
Jika saat acara ijab kabul berlangsung dengan sederhana, dan hanya dihadiri oleh keluarga inti dan kerabat dekat saja. Beda lagi dengan acara resepsi yang dibuat semeriah mungkin. Mama Indri yang paling antusias, ingin sekali membuat pesta resepsi ini menjadi pesta yang paling mewah dan meriah.
Sebuah ballroom hotel mewah sudah disulap menjadi istana ala Bollywood oleh tim WO yang dipilih oleh Mama Indri.
Negara India, memang selalu mengedepankan beragam motif dan warna yang mencolok seperti warna merah. Itu sebabnya, di acara kali ini Mama Indri menetapkan warna-warna cerah sebagai tema wedding dan dress code.
Di pintu masuk, telah berdiri kokoh dua tiang besi berhiaskan lilitan bunga warna-warni sebagai wedding gate. Tak jauh dari sana, ada space yang digunakan untuk sesi Photobooth bertema Bollywood.
Sepanjang jalan menuju pelaminan, terbentang karpet merah dengan hiasan rangkaian bunga warna-warni di kedua sisinya. Di atasnya, tergantung lampu-lampu besar bercahaya terang, yang dikelilingi oleh tirai kristal.
Puluhan meja bundar berbalut kain putih dengan empat buah kursi telah tertata rapi. Di atas meja, tertata empat buah piring, gelas dengan masing-masing satu buah sendok dan garpu. Tak lupa, tim WO juga menambahkan hiasan unik berbentuk rumit yang terbuat dari kristal sebagai pemanis.
Sementara di atas pelaminan, Alula memilih mawar merah untuk menjadi hiasan utamanya. Tetapi, tanpa di duga, tim WO merangkaikannya dengan bunga lain sehingga nampak lebih mewah dan elegan. Alula suka sekali dengan itu.
Tamu undangan satu persatu mulai berdatangan dan memenuhi area ballroom. Seorang MC pria memulai acara pesta resepsi tersebut.
Diiringi dengan alunan musik instrumental, yang dimainkan oleh tim pengiring musik. MC mulai memanggil satu persatu anggota keluarga, dimulai dari Mama Indri dan Pa Sanjaya, lalu MC kembali memanggil Ayah Abhi dan Ibu Indah. Mereka kemudian berjalan menuju pelaminan. Ayah Abhi, harus berjalan dengan pelan, karena kondisi kakinya yang belum sepenuhnya pulih.
"Ini ... adalah saat yang kita tunggu-tunggu." Dengan sengaja MC menjeda ucapannya, agar para tamu semakin dibuat penasaran.
"Saya akan memanggil kedua mempelai kita yang berbahagia hari ini. Inilah ...."
Shaka dan Shaki berjalan di depan Alula dan Mirza, kedua anak kembar itu begitu gagah dan tampan dengan balutan kurta pyjama berwarna merah marun, sangat kontras dengan kulit mereka yang putih.
"Wah ... dikawal sama dua putra mahkota nih," seloroh MC disela-sela musik instrumental yang mengiringi kedatangan kedua mempelai.
Mirza sendiri memakai Sherwani, atau semacam jubah panjang berwarna krem dengan motif bordiran yang rumit namun elegan berwarna emas di sepanjang leher hingga bagian dada dan sisi kedua lengannya. Sedangkan untuk bawahannya, Mirza memakai celana panjang berwarna merah.
Di samping Mirza, Alula tersenyum begitu anggun dengan balutan Lancha berwarna merah menyala. Awalnya, Alula disarankan untuk memakai model Ghagra choli, yang menampilkan bagian perutnya. Tetapi dengan keras Mirza melarangnya.
Akhirnya Lancha merah yang terbuat dari bahan sutera dengan motif bordiran emas menjadi pilihannya. Baju berlengan panjang yang menutupi seluruh bagian perutnya itu diserasikan dengan lehenga atau rok warna merah dengan bordiran emas dengan motif rumit di sepanjang sisinya.
Make up yang digunakan Alula pun berbeda jauh dengan saat acara ijab kabul. Jika saat ijab kabul Alula memakai makeup flawless, malam ini, semua dibuat terkesima oleh makeup bold yang Alula kenakan.
Alula memakai Dupatta atau sejenis selendang untuk menutupi bagian kepalanya. Rambut hitam panjangnya dibuat bergelombang lalu dibelah dua dengan maang tika sebagai penyekatnya. Di sisi kiri kepalanya menjuntai jhumar, hiasan kepala dengan berbentuk segitiga terbalik. Sedangkan di tengah kening ada bindai kecil terbuat dari kristal. Anting hidung berukuran sedang, dengan rantai emas menjuntai hingga belakang telinganya.
Di kedua tangannya tercetak Henna dengan motif rumit namun cantik. Bangles atau gelang khas India terpasang sepanjang sepuluh senti dipergelangan tangannya.
Satu tangan Alula menggandeng lengan suaminya, sedangkan tangannya yang lain menggenggam satu buket kecil bunga mawar merah. Senyum merekah tak luput dari wajah kedua mempelai.
"Wah ... pengantinnya cantik. Udah mirip Preity Zinta," seloroh salah seorang tamu yang berbaris menyambut kedua mempelai.
"Kajol deh kayaknya."
"Pak Mirza jadi Shahrukh Khan dong yah," sahut tamu yang lain.
Riuh tepuk tangan dan teriakan-teriakan kekaguman melatari kedatangan kedua mempelai.
Alula mengeratkan gandengannya di lengan Mirza, sedangkan Mirza refleks mengusap tangan Alula. Keduanya berjalan sambil sesekali saling berpandangan, tersenyum lalu tersipu-sipu.
MC kembali mengontrol acara setelah kedua mempelai duduk di pelaminan. Nuansa merah dan emas menjadi latar pelaminan itu.
Setelah beberapa sesi, MC mulai mempersilahkan para tamu untuk memberikan ucapan selamat, lalu dilanjutkan dengan sesi foto-foto.
Semua tamu undangan nampak begitu bahagia. musik yang di alunkan, makanan khas India yang dihidangkan membuat mereka puas berlama-lama di sana. Namun, ada saja selentingan ucapan yang membuat Alula berulang kali mengusap lengan suaminya.
"Anaknya Pak Mirza kembar yah?"
"Bukannya itu anak asuh Pak Mirza?"
"Denger-denger nih, itu anak kandung Pak Mirza tau, sama istrinya yang sekarang."
"Bu Gweny ngadopsi anak suaminya sama orang lain, gitu?
__ADS_1
"Kasihan yah almarhum Bu Gweny."
Alula berusaha untuk menenangkan suaminya, Ia berulang kali meyakinkan jika semuanya baik-baik saja. Dan ia sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
Dulu, saat masih kuliah, Alula sering kali menerima gunjingan seperti itu. Ia sering di sebut sebagai wanita simpanan, wanita penggoda, wanita yang hamil tanpa suami dan hal buruk lainnya. Alula tak menampik itu, karena memang ia pun merasa jika apa yang dituduhkan padanya adalah benar. Ia hanya harus berpura-pura tidak peduli, tetap tegar dan kuat demi kesehatan dirinya juga kedua anak yang tengah dikandungnya.
Namun tak sedikit pula yang memandang iba padanya, mengingat ia mengandung dan berjuang sendirian. Alula bersyukur, setidaknya masih ada orang yang peduli padanya. Tanpa melihat apa kesalahannya.
Acara yang ditunggu-tunggu pun tiba, MC mengarahkan Alula dan Mirza untuk berdiri di depan pelaminan.
"Kalau biasanya di India ada sesi menari-nari, hari ini kita ganti dengan sesi Wedding dance, bagaimana?" ujar MC dan mendapat teriakan dan tepuk tangan dari para tamu tertanda setuju.
"Baiklah, Pak Mirza barangkali mau request lagu untuk pengiring dansa?" tawar MC pada Mirza.
Mirza diam, memikirkan lagu yang pas untuk berdansa romantis dengan istrinya.
"Saya tidak terlalu tahu lagu-lagu India, tapi ada satu lagu yang sepertinya cocok," ujar Mirza seraya menatap lembut manik mata indah milik istrinya.
"Wah ... kira-kira apa tuh?"
"Gerua."
"Wah ... Pak Mirza tahu juga yah lagu-lagu India yang lagi hits."
Mirza hanya terkekeh. Bagaimana tidak tahu, hampir setiap hari Mama Indri memutar lagu bertema Bollywood, Mirza sampai hapal beberapa bait dari lagu-lagu tersebut.
"Baiklah, lagu akan segera dinyanyikan, yang mau ikut bergabung, dipersilahkan cari pasangan masing-masing. Tapi ingat! jangan ambil pasangan orang lain." Semua tamu tertawa mendengar selorohan MC.
Untuk mengiringi dance wedding, lagu dibawakan sedikit selow agar bisa dinikmati selama berdansa. Semua telah siap dengan pasangan masing-masing, termasuk Mirza yang telah melingkarkan tangannya pada pinggang Alula.
"Aku gak terlalu bisa nyanyi," bisik Mirza ditelinga Alula. "Kamu tahu itu." Mirza terkekeh. "Tapi dengan dibawakannya lagu ini, aku ingin mengungkapkan perasaanku. Kalau aku ... sangat beruntung bisa dapetin kamu."
Dhoop Se Nikal Ke
[Setelah keluar dari terik matahari]
Chhanv Se Phisal Ke
[Tergelincir jauh dari tempat bernaung]
Hum Mile Jahaan Par Lamha Tham Gaya
[Tempat dimana kita bertemu . Waktupun berhenti disana]
Alula memejamkan matanya, menikmati alunan lagu yang tengah dinyanyikan. Meski ia tidak mengerti dengan bahasanya, tetapi ia yakin, bahwa Mirza memilih lagu itu khusus untuknya.
Aasmaan Pighal Ke Sheeshe Mein Dhal Ke
[Langit itupun melebur dan berubah menjadi kaca]
Jam Gaya To Tera Chehra Ban Gaya
[Dan saat (langit yang berubah menjadi kaca) itu membeku ia membentuk bayangan wajahmu]
Mirza tak henti memandangi wajah istrinya, mengagumi kecantikan Alula. Wanita itu sampai menunduk dan tersipu malu. Mirza tersenyum lembut, ia mengeratkan tangannya dipinggang Alula, seakan tak ingin ada jarak diantara keduanya.
Duniya Bhula Ke Tum Se Mila Hoon
[Aku melupakan dunia ini setelah bertemu denganmu]
Mirza ingat, saat-saat ia hampir gila karena Alula pergi meninggalkannya. Ia melupakan dunianya, menyibukkan diri sendiri. Bahkan sampai nekat pergi ke luar negri, hanya untuk meredakan emosi dan perasaannya pada Alula.
Nikli Hai Dil Se Yeh Duaa
__ADS_1
[Ini adalah doa yang terlontar dari dalam hati]
Meski begitu, dalam setiap langkah, Mirza selalu berharap agar ia bisa kembali menemukan cintanya. Cinta yang sengaja pergi dan bersembunyi darinya.
Rang De Tu Mohe Gerua
[Warnailah aku dengan warna cintamu]
"Rain ... aku suka memanggilmu dengan nama itu," Bisik Mirza tepat ditelinga Alula. Ia menempelkan keningnya pada kening Alula. Keduanya kini saling memandang. Dengan dilatari suara penyanyi yang masih asik membawakan lagu itu.
"Hmm? kenapa?"
Raanjhe Ki Dil Se Hai Duaa
[Ini adalah doa dari dalam hati seorang kekasih]
Mirza menatap sendu manik mata istrinya, wanita yang sudah berjuang sendirian, menjaga dan melindungi kedua buah hatinya agar tumbuh sehat dan berkembang dengan baik. Satu kecupan Mirza daratkan dipuncak kepala Alula, sebagai rasa syukur dan juga terima kasih.
"Karena kamu ... pelangi dalam hidupku. Kamu ... adalah warna dalam kelabuku. You're my rainbow."
Mata Alula mulai berkaca-kaca, ia mengerjap beberapa kali, agar air mata tak meluruh.
Rang De Tu Mohe Gerua
[Warnailah aku dengan warna cintamu]
"Sayang...." Mirza mengulas senyum. "Terima kasih ... sudah bertahan dengan semua perasaanmu." Namun Alula malah semakin terisak.
"Terima kasih sudah memberikan warna. Karena hadirnya kamu, hidupku tak lagi abu-abu."
Tangis Alula pecah dalam pelukan Mirza, Ia semakin merengkuhnya kedalam dekapan. Mengusap-usap punggung istrinya dengan lembut. Memberikan kenyamanan dan ketenangan.
"Aku mencintaimu Rain," lirih Mirza.
"I love you ... my rainbow."
Alula menganggukkan kepalanya. Ia mendongak, lalu menatap dalam netra coklat milik suaminya.
"Ya ... Panggil aku Rain." Alula mengulas senyum, dengan pipi yang basah karena uraian air mata.
"Aku pelangimu ... aku hidupmu ... aku cintamu."
"Aku mencintaimu Abang."
.
.
.
Happy Reading 🙂
Alhamdulillah ...
Akhirnya, cerita Neng Peri sama Abang Semir berakhir sampai di sini.
Beribu terima kasih Otor sampaikan kepada para pembaca yang masih setia menunggu cerita ini sampai selesai.
Dan Otor meminta maaf yang sebesar-besarnya, karena satu dan lain hal cerita ini mangkrak sampai satu tahun lebih.
Semoga ... Reader semua terhibur dengan cerita Neng Peri dan Kang Semir ini.
Dan sekali lagi, mohon maaf, jika ending tak sesuai dengan yang diharapkan. Kurang menyentuh, kurang gereget dan kekurangan-kekurangan yang lainnya.
__ADS_1
Terima kasih, sampai jumpa di cerita berikutnya.
Salam sayang dari Otor... ❤️