
Setelah urusannya dengan Guru BP selesai, Alula kini menemui Wali kelasnya. ia didampingi Wali kelasnya berjalan menuju ruang kelas yang akan ditempati Alula.
Tok..
Tok..
Tok..
Bu Rika, Wali kelas Alula mengetuk sebuah pintu yang tertutup rapat. tak lama pintu terbuka, muncullah seorang guru laki-laki bertubuh tinggi tegap dan sedikit kurus, dengan wajah nampak teduh. kacamata berbentuk kotak bertengger di hidungnya.
"Ya Bu, ada yang bisa saya bantu ?" tanya Pa Sukana sambil membuka pintu lebar. semua siswa di dalam kelas nampak menengok penasaran.
"Saya membawa siswi baru yang akan bergabung di kelas ini Pak." Jawab Bu Rika sambil menunjuk pada Alula yang berdiri di sampingnya. Alula tersenyum lalu menunduk sebagai tanda hormat pada gurunya.
"Boleh mengganggu waktunya sebentar?" tanya Bu Rika kemudian.
"Ah ya, silahkan Bu." Pa Sukana mempersilahkan Bu Rika dan Alula masuk kedalam kelas.
Bu Rika berdiri didepan kelas memperkenalkan Alula pada siswa yang lain
"Anak-anak, hari ini kalian kedatangan teman baru, namanya Alula Raina Sofyan, panggil saja dia...?" Bu Rika nampak menoleh ke arah Alula.
"Alula Bu." jawab Alula yang mengerti dengan raut wajah Bu Rika yang menuntut jawaban.
"Ya, Alula. dia dari SMP X kota Bogor. Ibu harap kalian bisa berteman baik dengan nya ya." Alula tersenyum lalu menganggukan kepalanya sebagai tanda perkenalan pada seluruh siswa disana.
Semua siswa nampak menyambut kedatangan Alula dengan wajah ramah mereka, terkecuali seorang siswi yang duduk di barisan kedua sebelah kanan. Ya, itu Risma. keberuntungan belum berpihak padanya, nyatanya kini Risma berada satu kelas dengan Alula. entah apa yang akan terjadi jika mereka berada dalam satu kelas.
Bu Rika mengedarkan pandangannya mencari kursi kosong untuk diduduki Alula. pandangannya terhenti pada satu kursi yang berada disudut barisan kedua dari belakang.
"Apa ada yang tidak masuk hari ini ?" tanyanya pada seorang siswi yang menjabat sebagai sekretaris kelas, ia bertugas mencatat dan mengisi absensi didalam kelas.
"Ada Bu, Marsha. katanya dia sakit."jawab siswi tersebut. entah mengapa mendengar nama Marsha disebut, Alula sangat berharap Marsha ini adalah orang yang sama dengan sahabat masa kecilnya, meskipun ia tahu nama Marsha tidak hanya satu.
Bu Rika mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku bajunya, ia mendapati beberapa panggilan masuk dan sebuah pesan yang dikirim oleh orang tua murid yang tidak hadir hari ini. lalu ia menyimpan kembali ponsel tersebut kedalam sakunya.
"Ya sudah, Alula, hari ini kamu duduk disana dulu ya !"Bu Rika menunjuk pada bangku yang kosong tersebut "Besok saya akan menambahkan lagi satu kursi untukmu." kata Bu Rika dengan nada lembutnya.
"Kalau begitu saya pamit undur diri Pa, terima kasih dan mohon maaf telah mengganggu aktivitas nya." ucap Bu Rika dengan sopan.
"Tidak apa Bu, saya juga masih memeriksa PR mereka." jawab Pa Sukana apa adanya.
Setelah Bu Rika pamit keluar dari kelas, Pa Sukana mempersilahkan Alula duduk dikursi kosong tersebut.
__ADS_1
"Mohon maaf, untuk para laki-laki dijaga matanya ya !"ucap Pa Sukana ketika mendapati beberapa siswa laki-laki memperhatikan Alula. "Dan itu tolong, ilernya diusap! "kelakarnya. makin masam saja wajah Risma mendengar perkataan Pa Sukana.
"HUUUUU....." siswa perempuan pun menyoraki beberapa siswa laki-laki tersebut.
"Sudah-sudah, jangan berbisik !" Pa Sukana melerai. namun bukan Pa Sukana namanya jika ia tidak mengundang tawa anak didik nya.
"BERISIK PA.... " semua siswa menjawab kompak. lalu tertawa.
"Ya.. iyaa Bapak juga tau.." Ucap Pa Sukana tak terima.
"Hey kamu, teriak paling kenceng, nih liat PR kamu salah semua! " Pa Sukana menunjuk salah satu siswa laki-laki yang duduk paling belakang.
"HUUU... "dan soda sorai pun kembali terjadi.
"Sudah diam ! jangan merasa paling benerrr" Pa Sukana berdiri lalu melanjutkan kembali mengajar para siswa di kelas XA tersebut.
Waktu menunjukan pukul 02.00 siang ketika bel tanda pelajaran terakhir berakhir, semua siswa bersiap untuk pulang dan membereskan meja mereka. Hari pertama disekolah untuk Alula berjalan dengan lancar.
"Pulang sama siapa?" tanya seorang siswi yang duduk disebelah Alula. yang ia baru tahu namanya adalah Mulan.
"Eumm... aku dijemput deh kayaknya." jawab Alula dengan ragu. meskipun tadi pagi Mirza mengatakan akan menjemputnya ketika pulang sekolah.
"Yuk bareng ke parkiran." Ajaknya dengan tulus.
"Ya udah, kalo gitu aku duluan ya. dah.. " ucap Mulan sambil melambaikan tangannya pada Alula.
Alula tersenyum lalu kembali merapikan buku dan alat tulisnya, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.
"Seneng amat kayaknya, baru masuk udah jadi pusat perhatian." Risma melipat tangannya didada, ia berdiri dihadapan Alula.
"Kamu tuh kenapa sih Ris, gak pernah baik sama aku?"
"Karena kamu so' cari perhatian !" ucapnya sambil menggebrak meja, lalu pergi begitu saja.
Alula hanya menggelengkan kepalanya "Emang siapa juga yang mau." ia mengomel sambil menatapi kepergian Risma.
...****************...
Sementara ditempat lain, Mirza terlihat buru-buru memasukkan buku-buku tugasnya kedalam ransel, setelah ia melihat jam dipergelangan tangannya. ia berjalan dengan cepat keluar dari kelasnya tanpa pamit pada kedua sahabatnya. ia bahkan hampir saja meninggalkan ponselnya diatas meja.
"Woy... Hape lu." teriak Marko pada Mirza.
Mirza menepuk dahinya "Ya tuhan, ko' sampe lupa." ia kembali kedalam kelas lalu merebut ponsel dari tangan Marko.
__ADS_1
"Lu tuh mau kemana sih buru-buru amat?" tanya Martin yang melihat Mirza merebut paksa ponsel miliknya.
"Tahu, tangan gue ampe lecet nih kena kuku lu." Marko terlihat meringis.
"Lebay amat sih lu. ayo gue bawa lu ke si Merry, biar lu cepet sembuh." ucap Mirza sambil menarik tangan Marko.
"Ih najis .."sergahnya, "Nanti gue di enggak-enggak, kan keenakan dia." ucapnya kemudian.
"Kalo di iya-iya mau kan lu?" tanya Mirza.
"Bang shaat emang lu." Marko menendang tulang kering Mirza, namun Mirza reflek menjauh kemudian tertawa.
"Jawab aja iya." Martin menimpali, ia berdiri disamping Mirza.
"Sialan lu, ya engga lah." sergah Marko sebelum kemudian bertanya pada Mirza,
"Tapi serius deh, lu tuh mau kemana sih ? tumbenan buru-buru pulang, kita udah lama gak latihan basket kan?"
"Nanti deh kapan-kapan, Gue mau ke PuBa dulu." jawabnya.
Marko mengeryitkan dahi "Jemput anak sekolahan?" Mirza hanya mengangguk.
"Jadi bener, gebetan lu sekarang siswi SMA?" tanya Martin yang mulai penasaran, tidak biasanya Mirza seperti ini.
"Gila lu, ya enggak lah. gue ada urusan."
"Urusan apaan sih? "
"Lunasin cicilan emperware emak gue." jawabnya asal.
"Serius lu, Ibunda Ratu punya cicilan juga? emang sultan abal-abal lu." Marko meninju pelan lengan Mirza.
"Berisik lu, gue duluan ya," ucapnya pada kedua sahabatnya.
Setelah berpamitan pada kedua sahabatnya, Mirza bergegas berjalan kearah parkiran, disana ia berpapasan dengan seseorang, Gweny. dan seperti biasa, ia menatap tanpa ekspresi kearah Gweny. Gweny ingin membuka mulut menyapa Mirza, namun Mirza telah berlalu melajukan sepeda motornya.
Sepeda motor yang dikendarai Mirza tiba di depan SMA PuBa, Mirza mengedarkan pandangannya, mencari sosok perempuan yang mulai hari ini akan merepotkannya. pandangannya tertuju pada sosok mungil diantara siswa-siswi yang berlalu lalang dipintu gerbang. perempuan itu berdiri disamping pintu gerbang, kedua tangannya mendekap sebuah helm bogo yang pagi tadi dipakainya. lesung pipit tiba-tiba terbentuk dipipi Mirza, pemuda itu tersenyum dibalik helm fullface yang ia gunakan.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading ☺