
"Tolong, antarkan kami kesana Abhi." pinta Bu indah dengan wajah memelas.
Sebenarnya hati ayah masih sangat kesal dan kecewa pada Bu Indah, tapi tentu ia tidak bisa egois. Apalagi saat tahu, jika Bu Indah pun tidak pernah bertemu dengan Leon selama belasan tahun. atas bujukan Alula akhirnya ayah mengalah.
Ayah pun tak sampai hati melihat Bu Indah menangis seperti itu. Terlepas dari kejadian dimasa lalu, mereka hanyalah korban dari kelicikan Leon.
Mereka berangkat ke Rutan dengan menggunakan kendaraan panti. Supir panti sedang dalam keadaan sakit, sehingga tidak bisa mengantarkan mereka. Akhirnya mau tak mau, ayah Abhi yang mengendarai mobil tersebut.
Tiba di Rumah Tahanan, mereka diarahkan petugas untuk diperiksa terlebih dahulu. petugas mulai memeriksa apa saja yang mereka bawa, menanyai apa hubungan mereka dengan tahanan dan tak lupa mereka juga dimintai kartu identitas.
Setelah pemeriksaan selesai, barulah petugas membawa mereka masuk kedalam ruangan untuk bertemu dengan tahanan.
Alula menolak keras untuk ikut masuk kedalam, entah mengapa ia masih merasa takut dan tidak nyaman jika harus berhadapan langsung dengan Leon. bahkan mendengar namanya saja, tangannya sudah terasa berkeringat dingin.
Alula ditemani ayah Abhi duduk di atas bangku yang berada diluar. Sedangkan Bu Indah bersama Risma masuk kedalam ruangan, mereka hanya diberi waktu selama satu jam untuk berkunjung.
Ruangan berukuran cukup besar dengan dinding tembok yang warnanya hampir pudar itu tembus langsung dengan ruang tahanan.
Bu indah menarik napas panjang saat seseorang bertubuh tinggi dengan dikawal dua polisi itu masuk kedalam ruangan melalui pintu lain. degup jantungnya berdetak lebih cepat, tak pernah menyangka akan kembali bertemu dengan sosok yang selama ini ia rindukan.
Ia tertatih, terpaku menatap pria yang sudah 18 tahun tidak pernah ia temui lagi. Ingin rasanya ia berlari, berhamburan memeluk tubuh pria yang selama hidupnya tidak pernah ia lupakan itu.
Namun ia hanya terdiam, lidahnya bahkan mendadak kelu. suaranya seakan tercekat di kerongkongan, sulit untuk berkata. hanya air mata yang meluruh menjadi bukti perasaannya saat ini.
"Laras, kenapa kamu kesini ?" namun justru tatapan dingin dan ucapan tidak menyenangkan yang Bu Indah terima.
"Mas .. " lirih Bu Indah.
Leon hanya melirik sekilas lalu memandang kesembarang tempat.
"Kenapa kamu melakukan ini ?" tak tahan rasanya untuk bertanya.
Leon tersenyum sinis "Kau sudah tahu semuanya ? apa kau sudah bertemu dengan si Abhi sialan itu ?"
"Kenapa kamu melakukannya Mas?" ulang Bu Indah dengan air mata berderai.
"Kau," Leon menunjuk Bu Indah tepat didahinya.
"Kalau saja kau tidak mandul ... " namun ucapannya terpotong karena Bu Indah menyelanya.
"Mas," desahnya tak percaya, bagaimana mungkin Leon menyebutnya perempuan mandul sedangkan dihadapannya kini berdiri putri semata wayangnya.
__ADS_1
"Ini anakmu Mas," ucap Bu Indah dengan suara tercekat. ia menarik Risma yang berdiri dibelakangnya.
"Bagaimana mungkin kamu menganggap aku mandul, sedangkan kamu meninggalkan aku saat aku tengah mengandung." lagi, air mata Bu Indah semakin berderai.
Leon nampak terkejut, ia menatap wajah Risma dengan lekat.
"Heh, kau mau mencoba membodohiku ?" Leon tersenyum sinis, bagaimana bisa ia memiliki anak dari Laras. jelas-jelas waktu itu Dokter mengatakan bahwa Laras akan sulit untuk hamil.
"Kamu tidak mempercayai aku Mas ?" tatapan Bu Indah berubah sendu, ia benar-benar kecewa.
"Lihat lah matanya, hidungnya ." Bu Indah meraba wajah Risma yang kini duduk disamping Bu Indah.
"Bahkan garis wajahnya sama sepertimu Mas." tegasnya.
"Aku tidak peduli, sekalipun kamu melupakan aku Mas. Tapi aku hanya ingin kamu mengakui Risma sebagai anakmu."
"Apa perlu kita lakukan tes DNA ?" tantang Bu Indah, karena Leon nampak tak acuh.
Risma menoleh pada Bu Indah, tatapannya sendu. dari sorot matanya, seolah bertanya 'apa benar pria ini adalah ayahnya' Bu Indah hanya mengangguk mengiyakan.
Lalu Risma beralih menatap Leon,
"A.. ayah ... " lirih Risma. untuk pertama kalinya ia memanggil seseorang dengan sebutan itu. ia memandangi pria dihadapannya dengan mata berkaca, terpancar kerinduan yang mendalam dari manik mata coklat itu.
Tak seorang pun tahu, ia memendam kerinduan itu sendirian. menutupi diri dari orang-orang sekitar. bahkan ketika anak-anak di Panti mencoba mendekatinya, ia selalu menghindar.
Ia merasa dirinya paling tidak beruntung, sebab telah dibuang oleh ayahnya sendiri. Merasa tidak diinginkan. Hingga akhirnya ia memilih memiliki hubungan dengan pria yang lebih tua, agar ia bisa merasakan hangatnya pelukan seorang ayah.
Namun hari ini, jelas terpampang dihadapannya sosok ayah yang selama ini ingin ia temui. Namun nyatanya, sang ayah nampak tak percaya jika ia adalah anak kandungnya.
Leon menatap lekat wajah gadis dihadapannya, hatinya berdesir mengharu biru, ketika mendengar kata 'Ayah' keluar dari mulut gadis itu.
"Benarkah dia putriku ?" Leon masih memandangi Risma dengan lekat, menilai setiap inchi wajahnya. Benar apa yang dikatakan Laras, matanya, hidungnya, bahkan garis wajahnya sangat mirip dengannya.
Bu Indah mengangguk, sejurus kemudian Risma menghamburkan dirinya dalam pelukan Leon.
"Kenapa baru sekarang Ayah," Risma terisak di pelukan sang ayah.
Leon hanya diam, perlahan air matanya pun mulai meluruh. menyesali setiap apa yang sudah ia lakukan. ia menghirup napas dalam, merasakan sesak didalam hatinya. mengapa ia seburuk itu.
"Apa benar ini putriku Laras ?" tanya Leon sekali lagi, ia melepaskan pelukannya lalu meraup wajah Risma dan memandanginya dengan lekat. Masih tak percaya jika ia benar-benar memiliki seorang anak perempuan, anak yang selama ini ia harapkan.
__ADS_1
"Ya Mas, dia putri mu." jawab Bu Indah, disertai tangisan memilukan dari Leon.
"Maafkan ayah nak." ada rasa perih saat dirinya mengucapkan kata 'ayah'. apakah masih pantas ia disebut sebagai ayah setelah ia menelantarkan istri juga anaknya sendiri yang bahkan tidak ia ketahui keberadaannya.
"Maafkan ayah, karena tidak tahu keberadaan mu." Risma menuntun Leon untuk duduk kembali.
"Maafkan ayah, karena ternyata kamu memiliki ayah yang buruk sepertiku." sesal Leon, ia tertunduk. malu rasanya menyebut dirinya sebagai ayah.
Risma menggelengkan kepalanya "Aku bersyukur, karena ternyata aku masih bisa bertemu dengan ayah."
"Semua sudah terjadi dimasa lalu ayah. sekarang ayah harus mempertanggung jawabkan semuanya dengan baik."
"Risma sayang sama ayah." lagi, air mata Risma kembali meluruh, rasanya tak ada habisnya.
Leon kembali merengkuhnya "Maafkan ayah." lirihnya, benar-benar menyesali perbuatannya. Namun ia tetap bersyukur, setidaknya Risma tidak membencinya.
"Tolong, sampaikan permintaan maaf ku untuk Alula dan juga Abhi." ucap Leon pada Bu Indah yang sedari tadi menangis haru menyaksikan pertemuan antara ayah dan putrinya itu.
"Mereka ada diluar," jawab Bu Indah.
Namun Leon menggelengkan kepalanya "Aku yakin Alula tidak mau bertemu denganku lagi. kata maaf saja tidak akan cukup untuk menebus semua kesalahanku pada mereka."
"Berubah lah Mas, masih ada waktu untuk memperbaiki semuanya." Bu Indah tersenyum, memberikan semangat untuk pria yang tengah merasa putus asa dihadapannya.
Leon memandangi wanita dihadapannya, bagaimana bisa Laras memaafkannya begitu saja. Setelah apa yang sudah ia lakukan padanya selama ini.
Sejak pernikahannya diselenggarakan, ia memang sudah mulai menerima Laras sebagai istrinya. Namun ketika Dokter mengatakan bahwa Laras akan sulit untuk memiliki seorang anak, ia mulai berubah. terlebih saat mengetahui Indira -gadis yang ia sukai dalam diam- menjalin hubungan dengan Abhi, sahabatnya sendiri.
Ia benar-benar kecewa, merasa di bohongi. Hingga akhirnya melampiaskan kekecewaannya pada Indira, orang yang bahkan tidak tahu apa-apa.
Dan hari ini, ia telah menyesali semuanya. terlebih saat ia tahu bahwa ia memiliki ini perempuan yang selam ini begitu ia inginkan. ia berjanji, akan menjalani sisa hidupnya dengan baik. Agar Risma bangga memiliki ayah sepertinya.
.
.
.
Happy Reading... 😊
Jangan lupa like and comment nya ya ! 👍
__ADS_1
Kasih vote juga gak apa-apa, otor makin senang... 😅