Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Kejutan untuk Mirza


__ADS_3

Lega rasanya saat Mirza mengungkapkan perasaan yang selama ini mengganjal didalam hatinya. yah, kini ia mengakui, ada perasaan lain yang entah sejak kapan timbul didalam hatinya untuk Alula.


Mirza menyeka air mata di pipi Alula saat ia menatapnya.


"Hey, kenapa malah nangis ?" Alula tak menjawab.


"Gue tahu, Lu juga merasakannya kan ?" tebaknya dengan tepat.


Namun Alula masih diam tak menjawab, ia malah semakin terisak. entah, ia bingung bagaimana harus bersikap.


Disisi lain ia ingin pergi, menjauh dari Mirza untuk melupakan perasaannya. tapi sekarang mengapa ia malah terjebak dalam situasi yang menyulitkan, saat Mirza terang-terangan mengungkapkan apa yang ia rasakan.


Mirza kembali merengkuhnya ke dalam pelukan, tak mempedulikan pandangan orang-orang yang mulai menyudutkan.


"Udah bang, malu." Alula mencoba terlepas dari rengkuhan Mirza, namun Mirza tak membiarkannya.


"Berjanjilah untuk tetap berada disamping gue La!"


Mirza mengusap pelan bahu Alula yang kini menyembunyikan diri pada dada bidangnya.


"Kita pulang !" Seru Mirza setelah beberapa lama mereka hanya saling diam.


Alula hanya mengangguk, sedari tadi ia bingung harus berkata apa.


Sepanjang perjalanan pulang, Mirza tak henti menebarkan senyum. ia merasakan kelegaan yang selama ini belum pernah dirasakannya.


Ia sampai harus merelakan -si anak perempuan bergigi ompong- untuk melupakannya. dan mengatakan hal ini kepada Alula, perempuan yang kini tak henti mengganggu pikirannya.


Mirza menoleh pada Alula yang kini duduk disampingnya, namun pandangan Alula kini justru mengarah keluar jendela.


Alula terperanjat saat tiba-tiba tangan hangat -juga menenangkan- itu menggenggam tangannya, ia menoleh dan mendapati Mirza yang tengah tersenyum kepadanya.


"Bang, fokus kalo lagi nyetir." menjadi kata pertama yang keluar dari mulutnya setelah sekian lama membisu.


"Dari tadi gak ngomong, sekalinya ngomong ngeselin !" Mirza terkekeh kemudian mengacak rambut Alula.


Entahlah, rasanya ia bahagia sekali. sampai tak ingin melewatkan diri untuk tidak memandangi sipemilik wajah putih bersih yang kini duduk didalam mobil bersamanya.


Apakah ini yang dinamakan cinta ?


Mengapa ia terlalu bodoh untuk bisa merasakannya.


Selalu menutup diri, karena harapan akan bertemu kembali dengan -si anak perempuan bergigi ompong- perempuan yang selama bertahun-tahun telah bersemayam didalam hatinya.


...****************...


Mereka sampai di halaman rumah ketika hari sudah menjelang malam, dahi Mirza mengernyit saat ia melihat beberapa mobil terparkir di halaman rumahnya.


"Ada apaan nih dek ?" tanyanya sambil menoleh pada Alula yang hanya menggeleng, lalu turun dari mobil.

__ADS_1


"Gue tahu, ini pasti Mama lagi bikin kejutan." ujarnya sambil membuka pintu mobil.


Alula tersenyum getir,


"Iya, kejutan yang akan sangat mengejutkan buat Abang." ucap Alula dalam hati.


Mirza berjalan menuju rumah dengan tangan tak lepas menggenggam tangan Alula. ia tak henti menebarkan senyum diwajahnya, terpancar jelas kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.


Namun kebahagiaannya tak berlangsung lama, karena saat membuka pintu, ia terkejut dengan kehadiran beberapa sanak saudaranya.


Lebih terkejut saat menyadari kehadiran Om Handoko, Gweny, dan beberapa orang yang tidak ia kenal tengah duduk diruang tamu.


Gweny tersenyum lega, saat melihat Mirza telah pulang. sudah hampir setengah jam yang lalu ia duduk dengan hati yang berdebar, menunggu Mirza pulang. namun wajahnya berubah murung saat menyadari Mirza tengah menggenggam erat tangan Alula.


Menyadari Gweny memandangi dirinya, Alula seketika melepaskan genggaman tangan Mirza.


Mirza menatap Mama Indri dengan dahi yang mengkerut, seolah meminta penjelasan dengan apa yang tengah terjadi.


"Ini dia anaknya sudah pulang," Mama Indri tersenyum lembut lalu menghampiri putranya.


Mirza menunduk lalu ikut tersenyum sebagai bentuk hormat pada semua orang. meski dalam hati ia masih bertanya-tanya, ada apa ini ?


"Kamu pasti bingung, ayo ikut Mama dulu. kita ganti baju." bisik Mama Indri.


"Saya antar Emir masuk dulu yah." pamit Mama Indri pada semua orang, lalu membawa Mirza menuju kamarnya.


Alula berdiri dengan gugup, ia merasa sadar diri, bukan ranahnya untuk ikut campur dalam acara keluarga.


Namun langkahnya terhenti, saat Pa Sanjaya memanggilnya.


"Cepat ganti baju, terus balik kesini lagi ya nak." ada rasa haru, saat Pa Sanjaya memanggilnya dengan sebutan 'nak'. ia balas tersenyum lalu menghilang dibalik pintu kamar.


"Ada apa ini Ma ?" Mirza menuntut penjelasan dari Mama Indri saat ia masuk kedalam kamar.


Sejenak Mama Indri terlihat ragu untuk mengatakannya.


"Mir, dengarkan Mama !" Mama Indri menuntunnya untuk duduk ditepian ranjang.


"Mama tahu, saat ini kamu pasti bingung." ucap Mama Indri dengan hati-hati, sebab ia tahu Mirza pasti akan terkejut dengan apa yang akan terjadi.


"Kita semua berkumpul disini untuk merayakan hari keberhasilan kamu, karena kamu udah lulus kuliah." Mirza mengangguk-anggukan kepalanya.


"Juga ..." ucapan Mama Indri terhenti.


"Juga apa Ma ?" desak Mirza, yang tak sabar menunggu penjelasan.


"Juga hari pertunangan kamu dengan Gweny."


DEG...

__ADS_1


Mirza terkesiap, bahkan saat itu juga merasa kepalanya terbentur tembok raksasa membuat tubuhnya mendadak terasa lemas. kata 'pertunangan' kini terngiang-ngiang ditelinganya.


Apa maksudnya ini? tunangan ? siapa ? ia masih mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Mama Indri.


"Mir, bukankah kamu yang bilang akan mencoba menjalaninya ?" tanya Mama Indri saat melihat wajah Mirza yang terkejut.


Ah ya, Mirza sampai lupa dengan perkataannya pada Mama Indri waktu itu. bahwa ia akan mencoba menjalani hubungan dengan Gweny. tapi ia tidak benar-benar serius dalam mengatakannya. bahkan untuk bertunangan, jelas itu adalah hal yang tidak ingin ia lakukan.


"Tapi Ma," Mirza ingin memprotes namun Mama Indri memotongnya.


"Mir ... ini semua keinginan Papa. Papa merasa senang kamu mau menjalani perjodohan ini dengan Gweny."


"Papa memang tidak memaksa, tapi apa kamu mau melihat Papa kecewa ?"


"Ma," Mirza mendesah tak percaya, bagaimana bisa Papa memutuskan sesuatu tanpa membicarakan apapun padanya.


"Jangan buat Papa kecewa Mir." pinta Mama Indri dengan tatapan memohon.


"Apa kamu mau mempermalukan Papa didepan banyak orang ?"


"Kalau saja kamu menolak waktu itu, Papa mungkin gak akan merencanakan ini semua."


"Jalani saja, mungkin sudah waktunya kamu memiliki pasangan." Mama Indri beranjak, lalu ia membuka lemari pakaian milik Mirza.


"Cepat ganti bajumu, Mama sudah siapkan kemeja batik yang senada dengan Gweny."


Mirza menghela napas panjang, bagaimana bisa ia bertunangan dengan orang lain, sedangkan ia baru saja mengungkapkan perasaannya pada Alula.


Bagaimana ia bisa memulai hubungan dengan orang lain, sedangkan ia baru saja meminta Alula untuk terus disampingnya.


Namun ucapan Mama Indri sebelum ia keluar dari kamar, membuat Mirza semakin terkesiap.


"Adek kamu sendiri yang bikin desain bajunya."


Apa? bagaimana bisa Alula tahu tentang rencana ini, tapi ia tidak membicarakannya pada Mirza.


"Apa itu artinya... Alula tidak memiliki perasaan yang sama seperti apa yang aku rasakan? lalu kenapa dia malah menangis saat aku memeluknya tadi?" ucap Mirza pada dirinya sendiri.


Mirza kembali mendaratkan tubuhnya ditepian ranjang, ia benar-benar merasa kacau. ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menjambak rambutnya sendiri, merasa frustasi. bagaimana bisa ia sebodoh ini.


Apa yang harus ia lakukan sekarang? menjalani hubungan dengan Gweny, dan melupakan perasaanya pada Alula? atau membatalkan pertunangan ini dan membuat Papa kecewa ?


.


.


.


Happy Reading ... 😊

__ADS_1


Nah loh, jangan dihujat yah si Emir. kasian lagi pusing... 🤣


Jangan lupa like and comment nya ... 👍


__ADS_2