Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Permintaan Maaf


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Pak Abhi sekarang?" tanya Mirza tanpa mengalihkan pandangannya pada jalanan ibukota. Setelah beberapa saat suasana di dalam mobil hening, karena Shaka juga Shaki telah tertidur di kursi belakang.


"A–ayah...,"


"Pasti beliau kecewa sekali sama aku." potong Mirza.


Alula menggelengkan kepalanya pelan, "jangan selalu menyalakan diri sendiri, aku juga salah dalam hal ini."


"Maaf...,"


"Udah, jangan minta maaf lagi!" tegas Alula.


Selama perjalanan menuju pulang, Alula juga Mirza tak banyak bicara, semua terasa begitu canggung dan bingung harus berkata apa. Sesekali Alula melirik pada pria yang duduk di sampingnya, pria yang dulu sangat ia cintai kini berubah menjadi pria yang dewasa. Pria yang saat ini sudah menjadi ayah dari anak-anaknya kini terlihat semakin mempesona. Alula menggelengkan kepalanya, mengenyahkan perasaan kagum pada pria di sampingnya.


Setelah satu jam perjalanan, mobil sedan hitam itu tiba di sebuah pintu gerbang dengan tulisan "Rumah Singgah Anugerah" di atasnya. Mirza memarkirkan mobilnya di lahan parkir khusus tamu. Bersamaan dengan itu, Shaki terbangun dari tidurnya, lalu mengguncang tubuh saudara kembarnya yang masih terlelap.


"Shaka, Kaka, ayo kita ketemu kakek!" ucap Shaki ketika membangunkan Shaka.


"Shaka, ayo bangun! kita sudah sampai." Shaki mengguncang tubuh Shaka sekali lagi.


"Apa?" Dengan malas Shaka akhirnya membuka matanya.


"Ayo kita ketemu Kakek!" ajak Shaka.


"Kakek?" mata Shaka membulat mendengar kata Kakek. Orang yang tidak pernah ia tahu, dan tidak pernah ia temui sebelumnya. Seketika Shaka langsung terbangun dari tidurnya dan buru-buru mengajak Shaki untuk keluar dari mobil.


Dari kursi depan Mirza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan Alula tersenyum penuh haru melihat kedua anaknya yang saat ini menjadi sangat dekat.


"Kakek!" teriak Shaki sambil berlari saat melihat Ayah Abhi tengah duduk di teras rumah dengan menggunakan kursi rodanya.


Ayah Abhi terkejut melihat kedatangan Shaki yang bergandengan tangan dengan saudara kembarnya.


"Coba tebak Kek, yang mana cucu kakek?" dengan wajah tengil, Shaki menantang sang Kakek untuk menebak yang mana dirinya.


Bukannya menjawab, Ayah Abhi justru terisak dan merangkul lalu memeluk kedua anak kembar itu.


"Ini Shaki, dan ini Shaka. Dua-duanya cucu Kakek," ucap Ayah Abhi setelah melepaskan pelukannya dari Shaka dan Shaki. ia menyeka sudut matanya yang basah karena buliran air mata yang sempat menetes.


"Ih Kakek curang, kenapa Kakek udah tau?" Wajah Shaki berubah cemberut karena sang Kakek sudah tahu lebih dulu.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, Alula dan Mirza datang dengan beberapa kantong belanjaan. Mereka sengaja memberi waktu untuk Shaka dan Shaki bertemu dengan Ayah Abhi.


"Ayah," panggil Alula saat ia tiba di depan teras rumah, bersamaan dengan keluarnya Ibu Indah dari dalam rumah.


"Abhi, ada apa kok ramai sekali?" tanya Ibu Indah, ia terkejut mendapati Mirza juga Shaka ada di sana.


Suasana terasa begitu canggung, hingga akhirnya Ibu Indah mengajak Shaki juga Shaka untuk masuk ke dalam rumah.


"Shaki, ikut Nenek ke dalam yuk! Shaka juga ya!" Kedua anak kembar itupun menurut dan mengikuti Ibu Indah ke dalam rumah.


Setelah kedua anak kembar itu masuk ke dalam rumah bersama Ibu Indah, Mirza mulai berjalan mendekati Ayah Abhi yang masih duduk di kursi rodanya.


"Pa Abhi." Mirza duduk bersimpuh di hadapan Ayah Abhi. "Saya tidak tahu harus memulainya dari mana." Mirza menjeda ucapannya. "Saya–saya benar-benar minta maaf atas semua kesalahan yang sudah saya lakukan."


"Selama ini, saya hidup dalam rasa penyesalan dan rasa bersalah yang begitu dalam. Saya tahu, kesalahan saya tidak bisa dimaafkan. Tapi setelah bertemu dan meminta maaf secara langsung seperti ini, saya berharap hati saya bisa merasa sedikit tenang."


"Pak Abhi." Mirza meraih tangan Ayah Abhi yang saat itu tengah mengepal, wajahnya terlihat merah karena menahan rasa marah dan kecewanya terhadap pria yang tengah berlutut di hadapannya itu.


"Sekali lagi, saya minta maaf, saya janji akan mempertanggung jawabkan semuanya," ucap Mirza dengan sorot mata yang tulus. Ia menatap sendu wajah renta pria yang dulu sempat bekerja dikeluarganya itu.


"Ayah mana yang tidak sakit hati melihat putrinya diperlakukan seperti itu. Apalagi, saat tau bahwa pria yang menghamilinya ternyata malah menikahi perempuan lain," ucap Ayah Abhi dengan suara tegas dan wajah yang dingin.


Ayah Abhi terlihat menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya, tak lama ia berkata, "Tapi, semuanya sudah berlalu. Saya tidak mau menyimpan kebencian." Ayah Abhi beralih menatap Alula yang berdiri tepat di belakang Mirza dengan mata yang basah karena air mata yang tanpa ia sadari meluruh begitu saja.


"Nak Emir." Ayah Abhi menepuk bahu Mirza.


"Semuanya sudah berlalu, saya sudah memaafkan kamu. Tapi, untuk melupakan semuanya saya tetap tidak bisa."


Mirza tak bisa berkata-kata lagi, ia menciumi tangan renta Ayah Abhi yang saat ini menggenggamnya dengan erat. "Maafkan saya Pak, maafkan saya," ucapnya.


Ayah Abhi mengangguk-anggukkan kepalanya, "Sudah, sudah," ucapnya kemudian.


"Saya tahu, Alula sudah melewati hidup yang sangat berat empat tahun ini. Saya janji, akan menebus semua kesalahan yang sudah saya lakukan."


"Ya! saya pegang ucapanmu. Saya yakin, kamu laki-laki yang bertanggung jawab." Ayah Abhi mengangguk-anggukkan kepalanya, sementara satu tangannya menepuk pundak Mirza.


Malam itu, Mirza menghabiskan waktunya di rumah yang selama ini ditempati oleh Alula, Ayah Abhi dan juga Shaki. Rumah yang masih berada di kawasan rumah singgah milik Ibu Indah. Mirza tak henti menatapi tingkah kedua putranya, sesekali ia ikut tertawa lalu tersenyum haru, tak pernah menyangka jika semuanya akan menjadi seperti ini.


"Aku boleh bobo di sini kan Shaki?" terdengar obrolan antara kedua anak laki-laki itu.

__ADS_1


"Boleh, nanti kita bobo sama Mama," ucap Shaki, menimpali ucapan Shaka.


"Asik, bobo sama Mama, ye!" teriak Shaka sambil berjingkrak-jingkrak didepan semua orang. Membuat semua yang berada di sana tertawa melihat tingkahnya. tak terkecuali Ayah Abhi juga Ibu Indah.


"Papa tidur sama Mama juga kan?" tanya Shaki dengan wajah polosnya.


Dengan wajah panik, Alula segera menengok ke arah Mirza "gak!" jawabnya cepat.


"Kenapa?" tanya Shaki dengan wajah yang sedikit kecewa, karena keinginannya untuk tidur bersama sang Papa tidak bisa terlaksana.


"Papamu harus pulang dulu, besok ke sini lagi!" timpal Ayah Abhi yang seperti mengerti bagaimana kegugupan Alula.


"Ya sudah, Papa bobo sendirian di rumah ya!" ucap Shaka tak acuh.


"Tapi aku mau bobo sama Papa." Shaki tiba-tiba saja menghampiri Mirza dan duduk di pangkuannya.


"Papa harus pulang dulu, nanti Papa pasti ke sini lagi," ucap Mirza, namun Shaka tetap menekuk wajahnya.


"Oh iya, Shaki mau ketemu Oma sama Opa nggak ? nanti Papa ajak mereka ke sini yah."


Dengan segala bujuk rayu, akhirnya Shaki pun mengangguk, tak lagi merajuk meminta sang Papa untuk tidur bersamanya.


"Ini sudah malam, kenapa masih di sini?" tanya Alula ketika melihat Mirza masih duduk di kursi yang berada di teras rumahnya. Anak-anak sudah terlelap di dalam kamar, sedangkan Ayah Abhi sudah terlebih dulu diantarkan ke dalam kamar untuk beristirahat.


"Aku takut," jawab Mirza tanpa menengok ke arah Alula.


"Sejak kapan Abang jadi penakut?" Alula mengerutkan dahinya. Yang ia tahu, Pria di hadapannya ini adalah pria yang paling pemberani, tak pernah takut menolong orang lain meski dirinya ikut berada dalam bahaya.


"Sejak kamu pergi," jawab Mirza seraya menatap dalam wanita yang saat itu berdiri tak jauh darinya.


"Aku takut, kalau kamu pergi lagi. Aku takut, kalau aku gak bisa ketemu kamu lagi," ucapnya kemudian, dengan tatapan yang begitu tulus, lembut, juga menenangkan. Hingga membuat Alula gugup dan tidak tahu harus berkata apa.


"Abang—."


Mirza bangkit dari duduknya, perlahan ia menghampiri wanita yang saat itu berdiri tak jauh darinya.


"Tolong, berjanjilah kamu gak akan pergi lagi! sudah cukup hancur rasanya aku tanpa kamu, dek."


"Jangan pergi lagi." Mirza tak kuasa menahan dirinya, Ia menarik Alula ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Jangan pergi lagi," bisiknya tepat di telinga Alula.


Alulapun tak kuasa menahan tangisannya, ia tumpahkan segala rasa sesak, lelah juga pedih yang ia simpan selama bertahun-tahun sendirian.


__ADS_2