
Dua tahun berlalu begitu cepat untuk Alula. Setelah memutuskan untuk meninggalkan rumah kenangannya bersama Ibu dan Dwi di Bandung, ia dan ayah Abhi memilih tinggal di kota Bogor.
"Lula mau tinggal deket Ibu, yah." begitu yang Alula ucapkan saat ia dan ayah berkeliling kampung menggunakan sepeda motor milik ayah.
"Bukannya kamu maunya tinggal disini ?" tanya Ayah dengan dahi yang mengkerut, saat mengemudikan sepeda motornya.
"Tiba-tiba saja Lula berubah pikiran yah." jawabnya gugup dibalik punggung sang ayah.
"Terus mau kamu gimana sekarang ?"
"Kita ke makam Ibu sama Dwi, sekalian kita cari rumah didaerah disana."
Dan saat mengunjungi pemakaman, Alula bertemu dengan Bi Sumi, orang yang dulu bekerja sebagai asisten rumah tangga dirumah Leon.
Bi Sumi dipecat saat ketahuan membelikan pil pencegah kehamilan untuk Ibu. Setelah keluar dari rumah itu, Bi Sumi kembali bekerja dirumah keluarga lain.
Saat mengetahui jika Alula mencari tempat untuk tinggal, Bi Sumi menawarkan ruko yang kebetulan akan dijual oleh majikannya. Tanpa pikir panjang, Alula dan ayah membeli ruko itu dan langsung menempatinya. Ruko itu terdiri dari dua lantai, Alula dan ayah memilih lantai atas untuk tempat tinggal mereka.
Alula mewanti-wanti pada Teh Yuyun agar tidak memberi tahukan dimana tempat ia tinggal bersama ayah. Begitupun dengan ayah, Alula melarang ayah menghubungi siapapun, termasuk keluarga Mahesa yang saat itu pasti tengah mencari keberadaan mereka. Ayah mengerti, mungkin Alula tidak mau terus merepotkan keluarga itu.
Dengan uang hasil bekerja nya selama di butik, juga uang jajan dari Mama Indri yang ia tabungkan. Alula membeli beberapa mesin jahit, dan membuka jasa jahit baju dilantai bawah ruko. Dan ayah mulai bekerja sebagai desain interior disalah satu perusahaan disana. Meski perusahaan kecil, namun ayah tetap semangat bekerja disana.
Alula juga meneruskan pendidikannya, tanpa seorangpun tahu bahwa Alula mengikuti program SNMPTN waktu itu, dan saat mengetahui bahwa ia lulus, ia memutuskan untuk mengambil kampus di Bogor.
Satu tahun pertama usaha Alula semakin dikenal banyak orang. Perlahan, ia mulai membuat beberapa jenis baju dan memanjangkannya didepan kaca ruko. meski tidak terlalu besar, ruko Alula tidak pernah sepi dari pembeli.
Para customer cukup puas dengan hasil jahitan juga model baju yang Alula buat, sehingga banyak orang yang sering memintanya untuk membuatkan baju.
Di tahun selanjutnya, Alula bekerja sebagai seorang penyanyi paruh waktu disalah satu cafe yang cukup besar milik saudara temannya di Kampus. Alula bekerja setiap weekend, saat ia libur kuliah, atau saat tidak ada pekerjaan di ruko.
Alula baru saja keluar dari kampus, saat ia mendapat panggilan dari cafe tempatnya bekerja. Alula diminta untuk mengisi acara malam ini. ia mengiyakannya, dan memilih pulang ke ruko terlebih dulu untuk bersiap dan meminta izin pada ayah Abhi yang saat itu tengah menikmati hari libur.
Sejak sore tadi, cuaca di kota Bogor diliputi awan mendung. Rintik gerimis yang turun, cukup membuat tanah kering menjadi basah.
Alula datang ke cafe menggunakan taksi, baru saja ia turun, seorang pria tak sengaja menabraknya dari arah belakang.
"Eh Sorry," ujar pria itu pada Alula yang sedikit terhuyung ke depan.
"Iya, gak apa-apa." Jawab Alula dengan kepala menunduk. "Yanu,?" Alula mengernyit saat ia mendongakkan kepalanya.
"Kamu ... Alula ?" tanya Yanuar dengan mata yang berbinar, melihat penampilan cantik Alula malam itu.
"Iya, aku Alula." sudut bibir Alula menyungging.
"Wah, mimpi apa aku ketemu kamu disini ? apa kabar ?" tanya Yanuar basa-basi.
"Aku baik, mau kemana ?"
__ADS_1
"Kedalam, kamu ?"
"Sama, ayo bareng."
Alula dan Yanuar masuk kedalam cafe, suasana cafe cukup ramai malam itu. Setelah cukup berbasa-basi, Alula berpamitan pada Yanuar untuk naik ke atas panggung. Seperti biasanya, ia akan bernyanyi setelah persiapan diatas panggung selesai.
Alula mulai bernyanyi, dengan suara merdunya ia membawakan lagu risalah hati milik dewa 19. Alula menikmati lagu yang ia bawakan, menyapa para pengunjung yang malam itu begitu ramai.
Namun ia tak sanggup melanjutkan nyanyiannya ketika pandangannya menangkap seseorang yang tengah menatapnya dengan tajam disalah satu meja pengunjung. Pria yang selama dua tahun terakhir begitu ia rindukan.
"Bang aku izin turun duluan yah, ada keperluan mendadak." bisiknya pada pria yang membawa gitar Akustik disebelahnya.
Setelah mendapat anggukkan Alula turun dari atas panggung, ia berjalan menuju Yanuar yang terlihat heran melihatnya tiba-tiba turun dari sana.
"Maaf, aku harus pergi." ucapnya pada Yanuar yang masih keheranan.
"La tunggu dulu." Yanuar mengikuti Alula keluar dari cafe.
Baru saja Alula sampai dihalaman depan cafe, seseorang mencengkeram tangannya, lalu menariknya dengan cepat.
"Dek, tunggu." cegah Mirza. Saat Alula hendak berjalan menuju jalan raya. Alula yang menyangka itu adalah Yanuar langsung menepisnya.
Pencahayaan yang temaram juga hujan yang mulai deras mengguyur mereka diluar cafe membuat Yanuar tak mengenali Mirza. Yanuar menarik kasar Mirza untuk menjauhi Alula.
"Siapa kamu ?" tanya Yanuar dengan sinis, membuat Mirza kesal dan langsung mendorong tubuh Yanuar dengan kasar
"Abang." pekik Alula saat Yanuar melayangkan pukulan pada Mirza. Keduanya saling beradu kekuatan. Mirza yang cemburu melihat Alula bersama Yanuar tak henti melayangkan pukulannya.
BUGG
Mirza yang tidak siap menerima pukulan, langsung terhuyung, kepalanya menghantam tiang tembok didekat nya. Mirza meringis, memegangi kepalanya yang terasa pening.
"Cukup Yanu, dia Abang ku." teriak Alula pada Yanuar yang baru saja akan kembali memukul Mirza.
Yanuar tersentak, ia lupa jika dulu Alula selalu dikawal oleh Mirza.
"Sorry, aku gak tau." sesal Yanuar dengan napas tersengal. " Biar aku bantu !"
"Tolong panggilkan taksi, aku mau bawa Abang pulang."
Alula dan Mirza kini dalam perjalanan pulang menuju Villa. Suasana Villa cukup sepi, tidak ada Kang Agus ataupun pengurus Villa yang lain disana. Mungkin sudah tertidur. karena saat Alula tiba disana, jam menunjukkan pukul 23.00 malam.
Dibantu supir taksi, Alula membawa Mirza ke kamarnya. Ia membaringkan tubuh Mirza diatas tempat tidur. Luka lebam diwajahnya terlihat cukup jelas, karena wajah Mirza begitu pucat saat Alula menatap Mirza dengan lekat.
Setelah kepergian supir taksi, dengan gugup Alula mencoba membuka kemeja Mirza yang kotor dan basah kuyup karena hujan. tangannya gemetar, degup jantung nya berdebar tak karuan.
Alula menelan ludahnya saat telah berhasil membuka kemeja Mirza, ia beranjak untuk mengambil baju ganti agar Mirza tidak merasa kedinginan. Namun ia terhenyak saat tiba-tiba saja Mirza menarik tangannya dengan cepat.
__ADS_1
Alula yang terkejut dan tidak siap, ambruk dalam pelukan Mirza. Erat, Mirza memeluk Alula, Seakan tidak mau melepaskan pelukannya.
"Jangan pergi, Rain." lirih Mirza dengan mata terpejam.
Alula terhenyak, ketika mendengar Mirza memanggilnya dengan nama Rain.
Apakah dia tahu semuanya ? batin Alula.
"Abang?" Alula sedikit panik, karena Mirza tiba-tiba saja merubah posisinya.
Perlahan, Mirza membuka matanya. ia menatap lekat perempuan yang kini berbaring dibawah kungkungannya. tatapan mata Mirza memancarkan aura cinta yang mendalam.
"Jangan pergi lagi, ku mohon. Aku gak bisa hidup tanpa kamu."
"Abang, aku .." suara Alula tercekat, ia tak mampu meneruskan kalimatnya. Hanya debaran jantungnya yang berdegup dengan hebat mewakili perasaannya.
Sebuah kecupan Mirza biarkan mendarat di pipi Alula.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu." bisik Mirza tepat ditelinga Alula, membuat sekujur tubuhnya meremang. Air matanya meluruh bersamaan dengan sentuhan lembut yang Mirza berikan padanya.
Alula membuka matanya saat ia merasa sebuah tangan mendekapnya begitu erat. Sekujur tubuhnya terasa remuk. Air matanya kembali meluruh, menyadari kesalahan besar yang baru saja ia lakukan.
"Ayah, maafkan Lula." Alula menyeka air mata dipipinya.
Mengapa ia begitu bodoh, hanya karena terbawa perasaan. Rasa rindu yang menggebu, juga cinta yang mendalam telah membutakan hatinya. Hancur sudah dinding pertahanan yang sudah ia buat selama dua tahun ini.
Pelan, Alula mengangkat tangan Mirza agar menjauh dari tubuhnya. Sebuah kilatan dari benda perak yang melingkar dijari manis Mirza kembali membuat Alula menitikkan Air mata.
"Aku seorang penghianat." lirih Alula, lalu beranjak turun dari tempat tidur. Ia memakai kembali pakaiannya yang berserakan diatas lantai.
Alula berjalan keluar dari kamar dengan langkah gontai. Sekujur tubuhnya terasa nyeri, namun ia harus cepat-cepat meninggalkan villa sebelum Mirza terbangun. Waktu sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari saat ia keluar dari Villa.
Taksi online yang ia pesan sudah menunggu diluar gerbang.
"Anggap saja itu sebuah balas budi untuk semua kebaikan yang sudah keluarga kalian berikan padaku." lirih Alula dengan berlinang air mata. Detik itu juga Alula merasa, ia telah menjual harga dirinya.
.
.
.
Happy Reading.. 😊
Jangan lupa like, comment and votenya 👍
Plisss jangan hujat Dedek Lula yah ! 🤭
__ADS_1