Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Keputusan


__ADS_3

Alula POV


Malam ini aku kembali termenung sendirian didalam kamar, sementara anak-anak yang lain masih berada di ruang tengah. kulirik jam yang menempel didinding kamar menunjukan pukul 20.00 malam, pantas saja aku masih belum mengantuk.


Aku teringat kembali obrolanku bersama Ibu Indah tadi siang, ia berniat melanjutkan sekolah ku ke tingkat SMA. yah, seharusnya sekarang aku duduk dibangku SMA setelah pembagian ijazah SMP beberapa bulan lalu. sedikit terlambat memang, tapi tak masalah jika nilai-nilai yang ku dapat di sekolah dulu cukup tinggi dengan nilai rata-rata memuaskan bukan? yah aku bersyukur dengan kecerdasan yang kumiliki.


Aku senang jika Bu Indah ingin kembali menyekolahkanku. satu sisi aku merasa diakui sebagai anaknya, aku merasa kembali mendapatkan perhatian, aku senang masih ada yang peduli dengan masa depanku.


tapi entah kenapa aku sedikit bimbang. aku ragu untuk menerima tawarannya, sedangkan jika aku menolak aku akan melukai hati beliau. banyak sekali pertimbangan yang ku pikirkan.


Disisi lain aku juga takut hanya akan menambah beban dan menambah biaya pengeluaran Bu Indah saja. sama seperti yang Risma katakan padaku tadi. yah, sepeninggal Bu Indah Risma mendatangiku dan mengatakan banyak hal padaku. terlebih Risma seperti tidak pernah menyukai ku. aku heran, kenapa dia tidak pernah bersikap baik padaku, padahal aku ingin sekali berteman dengannya mengingat kita semua disini memiliki kekurangan yang sama. yah, sedikitnya aku tau tentang Risma yang sudah kehilangan ayah nya saat ia didalam kandungan.


Aku mengerti posisi Risma, saat ini dia hanya sedang cemburu padaku. sama seperti yang aku rasakan dulu saat Ayah dan Ibu memberikan perhatian lebih pada Dwi adik kembarku. aku hanya mencoba menerima dengan lapang dada dengan perlakuan mereka pada Dwi. tidak hanya orang tuaku, banyak orang-orang disekitarku memperlakukan aku dan Dwi dengan berbeda. meskipun kita terlahir sebagai saudara kembar.


Aku tau kedatanganku membuat anak-anak yang lain menjadi lebih dekat denganku dari pada dengan Risma dan aku yakin hal itu juga yang membuatnya membenci ku. Aku tidak marah, akupun tidak kesal, aku hanya perlu bersikap baik padanya. terlepas bagaimana cara ia membalas perlakuanku itu terserah dia. yang penting aku berusaha bersikap sewajarnya saja.


Setelah lama berpikir, akhirnya ku putuskan untuk pergi saja dari rumah singgah ini. agar semua kembali pada keadaan semula sebelum kedatanganku kesini. dengan begitu Ibu Indah tidak perlu repot mengeluarkan biaya tambahan untuk menyekolahkanku dan Risma bisa kembali akrab dengan anak-anak yang lain dengan ketidakhadiranku. yah begitu saja !


Ku ambil ranselku yang ada dibawah ranjang, ku keluarkan sebuah dompet yang dulu pernah ku ambil dari pria jahat itu. perlahan ku buka,


daaan taraaaa....

__ADS_1


Ada beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan, lima puluh ribuan dan sisanya uang recehan sepuluh ribuan. tidak sia-sia kan aku membawamu dompet? hahaa.. aku tertawa dalam hati.


Aku tidak mencuri kan? aku hanya memanfaatkan keadaan. yah, saat ini aku sedang terdesak. mau tidak mau aku harus memakainya, salah sendiri kenapa jahat padaku ! uang ini akan ku gunakan untuk menyewa kontrakan dan untuk menyambung hidup. untuk kembali sekolah akan kupikirkan nanti.


Tunggu ! ada sesuatu yang mengusik pikiranku ketika ku lihat sebuah foto pernikahan didalam dompet ini. pengantin pria sudah ku pastikan adalah ayah tiriku, tapi pengantin wanitanya bukanlah ibuku, siapa? sejenak aku mengingat wajah itu, aku seperti tak asing dengan wajahnya. ah sudahlah ! tidak usah dipedulikan. ku simpan kembali dompet itu kedalam ransel.


Perlahan aku mulai memasukan kembali barang-barang ku kedalam ransel ku. tak banyak, hanya beberapa baju, dan surat-surat berharga milikku. aku tau ini akan sangat dibutuhkan, jadi aku akan selalu membawanya kemanapun. tidak lupa dengan buku catatan berwarna hitam milik Ibu tercintaku.


Aku kembali menuliskan sesuatu diatas kertas, hanya ucapan terima kasih dan permohonan maaf karena telah melakukan semua ini. aku yakin Ibu Indah pasti akan sangat kecewa padaku. tapi aku tidak punya pilihan lain, aku tidak mau merusak hubungan ibu dengan anak, dan adik dengan kakak. semoga saja kedepannya aku bisa hidup lebih mandiri lagi dan semoga saja keputusan yang ku ambil ini tidak salah.


Ketika kudengar suara langkah seseorang hendak memasuki kamar, aku sudah merebahkan diriku diatas kasur. aku berpura-pura tertidur agar mereka tidak curiga padaku.


Ah rupanya Jeni dan Tata sudah kembali ke kamar, sungguh aku akan merindukan kalian nanti. bagaimanapun aku sudah menyayangi kalian sejauh ini.


Lama aku berpura-pura tertidur, aku sudah tidak mendengar suara pergerakan dari Jeni dan Tata lagi.


Hening... perlahan ku coba membuka mataku, jika salah satu dari mereka belum tertidur aku akan berpura-pura pergi ke kamar mandi saja.


Untungnya tidak, mereka nampak sudah tertidur pulas. mungkin mereka kelelahan setelah bermain-main tadi. aku mengulas senyum melihat mereka tidur terlelap, mungkin ini akan menjadi hari terakhir aku bertemu dengan kalian, sekali lagi maafkan aku Jeni, maafkan aku Tata. kalian adik-adikku yang luar biasa.


Aku mengambil ranselku yang tadi kusimpan kembali dibawah ranjang, perlahan ku buka jendela disamping ranjangku. seolah semesta mendukung niatku, persis disamping kamarku ini adalah tanah kosong yang biasa digunakan sebagai lahan parkiran untuk tamu-tamu yang datang. sejenak aku ragu dengan keputusan ku. aah tidak tidak ! aku menggeleng-gelengkan kepalaku. aku harus yakin keputusan ku ini memang sudah tepat.

__ADS_1


Kulirik jam sudah menunjukan pukul 10 malam, suasana diluar kamar juga sudah mulai sepi. aku yakin anak-anak yang lain sudah terlelap dan aku juga yakin Bu Indah sudah kembali ke rumah utama. yah, letak rumah utama Bu Indah sedikit berjauhan dengan kamar anak-anak panti.


Setelah memastikan keadaan aman, ku lihat keluar jendela, hujan pun sudah mulai reda. aku jadi tidak perlu hujan-hujannan diluar. dengan sangat hati-hati aku menarik bangku disamping ranjang untuk aku pijaki. setelah jendela berhasil terbuka, kulemparkan ransel ku keluar barulah aku naik keatas jendela. aku sedikit takut untuk keluar, ternyata suasana diluar ketika malam hari sungguh menyeramkan. aku jadi bergidik ngeri.


Brukkk...


Tubuhku terjatuh, aku sedikit memekik kesakitan saat tanganku menekan pada sebuah batu yang lumayan runcing, tapi tak apa! sakit ini tak seberapa, aku harus kuat.


Aku tak berani mengangkat kepalaku,bahkan hanya untuk memastikan keadaan. mataku fokus pada ransel didepanku. setelah aku mengambil ranselku, buru-buru aku berlari kearah gerbang. beruntung sekali aku, pintu gerbang dalam keadaan terbuka. hanya beberapa centi saja, dan aku bersyukur memiliki tubuh yang mungil sehingga dengan mudah melewati pintu gerbang.


kemana pak satpam yang biasa jaga yah? ah mungkin sedang nongkrong di kedai nasi goreng.


.


.


Jadi ingin nasi goreng gini atulah.. 😅


ehh engga deh, aku minta diklik aja jempulnya biar aku syemangat ngunyahnya, ehhh nulisnya... 😀


thanks riders ku..

__ADS_1


Maafkan penulisan gaya bahasaku sejauh ini ya gaess, masih perlu banyak-banyak belajar akutu, maklum penulis amatiran.


Happy readding...


__ADS_2