
Alula kini tengah mempelajari langkah-langkah apa saja yang harus ia lakukan untuk mengoperasikan mesin jahit barunya. mesin jahit portable multifungsi hadiah dari ayah.
Tidak hanya itu, ia juga perlu mengenali komponen-komponen mesin jahit yang sangat penting. agar bisa terjaga jika sewaktu-waktu terdapat masalah atau kerusakan, tentunya ia harus bisa mengatasinya.
Mula-mula, Alula belajar bagaimana cara memasang jarum pada mesin, ia membuka bagian pengunci jarum, lalu memasukkan jarumnya pada tangkai jarum mesin jahit, kemudian ia rapatkan kembali penguncinya.
Langkah selanjutnya adalah memasukan benang yang benar pada mesin, Alula melakukannya dengan cara membaca buku panduannya. tidak begitu sulit, hanya tinggal mengikuti saja.
Dan ini bagian tersulitnya, mempraktekannya dengan langsung. setelah memeriksa seluruh kesiapannya, Alula menyiapkan satu buah gunting berukuran sedang, memasukkan benang pada jarum, dan mengisi dengan penuh sekocinya, menyiapkan kain perca atau kain bekas pakai. karena ini hanya latihan, jadi ia tidak perlu menyamakan warna kain dengan warna benangnya.
Alula mempersiapkan kain perca untuk ia pakai sebagai uji coba. jangan tanya ia mendapatkannya dari mana, karena ia menggunting baju bekas ayah yang sudah tak layak pakai. ekonomis sekali bukan? ia menggunting kain berbentuk persegi, lalu mulai menjahitnya dengan bentuk lurus terlebih dahulu, untuk membuat tangannya sedikit luwes dan tidak kaku.
Perlahan-lahan ia menginjakkan kakinya pada pedal mesin, sambil memegangi kainnya. awalnya ia sempat kaget, saat mesin berjalan dengan cepat, karena kakinya terlalu keras menginjak pedal. namun Ayah menepuk bahunya dengan pelan, lalu berkata,
"Gak apa-apa, pelan-pelan saja. nanti juga terbiasa." begitu kata ayah, setiap kali Alula mengulang kesalahannya.
"Aku lihat Ibu kayak yang gampang banget, ternyata tidak semudah itu fergusooo... " gumamnya, lalu ia terkikik geli.
"Bisa karena biasa." begitu kata ayah lagi, ketika melewati Alula yang kesulitan menempatkan kain dibawah jarum.
Alula tak menyerah, ia terus melakukannya lagi, lagi dan lagi. ia menjahit dari satu sisi ke sisi yang lain pada kain berbentuk persegi tersebut. dan benar dengan apa yang ayah katakan bahwa 'bisa karena biasa'.
Dan pada akhirnya ia bisa sedikit menguasai mesin jahitnya karena sudah mulai terbiasa. tangannya mulai luwes mengoperasikan kain pada mesin.
Setelah berhasil dengan bentuk lurus nya, kini Alula mulai belajar berbelok, bentuk zig-zag, lingkaran bahkan ia bisa dengan mudah membuat bentuk obat nyamuk yang melingkar-lingkar membentuk spiral. hmmm akhirnya.
Namun saat ia melirik jam yang menggantung didinding, matanya membulat, karena ternyata ia telah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membuat bentuk seperti itu. ya ampuun.
"Makan dulu!" seru Ayah yang tiba-tiba saja berada disampingnya. Ayah menyodorkan satu piring nasi beserta lauknya.
"Jangan sampai karena terlalu fokus belajar putri ayah jadi sakit." sambungnya.
"Kan ayah yang repot." kelakar Ayah membuat keduanya tertawa.
Alula mengambil piring dari ayah, dan mulai menyantapnya dengan lahap. ternyata belajar menjahit menguras energi juga, pikirnya.
"Sudah sejauh mana?" Ayah memeriksa hasil jahitannya.
"Baru bisa segitu sih yah." tunjuknya pada kain yang terkumpul dimeja.
"Ini Lula niatnya mau bikin sapu tangan, tapi jatuhnya malah kaya gitu. tapi lumayan yah buat ceumpal, nanti Lula kasih ke Mbak Sri buat ngangkat tutup panci biar gak panas." Alula tertawa sendiri, membayangkan hasil karyanya dipakai ceumpal oleh Mbak Sri.
Ayah pun ikut tertawa "Kamu ini ada-ada saja."
"Cepet habiskan makanya, nanti dilanjut lagi belajarnya. tapi jangan sampai lupa waktu juga yah." Alula hanya mengangguk lalu kembali menyantap makanannya.
...****************...
Pagi-pagi sekali Alula sudah kembali duduk didepan mesin jahitnya. karena hari ini hari pertamanya libur sekolah, jadi ia lebih leluasa untuk belajar menjahit. dan seperti biasa, ia tak mudah menyerah jika itu menyangkut hobinya. lebih tepatnya hobi barunya.
"Semangat sekali putri ayah ini." sapa ayah sebelum pergi bekerja.
__ADS_1
"Harus dong yah, kan biar cepet bisa." jawabnya mantap.
Ayah hanya tersenyum lalu mengusap puncak kepala putrinya dengan sayang.
"eum... yah" Alula mendongakkan kepalanya, menatap mata ayah yang selalu nampak teduh.
"Ya? ada apa?"
"Mulai hari ini kan Lula libur sekolah," Alula nampak ragu untuk mengutarakan keinginannya.
"Lula... Lula mau ketemu Ibu." lanjutnya dengan kepala tertunduk.
"Nanti Ayah akan minta izin sama Pa Jaya, kita kesana sama-sama yah."
"Tapi.. Lula takut ketemu paman Leon lagi disana." lirihnya dengan kepala tetap menunduk.
"Ada ayah, dia gak akan berani macam-macam lagi." ucap ayah dengan yakin.
"Yaudah, sekarang ayah mau bicara dulu sama Pa Jaya yah. sama sekalian ayah mau berangkat kerja. Lula terusin belajarnya!" seru ayah sambil berlalu pergi.
Alula menatap nyalang kepergian ayah, merasa kasihan karena ayah tak sempat bertemu lagi dengan Ibu. seharusnya sudah sejak lama ia mengajak ayah pergi menemui Ibu juga Dwi, namun rasa takut akan bertemu kembali dengan Paman Leon membuatnya tak berani datang ke tempat itu lagi.
Kini Alula kembali fokus pada mesin jahitnya, ia mengulang apa yang telah dipelajarinya kemarin, membuat bentuk lurus, berbelok, kurva, lingkaran, zig-zag dan bentuk spiral seperti bentuk obat nyamuk bakar.
Alula tersenyum senang, melihat perkembangannya sendiri. kini tangannya sudah mulai luwes tidak kaku seperti sebelumnya. tidak mudah memang menghasilkan karya yang bagus, perlu keahlian, kekreatifan juga ketekunan yang sungguh-sungguh.
"Ternyata susah sekali yah." gumamnya.
"Sambil dengerin musik boleh juga, biar gak bosen." Alula beranjak mengambil handphone -pemberian Mirza waktu itu- yang ia simpan didalam kamar.
Ia kembali tenggelam dan fokus pada mesin jahitnya dengan suara musik yang sedikit ia keraskan.
Ada ruang hatiku yang kau temukan
Sempat aku lupakan kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta
Namun aku jatuh hati
Senyum Alula mengembang seiring dengan diputarnya lagu di Musik Playernya. bayangan wajah seseorang tiba-tiba saja mengusik pikirannya.
Ku terpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku
__ADS_1
Terispirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku selalu didekatmu
Kini ingatannya kembali pada pertemuan pertamanya dengan pria yang ia sebut sebagai malaikat penyelamatnya, wajah pria itu terlihat panik saat melihat dirinya terluka dan lebam. dan dengan tanpa ragu pria itu membantunya.
Lalu tanpa pernah disangka, dengan pertemuan selanjutnya. karena pria itu pula dirinya terlepas dari bahaya yang menakutkan malam itu. dan, karena pria itu pula dirinya kembali bertemu dengan orang yang ia cari, ayah.
Katanya cinta
Memang banyak bentuknya
Ku tahu pasti
Sengguh aku jatuh hati
Entah karena terlalu menikmati lagu, atau terlalu fokus pada wajah seseorang hingga Alula tidak menyadari kehadiran seseorang dibelakangnya. Seseorang itu menepuk pelan pundak Alula, hingga membuatnya menoleh dan...
CUP..
Sebuah kecupan mendarat dipipinya.
Dengan refleks ia memegangi pipinya, sesaat ia tertegun, saling menatap. merasakan degup jantungnya yang mendadak tak beraturan.
seiring dengan mengalunnya lagu..
Ku terpikat pada tuturmu
Aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu
Caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku
Terispirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu
Tapi bolehkah ku selalu didekatmu
"Abang.." lirihnya dengan wajah yang memanas menampakkan rona merah.
Tapi bolehkah ku selalu didekatmu.
Jatuh Hati
By : Raisa
__ADS_1
Suasana mendadak canggung, Alula menunduk memainkan ibu jarinya, menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba saja melandanya. sedangkan seseorang yang ia panggil abang kini menggaruk-garuk tengkuknya yang tak terasa gatal. mencoba menetralkan degup jantungnya yang juga mendadak berdetak tak semestinya.