
Siang ini, setelah jam mata pelajaran terakhir berakhir. Alula bergegas keluar dari kelas menuju gerbang sekolah. ia tak langsung mengajak Mirza pulang, melainkan minta diantar kebutik tempatnya bekerja sebagai pembuat desain.
"Abang, anterin aku ke butik dulu yah." ucapnya pada Mirza yang tengah menunggu ditempat biasa.
"Ogah," tolak Mirza dengan mengedikan bahunya.
"Dih ko' gitu, Yaudah aku naik ojek aja nih." ancam Alula lalu berpura-pura pergi.
"Yaudah, sono!" Mirza pun berpura-pura akan melajukan sepeda motornya.
"Abang ih," dengan kesal Alula naik keatas motor Mirza, tidak mau sampai ditinggalkan.
"Turun Lu, gue bukan kang ojek." ucap Mirza.
Seketika ingatan mereka kembali pada pertemuan pertama mereka di puncak. Alula hanya tertawa mengingat ia memanggil Mirza dengan sebutan, Ojek.
"Enak aja, muka bening bin kinclong, maha karya terbaik gini Lu sebut kang Ojek." sungutnya dengan kesal.
Alula kembali tertawa "Yaudah sih, maafin lah bang. udah lama juga."
Sudah hampir dua bulan ini, Alula menikmati pekerjaannya sebagai designer amatiran. ia tidak menyangka, jika Bu Nuning akan sebegitu menyukai karyanya. baginya, itu sangat menyenangkan. karena ia bisa dengan mudah menyalurkan hobinya, sekaligus mendapatkan royalti yang pantas atas hasil kerjanya. dan lagi, pekerjaannya itu juga tidak mengganggu proses belajarnya selama disekolah.
"Semenjak Ibu pakai desain kamu, banyak yang pesan baju kesini loh. mereka puas dengan model baju buatan kamu." ujar Bu Nuning dengan senyum diwajah ayunya.
Alula kini tengah berada didalam ruangan kerja Bu Nuning -pemilik butik-. aneh memang, padahal gambar yang ia berikan biasa saja, tapi menurut Bu Nuning justru terlihat istimewa.
Bu Nuning berjalan menuju deretan baju yang tergantung rapi disisi meja kerjanya.
"Ini," Bu Nuning memperlihatkan satu baju yang baru selesai dijahit pada Alula,
"Warnanya cantik kan? Ibu sesuaikan sama desain yang kamu kirimkan hari selasa kemarin. tinggal ditambah sedikit payet di bagian dadanya."
Alula terperangah, tak percaya jika hasil nyatanya akan secantik itu.
"Wahh... Bu, ini sih yang jahitnya aja yang pinter banget. aku kan cuma gambar desainnya aja, yang pinternya ya tukang jahitnya. bisa menyesuaikan sama desainnya gitu Bu."
Alula telah beberapa kali mencoba mempraktekannya sendiri. ternyata sulit sekali menghasilkan satu baju, karena memang ia tidak ahli dalam bidangnya.
Ibu Nuning hanya tersenyum mendengar penuturan Alula.
"Gak salah memang, kamu itu gak pernah mau dipuji."
"Loh, kan memang benar itu Bu." Alula hanya meringis malu.
"Lha iya, tapi tetap saja, seorang designer juga perlu pemikiran yang matang. menghasilkan suatu karya itu kan gak mudah. apalagi ini baju, harus diperhatikan dengan detail, ukuran, bahan kain, juga warna yang akan dipakai."
"Ibu do'akan, semoga kamu menjadi designer yang terkenal dimasa depan." ucap Bu Nuning dengan tulus.
"Aamiin Bu, aku kencengin ngaamiinin nya biar cepat terkabul." Bu Nuning menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ini, bayaran untuk desain yang bulan lalu kamu kirim ke Ibu. jangan lupa ditabung!" Bu Nuning mengangsurkan amplop cokelat dihadapannya. ia yang meminta Bu Nuning agar membayarnya dengan uang cash. agar lebih mudah memakainya, jika sewaktu-waktu ia membutuhkan uang.
"Terima kasih banyak ya Bu." Bu Nuning hanya mengangguk, lalu tersenyum.
Setelah urusannya dengan Bu Nuning selesai, Alula menghampiri Mirza yang tengah menunggunya disofa ruang tunggu.
"Maaf, lama yah bang?" Alula merasa tak enak hati karena telah membuat Mirza menunggunya.
"Kagak, cuma bahu gue aja nih nyampe bulukan." tunjuk Mirza pada bahunya dengan isyarat mata.
"Lah, itu mah karena abang jomblo." Alula mengekori Mirza yang berjalan menuju pintu keluar.
Mirza menoleh "Apa hubungannya?"
"Kelamaan kosong, gak ada yang nyender." Alula tertawa puas setelah mengejek Mirza.
Mirza hanya mendengus sebal lalu meninggalkan Alula yang masih menertawakannya.
"Puas banget Lu, ketawanya dek." gumam Mirza ketika ia tengah memakai helm fullfacenya. senyumnya tiba-tiba saja mengembang melihat wajah putih Alula yang berubah merah setelah tertawa.
Namun keriaanya tak berlangsung lama, ketika ia melihat seseorang yang baru saja turun dari sebuah mobil tepat disebelah motornya. wajah Mirza berubah datar.
"Kak Gweny, kesini juga?" Alula yang masih berdiri diambang pintu kemudin berjalan dengan cepat menghampiri Gweny.
"Hai La," sapanya pada Alula.
lalu beralih menoleh pada Mirza yang berdiri disebelahnya.
"Hai Mir." tanpa disangka, Mirza menganggukkan kepalanya tanda membalas sapaannya.
"Sudah mau pulang?" tanyanya pada Alula.
"Iya Kak, Eumm..." belum sempat Alula berbicara, Mirza lebih dulu memotongnya.
"Cepetan dek, ngantuk elah." ucapnya sambil menghidupkan mesin motornya.
"Iya abang ih, bawel deh." Alula meraih pundak Mirza lalu ia naik keatas motor. "Kita duluan ya Kak." pamitnya pada Gweny yang masih berdiri disamping mobil. Gweny hanya mengangguk, lalu tersenyum.
"Biar gak ngantuk, aku jajanin bakso mau yah! aku abis gajian dong." ucap Alula dengan nada bangga, karena ia telah menghasilkan uang sendiri.
"Ceritanya mau traktir nih?" Goda Mirza.
"Iya aku traktir."
Dan kini, mereka telah sampai dikedai bakso -tempat pavorit Mirza-. tanpa disangka dan tanpa diduga, ternyata duo teman sengklek Mirza telah duduk manis disalah satu meja, menghadap mereka berdua yang baru saja masuk kedalam kedai.
"Mimpi apa gue semalem ketemu Lu berdua disini." ucap Mirza sambil mendudukan diri dikursi seberang Martin.
"Lu lupa adus ( mandi wajib ) kali tadi pagi." dan sebuah toyoran mendarat didahi Marko.
__ADS_1
"Jahanam... jangan samain gue sama elu yah!" protes Mirza.
Martin hanya tertawa mendengarnya. "Mulut lu filter woi, ada anak dibawah umur." ujarnya sambil tertawa, Alula hanya mencibirnya .
"Eh neng peri," sapa Marko dengan cengengesan.
"Neng peri tahu gak, bedanya neng peri sama kayu." rupanya Marko mulai menjalankan aksi gombalannya.
"Engga, apa?" tanya Alula dengan dahi yang mengernyit.
"Kalo kayu itu.. mahoni, kalo neng peri itu.. my honey."
Alula hanya tertawa mendengar gombalan receh dari Marko.
Mirza sudah membuka mulut hendak menyela. namun urung, karena pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Makasih Mas." ucap Mirza pada pelayan.
"Oh iya, sama-sama. Mas. silahkan dinikmati." pelayan itupun pergi meninggalkan meja mereka.
"Neng peri, kalau bakso kan baunya daging yah. nah kalo ikan, baunya apa?"
Dahi Alula lagi-lagi mengernyit, "Amis?"
"Amisyu tu.... " Alula kembali tertawa dengan renyahnya. sungguh, berada didekat Marko selalu membuatnya merasa terhibur. bahkan ia rasa, tubuhnya telah mengeluarkan banyak hormon endorfin. selalu menyenangkan memang mendengarkan humor dari Marko, membuat rasa lelah juga stresnya menghilang.
Sedangkan Mirza dan Martin mengedikan bahu mereka. merasa enggan mengakui bahwa mereka punya teman sememalukan Marko.
"Napa Lu sirik aja," Marko mendelik pada Mirza yang kini juga ikut menertawakannya.
"Heh Marko Syafe'i, ngegombal tuh yang berkelas dikit."
"Eh Lu kang semir, jangan sebut nama asli gue didepan cewe. be go! malu-maluin Lu." kali ini Mirza dan Martin tertawa terpingkal-pingkal sampai harus memegangi perut mereka yang terasa sakit. Marko memang selalu tidak suka jika nama belakangnya disebut-sebut.
"Heran gue sama bokap, nama udah keren-keren Marko. eh belakangnya dikasih Syafe'i. kan menjatuhkan harga diri gue sebagai orang tampan." Marko terus saja menggerutu, merasa kesal mengapa orang tuanya memberikan nama seperti itu.
"Nama itu bentuk kasih sayang dari orang tua loh bang." ucap Alula sambil mengaduk-aduk es teh manis yang baru saja diantarkan pelayan.
"Aku dulu gak suka dipanggil Alula, aku sukanya dipanggil Rain."
"Jadi, setiap kali ada orang yang nanya nama aku siapa. aku jawab, panggil aku Rain." Mirza yang tengah menusukkan garpu pada bakso, seketika menoleh pada Alula yang duduk disampingnya.
"Karena aku suka nama Rain." imbuh Alula.
Mirza merasa mengenal nama itu, Rain. namun bukankah nama Rain didunia ini tidak hanya satu ? Mirza menampiknya, tidak mungkin Rain -si anak ompong berwajah cantik- itu adalah orang yang sama dengan Alula.
.
.
__ADS_1
.
Happy reading... 😊