duka itu sampai ke telinganya.
__ADS_1
"Dia tetep sahabat lu. ya ... walaupun akhir-akhir ini dia brengsek banget gak pernah pulang ke endonesah." Mirza tertawa mendengar gerutuan sahabatnya itu.
"Bodo amat, temen lu aja. Gue enggak." Mirza melirik kesal.
"By the way, gue ikut seneng, akhirnya lu bisa ehem-ehem." Marko meninju pelan lengan berbalut beskap putih itu.
"Brengsek lu." Mereka kembali tertawa karena celotehan Marko dengan gaya tengilnya. "Thanks ya, gue gak nyangka bisa sampai di titik ini." Mirza mengulas senyum.
"Waktunya lu bayar, hari-hari beratnya dia saat elu gak ada di sampingnya!" Mirza hanya tersenyum menanggapi ucapan Marko.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya prosesi akad nikah akan segera dilaksanakan.
Meja panjang berhiaskan lilitan kain putih yang mengelilingi setiap sudut telah tersimpan sempurna di depan pelaminan, rangkaian bunga hidup dengan berbagai warna tersimpan cantik di atas meja. Terdapat pula enam kursi berbalut kain putih, berhiaskan rangkaian bunga mawar di bagian belakang sandarannya.
Mirza duduk berseberangan dengan Ayah Abhi yang akan menjadi wali nikah untuk Alula. Sedangkan kursi di sisi kanan dan kiri telah di duduki oleh para saksi. Rasa percaya Mirza tiba-tiba saja menguar, tergantikan dengan rasa gugup yang tak berkesudahan. Ah, entahlah, mengapa rasanya begitu menegangkan. Padahal ini adalah pernikahan keduanya.
"Sudah siap Nak Emir?" tanya seorang penghulu yang duduk di samping Ayah Abhi.
"Si-siap, Pak," jawabnya gugup.
"Jangan gugup gitu, dong. Tarik napas dulu!" seru Pa penghulu tersebut. Mirza hanya meringis.
Hal itu sontak membuat Marko gatal ingin menggoda sang calon pengantin pria. Namun urung ia lakukan, karena jika pernikahan ini sampai gagal, sudah dipastikan Mirza akan membunuhnya. Marko pun meringis ngeri.
"Kenapa Pa?"
"Ini ... dua ribu lima ratus gram emas?" dahi Ayah Abhi mengernyit. Matanya beberapa kali mengerjap, takut jika ia salah lihat.
"Itu dua kilo setengah?" tanya salah seorang saksi.
"Du–dua kilo setengah?" Mata Ayah Abhi seketika membola.
"Tidak salah Pa, Alula pantas mendapatkannya." Mirza tersenyum maklum.
Ah ya, Ayah Abhi lupa, bahwa pria yang akan menikahi putrinya itu adalah anak dari seorang pengusaha industri ternama yang memiliki pabrik kain dimana-mana. Bahkan, sejak Mirza bergabung di perusahaan ayahnya, bisnis sang ayah menjadi berkembang lebih pesat. Ia bisa bekerja sama dengan perusahaan asing, karena memiliki beberapa kenalan saat ia kuliah di luar negri. Pantas saja jika pria itu memberikan mahar yang sangat fantastis.
"Bisa dimulai?" suara Pa penghulu membuyarkan lamunan Ayah Abhi.
Ayah Abhi mengangguk, seraya menggenggam tangan Mirza untuk memulai ijab. Ia sempat tersenyum saat merasakan telapak tangan Mirza terasa dingin. Namun, ia juga tak menampik bahwa dirinya pun begitu gugup, karena ini adalah pengalaman pertama sekaligus akan jadi pengalaman terakhirnya menjadi wali nikah.
__ADS_1
"Nak Mirza Permana Mahesa, bapak nikahkan engkau dengan anak kandung bapak yang bernama Alula Raina Sofyan binti Abhi Sofyan dengan mas kawin berupa emas dua ribu lima ratus gram, tunai." Ada getar yang terdengar dari suara Ayah Abhi, ia merasakan haru juga bahagia melepas putrinya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Alula Raina Sofyan binti Abhi Sofyan dengan mas kawin tersebut, tunai." dengan satu tarikan napas Mirza berhasil mengucapkan kabul.
"Sah?"
"Sah."
Seruan dari para saksi terdengar begitu menyenangkan di telinga Mirza, akhirnya ia bisa tersenyum penuh kelegaan. Namun berbeda dengan Ayah Abhi, ia sedikit menunduk untuk membunyikan matanya yang mulai memanas.
"Alhamdulillah, Barakallahu ...." Penghulu mulai melafalkan do'a untuk sepasang pengantin baru itu.
"Sekarang di panggil pengantin wanitanya kemari, untuk menandatangani surat kawinnya!" seru Pa penghulu.
Salah seorang dari tim WO pergi untuk memanggil Alula yang masih berada di salah satu ruangan.
Mirza menunggu kedatangan Alula dengan hati yang berdebar, karena sejak tiga hari yang lalu, mereka tidak pernah bertemu. Bahkan, Alula sepertinya sengaja mematikan handphonenya agar Mirza tidak bisa menghubunginya.
Sungguh, Mirza sangat kesal sekali, mengapa perempuan itu mau saja menuruti kata-kata Mama Indri dan memilih untuk melakukan sebuah ritual yang bernama 'pingitan'. Tidak masuk akal !
Tiga menit menunggu, namun sepertinya Alula masih belum keluar dari ruangannya.
Lima menit ...
Sepuluh menit ...
Mirza mulai resah, beberapa kali ia membetulkan posisi duduknya. Sungguh ini terasa begitu lama.
Tiba-tiba saja ia melihat Marko dengan wajah muram, memandang ke arahnya.
"Alula gak ada," ucapnya tanpa suara.
Dada Mirza tiba-tiba bergemuruh, tangannya mengepal, urat-urat di rahangnya menegang.
Tidak, Alula tidak mungkin meninggalkannya lagi, bukan?
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading 🙂