
Alula menatap nanar pantulan dirinya dalam cermin, ia masih tidak menyangka jika sekarang dirinya telah resmi dipersunting oleh Mirza, laki-laki yang sudah berulang kali menyelamatkan hidupnya. Namun laki-laki itu pula yang sudah merubah jalan takdirnya.
"Aku ingin memperjuangkanmu sekali lagi." Begitu, kalimat yang selalu Mirza ucapkan ketika pria itu meyakinkannya. Alula bisa melihat itu, sebuah cinta, penghargaan, pengharapan dan kasih sayang yang Mirza berikan padanya begitu tulus.
Dan lagi, apa yang diberikan Mirza padanya sebagai mahar menurutnya adalah sesuatu yang berlebihan. Ia tahu, Mirza begitu berjuang dengan keras, untuk mendapatkan dirinya. Tak hanya sekali, tak terhitung berapa kali penolakan yang Alula lontarkan.
Tapi ... dua kilo setengah emas? untung saja itu berbentuk batangan, bukan perhiasan. Bisa-bisa dia berjalan dengan menunduk karena keberatan. Alula terkikik sendiri.
Alula menghela napas panjang, mencoba menghilangkan rasa pening dikepalanya. Banyaknya rangkaian acara, juga beratnya sanggul dan siger yang dipakai di kepala menjadi penyebabnya. Alula memutuskan untuk berpamitan, mengundurkan diri terlebih dahulu untuk segera melepaskan semua yang terpasang dikepalanya.
Alula beranjak dari depan cermin, lalu ia duduk di tepian ranjang. Rasa lelah usai acara seharian, membuatnya ingin merebahkan diri di sana. Namun sebelum ia sempat merebahkan tubuhnya, perhatiannya teralihkan pada pintu kamar yang terbuka, dan Mirza menyembul setelahnya.
"Abang," pekik Alula, melihat Mirza masuk ke dalam kamarnya begitu saja. Ah ia lupa, jika sekarang Mirza adalah suaminya.
"Udah beres aja," ujar Mirza setelah melihat wajah Alula bersih dari sisa makeup. Bahkan, Alula sudah mengganti baju pengantinnya dengan midi dress berwarna marun.
"Di-diluar masih banyak tamu?" tanya Alula gugup.
"Ada, tapi ada Papa yang nemenin. Aku cape, pengen rebahan," keluh Mirza, ia ikut duduk di tepi ranjang, di samping Alula.
Alula tersentak, saat tiba-tiba Mirza merebahkan tubuhnya di atas kasur dan menempatkan kepalanya di atas pangkuan Alula. Tubuhnya tiba-tiba menegang, detak jantungnya berdetak lebih kencang, bahkan keringat dingin mulai bercucuran.
Mirza merasakan bahasa tubuh Alula yang gelisah, ia menatap tajam wajah Alula. Istrinya itu terlihat tidak nyaman, bahkan Mirza juga melihat Alula mencengkram kain sprei yang menutupi tempat tidurnya. Niatnya untuk tertidur sebentar di pangkuan Alula kini lenyap sudah.
"Hei, kenapa?" Mirza kembali duduk, niat hati ingin bermanja-manja ia urungkan.
Mirza meraih tangan Alula, lalu menggenggamnya. memberikan kekuatan juga menenangkannya.
"Aku ... aku ...." Alula tidak bisa berkata apa-apa, hanya air mata yang mengalir menjadi jawaban untuk Mirza.
"Apa kamu merasa takut?" terka Mirza. Alula hanya menunduk.
"Ma–maaf," ucap Alula, ia masih menunduk sambil meremas jemarinya.
Mirza membawa tubuh Alula ke dalam dekapannya. Ia bisa merasakan reaksi tubuh Alula yang menegang. Mirza berusaha memberinya kekuatan, ia mengusap punggung istrinya dengan lembut. Perlahan, Alula mulai menerima sentuhan Mirza, bahkan ia merasa sedikit tenang.
Mirza melepaskan pelukannya, ia meraup kedua pipi Alula yang masih berderai air mata.
"Apa ini semua karena aku? aku yang udah menambah lukamu?"
Alula masih menangis dengan menahan rasa takut. Ini yang sebenarnya membuat Alula selalu ragu untuk memulai suatu hubungan. Rasa takutnya, trauma dimasa lalunya yang tidak bisa ia kendalikan. Alula tau, ini tidaklah mudah, tapi ia tetap ingin berusaha melayani Mirza, suaminya.
"Maaf sayang, aku sudah membuatmu seperti ini," ucap Mirza dengan penuh penyesalan.
__ADS_1
Alula segera menggeleng, tak ingin Mirza terus menerus menyalahkan dirinya.
"Tidak Abang, aku ... aku hanya belum siap. Jujur, hal ini yang aku takutkan. Aku kira, semuanya sudah berlalu, aku kira semuanya sudah pergi. Aku hanya ingin melupakannya Abang."
Alula kembali mendekap tubuh Mirza, erat ia memeluknya. Berharap perasaan takutnya dapat terkikis hanya dengan sebuah pelukan.
"Pelan-pelan sayang! pelan-pelan aku akan membantumu melupakan semuanya." Mirza mengusap puncak kepala Alula, lalu mendaratkan sebuah ciuman di sana.
"Sekarang istirahat ya! aku mau mandi dulu." Mirza tersenyum, ia kembali mengecup pucuk kepala Alula sebelum beranjak pergi ke dalam kamar mandi.
...****************...
Jam digital yang menempel di dinding kamar sudah menunjukkan pukul 16.00 saat Mirza terbangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa lelah, hingga saat ia selesai mandi tadi, ia memutuskan untuk tidur sebentar sebelum sore nanti mereka harus berangkat ke hotel untuk acara resepsi yang akan di laksanakan malam nanti.
"Rain ...."
Alula yang saat itu tengah bersiap di depan cermin menoleh, saat Mirza memanggilnya dengan nama itu. "Abang?" Dilihatnya Mirza sudah terduduk di atas tempat tidur, dengan wajah setengah mengantuk serta rambut yang semerawut. Ah tidak, bahkan suaminya itu terlihat semakin menawan.
"Kenapa gak bangunin?"
"Kasian, Abang kayaknya cape. Abang tadi panggil aku apa?" tanya Alula, memastikan bahwa apa yang di dengarnya tidak salah.
"Rain, kenapa?"
"Abang ingat nama itu?"
"Ya, tentu. Kamu anak kecil yang menangis di bawah hujan malam itu. Kamu yang langsung tersenyum saat aku kasih boneka. Aku ingat itu, Rain. Hm?" Mirza tersenyum menampilkan lesung pipinya.
Mata Alula mulai berkaca, cairan bening mulai memupuk di pelupuk matanya. Benarkah Mirza mengingat semuanya? ada rasa haru dan bahagia di sana, di dalam hatinya.
"Kenapa?" tanya Mirza saat melihat Alula malah menangis. Ia duduk bersimpuh menyamakan tinggi badannya dengan Alula.
"Gak apa-apa, aku hanya terharu. Ternyata Abang masih mengingatku," jawab Alula seraya mengusap sudut matanya yang masih berair.
"Maaf, karena sejak awal aku gak ngenalin kamu." Mirza meraih kedua tangan Alula, lalu menggenggamnya. Alula hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. Seolah berkata 'tidak apa-apa'.
"Kenapa dulu memperkenalkan dirimu dengan nama itu, Rain?"
"Karena aku suka," jawab Alula sekenanya.
"Pasti ada alasan lain, 'kan?" Mata Mirza memicing, tak begitu saja percaya dengan jawaban istrinya.
"Karena ... Rain namaku, Abang. Raina."
__ADS_1
"Yakin cuma itu?"
"Abang pengen tahu?"
"Ceritakan!" Mirza berdiri, ia berjalan menuju tempat tidur, lalu mendudukkan dirinya di tepian ranjang. Mirza menepuk sisi lain dan menyuruh Alula agar duduk di sana.
"Tapi kita harus segera siap-siap Abang. Semuanya sudah pergi ke hotel sejak tadi." Alula mengikuti langkah Mirza, lalu ikut mendudukkan diri di samping suaminya.
"Kita yang nikah, kenapa mereka yang ngebet pergi ke hotel sih," gerutu Mirza.
"Abang!"
"Ceritakan! kita masih punya waktu satu jam."
Alula terdiam, ragu, apakah ia harus menceritakan semuanya pada Mirza? Tapi, bukankah sekarang Mirza adalah suaminya, tentu saja ia harus berbagi keluh kesahnya, berbagi bahagianya, dan berbagi suka duka dengan suaminya.
"Hm, sebenarnya ... dulu, aku sering di bully gara-gara aku cadel, gak bisa sebut huruf R. Terus temen-temen di sekolahku segaja panggil aku 'Alula' biar kedengarannya makin cadel. Padahal, aku pengen dipanggil Raina," tutur Alula.
"Hanya itu? hanya gara-gara cadel? aku kira karena saat itu lagi hujan, makanya kamu sebut nama Rain, hujan?"
"Aku suka hujan, tapi ada yang lebih aku suka dari itu."
"Apa?"
"Rain ... bow," lirih Alula, membuat dahi Mirza mengernyit. kenapa harus Rainbow?
"Ya, Rainbow. Pelangi," jawab Alula setelah melihat ekspresi wajah Mirza yang keheranan. "Bukankah pelangi sering kali datang setelah hujan?" kali ini Mirza mengangguk.
"Abang tahu?" Alula menatap dalam manik mata suaminya. "Sejak kecil, keluargaku sudah banyak tertimpa masalah. Musibah datang silih berganti. Ayah yang sempat bangkrut lalu kehilangan pekerjaannya, Dwi yang sering sakit, dan saat itu keuangan kami sangatlah sulit, hingga Ayah dan Ibu hampir saja berpisah." Wajah Alula terlihat sendu.
Mirza melingkarkan tangannya di bahu Alula, dan mengusap pelan bahu istrinya itu, mencoba memberi kekuatan. Ia sedikitnya tahu tentang kehidupan Alula di masa kecil.
"Aku sering melihat Ibu menangis, wajahnya selalu mendung. Tapi Ibu selalu ingin terlihat baik-baik saja. Itu yang aku suka dan aku tiru dari Ibu."
"Meski saat itu, aku masih kecil dan belum mengerti apa-apa, tapi aku selalu berharap semua akan membaik seiring berjalannya waktu. Dan Aku percaya, adanya pelangi setelah hujan."
"Dan aku selalu berharap, aku akan menjadi seperti pelangi. Yang memberikan warna dalam hidup Ayah, Ibu, Dwi dan orang-orang di sekitarku. Aku berharap, dengan sifatku yang periang, aku bisa membuat orang lain merasa terhibur dan bahagia hingga melupakan semua permasalahan yang terjadi."
Mirza tersenyum lembut, lalu membawa tubuh istrinya kedalam dekapan.
"Aku suka nama itu, Rain," ucapnya seraya mengecup pucuk kepala istrinya.
.
__ADS_1
.
Happy Reading 🙂