Panggil Aku Rain

Panggil Aku Rain
Berita Mengejutkan


__ADS_3

Udara dipagi hari terasa begitu segar, aroma khas kebun teh terhirup di indera penciumannya. Suara kicauan burung terdengar begitu merdu ditelinganya.


Mirza terbangun saat ia merasa sinar matahari begitu hangat menyentuh kulitnya. Matanya menyipit ketika melihat cahaya yang memantul dari kaca jendela. Ia refleks menutup matanya kembali. Perlahan, ia meraba bagian samping tempat tidurnya, berharap seseorang masih berada disana.


Mirza buru-buru bangkit dari tidurnya, saat ia tidak menemukan Alula disampingnya. kemana dia ? bukankah semalam ia bersama dengan Alula ? apakah semua hanya mimpinya saja.


Tidak, semua nyata. Ia merasakan kepalanya yang masih pening akibat benturan semalam. Wajahnya juga masih terlihat lebam. Dan satu yang paling membuatnya yakin bahwa semalam bukanlah khayalannya saja adalah bercak merah diatas tempat tidur. Ia sangat yakin, jika semalam bukanlah sebuah mimpi.


Mirza hanya tidak ingin kehilangan Alula kembali, sehingga saat ia meras Alula akan pergi, ia langsung menarik dan mendekapnya dalam pelukan. Tidak ada niat sedikitpun untuk melakukan kesalahan besar itu.


Namun, bayangan wajah cantik Alula, berbalut gaun dengan motif bunga berwarna merah muda, yang tengah tersenyum pada pria lain saat dicafe membuat dadanya tiba-tiba terasa panas.


Rasa cemburu mengalahkan akal sehatnya. Ia kecewa pada Alula yang lebih memilih pergi dengan Yanuar dari pada menemuinya. Ia marah, mengapa Alula harus menghindar sedangkan ia hampir gila karena terus memikirkannya. Ia hanya ingin membuktikan bahwa Alula hanya miliknya saja, tidak akan ada yang bisa memiliki Alula selain dirinya.


Meski sempat memberontak, namun air mata yang jatuh membasahi pipi Alula membuatnya yakin bahwa Alula pun memiliki perasaan yang sama. Dan itu terbukti saat Alula mulai pasrah, bahkan pergerakannya mulai melemah.


Mirza bangkit dari tempat tidurnya, ia meraih handuk yang terlipat rapi diatas meja, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Setelah membersihkan diri, Mirza keluar dari kamar dan mencari Alula ke setiap sudut villa. Ia hampir putus asa, saat tidak menemukan Alula dimana pun.


"Kang, lihat Alula gak ?" tanya Mirza pada Kang Agus yang baru saja masuk dari pintu belakang.


"Loh neng Alula ada disini den?" Kang Agus malah balik bertanya. "Aduh, itu wajahnya kenapa den?" Kang Agus terlihat khawatir, melihat wajah Mirza yang sedikit lebam.


"Gak apa-apa kang. Tapi akang beneran gak lihat Alula disini?"


"Enggak den, akang baru aja kesini. Semalam anak sakit, nungguin Aden tapi gak pulang-pulang. Jadi akang terpaksa ninggalin villa." ujar Kang Agus dengan wajah menyesalnya.


Mirza menghela napas panjang, bukan alasan Kang Agus yang ia pikirkan. Tapi, kemana ia harus mencari Alula sedangkan ia tidak tahu dimana perempuan itu tinggal? Kenapa perempuan itu harus pergi ? Mirza terus bertanya-tanya.


Mirza kembali ke cafe yang semalam, untuk mengambil mobilnya. Ia ingin menanyakan keberadaan Alula kepada pemilik cafe tersebut. Namun sayang, Mirza datang terlalu pagi, sebab cafe masih belum dibuka.


Dering telepon membuyarkan lamunannya, Mirza merai handphone yang tersimpan diatas dasbor mobil. Ia langsung mengangkat teleponnya saat terlihat nama Mama Indri muncul dilayar handphone.


"Hallo Ma ?" sapa Mirza pada Mama Indri.


"Kamu kemana aja sih Mir," omel Mama Indri, karena sejak semalam Mirza tak mengangkat teleponnya.


"Maaf Ma, handphone Emir ketinggalan di mobil." semalam, saat ia masuk kedalam cafe untuk menghadiri pertemuan dengan rekan kerjanya, ia lupa membawa handphone dan tertinggal didalam mobil.


"Cepat pulang," suara Mama Indri kini terdengar gemetar.

__ADS_1


"Cepat pulang Mir, Gweny butuh kamu." sambungnya dengan lirih hampir tak terdengar.


"Ada apa sih Ma," tanya Mirza dengan dahi yang mengkerut.


Dan sebuah kabar mengejutkan dari Mama Indri membuat Mirza mematung ditempatnya.


"Oke, Emir pulang sekarang."


Mirza mengusap kasar wajahnya, lalu menghela napas panjang. Niatnya mencari jejak Alula harus tertunda begitu saja. Detik itu juga Mirza kembali ke Jakarta.


...****************...


Suara ketukan sepatu pantofel dengan teras marmer rumah sakit terdengar begitu menggema diloby rumah sakit. Mirza baru saja datang, dan langsung menuju ruangan ICU dimana Om Handoko tengah dirawat.


Terlihat dua orang perempuan tengah duduk diruang tunggu, dengan wajah muram.


"Ma," panggil Mirza, membuat Mama Indri dan Gweny menoleh.


"Mir, sudah datang?" Mirza mengangguk lalu mendudukkan dirinya disamping Mama Indri.


"Kenapa wajah kamu ?" Mama Indri meraup wajah Mirza, meneliti luka memar diwajahnya.


"Bagaimana kondisi Om Handoko sekarang Ma?" ia mengalihkan perhatian.


"Masih belum sadar, tapi dokter bilang Om Handoko mengalami benturan yang cukup keras dibagian kepalanya." terang Mama Indri, lalu meraih tangan Gweny untuk menggenggamnya.


Mirza kini beralih duduk disamping Gweny, bingung harus melakukan apa untuk memberikan kekuatan agar Gweny bisa tegar. Hingga akhirnya ia mengelus bahu Gweny yang saat itu tengah melamun dengan tatapan kosong. Matanya terlihat sembab, mungkin terlalu lama menangis.


Gweny menoleh, dengan tanpa aba-aba langsung memeluk tubuh Mirza dengan erat. Menumpahkan segala rasa sedih juga ketakutannya. Ia kembali menangis, takut jika sampai sang Papa tidak bisa diselamatkan.


"Papaku Mir." lirih Gweny disela tangisannya.


"Semua akan baik-baik saja." Mirza mencoba memberikan semangat.


Namun bukannya tenang, Gweny justru semakin menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Mirza. Jika saja Gweny tau, apa yang sudah Mirza lakukan semalam, mungkinkah Gweny akan tetap memeluknya seperti itu.


"Aku takut Papa pergi Mir, aku gak mau." Gweny semakin terisak.


"Ssst, semuanya sudah takdir. Banyak berdo'a biar Om Handoko baik-baik saja." Mirza mengusap punggung Gweny agar tenang. Meski sering kali ia merasa kesal terhadap Gweny, namun tak tega rasanya melihat Gweny menangis seperti itu.


Gweny kembali menegakkan tubuhnya, setelah tangisnya mereda. Ia merasa beruntung, sebab masih ada Mirza dan keluarganya yang menemaninya disaat seperti ini. Ia tak pernah menyangka, jika semuanya akan jadi seperti ini.

__ADS_1


Sang Papa selalu mempertanyakan hubungannya dengan Mirza, Gweny tak berani menjawab karena ia pun sebenarnya bingung dengan hubungannya dan Mirza yang sampai saat ini tak menunjukkan kemajuan.


Setiap kali Pa Handoko mendesak Gweny untuk segera menikah, jawabannya tetap sama,


"Emir masih sibuk dengan karier nya Pa." padahal ia tahu, jika Mirza hanya membuat alasan untuk mengulur waktu.


Sampai akhirnya suatu malam, sang Papa menemuinya didalam kamar.


"Gwen," panggil pa Handoko saat pintu kamar terbuka.


Gweny yang saat itu tengah membaca buku kemudian menoleh " Ya Pa." jawabnya. perempuan itu tersenyum dengan manis kepada sang Papa.


Pa Handoko mengajak Gweny duduk diatas sofa, lalu dengan tiba-tiba ia berkata.


"Papa pengen lihat Gweny menikah." sebuah helaan napas dalam terdengar ditelinga Gweny.


"Kenapa tiba-tiba Papa ngomong gitu?" tanya Gweny dengan dahi yang mengernyit. terkejut, mendengar ucapan sang Papa.


"Gak apa-apa sih," Handoko terkekeh pelan.


"Papa cuma pengen lihat kamu bahagia, ada yang jagain juga."


"Pa, Gweny bahagia sama Papa. Gweny juga bisa jaga diri Gweny sendiri."


"Beda lagi dong Gwen. kamu anak perempuan Papa satu-satunya. Kalau kamu ada yang jaga, Papa bisa tenang jika seandainya Papa berpulang terlebih dahulu."


"Papa kenapa jadi ngomong gini sih." Pa Handoko hanya diam, lalu tersenyum tak mengatakan apapun lagi.


Hal itu yang membuat Gweny merasa takut kehilangan sang Papa. Sebab terakhir kali mereka bicara, Pa Handoko terlihat begitu khawatir pada masa depan Gweny, anak perempuan satu-satunya. Ia juga takut, tidak bisa mewujudkan keinginan terakhir sang Papa untuk segera menikah. Karena sampai saat ini, Mirza tak pernah membahas apapun soal itu.


.


.


.


Happy Reading 😊


Mohon maaf jika jalan ceritanya jadi berbelit-belit 🙏


Jangan lupa like, comment and votenya juga.. 👍

__ADS_1


__ADS_2